Selamat Siang Penganggur

Oleh: Iis Noor

Gambar: Yayak Yatmaka

Ia terbangun dari kantuk pagi hari yang belum habis sepenuhnya. Kini, di bawah matanya gelap menghitam, dipaksa akur dengan bias mentari yang masuk di selah-selah jendela. Jemari dengan kuku tak terurus, sibuk mengotak-atik antrian pesan whatsApp. Pengecekan waktu rasanya amat perlu, di tengah mentari bergerak meninggi. “Rupanya sudah pukul sebelas lewat tujuh menit” Ia menggerutu dalam hati. Cukup lama hanya berbaring, Ia putuskan untuk mulai bangkit. langkah demi langkah mengantarnya menuju kamar mandi. Ia turunkan kolor bau yang sejak tiga hari lalu dipakai dan belum lagi diganti. Air seni yang tertahan sejak pukul tujuh pagi tadi, menderas hebat meninggalkan sumbernya. Tetiba aroma kopi menyeruak memenuhi rongga hidung pria itu. sedikit beraroma dan warna yang pekat kuning menggelap, air seni habis seluruhnya di lubang closet. Ia kemudian segera mengangkat kolor. tak lupa, Ia membasuh wajah dan rambut dengan air.

“tok, tok, tok” terdengar suara keras ketukan pintu.

Ia lekas keluar dari kamar mandi. Melangkah cepat menuju pintu. “Sabar, Bu” keluhnya pada gedoran perempuan di balik pintu.

“Ada apa, Bu?” tanyanya.

Di hadapannya, kini berdiri wanita berwajah masam. Dengan balutan kerudung coklat dan baju terusan memanjang hingga mata kaki. Tangan yang sedikit keriput, menghampiri wajah heran pria penghuni kamar kos 07. “Ini dek. Tunggakan listrik dan air yang saya bayarkan” Ucap Ibu itu.

“jangan lupa, kau sudah tiga bulan tidak bayar sewa kamar. Kapan bayarnya? Silahkan angkat kaki, kalau sudah tak bisa bayar” Gerutuh Ibu itu tanpa memberi waktu bagi pria di hadapannya, mengucap sepata katapun.

“saya beri waktu seminggu. Kalau masih belum bayar, silahkan pergi dari sini” gertaknya lagi.

“Iya, Bu. Akan saya lunasi” Jawabnya.

Tanpa menghiraukan jawabannya, Ibu itu berbalik, bergerak menuju mobil hitam yang ditumpanginya. Lelaki itu, lekas menuju pembaringan. Jemarinya menjemput handphone yang masih terus berdering.

“Halo, kenapa Bung?” Ucapnya.

Tetiba, suara samar di balik handphone menambah kemasaman wajahnya. “Iya. Bung. Maaf, seminggu lagi saya lunasi” tegasnya.

“Waalaikumsalam” tutupnya, lirih.

Setelah meletakkan handphone, Ia memilih membaringkan tubuh di atas kasur. Dengan tatapan kosong, arah pandangnya fokus mengamati langit-langit kamar. Jaring laba-laba, saling-silang menunggu mangsa. Dua tiga hingga empat serangga kecil, sedang meratapi diri dimangsa pemilik sarang. Tak ada usaha keras, untuk menyelamatkan diri. Selain dengan sikap pasrah menunggu waktu hidupnya harus berakhir di santap laba-laba. “Bodohnya kau, bodohnya” rapalnya dalam hati. Pajangan foto pose dirinya dengan seorang wanita, amat apik bertengger di paku tembok. Mengundang harap agar perempuannya kembali setelah putus enam bulan silam. “kau sedang apa, Dee. Tidak rindukah kau? Bagaimana tidurmu semingguan ini. Nyenyak atau tidak. Apa managermu masih sering menekanmu? Atau apakah kau sudah punya lelaki baru? Atau, atau, atau.”. Setiba, bayang tanya ini penuhi isi kepala. Muncul tanpa diminta, menguap tanpa diundang

Di sebelah foto, menggantung papan yang di topang enam siku besi. Di atasnya, puluhan buku padati papan pengganti rak buku. Mulai dari novel, cerpen, puisi maupun buku teori tertata acak tak terurus. Beberapa tampak berdebu, yang lain digantungi telur kecoa, sedang beberapa buku dibiarkan berserakan di lantai menemani sampah makanan dan ratusan puntung rokok menunggu di buang. Di sebelah rak gantung, tampak besi memanjang menahan belasan hanger yang digantungi kemeja, kaos maupun jaket. Tampak pula, puluhan mendekati ratusan poster padati dinding kamar. Seluruh renung dan kenangannya, membabi buta padati isi kepala. Begitu banyak peristiwa. Suka, duka, tawa, tangis, haru dan halu saling berlomba menunggu imaji tuannya sampai pada ingatan kisah masa lalu. Seluruhnya, sedang berdialog, timpal menimpali, debat-mendebati. Dimana hasilnya akan selalu sama “tuan kita semoga kembali sadar dan tetap melanjutkan hidup” simpul seluruhnya dalam sekali waktu.

Baca juga:  Akhirnya Kau Hilang

“Mungkin saya harus mandi.” Perintah lelaki itu, pada diri sendiri. Ia pun berdiri lalu mengambil speaker kecil di atas meja. Tak lupa, Ia menghubungkan handpone dengan speaker melalui bluetooth. Menyetel volume, berbalik, lalu menutup pintu kamar yang sejak tadi dibiarkan terbuka.

“Hey, Dad, look at me.

 Think back and talk to me.

Did, I grow up according plan?.”

Potongan lagu berjudul Perfect dari Simple Plan,  mengiringi langkahnya menuju kamar mandi. Ia lekas menutup pintu dan berjongkok. Satu dua tiga air di dalam gayung berbentuk love, hanyut menderas membasahi seluruh tubuhnya. Dengan cepat, jemarinya meraih sabun batang yang kini pupus diajar kulit. Setelah sabunan ditunaikan, ia meraih odol tak berisi di sebelah sabun. Ia lekas mengisi wadah odol dengan air. Mengocoknya dan lekas mengalirkan air bercampur odol diatas sikat gigi. seluruh ritual mandi, ia tunaikan sebisa mungkin siang ini. Tidak terkecuali dengan sampoan. Meskipun wadah sampo harus diberi air pula untuk mengeluarkan sisa isinya. “lumayanlah. Setidaknya wanginya dapat” ucap pria itu dengan mantap. Ia pun bergegas handukan dan keluar dari kamar mandi.

Suara speaker masih saja terdengar. Secara otomatis lagu-lagu genre rock dan metal, terputar acak tanpa kuasa pemilik handphone. Lelaki itu baru saja selesai berpakaian. Lantas menuju pintu kamar dan kembali membukanya. Ia pun mengundang udara agar masuk. Dengan begitu, Ia harap masih dapat bertahan hari ini dengan udara yang cukup. Lalu, Ia kembali duduk diatas ranjang. Lekas meraih handphone dan mengecek pesan whatsApp dari panggilan kerja yang belum juga ada.

“Baiknya, kita ngopi dulu siang ini.” Tegasnya pada pantulan diri di balik cermin. Belakangan, Ia amat sering mengajak cermin untuk mengobrol dengan dirinya. Berdiskusi tentang hidup, kampung halaman, rumah, cinta atau diri sendiri. Meskipun lelaki itu tahu, satuan kisah yang ia bagikan tidak akan pernah mendapat balasan. Meskipun itu sekedar masukan untuk menyelesaikan persoalan. Cermin hanyalah cermin. Dicipta oleh penemunya, agar memberitahu kenyataan pada siapapun yang melihatnya. Ia yang cantik, akan terlihat cantik pula di dalam cermin. Ia yang sedih, tidak mungkin terlihat senang di dalam cermin. Apalagi mengharapkan cermin untuk merekayasa wajah masam dirinya, menjadi lelaki yang masih bersikap gagah di tengah ragam masalah yang Ia dapatkan siang ini. Tentu tidak mungkin.

Baca juga:  Romansa Sang Demonstran

Setelah memanaskan air diatas kompor, Ia menuang kopi sachetan di gelas kaca. Di sebelah kamar, suara acak obrolan mahasiswa berkali-kali masuk ke rongga telinga. Mulai dari tugas kuliah, dosen pembimbing yang galak, pacar yang kaya, teman yang buruk dan beragam soalan kampus yang tidak lagi sepenuhnya diketahui. Apalagi setelah ia lulus setahun silam. Belum lagi Ia berfikir untuk sesekali menengok kampus, tempat kuliahnya selama 7 tahun. Meskipun jarak kos menuju kampus, hanya akan memakan waktu kurang dari 10 menit.

“Alhamdulillah” Syukurnya dalam hati.

Lelaki itu meletakkan gelas kopi yang baru saja Ia tenggak. Dua tangannya kembali mengotak-atik pesan whatsApp. Entah untuk siapa. Ia tak tahu. Termasuk akan melakukan apa untuk menyelesaikan perkara uang yang kian sulit didapatkan lima bulan belakangan. Pernah suatu waktu, Ia mengajukan lamaran di salah satu perusahaan milik BUMN. Seluruh pra-syarat administrasi Ia tunaikan. Mulai dari daftar secara online, mengirimkan Curiculum Vitae (CV), mengikuti seluruh akun sosial media sampai seminar online yang diselenggarakan oleh Perusahaan ini. Tetapi kenyataan selalu jadi pemenang, di tengah usaha diri yang amat maksimal. “Maaf, posisi kerja yang Anda ajukan telah mencapai kuota. Terimakasih” Ingatnya.

Sekali waktu, Ia penuhi panggilan dari seorang kenalan untuk bekerja paruh waktu di salah satu kafe. Pernah pula, ikut bekerja sebagai surveyor di lembaga survey politik. Mengerjakan ini dan itu, seluruhnya Ia lakukan dengan harap dapat bertahan hidup. Apalagi di tengah kota yang berjarak enam jam perjalanan darat dari kampung asalnya. Ia lakukan seluruhnya. Meskipun harus mengeluh dan memaksa diri tunduk pada tuntutan kerja. “semua serba tak pasti. Tetapi yang terpenting adalah tetap bertahan dan menjalani hidup” begitulah kata sang motivator yang acapkali Ia dengar melalui kanal youtube.

Lamunannya, harus terhenti oleh bunyi notifikasi dari handphone. Ia lekas menuju whatsApp. “Selamat Siang. Bung.

Ada dimana sekarang? Semoga kau sehat.  

Saya mau sampaikan, hari ini saya lamaran dengan perempuan yang pernah saya ceritakan. Harap doakan kami agar semuanya lancar. InsyaAllah, akad akan kami langsungkan sebulan dari sekarang. Saya harap, kau bisa datang nantinya. Terimakasih.

Dari kawan baikmu, Ibrahim”. Isi pesan whatsApp yang baru saja ia buka.

“Terimakasih atas undangannya yang tiba-tiba Bung. Selamat untuk lamarannya. Jika tak ada halangan, saya sempatkan hadir di pernikahanmu” balasnya.

Jemari lelaki itu, kembali meraih rokok. Ia bersegera memantik api dari portable, mendekatkan wajahnya pada bara api yang nyala. Lalu menghisap dalam-dalam, rokok terakhir yang sempat Ia utang di warung sebelah. Asap mengepul tak karuan di langit-langit kamar. Memaksa udara sehat dari pohon di halaman depan, harus terpapar asap dari lima batang rokok yang ikut habis sebelumnya. Sungguh siang menuju sore yang amat sial. Rangkaian alur hidup yang acak terjadi begitu saja tanpa diminta. Apalagi dengan kondisi yang harus memberatkan fikirannya lagi hari ini. Kini, Ia bingung tak karuan. Entah untuk meresponnya dengan cara apa. atau sekedar memutuskan tindakan apa yang akan diambil. Tentu, hidup yang Ia lakoni amat kaya dengan ragam peristiwa. Suka, duka, senang, sedih, haru maupun halu ikut menguat di tengah gagalnya mengambil keputusan dan tindakan.

Baca juga:  Romansa Sang Demonstran

Adzan terdengar sedang berkumandang. Lelaki itu kembali mengecek waktu di ponselnya. “rupanya sudah pukul lima belas lewat lima belas” ucapnya dalam hati. tidak terasa, waktu kian berjalan menuju sore. Ia yang sejak tadi duduk lalu berbaring. Kemudian duduk, lalu berbaring lagi. Lalu kembali duduk, lalu berbaring lagi dan lagi. “Sungguh putaran hidup yang membosankan.” Berulangkali, keluhan ini jadi simpulan pasti dari ragam kegiatan tak jelas yang Ia habiskan di dalam kamar. Berlangsung berdetik-detik, bermenit-menit, berjam-jam, berhari-hari hingga memakan waktu sebulan tanpa ada kepastian hidup.

Lengkap sudah, cerita muram hari ini yang amat memberatkan isi kepala. Baginya, tak ada hari sesial hari ini. Ibu kos menagih tunggakan listrik, air dan tagihan sewa kamar di tengah pinjaman uang dari kawan yang harus segera dilunasi pula. Perangkat mandi yang juga habis, di tengah utang di warung yang kian bertambah. Ataupun kabar baik dari kawan yang tak tau harus direspon dengan cara apa. Apakah Ia harus bersuka cita untuk kawan, di tengah duka diri yang kini tidak lagi punya pasangan. Atau surat lamaran kerja yang belum terbalas. Maupun tumpukan masalah lain yang menunggu untuk diselesaikan. Semua menyita sadarnya untuk sekedar ingat, makan terlebih dahulu. Seluruh peristiwa hari ini, memberi rasa kenyang perutnya yang sejak semalam belum juga diisi. Apalagi sejak bangun tadi, lelaki ini hanya memberi dua gelas air untuk perutnya. Sisanya, Ia hanya mengunyah seluruh maksud Tuhan atas masalah berat yang sedang menggantungi hidupnya.

Lelaki itu, lekas berdiri menjemput kotak obat diatas meja. Satu per satu, obat berbagai merk dikeluarkan dari bungkusnya. Tangannya seketika dipenuhi puluhan obat. Di kepalanya, hanya menyisakan kata maaf untuk semua orang yang Ia cinta. Entah untuk keluarga, teman, orang terdekat dan seluruh rupa yang ikut menyertai perjalanan hidupnya. Dengan cepat, tangannya yang berisi obat mendarat pasti di bukaan mulutnya.“maaf untuk semuanya” rapalnya dalam hati.

****

Beberapa pengunjung kian padati Kafe Bunga Tembok. Kudengar beragam tema diskusi, menyeruak begitu saja dibawah bohlam lampu kekuning-kuningan sinarnya. Sejak sore, kuputuskan menepi dari seluruh pengunjung yang ada. Meskipun beberapa aku kenali dan amat akrab denganku. Tetapi untuk hari ini, aku hanya akan berterimakasih pada waktu yang begitu setia padaku. Apalagi hingga selarut ini, waktu masih saja duduk menunggu tiap detik, menit, jam yang kuhabiskan untuk duduk di depan laptop yang sejak sore kugagahi keyboard-Nya. Setelah menghabiskan dua gelas kopi dan berbatang-batang rokok, kurasa waktunya memberi kabar perempuan yang entah bisa kusebut apa. Dibilang pacar, belum bisa kupastikan. Dibilang suka, Iya pastinya. Tak apalah. Pesan darinya sejam lalu kubalas dengan penuh harap. “Cerpenku sudah selesai. Harap ingatkan, agar aku tidak berakhir seperti itu” balasku.

***

Iis Noor Seorang Lelaki Biasa yang Menyukai Futsal dan Menyanyangi Kedua Orang Tua

0%