Ada Revolusi dalam Lagu Makassar?

Dari Musik Kaset Pita ke Penyanyi Youtube

Oleh Muhammad Ridha

 

lukisan oleh Agus Suwage

Sallo ku ammoli’ nakku
Kurampa’ takubosarrang
Aule lanri mallakku
Salasa ri panrannuang
Kuempo’empoang minne
Kutinro-tinroang tommi
Aule kupila’ kamma
La panrak naloko’ nakku
Apamo napassabakki
Kaupa nia’ ku te’ne
Iajinu takucini’
Lussa’ tena pamangeang
Bara’ na nia anjo anging
Akkulle mangngerang nakku
Kusuro pabattu tonji
Nakku takarapikangku…

 

Lagu yang dinyanyikan Ridwan Sau di atas berjudul naloko’ nakku. Populer di tahun 2007 sampai 2010-an. Dinyanyikan kembali oleh Muhammad Alifi, seorang pemula, dengan gitar akustik yang dimainkannya sendiri dengan mic dan  sound system sebuah café penghujung tahun lalu. Ada nuansa berbeda mendengar lagu-lagu Ridwan Sau dari kaset CD atau video di Youtube yang diunggah dari video klip lagu tersebut ketika pertama kali dipopulerkan. Ridwan Sau menyanyikannya dengan iringan keyboard elekton yang bisa memancarkan suara saksofon di awal dan suara ritmik gendang dan paduan gitar setelah mulai dinyanyikan oleh penyanyi. Sementara Alifi menyanyikannya dalam suasana café kosmopit di atas panggung kecil di hadapan mic dan sistem suara dari sebuah café bernuansa urban. Dengan iringan gitar akustik dan suara yang berat tapi landai milik Alifi, lagu ini menjadi serum yang disuntikkan masuk ke dalam aliran darah para penontonnya yang merindukan lagu-lagu Makassar yang makin redup industrinya. Orang Makassar, sebagai konsumen langsung (atau sering dianggap pemilik kultural lagu tersebut) adalah suku bangsa yang mendiami jazirah selatan pulau Sulawesi Bagian Selatan dan menggunakan bahasa Makassar sebagai bahasa ibu. Pengguna bahasa tersebut membentang dari sebagian wilayah kabupaten Pangkaje’ne Kepulauan, Kabupaten Maros, Kota Makassar hingga sebagian besar penutur bahasa Makassar (sub bahasa konjo) di Kabupaten Bulukumba dan Selayar. Tak kurang dari 9 kabupaten kota dengan penduduk berjumlah lebih dari 4 juta orang tentu saja di luar mereka yang telah merantau jauh ke seberang sebagai penduduk kota lain. Jumlah itu saja, sudah cukup sebagai pasar akan lagu-lagu romantika atas kampung halaman dan bahasa ibu.

Bait-bait Lagu yang dikutip di awal tulisan diatas berkisah tentang seorang kekasih yang rindu teramat sangat kepada kekasihnya, yang hanya bisa bahagia bila bersama kekasihnya, tapi, sayangnya, tak mampu bersua. Rindunya tak kesampaian. Lagu percintaan yang sedih dengan menggunakan medium bahasa ibu orang Makassar. Ketika ditonton dari tempat jauh dari kampung halaman akan menjadi syahdu, bukan? Coba tengok komentar seorang penonton konten Youtube Muhammad Alifi untuk lagu di atas: “Aduh rindu kampung halaman. Jadi mau pulang segera ke keluarga…”. Begitu tulis akun bernama Ulil Amri yang mengaku sedang bermukim di Seko, Luwu Utara. Atau komentar “terimakasih sudah mengobati rindu kampung” dari akun Muhammad Iqbal yang bermukim di Sangatta, Kalimantan Timur.

Saya menonton dan mengamati sejumlah konten lagu daerah Makassar dari laman Youtube. Saat menulis artikel ini, saya mendengarkan lamat-lamat ‘minasa ri boritta’ dinyanyikan oleh Alifi. Pengalaman menyaksikan medium lama berupa kaset CD (compact disk) yang dulu digunakan dengan video klip (atau tanpa video klip) dengan medium baru berupa konten video bebas akses dari internet dengan videografi yang, sering tanpa disiplin videografi sekalipun, membuat lagu sama yang dinyanyikan Alifi belakangan lebih ngepop dan memberi dimensi kosmopolit atas lagu daerah tersebut. Selama ini lagu-lagu yang dinyanyikan di ruang pubik seperti café atau konser dengan iringan gitar akustik itu hanya lagu-lagu pop balada seperti milik Iwan Fals, Ebiet G Ade atau lagu pop lainnya. Ini memberi kesan kepada saya ada proses membuat lagu Makassar menjadi lagu dengan rasa “budaya tinggi” yang lebih kosmopolit. Budaya anak-anak gaul di café dan resto ternama dan dinyanyikan oleh artis ibukota. Sementara menyaksikan video klip lagu lama milik Ridwan Sau atau Iwan Tompo membuat rasa seni saya menempatkannya, istilah dalam cultural studies, sebagai “budaya massa” yang berkaitan langsung dengan etnik penuturnya saja.

Baca juga:  Potret Orang-orang Biasa dalam Perjalanan Keliling Turki

Sejak kapan fenomena ini terjadi? Saya tidak menelitinya lebih jauh kecuali hanya dengan menghitung usia postingan yang diunggah di youtube dengan membaca keterangan usia video tersebut. Rata-rata diunggah belum lebih dari setahun terakhir. Video terjauh hanya milik Dammu yang telah diunggah sejak setahun yang lalu. Sementara video lainnya belum berusia setahun dan telah ditonton ratusan ribu penonton, dibagikan ribuan kali dan disukai oleh sekian ribu orang. Jika dulu lagu daerah dinyanyikan di panggung orkes melayu atau elekton saat pesta pernikahan dengan audiens tak lebih dari keluarga besar para mempelai (atau pemilik hajatan) dan tetangga sekitar, saat ini merangkul ratusan ribu penonton di medium berbeda: video daring di laman Youtube.

Sebenarnya ini tak hanya terjadi dalam lagu berbahasa Makassar saja. Nama-nama seperti Dian Trieka, Fahmi Adriawan dari kamizawa official, atau Ananda Putri dan Arman Pio dari komunitas jalan cerita yang menyanyikan lagu-lagu berbahasa bugis. Saya melihat kedua pasang penyanyi ini mengunggah videonya ke youtube baru dalam usia mingguan hingga yang terjauh milik Dian Trieka berjudul api naittiri wae atau tana ugi’ wanuakku yang baru berusia enam bulan sejak diunggah pertama kali.

Lahirnya Generasi Baru

Ada banyak generasi penyanyi lagu-lagu Makassar yang sekarang ini amat popular di media penyedia space untuk video dalam laman maya seperti Youtube. Beberapa di antaranya sering saya tonton dan secara iseng menelusuri genre tersebut di media Youtube seperti nama-nama Muhammad Alifi, Sese Lawing, Azis Siama, Azhari atau Dampu dan Nadia Amalia. Mereka semua menyanyikan lagu-lagu lama yang dulu popular dinyanyikan oleh generasi lama seperti lagu Iwan Tompo, Anci Laricci atau Kahar HS. Juga Ridwan Sau atau Dian Ekawati. Kecuali beberapa lagu gubahan Azis Siama yang dinyanyikan sendiri.

Kepopuleran yang saya sebutkan ini saya kira bukan semata konser-konsernya yang besar dan didatangi banyak orang seperti penyanyi-penyanyi lama, tapi justru karena penonton pada lagu-lagu yang mereka nyanyikan dan unggah di Youtube. Ketika saya memeriksa data jumlah penonton untuk konten-konten lagu yang mereka nyanyikan misalnya saya menemukan untuk lagu Minasa ri Boritta yang dinyanyikan oleh Muhammad Alifi telah ditonton oleh lebih dari 486.000 orang dan telah dibagikan lebih dari seribu kali dalam sepuluh bulan sejak pertama kali diunggah. Bahkan album (kompilasi beberapa lagu dalam pemutaran video Youtube) kumpulan lagu Makassar  yang dinyanyikan Alifi yang berjumlah 21 lagu dinyanyikan dengan ekspresi suara dan gerak melalui video sederhana dan alat musik akustik yang dimainkannya sendiri telah ditonton oleh lebih dari 679.000 penonton. Album ini berisi lagu-lagu popular seperti boli’ma kale-kale, pamma’risinnu sampai lagu naloko’nakku yang dulu dipopulerkan oleh Ridwan Sau.

Baca juga:  Dua Imam Masjid, Dua Kisah dari Turki

Sese Lawing, penyanyi dalam orkes-orkes melayu di daerah Jeneponto, menjadi popular di youtube karena lagu naloko’ nakku yang dinyanyikannya dengan gitar akustik didepan kamera standar lalu diunggah ke youtube. Video lagu ini telah ditonton hampir 50 ribu penonton dan dibagikan ribuan kali. Nadia Amalia yang menyanyikan janjingku telah ditonton 244 ribu kali dalam 11 bulan sejak pertama kali diunggah. Atau Dampu, seorang mahasiswa dan penggiat kesenian di salah satu kampus di Makassar, menyanyikan lagu Ridwan Sau berjudul Cinna telah ditonton hampir 800ribu kali dalam masa setahun sejak diunggah.

Komunitas Musik Daerah

Di belakang para generasi penyanyi lagu daerah di Youtube, menariknya, tak ada label-label musik besar semisal di era musik pita itu ada Libel Record, Irama Baru atau yang jangkauannya nasional untuk lagu-lagu berbahasa Indonesia bisa kita liat seperti Sony musik, atau label terkenal lainnya. Mereka disokong oleh komunitas yang berbasis pada praktik seni yang lebih sederhana: ada mic, gitar akustik dan sound maka sudah bisa divideokan dan diunggah ke publik lewat ruang yang disediakan oleh Youtube. Komunitas seperti untuk lagu berbahasa Makassar adalah Oase Turatea yang menjadi panggung banyak musisi muda seperti Sese Lawing, Muhammad Alifi dan Nadia Amalia (untuk menyebut beberapa nama yang paling menonjol). Atau ada komunitas kamizawa official dan komunitas jalan cerita sebagai wadah bagi Arman dan Pio untuk lagu-lagu berbahasa bugis yang banyak ditonton oleh pemirsa.

Kemunculan komunitas yang dengan sengaja mendokumentasikan praktik seni menyanyikan lagu daerah yang kemudian dipertontonkan di Youtube ini mendorong trend baru apresiasi musik para penikmat musik daerah. Terutama dengan langgam, iringan musik dan cara bermusiknya yang lebih sederhana tapi berhasil memberi kemasan baru atas lagu-lagu pop daerah yang selama satu decade terakhir terlihat vakum dan gamang menyikapi serbuan teknologi digital, perangkat komputer atau aplikasi yang bisa dengan mudah mereplikasi suatu karya musik dan menyebarkannya ke khalayak luas. Kondisi ini menyebabkan label-label besar rontok.

Ada Revolusi dalam Lagu Makassar? 

Ada revolusi diam-diam dalam balantika musik lagu-lagu daerah kita: lagu-lagu lama yang dinyanyikan dan hits oleh generasi penyanyi lagu daerah yang lebih tua dinyanyikan ulang dengan kemasan berbeda oleh penyanyi-penyanyi muda belia dengan alat musik dan medium yang lebih sederhana. Alih media lagu-lagu daerah Makassar ini beriringan dengan ramainya penggunaan media Youtube atau aplikasi-aplikasi video lainnya. Dulu,  kaset pita, digantikan oleh era compact disk lalu generasi Winamp dan terakhir pemutar lagunya sekaligus juga videografinya, Youtube. Youtube telah merevolusi akses dan relasi kita dengan musik (juga musik daerah tentu saja). Hal ini bisa jadi pertanda peralihan-peralihan selera musik warga atau malah menjadi revolusi cara bermusik daerah seperti juga musik pop atau genre yang lain yang terus berevolusi?

Baca juga:  Masjid-masjid di Turki

Dr Matthias Mauch dari Universitas Queen Mary, London ikut dalam penelitian yang dilakukan oleh tim dari Universitas Queen Mary dan Imperial College London lebih dari 17.000 lagu di tangga billboard hot 100. Mereka meneliti banyak aspek soal musik seperti harmoni, warna nada atau perubahan-perubahan kunci nada. Ini seperti merekam jejak perubahan musik pop dunia sejak tahun 1960 sampai 2010. Salah satu yang menarik dari hasil penelitiannya adalah bahwa dalam musik pun revolusi terjadi berkali-kali. Dia merujuk revolusi pertama pada pada tahun 1960-1964 menjadi revolusi pertama saat nada blues dan jazz mulai menghilang dari musik pop seiring datangnya invasi pemusik Inggris yang mendunia seperti The Beatles dan Rolling Stone. Sementara revolusi kedua didorong oleh introduksi alat musik baru seertisynthesizer dan drum. Kemudian revolusi ketiga, yang terjadi pada tahun 1991, ketika musik rap dan hip-hop mulai popular dengan tidak lagi mementingkan harmoni nada tapi pada cara pengucapan dan ritme.”(bbc.com: 2015).

Bisakah klasifikasi Dr Mauch di atas dipasangcocokkan ke dalam sejarah perubahan musik daerah Makassar? Pada dasarnya, temuan tersebut amat bisa jadi, digunakan untuk membaca konteks balantika musik kita yang sebenarnya tak jauh-jauh amat dari perubahan musik global. Meski tentu saja punya ciri lokal sendiri-sendiri. Seperti jika kita amati penggunaan alat musik yang terus berubah dalam menyanyikan lagu-lagu Makassar seperti penggunaan alat musik seperti kacapi atau sinrilik, penggunaan keyboard dan masuknya langgam dangdut dan pop dalam cara-cara menyanyikan lagu daerah Makassar hingga, era virtual ini, saat orang-orang di ruang yang lebih luber dan kosmopolit menyanyikan lagu Makassar tanpa iringan musik dari keyboard atau tanpa langgam dangdut dalam petikannya tetapi musik klasik dengan gitar akustik elektronik dengan latar café pop. Kemudian yang terakhir ini menyebar tanpa batas teritorial, sejauh bisa mengakses internet dan memiliki kuota dan aplikasi youtube, maka silahkan nikmati dan hanyut dalam syahdunya memori kampung halaman dalam lagu-lagunya dari ponsel genggam anda. Satu hal yang revolusioner dan baru dirasakan secara intens tahun-tahun terakhir ini saya kira.[]

Komentar Pembaca CaraBaca

BUKU TERBITAN CARABACA.ID

Melawan Rezim Infrastruktur - Studi Ekonomi Politik

Sebagai cara untuk tetap waras dan terus melanggengkan perlawanan terhadap segala bentuk ketidakadilan, CaraBaca terus memproduksi wacana alternatif  dengan menulis, membaca, diskusi, dan mengorganisir akar rumput.
BELI PRDOUK KAMI SEBAGAI DUKUNGAN
close-link
0%