Sejumlah Pertanyaan Tentang Kemunduran Islam

Oleh: Muhammad Ridha

Suasana Di depan  Jama Masjid, Delhi, India/Dok. Muhammad Ridha

Saya ingin sekali bertanya kepada sejarawan Islam, para ahli sejarah sains terutama sejarah sains Islam, atau para ahli periodisasi pemikiran: bagaimana mungkin yang sejarawan sebut kemunduran dunia Islam justru era ketika aplikasi-aplikasi sains dilahirkan sedemikian rupa dan terhampar di hadapan kita saat ini ketangguhan dan akurasinya tapi kenyataan itu tidak bisa mengoreksi kepercayaan bahwa telah terjadi kemunduran? Di atas ke tidak berdayaan anti-sains semacam apa kok bangunan-bangunan megah secara ilmu arsitektur dan masih berdiri melampaui kemampuan prediktif ketahanan material bangunan-bangunan dan arsitek modern?

Saya menulis catatan ini setelah dalam kurun lima tahun terakhir mengunjungi beberapa kota di dunia Islam atau yang meninggalkan jejak kebudayaan Islam seperti di Arab Saudi, yakni Makkah, Madinah dan beberapa kota di sekitarnya; beberapa kota di Turki, beberapa kota di India juga di Asia Tenggara. Tulisan pendek ini menggugah kembali bagaimana kemunduran Islam itu disebutkan di hadapan realitas warisan kebudayaan, kesenian, arsitektur dan tata kehidupan yang sungguh tak bisa dipandang sederhana. Apa memang kemunduran tersebut berlangsung begitu panjang hingga kini dan kita setuju dengan terminologi itu secara general untuk seluruh dunia Islam?

Atau jangan-jangan memang ada periode kemunduran Islam. Tapi sebentar saja. Seperti petarung yang kalah, luka-luka dan antibodi tumbuh kembali dan jadi sehat lagi. Seperti kesatria terluka yang sebentar lagi kembali mengasah pedangnya karena darah sudah berhenti mengucur dan luka telah pulih.

Desain Di Pelataran Jama Masjid/Dok. Muhammad Ridha

Katakanlah ada perang salib. Menghancurkan. Melukai. Tapi tidak sama sekali membuatnya mati. Justru membuatnya kebal. Seperti kata orang bijak: yang tidak membunuhku, akan membuatku lebih kuat! Dalam waktu tak lama, wilayah yang direbut pasukan salib, kembali ke tangan pasukan Islam. Puncak kisahnya saja mungkin di Palestina ketika Salahuddin Al Ayyubi memaksa pulang pasukan salib dan Palestina kembali ke dalam kekuasaan Islam.

Baca juga:  Protes Terhadap Israel sebagai Kritik Terhadap Tata Dunia Neoliberal-imperialistik

Atau mungkin ada huru hara serangan Mongol. Beringas tak main-main. Melibas yang dilewatinya. Menyerang Baghdad, menyapu Damaskus, menyapu Asia Tengah dan membuat semua yang dibangun menjadi puing. Tapi tak lama. Setelah itu Mongol justru diserap menjadi kekuatan Islam. Tak lama setelah itu dinasti Illkan Mongol berkuasa, dinasti Timurid berkuasa. Observatorium dan pusat sains di Asia Tengah dan dunia Islam lain tumbuh lagi.

Atau ada bencana-bencana lain yang membuat dunia Islam berpecah pecah sebentar lalu tumbuh dan bersemi lagi. Seperti Spanyol muslim disapu, dan orang-orangnya diusir paling akhir ketika Granada tumbang tahun 1492. Tapi bukankah secara hampir bersamaan Islam bersemi di belahan Eropa lainnya dari sisi tenggara? Dan itu artinya Islam tak mati di Eropa, tak mundur.

Dan bahkan, di periode-periode genting antara apa yang kita sebut awal
Mula kemunduran hingga kira-kira dua abad yang lalu, dunia Islam memberi dunia pengalaman sains, etika dan estetika yang hampir tak ada bandingannya! Itu bisa dilihat pada hamparan karya arsitektur, seni tinggi di wilayah-wilayah Islam, taman-taman, kampus dan madrasah atau infrastruktur kota modern serta tata sosial kehidupannya. Bagaimana bisa itu disebut kemunduran?

Baca juga:  Episode Sains Islam

Marilah kita tengok cerita tak begitu begitu valid ini, meski ditulis dengan intensi dan ketulusan yang sungguh.

Di Turki, tahun 1453 Utsmaniah merebut kota penting Romawi timur, Konstantinopel. Lalu menjadikannya ibukota Utsmaniah, Istanbul. Sejak itu, masjid-masjid dengan standar sains bangunan paling baik dibangun dan kita nikmati hingga saat ini: Masjid biru, masjid sultan selim, masjid Sulaiman, dan yang lain. Tapi bahkan sebelum peristiwa lompatan karena merebut Konstantinopel, para arsitek utsmani dan juga Seljuk (Rum) telah membangun pusat-pusat Islam seperti masjid dan madrasah yang masih berdiri saat ini.

Lalu di tahun yang berdekatan, Islam di Hindustan setelah dinasti berubah dari Mamluk ke dinasti Mughal, bangunan-bangunan yang bikin berdecak kagum, atau malah setiap yang menyaksikannya mengalami pengalaman sains dan estetik paling sempurna: sublim. Ketika melihat kisah Humayun Tomb, Benteng Agra, Taj Mahal, Jama Masjid yang dibangun di abad ke-16 atau 17. Masih berdiri saat ini dan teknologi pembuatannya masih membuat ahli-ahli pembuatan bangunan merasa diri kecil di hadapan maha karya sains ini.

Musoleum yang indah dan monumental dibangun di India di bawah kekuasaan Mughal. Humayun Tomb, Akbar Tomb, bahadur Tomb atau Zah Jahan Tomb. Atau model-model yang lain yang mengembangkan musoleum dan taman taman indah sungguh sulit mencari bandingannya. Bahkan hingga di periode yang disebut sebagai kemajuan sains seperti saat ini! Perpaduan antara cinta kasih, etika, estetika dan sains menyatu dalam mahakarya-mahakarya itu.

Baca juga:  Akurasi Sains Islam dan Kisah Ulugh Beg

Di waktu yang berdekatan di Asia tengah bersemi lagi sains Islam. Dibangun lagi begitu banyak madrasah. Dibangun monumen, yang menunjukkan kemampuan sains tinggi, seperti masjid dan menara-menara kota yang indah beserta taman. Dinasti timurid Asia tengah mengubah ketakutan menjadi gairah sains dan sufisme yang semerbak.

Atau di sisi yang lain di Afrika. Di Mesir atau Maroko, atau Aljazair dan lainnya. Warisan sains dan kebudayaan tinggi masih dirasakan saat ini. Kampus-kampus, masjid-masjid, bangunan umum, kisah-kisah Sastrawi, hikmah-hikmah para sufi, dan lainnya.

Lalu bagaimana mungkin semua kenyataan kompleks, yang justru menunjukkan sebaliknya, masih terus dikatakan kemunduran dunia Islam? Hadeuh. Kok kita, makin ke sini, makin ngawur saja yah.

Salah satu Interior Jama Masjid/Dok. Muhammad Ridha

Kalau kita liat karya seni dan sains di bangunan-bangunan Islam, kita akan sulit sekali mengatakan ini lahir dari suatu masyarakat anti sains yang telah mundur dan mati suri! Pahatan rumit di marmer, ukiran batu di marmer merah, kombinasi warna-warna alam di marmer-marmer mewah, kekokohan tiang-tiang, Ketahanan kanopi-kanopi masjid dan benteng, kaligrafi rumit di atas makam atau di dinding masjid dan musoleum, ukiran abstrak di atas marmer, menggantung material berat seperti kubah beton dengan lapisan marmer tapi tak goyah, membuat bangunan simetris, bulatan, dan kubah-kubah rumit.

Itu semua tak mungkin lahir di masyarakat yang terbenam di bawah lumpur sejarah. Dia berada di permukaan dan hidup. Bagaimana menurutmu? Wallahualam BI sawab

***

Muhammad Ridha Merupakan Dosen Uin Alauddin Makassar

0%