Ruang, Rezeki, dan Rasa: Catatan Reflektif atas Lalu-Lalang Manusia di Rumah Sakit

Oleh: Surahmat Tiro

Tampak Gedung Rawat Inap RSUD Syech Yusuf, Gowa/ Surahmat Tiro

Catatan kecil ini, lahir dari hasil pengamatan saya terhadap dinamika kehidupan orang-orang, setelah empat hari di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Syech Yusuf Kallongtala, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Sehingga dapat saya katakan bahwa rumah sakit daerah ini bukan sekadar tempat pengobatan dan penyembuhan. Ia adalah ruang sosial yang hidup, persimpangan jalan bagi beragam manusia dengan latar belakang, profesi, dan tujuan yang berbeda. Di antara lorong bangunan, halaman parkir, hingga pinggiran pagar, terjalin hubungan, interaksi, dan dinamika yang mencerminkan gambaran kehidupan masyarakat luas. Berikut adalah catatan pengamatan terhadap sosok-sosok yang mengisi ruang ini, bagaimana mereka bergerak, berinteraksi, dan menjalani hidup di tengah suasana sehat dan sakit, harap dan cemas.

Dokter dan Perawat

Dokter muncul dengan penampilan rapi, mengenakan jas putih yang menjadi tanda keberadaan ilmu dan wewenang medis. Langkah mereka cepat, terarah, dan sering kali disertai tumpukan berkas rekam medis di tangan. Di ruang praktik atau ruang rawat, suara mereka tenang namun tegas, menjelaskan kondisi penyakit, menentukan tindakan, atau memberikan harapan kepada pasien dan keluarga. Interaksi mereka terbatasi oleh batasan profesionalitas, namun di mata mereka terlihat beban besar: tanggung jawab atas nyawa dan keselamatan orang lain. Kadang terlihat lelah tersirat di wajah setelah berjam-jam memeriksa, namun saat berhadapan dengan pasien, wajah itu kembali tersusun ramah dan meyakinkan. Bagi banyak orang di sini, dokter adalah sosok yang paling diharapkan, tempat terakhir untuk mencari jawaban dan kesembuhan.

Perawat adalah sosok yang paling banyak terlihat bergerak, dari pagi hingga malam, berkeliling di setiap bangsal dan ruangan. Berbeda dengan dokter yang datang dan pergi, perawat hadir setiap saat—mengukur tekanan darah, memberikan obat, mengganti perban, hingga membantu pasien bergerak atau makan. Gerakan mereka cekatan namun penuh kehati-hatian. Suara mereka lembut saat menenangkan pasien yang gelisah, namun bisa berubah tegas saat mengatur ketertiban atau mengingatkan aturan rumah sakit. Mereka adalah penghubung antara dokter dan pasien, yang mendengar keluhan kecil, melihat perubahan kondisi sekecil apa pun, dan menjadi pendengar bagi keluh kesah keluarga pasien. Di balik seragam mereka, tersimpan ketahanan fisik dan mental yang luar biasa, bekerja di bawah tekanan, menghadapi beragam karakter orang, serta aroma dan suasana yang tidak selalu nyaman. Bagi pasien, perawat adalah sosok terdekat yang menemani masa pemulihan.

Tenaga Kebersihan dan Juru Parkir

Di sudut-sudut lorong, di bawah tangga, atau di samping ruang tunggu, selalu ada mereka dengan sapu, pel, dan ember air. Gerakan mereka teratur, berulang, dan kadang luput dari perhatian orang lain, namun keberadaan mereka sangat terasa jika sekejap saja berhenti. Mereka membersihkan lantai yang kotor karena percikan air atau tanah dari alas kaki, menyeka meja, membuang sampah, hingga mencuci tempat yang terkena cairan tubuh pasien—pekerjaan yang berat, kotor, dan sering kali dianggap sepele. Mereka bergerak tenang, sesekali menyapa orang yang lewat, atau berbagi cerita pendek dengan rekan kerja saat istirahat sejenak di pojokan. Bagi mereka, rumah sakit adalah ruang yang harus selalu bersih demi kesehatan semua, dan itulah sumbangsih mereka, menjaga lingkungan tetap layak ditempati meski sering kali tidak mendapat ucapan terima kasih secara langsung.

Baca juga:  Kapitalisme, Masyarakat Adat, dan Covid-19

Di halaman depan dan gerbang keluar-masuk, suara seruan dan isyarat tangan mereka terdengar jelas. Dengan rompi yang berwarna mencolok, mereka berdiri di bawah terik matahari atau di bawah rintik hujan, mengatur posisi kendaraan agar tertib dan aman. Mereka tahu persis setiap celah kosong untuk memarkirkan sepeda motor maupun mobil, mengatur arus agar tidak terjadi kemacetan yang menghambat orang yang sedang terburu-buru membawa kerabat sakit. Kadang mereka menjadi penunjuk arah bagi pengunjung baru yang bingung, atau menjadi tempat bertanya hal-hal kecil seputar layanan rumah sakit. Hubungan mereka dengan pengunjung bersifat transaksional namun akrab; uang receh yang diterima adalah imbalan atas tenaga dan kewaspadaan mereka sepanjang hari. Bagi mereka, halaman rumah sakit adalah wilayah kerja yang harus dijaga ketertibannya, dan mereka adalah penguasa arus lalu lintas di sana.

Tukang Bentor dan Pedagang Kaki Lima

Di pinggir jalan raya tepat di depan pagar rumah sakit, deretan bentor berjejer rapi, menunggu penumpang. Para pengemudinya duduk santai di atas kendaraan, ada yang mengobrol sesama teman, ada yang merokok, ada pula yang tidur-tiduran sebentar sambil menunggu panggilan.

Tampak Tukang Bentor Depan RSUD Syech Yusuf, Gowa/Surahmat Tiro

Saat ada orang keluar dari gerbang dengan wajah lelah atau membawa barang bawaan, mereka segera bersiap, melambaikan tangan atau memanggil pelan. Bagi banyak pasien, pembesuk, atau pegawai rumah sakit, bentor adalah sarana andalan—murah, mudah didapat, dan bisa masuk ke jalan-jalan kecil sekitar wilayah ini. Percakapan singkat sering terjadi di perjalanan: tentang kondisi pasien, antrean yang panjang di dalam, atau sekadar cuaca hari itu. Bagi para tukang bentor, rumah sakit adalah ladang rezeki yang paling bisa diandalkan, tempat di mana orang-orang selalu datang dan pergi, selalu membutuhkan jasa angkutan.

Baca juga:  Kuasa Ekonomi Politik ‘Korporasi Hutan’: Relasi Kelas dan Enclosure di Pedesaan Gowa

Di sepanjang pagar luar hingga teras depan, mereka mendirikan lapak sederhana: gerobak nasi bungkus, warung minuman hangat dan dingin, penjual buah, roti, hingga obat-obatan ringan dan perlengkapan mandi. Keberadaan mereka seolah menjadi perpanjangan dari layanan rumah sakit, memenuhi kebutuhan yang tidak disediakan oleh instansi resmi. Mereka tahu persis jam-jam sibuk: saat pagi hari saat keluarga pasien butuh sarapan, saat siang hari saat waktu makan tiba, hingga malam hari saat pembesuk pulang dan butuh penghangat perut. Suara tawar-menawar terdengar lembut, ada yang memberi harga lebih murah pada keluarga pasien yang terlihat kekurangan, ada pula yang berbagi simpati mendengar cerita kesusahan pembeli. Bagi para pedagang ini, rumah sakit bukan hanya tempat berjualan, tapi juga tempat berbagi rasa; mereka melihat penderitaan orang lain, dan berusaha sedikit meringankannya lewat makanan atau barang yang mereka jual.

Orang Sakit dan Pembesuk: Sosok di Tengah Segala Aktivitas

Mereka adalah alasan utama mengapa rumah sakit ini ada, namun sering kali menjadi sosok yang pasrah dan diam. Ada yang berjalan tertatih-tatih ditopang kerabat, ada yang didorong di atas kursi roda, ada pula yang terbaring diam di atas brankar. Wajah mereka memancarkan rasa sakit, kelelahan, ketakutan, atau harap yang samar. Gerak mereka terbatas, ruang gerak mereka sempit hanya di sekitar bangsal atau ruang perawatan. Mereka menjadi pusat perhatian dokter dan perawat, menjadi alasan kesibukan keluarga, dan menjadi sasaran perhatian para pedagang. Di mata orang sakit, rumah sakit adalah tempat perjuangan: berjuang melawan rasa sakit, berjuang menunggu hasil pengobatan, berjuang agar bisa kembali pulih dan keluar dari tempat ini. Kehadiran mereka memberi warna mendalam pada seluruh dinamika di sini, menjadi pengingat bahwa segala kesibukan ini bermula dari keinginan untuk kembali sehat.

Pembesuk adalah kerabat, tetangga, atau teman yang datang membawa harapan, doa, dan kadang oleh-oleh makanan atau buah. Wajah mereka beragam: ada yang sedih, ada yang berusaha tersenyum ceria untuk membahagiakan pasien, ada yang cemas menunggu di luar ruangan, ada pula yang sibuk mengurus administrasi dan kebutuhan pasien. Mereka mengisi ruang tunggu, koridor, dan teras rumah sakit, duduk berkelompok mengobrol pelan, berbagi informasi, atau berdiskusi tentang langkah pengobatan selanjutnya. Kadang terlihat gesit bergerak dari satu bagian ke bagian lain mengurus keperluan, kadang terlihat lelah terlelap di kursi panjang karena harus berjaga semalaman. Pembesuk adalah jaring dukungan sosial yang sangat kuat di lingkungan rumah sakit ini. Interaksi mereka melintasi batas profesi: berbicara sopan pada dokter, meminta bantuan pada perawat, bernegosiasi dengan tukang parkir, membeli makanan dari pedagang. Mereka adalah penghubung yang menghidupkan interaksi antar berbagai elemen di ruang ini.

Baca juga:  Kapitalisme Dari Bawah

Catatan Penutup

Rumah sakit daerah ini, jika dilihat lebih dalam, bukan sekadar lokasi pertemuan beragam profesi, melainkan cermin nyata dari struktur sosial masyarakat kita yang penuh ketimpangan dan hirarki. Di balik keteraturan lalu-lalang manusia yang tampak saling membutuhkan, tersusun lapisan-lapisan nilai yang membedakan siapa yang dianggap “penting” dan siapa yang sekadar “ada”, siapa yang memegang kendali dan siapa yang hanya mengikuti arus.

Dokter dan tenaga medis menempati posisi puncak, diiringi otoritas pengetahuan dan kekuasaan dalam menentukan nasib orang lain. Di bawahnya, perawat dan tenaga pendukung bekerja sebagai tulang punggung pelayanan, menanggung beban kerja berat namun sering kali hanya dianggap sebagai perpanjangan tangan dari wewenang medis itu sendiri. Lebih jauh ke bawah, terdapat lapisan-lapisan pekerja yang keberadaannya sangat vital namun secara sosial dan ekonomi diposisikan di pinggiran: tenaga kebersihan yang menjaga keamanan lingkungan namun kerap tidak dilihat; juru parkir dan tukang bentor yang menjadi penyangga mobilitas, hidup dari pendapatan harian yang tak menentu; serta pedagang kaki lima yang memanfaatkan celah ruang kosong demi bertahan hidup. Mereka semua bekerja dalam lingkaran kebutuhan yang sama, namun terpisah jauh dalam hal pengakuan, kesejahteraan, dan rasa aman.

Yang paling menarik dan sekaligus menyedihkan adalah bagaimana ruang ini bekerja sebagai sistem pemisah. Ruang rawat dan ruang praktik dijaga rapi, eksklusif, dan bersih, sementara aktivitas ekonomi informal berdesak-desakan di pinggiran, di teras, atau di sepanjang pagar luar—seolah keberadaan mereka hanya ditoleransi, bukan diakui sebagai bagian tak terpisahkan dari ekosistem rumah sakit. Ketika fasilitas kesehatan ini berbicara soal kesetaraan pelayanan bagi orang sakit, pada saat yang sama ia mereproduksi ketimpangan bagi orang-orang yang bekerja di dalam dan di sekelilingnya.

Di tengah segala dinamika itu, orang sakit dan keluarga pembesuk hadir sebagai pihak yang paling rentan, menjadi objek layanan sekaligus sasaran transaksi ekonomi. Mereka bergerak dalam ketidakpastian, terjepit antara harapan kesembuhan dan tekanan biaya, antara kepercayaan pada ilmu medis dan keterbatasan kemampuan diri. Fenomena ini memperlihatkan bahwa rumah sakit bukan hanya tempat penyembuhan biologis, melainkan arena di mana masalah sosial, ekonomi, dan budaya bertemu dan bernegosiasi secara kasat mata.***

0%