Episode Sains Islam

(Bagian Pertama)

 

Oleh: Muhammad Ridha

 

“Apakah kau melihat surya memudar

Dan cahayanya Kembali tatkala Harun berkuasa?

Bergiranglah karena Allah memilih Harun,

Sang penyejuk murah hati, dan Yahya sahabatnya”.

 

[Ibrahim al-Mosuli]

 

KKetika era Islam dimulai dengan berpindahnya Nabi Muhammad dari kota Mekkah ke Madinah, bertepatan dengan tahun 622 M, dunia sedang menuju sebuah kemunduran dalam arti luas. Pusat studi ternama di zaman klasik dibubarkan. Akademia Plato yang didirikan oleh Plato sekitar tahun 380 SM dibubarkan oleh kaisar Justinian sekitar tahun 529 M. Lyceum Aristoteles telah bubar lebih dulu di sekitar tahun 85 SM. Tapi penanda paling menonjol dari berakhirnya zaman klasik adalah dihancurkannya Museum[1] dan Perpustakaan Umum[2] di Aleksandria oleh Kaisar Theodosius I dengan keluarnya dekrit di tahun 391 yang memerintahkan semua kuil-kuil pagan di seluruh kerajaan salah satunya Kuil Serapis, lokasi Perpustakaan Umum berada.[3]Hancur berserakan seperti mengantar era klasik ke belakang panggung.

Islam lahir di Mekkah, di tengah gurun Arab, di salah satu pusat kuil-kuil penyembahan kaum pagan. Di sana ada ribuan patung dan kuil penyembahan. Bisnis pariwisata religius begitu masyhur. Orang-orang dari seluruh dunia datang beribadah ke kota ini. Tapi Islam, sebuah semangat baru yang dihembuskan melalui Muhammad, memerintahkan untuk menghancurkan semua berhala/patung sembahan  kecuali bangunan persegi tempat sebuah batu hitam disimpan. Perintahnya komplit. Berisi tuntunan syariat dan kalam. Filsafat dan cara-cara hidup. Kiat penyembuhan hingga cara-cara memperlakukan istri (suami). Menyuruh membaca. Jangan mencuri. Jangan minum khamar. Tapi yang sungguh menjadi etos kemudian, yang membangun sebuah peradaban, adalah perintahnya yang sentimental atas seorang nabi ummiy: membaca. Iqra.

Tak ada catatan yang menunjukkan kaitan antara perintah pertama ‘iqra’ ini dengan revolusi pembangunan peradaban Islam klasik yang begitu cepat seakan menyimpang dari trend umum memudarnya era klasik dan tenggelamnya dunia dalam kegelapan. Tapi tak sulit mengaitkan antara etos membaca dan peradaban Islam yang lahir di sekitar abad ke-8 hingga abad ke 15 M. Bahasa Arablah, Bahasa yang menginternasional karena menjadi bahasa yang digunakan oleh Al-Qur’an, medium paling utama terjemahan karya-karya klasik berbahasa Sansekerta, Yunani, Persia atau Syria. Hal itu menunjukkan betapa besar etos menimba pengetahuan dari kebudayaan lain ke dalam Bahasa Arab.

Baca juga:  Korona dan Peradaban Kita

Artikel ini ingin menunjukkan apa yang dilakukan oleh dunia Islam awal yang mengantar kebudayaan dan peradaban Islam klasik lahir di kota-kota utama dunia Islam seperti Bagdad, Cordova, Fez, Tripoli, Damaskus, Bukhara, atau yang lain. Mungkin akan ada tiga ulasan mengenai episode sains Islam ini yang dibagi menjadi fase-fase yang oleh ilmuwan Islam seperti Sardar, membaginya ke dalam tiga fase penting. Yang kita bahas dalam artikel ini hanya dua fase. Pertama, Fase formatif, yakni pembentukan dan penguatan suatu bentuk kebudayaan Lslam yang benar-benar terkait dengan tradisi literasi dan pencarian pengetahuan. Al-qur’an dituliskan pada apa saja yang mungkin dijadikan medium: tulang, kulit pohon, daun, bebatuan, pelepah atau yang lain. Setelah nabi wafat naskah-naskah terpisah firman tuhan itu kemudian disatukan oleh Khalifah Usman menjadi mushaf. Seterusnya, aturan-aturan hidup berdasar pada perintah qur’an dan operasionalisasinya diambil (jika konsep Qur’an tidak begitu operasional) dari hadis nabi, yakni catatan mengenai perkataan dan sunnah nabi. Perintah-perintah pencarian ilmu begitu dioperasionalkan, seperti perintah iqra begitu popular sehingga menyebabkan umat Islam begitu bersemangat mencari, mengumpulkan, menuliskan atau menyebarkan pengetahuan melalui berbagai media. Melahirkan suatu disiplin paling awal mengenai falsifikasi ilmiah berdasarkan tradisi kritik hadis, yakni pembuktian kebenaran suatu ucapan itu berasal dari nabi melalui metode berantai yang disebut pengujian sanad, sandaran. Setiap hadis harus dibuktikan kebenarannya berdasarkan ketersambungannya dengan nabi. Atau kumpulan perawi yang menjadi sumber sebuah hadis kemudian mendorong suatu metode yang disebut rijalul hadis, atau studi biografi periwayat. Juga ada yang mengkritik isinya, matn, apakah benar berhubungan dengan gagasan al-Qur’an, apakah tidak bertentangan dengan perintah umum al-Quran, atau apakah cukup masuk akal pernyataan itu dikatakan oleh seorang nabi? Dan seterusnya. Dan seterusnya.

Model keilmuwan awal semacam inilah yang menempa kebudayaan kaum muslim untuk terikat pada tradisi literatur, kebiasaan berfikir rasional dan ilmiah serta berkebutuhan untuk terus memperbaharui dan mendapatkan ilmu pengetahuan. Sebagaimana juga secara formil al-Qur’an memberi perintah spesifik maupun tidak langsung untuk memberi penjelasan mengenai ilm, pengetahuan atau upaya mencarinya dalam porsi bahasan yang tak sedikit. “Al-Qur’an menggunakan kata ilm lebih dari 800 kali, meluangkan sekitar sepertiga dari kandungannya memuji gagasan-gagasan seperti akal, perenungan, penelitian, pengkajian, kesarjanaan, perjalanan (mencari ilm).”[4] Hal ini menunjukkan etika dasar dalam masyarakat muslim awal yang menganggap dan menjunjung nilai-nilai ilmu pengetahuan.

Baca juga:  Renungan Keberagamaan

Fase ini kemudian berlanjut kepada fase transformasi pertama, yakni fase dimana umat Islam telah secara mantap menerapkan suatu budaya tinggi atas ilmu pengetahuan untuk membentuk sebuah pemerintahan dengan apa yang disebut Marshall G.S. Hodson sebagai ‘peradaban kekhalifahan tinggi’.[5] Suatu fase yang disebut sebagai peradaban Islam klasik, dimana konsep-konsep operasional yang dihasilkan dari kebudayaan di fase formatif telah menunjukkan hasil-hasilnya. Adab kekuasaan, wilayah Islam yang luas, tradisi berfikir, kebebasan berpendapat, kekhalifahan yang mengayomi, sains dan sastra yang tumbuh subur. Fase kedua ini ditandai paling tidak dengan semakin maju dan pesatnya penerjemahan, penulisan, kritik karya-karya dari kebudayaan asing seperti Yunani, Persia, India dan Syiria.

Dua fase inilah, formatif dan puncaknya pada fase transformasi pertama, kebudayaan dan peradaban Islam termanisfestasi dengan baik dan memperkenalkan dirinya ke seluruh kebudayaan lain dengan melahirkan kota-kota kosmopolit. Di Asia ada pusat kekuasaan dinasti Abbasiyah di Bagdad dan di sisi Eropa Ada Cordova yang merupakan pusat kekuasaan dinasti Umayyah II setelah dinasti Umayyah dihancurkan oleh pemimpin pertama dinasti Abbas.

Fase transformasi pertama terdiri atas, atau kurang lebih, berupa upaya-upaya kebudayaan Islam untuk menangani masalah-masalah keilmuwan mendasar seperti keterbatasan bahasa arab yang bukan merupakan bahasa utama ilmu pengetahuan, karenanya dibutuhkan proses penerjemahan agar pengetahuan bisa dinikmati secara luas oleh umat Islam yang secara tidak langsung telah diserap bahasanya menjadi bahasa Arab. Fase ini dianggap fase pertama dalam fase transformasi pertama. Lalu fase kedua, yang juga merupakan dampak dari penerjemahan ini, biasanya para penerjemah bisa menuliskan kritik atau tinjauannya atas karya tersebut atau malah menulis esai terpisah yang mandiri dalam arti bukan lagi sekedar mengalih bahasakan suatu karya tapi memberi dimensi baru dengan kreatifitas berfikir dan dengan sumber-sumber baru yang bisa digunakan. Pada fase ini kreatifitas umat Islam mulai menunjukkan suatu gejala yang unggul di antara kebudayaan kebudayaan lain, yang ketika fase-fase ini terjadi, kira-kira pada abad ke-delapan hingga abad ke-duabelas masehi, belahan lain dunia, sedang berada dalam suatu kemunduran. Berada dalam gelap dan pekat abad tengah. Karena itu, banyak temuan-temuan ilmu pengetahuan, tulisan-tulisan penting dan karya-karya pemikiran yang layu dan mengkerut di tempat lain, justru tumbuh subur di wilayah-wilayah Islam. Salah satu yang masyhur dikenal memberi ekosistem tumbuh kembang ilmu pengetahuan di abad-abad itu adalah khalifah agung pengayom kebudayaan, Harun al-Rasyid.

Baca juga:  Joserizal Jurnalis

Tak kurang dari pemikiran para filsuf seperti Aristoteles, Plato, Plotinus sampai Galen diterjemahkan dari Yunani. Atau karya Brahmagupta, Kandakhadyaka, yang menjadi dasar penggunaan angka dari 0 sampai 9 yang kemudian diadopsi secara universal oleh barat dan kita. Orang arab sendiri menyebutnya angka Hindu. Tapi Barat, karena mengenalnya dari Al-Khawarizmi, menyebutnya sebagai angka Arab.[6]Juga beberapa karya dari Galen yang diterjemahkan Hunayn Ibn Ishaq ke dalam Bahasa Syiria dan berikutnya ke Bahasa Arab.[7] Atau juga penerjemahan sastra Persia ke dalam Bahasa Arab, fabel-fabel India dengan bahasa Sansekerta, salah satu yang paling terkenal adalah yang diterjemahkan oleh Al-Muqqafa, Qalila wa Dimna.[8]

Ada banyak karya, yang diterjemahkan itu, akan diuraikan fase-fasenya pada artikel lain. Tokoh dan terjemahan buku yang sedikit disinggung di atas hanya pembuka saja untuk mengenal periodisasi dan proses-proses yang kompleks bagaimana penerjemahan dilakukan atas karya-karya yang dianggap penting ke dalam Bahasa transnasional baru, Bahasa Arab yang merupakan episode pembuka sains Islam. Wallahu a’lam bi sawab.

 

Catatan Kaki

 

 

[1] Didirikan oleh Ptolomeus I Soter sekitar tahun 305-283 SM.

[2] Perpustakaan ini didirikan oleh Dimitrios, mantan gubernur Athena yang melarikan diri ke Aleksandria setelah tahun 307 SM. Tercatat perpustakaan ini pernah memiliki setangah juta koleksi buku.

[3] Lihat John Freely Cahaya Dari Timur Peran Ilmuwan dan Sains Islam dalam Membentuk Dunia Barat (Jakarta: Penerbit Elex Media Komputindo,2011)

[4] Ziauddin Sardar Kembali ke Masa Depan Syariat Sebagai Metodologi Pemecahan Masalah (Jakarta: Pustaka Serambi, 2005) Hal. 143

[5] Marshall G.S Hodson The Venture of Islam Iman dan Sejarah dalam peradaban Dunia (Jakarta: paramadina, 2002)

[6] John Freely Cahaya dari Timur Peran Ilmuwan dan Sains Islam dalam Membentuk Dunia Barat (Jakarta: PT. Elexmedia Komputindo, 2011) hal. 82

[7] Raghib as-Sirjani Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2015)

[8] Chase F Robinson Para pembentuk Peradaban islam Seribu Tahun Pertama (Jakarta: Pustaka Alvabet, 2019) Hal. 46

Komentar Pembaca CaraBaca
BUKU TERBITAN CARABACA.ID

Melawan Rezim Infrastruktur - Studi Ekonomi Politik

Sebagai cara untuk tetap waras dan terus melanggengkan perlawanan terhadap segala bentuk ketidakadilan, CaraBaca terus memproduksi wacana alternatif  dengan menulis, membaca, diskusi, dan mengorganisir akar rumput.
BELI PRDOUK KAMI SEBAGAI DUKUNGAN
close-link
0%