Membangun Dunia Islam Anti-Komunis

Bagaimana para Intelektual Islam Ikut Menggaungkan gagasan Anti Komunisme?

Oleh: Muhammad Ridha

“Mereka secara kritis disituasikan untuk memainkan peran-peran penting dalam menentukan pengetahuan apa, gagasan apa, pandangan-pandangan dunia yang bagaimana yang mendapatkan dukungan, dan di mana kemudian dimasukkan ke dalam wacana umum masyarakat”

[Edward H Berman]

Begitu banyak sambutan dari kalangan intelektual atas terbitnya buku dari seorang intelektual dan akademisi islam, Ahmet T Kuru berjudul Islam, Otoritarianisme dan Keterbelakangan  (2020). Kuru adalah dosen ilmu politik di San Diego University. Sejumlah diskusi dan ulasan berbahasa Indonesia digelar seperti wawancara khusus yang diturunkan oleh tirto.id berjudul Ahmet Kuru: Tradisi Islam Demokratis Hancur oleh Otoritarianisme, review di media republika.co.id, Kumparan.com, islamsantun.org menurunkan artikel review Radikalisme, Otoritarianisme dan Ketertinggalam Kaum Muslim dan beberapa media yang lain. Hampir semua memujinya sebagai karya menarik dan memberi catatan empiris untuk refleksi dunia Islam. Sayangnya, dari sejumlah ulasan tersebut, tak satu pun yang menguliknya secara lebih kritis meski argument pokoknya jelas ingin mengeliminasi pengalaman empirik dunia Islam yang luas yang ambrol karena kolonisasi. Kuru tak percaya itu dan membangun argument yang mengeliminasi kenyataan itu. Atau keberatan atas argumen-argumennya yang sejauh yang saya lihat lebih bertendensi liberalis sekuler dan menentang Islam politik dan paradigma politik lain seperti komunisme di dunia Islam yang diringkusnya dalam tabel-tabel dan menggolongkannya sebagai pemerintahan otoriter saja.

Tak sepenuhnya keliru. Tapi jelas, itu menunjukkan secara simtomatik Kuru melalui bukunya ini mendorong suatu model liberalisme dan seluruh nilai-nilainya di dunia Islam dan, dengan itu juga, menyingkirkan alternatif-alternatif model yang lain. Karenanya, ingin sekali memulai pertanyaan ‘mengapa setiap pemikiran mengenai dunia Islam yang berdasar argument liberalis semacam itu lebih mudah diterima daripada, misalnya Samir Amin, pemikir islam lainnya yang berhaluan marxist, lebih sulit diterima? Misalnya ulasan Samir Amin mengenai Arab Spring[1] yang dilihatnya sebagai pukulan terakhir atas sosialisme arab tak pernah digubris di dunia Islam, khususnya yang saya amati di Indonesia. Padahal argument-argumennya saya kira tak kalah mendasar dan kuatnya. Yang dipercaya malah asumsi-asumsi bahwa ada demokratisasi di belakang fenomena yang disebut Arab Spring.

Kondisi ini menunjukkan bagaimana liberalism dan janji-janjinya masih begitu dipercayai oleh dunia Islam sementara secara sebaliknya, membenci komunisme, sebagaimana akan ditunjukkan jejaknya di dalam tulisan ini.

Melanjutkan Tradisi Liberal

Tulisan Ahmet Kuru ini sesungguhnya tidaklah khas dalam studi islam kecuali pada argumen-argumennya yang merujuk dan sekaligus mengkombinasikan hasil-hasil survey-survey kontemporer kondisi dunia Islam yang dilakukan lembaga-lembaga seperti freedom house, UNDP atau World Bank dan beberapa rujukan yang lain yang membuatnya lebih kaya. Juga tentu saja bahan bacaan dari sejarah klasik yang amat kaya. Selain dua hal ini, Kuru sebenarnya mengulang-ulang argument para sarjana liberalis yang melihat dunia islam akan menjadi lebih baik dengan anjuran-anjuran ekonomi kapitalisme.

Memang dunia islam, seperti kita saksikan sejak berakhirnya perang dunia kedua, menjadi arena dari pertarungan gagasan dan pertarungan kuasa antara blok komunis yang dipimpin Uni Soviet dan blok kapitalis yang dipimpin oleh Amerika Serikat, yang disebut perang dingin. Meski panggungnya tidak hanya di wilayah-wilayah dunia Islam, tapi dunia islam adalah salah satu wilayah yang paling luas terlibat dan sekaligus menerima dampaknya.

Pengamatan bahwa dunia Islam adalah panggung pertaruhan supremasi, baik militer maupun gagasan strategis, oleh kedua blok di atas, dilakukan oleh Eugene Rogan dan Tamim Ansary masing-masing di karya monumentalnya Dari Puncak Khilafah (2018)[2] dan Tamim Ansary Dari Puncak Bagdad Sejarah Dunia versi Islam (2015)[3]. Di dunia Islam sendiri, mereka yang mendukung blok komunis disebut progresif dan mereka yang mendukung blok sekutu adalah reaksioner. Beberapa negara yang cenderung kepada sekutu Amerika Serikat di dunia arab misalnya bisa disebutkan seperti Arab Saudi, Pakistan, Iran sebelum revolusi islam, negara-negara kaya minyak di teluk, Turki dan Afganistan di era Taliban awal.

Blok komunis di dunia islam bisa dilihat di tahun-tahun 50-an merentang luas wilayahnya di dunia Islam yang mencakup Mesir, Libya di Afrika, Suriah, Irak dan Lebanon, Afganistan sebelum era mujahiddin/Taliban, Indonesia dan tentu saja negara-negara Asia Tengah yang memang sudah jelas terhimpun dalam lima belas republik yang mendirikan Uni Soviet. Tentu saja ini tidak menyebutkan bagaimana negara-negara baru di wilayah dunia Islam yang meraih kemerdekaannya dan momen-momen historis para aktifis kemerdekaan dan negara di Dunia Islam menggunakan perangkat-perangkat marxisme atau komunisme dalam perjuangan kemerdekaannya. Baik secara langsung tergabung dalam Komunis Internasional maupun partai-partai berhaluan komunis atau Marxist yang tidak terhubung secara langsung dengan komunis internasional. Juga pengaruh luas gagasan anti-imperialism yang diusung gerakan komunis ke dalam jantung gerakan di Konferensi Asia Afrika dan Gerakan Non-Blok.

Kedua blok ini hingga keruntuhan Uni Soviet pada tahun 1991 masih terus berseteru. Bahkan hingga tahun 1989, saat Soviet sudah mengalami krisis akut, ketika rezim para ‘mujahid’ yang dibiayai Amerika Serikat[4], Saudi Arabia dan Pakistan melawan pemerintahan komunis PDPA di Afganistan, Soviet masih membantu. Khusus untuk Afganistan, para intelektual liberal dan Islamis mempercayai jika jihad yang dilakukan di Afganistan itu adalah murni karena kekuatan spiritualitas Islam. Padahal jelas sekali agen-agen CIA terlibat teknis maupun support dana hingga senjata kepada mereka yang diklaim ‘mujahiddin’.[5] Para mujahid bentukan Amerika ini terlibat merekrut dan melatih milisi di Pakistan lalu memasukkannya ke sejumlah front di Afganistan dengan suatu imajinasi jihad islam melawan komunis ateis. Seperti propaganda Amerika Serikat di banyak tempat untuk melawan komunisme.

Baca juga:  Episode Sains Islam II

Para Intelektual Islam Anti-Komunis

Sebagaimana Kuru, para intelektual Islam banyak yang berpandangan sama dengan Kuru. Beberapa diantaranya saya kemukakan pandangannya di bagian ini.

Salah satu intelektual yang tenar di dunia islam yang luas, dikenal sebagai futurolog, mendorong islam yang otentik yang kemajuannya tidak dipengaruhi barat. Baik dari sisi pengetahuan dari dunia pertama maupun dari dunia kedua. Meski demikian islamnya yang otentik itu yang menekankan “pembatasan konsumsi dan redistribusi sumberdaya secara merata” tidak pernah jelas rujukan historisnya dan konseptualnya. Di dunia Islam modern semacam apa dan dimana itu mungkin terjadi? Dalam apologianya soal sistem sosial, ilmu pengetahuan dan sistem ekonomi islami yang dibayangkannya enam dekade lalu, sesungguhnya mewujud menjadi penerimaan atas imperialism. Dalam sebuah bukunya yang diterbitkan pada akhir tahun 60-an, Ziauddin misalnya menjelaskan tentang pentingnya dunia islam keluar dari pengaruh barat. Seperti ditulisnya: “Akibat utama dari otoritas barat itu adalah perkembangan sains dan teknologi di negara-negara islam hanyalah demi kepentingan barat. Kesempatan ini dimanfaatkan terutama sekali oleh pengusaha-pengusaha barat dalam beberapa komoditi seperti minyak di Iran dan Arab, karet, timah dan berbagai sumber penting lainnya di Malaysia dan Indonesia. Dalam konteks eksploitasi ini mungkin sekali keuntungan dan sekaligus malapetaka yang paling besar adalah akibat dari penyerangan militer yang besar-besaran terhadap negara-negara muslim merdeka di Asia Tengah dalam tahun-tahun 1920-an dan 1930-an oleh Rusia dan Cina Komunis. Lagipula kedua negara ini jauh lebih imperialistis daripada negara imperialis manapun dengan mencaplok negara-negara yang dikalahkannya.”[6]

Cara dia menyembunyikan eksploitasi kolonial dan imperialisme eropa barat yang berlangsung berberapa abad tak disebutkan sebagai sebuah kejahatan luar biasa sementara Soviet di tahun 1920an sampai 1930an disebutkan sebagai ‘malapetaka paling besar’. Saya mencoba mencari-cari dari bacaan saya yang terbatas peristiwa penaklukan militer di tahun itu tapi saya tidak menemukannya. Setahu saya pemerintahan komunis di bawah Stalin memerintah antara tahun 1927 sampai tahun 1953. Di era-era tersebut ada kekerasan dilakukan oleh pemerintahannya. Dan juga perlu catatan atas komentar Sardar tersebut yang bersumber dari seorang birokrat Inggris di India yang menulis Soviet Empire bernama Sir Olaf Caroe. Seorang yang pernah menjabat gubernur di India yang saat itu dijajah imperialis inggris yang kepentingannya rusak setelah aliansi tridente antara Prancis, Inggris dan Rusia pecah akibat revolusi oktober yang menarik Rusia dari perang lalu membentuk pemerintahan soviet yang didirikan oleh 6 di antaranya republic sosialis berpenduduk Islam yang disebut Sardar diserang oleh Rusia. Padahal negara soviet sendiri dibentuk atas persetujuan 6 republik sosialis islam di Asia Tengah itu. Bagaimana bisa sebuah negara merdeka, dalam satu kesatuan republik Sosialis federasi Soviet menginvasi yang lainnya? Suatu kontradiksi inter minus. Menunjukkan kedangkalan pemahaman Sardar atas Soviet dan bagaimana republik anti imperialis itu dibentuk.

Meski terlihat tidak memihak kepada kolonialisme dan selanjutnya kapitalisme global, Sardar seperti menerima atau meminjam istilah Wijaya Herlambang, ‘mewajarkan’ kenyataan imperialisme kapitalis dengan hanya menawarkan paradigma islam yang mengambang sejak tahun 1980-an. Atau dia menyebutnya sains Islam. Cara melihat dunia antara barat dan islam, atau antara kapitalisme (sebagai yang disebutnya barat) dan Komunisme (yang juga disebutnya barat) ada sistem pengetahuan dan pembangunan dunia Islam yang lebih baik. Tapi bagaimana itu mewujud hingga kini tak pernah bisa dijelaskan dan dirujuk. Jika memeriksa beberapa negara dengan etos progresif dan Islamis, yang paling bisa dirujuk saat ini adalah Iran pasca revolusi 1979. Tetapi ini jelas sekali sebagai sebuah spirit revolusi anti imperialis yang tidak hanya diwarnai nilai-nilai islam semata tapi juga berkawin mawin dengan gagasan marxis seperti dikemukakan oleh tokoh seperti Ali Syariati dan yang lain.

Pemikiran Sardar, sebagaimana bisa dilihat dalam karyanya yang lebih baru, menunjukkan dimensi pengetahuan lamanya yang lebih condong kepada kapitalisme kolonial atau pewarisnya dalam bentuk kapitalisme global, telah berubah kepada solusi-solusi yang lebih menyadari masalah-masalah yang ditimbulkan oleh kapitalisme kolonial dan rezim pelanjutnya bagi dunia dan dunia islam secara khusus. Tapi jejak anti komunisnya jelas sekali dalam argumen-argumen sebagaimana yang ditunjukkan dalam bukunya yang belum lama ini terbit Kembali ke Masa Depan Syariat Sebagai Metode Pemecahan Masalah sebagaimana dikemukakannya mengenai spiritualitas islam yang murni bahkan bisa mengalahkan kekuatan super power dunia seperti disebutkannya untuk kasus Afganistan tahun 1989. “Kesuksesan kelompok mujahidin di Afganistan menunjukkan bahwa dorongan religious murni dapat mengalahkan negara super power dunia”[7] jelasnya.  Sebuah penjelasan yang tidak hati-hati dalam melihat perang mujahidin melawan rezim komunis Afganistan yang dibantu oleh Uni Soviet yang jelas merupakan “proyek Jihad” Amerika Serikat” dengan biaya sangat besar dan bukan sekedar dorongan religius murni. Apa dana Amerika Serikat, Inggris dan Arab Saudi ke kamp-kamp pelatihan para mujahiddin itu disebut murni dorongan religious?[8]

Baca juga:  Episode Sains Islam (III)

Cara pandang islamis seperti ini saat melihat bagaimana umat islam bisa bangkit atau tenggelam dalam krisis juga dikembangkan oleh Ali A Allawi dalam bukunya yang best seller di beberapa negara dan dia sendiri dipuji sebagai world original thinker oleh majalah terkemuka Inggris Prospect Magazine. Dalam tulisan paling menariknya, Krisis Peradaban Islam, dia juga mengajukan proyeksi suatu sistem islami untuk kebangkitan dan kemajuan Islam yang akan mewarnai perubahan-perubahan masa depan Islam yang disebutnya spiritualitas Islam. Suatu spirit moral yang mendorong kepada asketisme sufistik yang dibelanya dari serangan epistemology rasionalis atau modernis di barat. Seperti dikemukakannya: “Dalam pandangan para rasionalis, ilmu tasawuf merupakan sistem pemikiran palsu berdasarkan tahayul, halusinasi, penciptaan mitologi dan keadaan serta pengalaman yang kebenarannya belum terbukti, yang mendekati keadaan gila. Para modernis menganggap dalam cerita-cerita rakyat islam terdapat bentuk indoktrinasi primitive massal yang sangat buruk dan bertentangan dengan keyakinan mereka bahwa islam selaras dengan dunia modern”[9] sebagaimana disadarinya juga bahwa sufisme sendiri memang seperti yang banyak dikritik itu bahwa “semua faktor tersebut menggerus keabsahan dan relevansi tarekat-tarekat sufi tradisional- walaupun tidak pada sufisme sebagai pemantul dimensi-dimensi batiniah islam”[10]

Cara pandang liberalis dan sekaligus anti komunis, yang merupakan hasil-hasil dari operasi-operasi berbagai kelompok di Central Intelegence Agenci (CIA) untuk kepentingan blok kapitalis adalah kelanjutan dari produksi dan reproduksi gagasan semacam itu dari banyak intelektual Islam. Di Indonesia pemikir seperti Nurcholis Madjid misalnya, dalam tulisannya tahun 80-an menunjukkan cara yang kurang lebih sama melihat gagasan progresif seperti marxisme, leninisme sebagai bahaya sekuler dan ateis dan begitu membela gagasan liberalis yang dipraktikkan di negara Eropa Barat atau Amerika Serikat.[11]

Yang lebih ekspresif menulis gambaran-gambaran buruk mengenai Uni Soviet dan komunisme adalah Akbar S Ahmed. Seorang antropolog kelahiran Pakistan yang menjadi professor tamu di Princeton University dan Harvard University Amerika Serikat. Secara berlebihan dan buruk menulis “Bagaimana Rusia mengendalikan wilayah yang sangat jauh ini- jawabannya terkandung dalam dua kata: kekuatan brutal”[12]. Begitu mengerikan dan tak faktualnya pengamatan sambil lalu Akbar yang sekedar berjalan berkeliling dunia Islam dan kemudian menuliskannya dalam sebuah buku amatan antropologis yang lebih cocok disebut catatan perjalanan berjudul Living Islam Tamasya Budaya Menyusuri Samarkand hingga Stornoway (1997). Secara buru-buru dan sembrono menyimpulkan ganasnya rezim soviet terhadap wilayah-wilayah Asia Tengah. Tetapi dalam paragraf-paragraf yang diajukan selanjutnya sebagai fakta penguat klaimnya di awal soal kekuatan brutal itu tak satupun menunjukkan kebrutalan Soviet tetapi kebrutalan kekaisaran Rusia yang justru ditumbangkan oleh Revolusi Bolsevik dan mendirikan Republic Sosialis Federasi Soviet di atas puing-puing imperium feodal itu.

Refleksi

Sebagai akhiran dari artikel ini, saya ingin menyampaikan bagaimana alur dari kerja-kerja intelektual yang, menurut bahasa Berman telah ‘disituasikan’ agar memberi angin segar bagi liberalisme dan mendeligitimasi komunisme seperti kasus dunia Islam di Indonesia. Proses ini disebut Wijaya Herlambang, seorang akademisi jebolan University of Quensland dan penerima Pot-Graduate Award (2006-2009) di Australia yang meneliti isu kekerasan buda pasca 1965, sebagai kekerasan budaya. Bukunya yang popular membahas isu kekerasan budaya adalah kekerasan Budaya Pasca 1965 Bagaimana Orde Baru Melegitimasi Anti-Komunisme Melalui Sastra dan Film (2013). Buku ini diadaptasi dari disertasinya berjudul Cultural Violance: Its Practice and Calengge in Indonesia (2011). Dia menyampaikan bahwa komunisme dibenci di Indonesia itu bukanlah sesuatu yang alamiah. Tetapi sesuatu yang diproduksi secara kebudayaan melalui agen-agen kebudayaan liberal dan produk-produk kebudayaan yang diciptakannya. Siapa mereka yang disebut agen kebudayaan liberal dan pengusung anti-komunisme yang jelas bekerja dan dibiayai oleh lembaga-lembaga donor Amerika seperti Rockefeller dan Ford Fondation atau CCF? Disertasi Wijaya Herlambang yang diangkat jadi buku ini menyebutkan tokoh-tokoh penting diskusi kebudayaan di Indonesia seperti Goenawan Muhammad, Muhtar Lubis atau Taufiq Ismail. Juga murid-murid dari tokoh ini, Seperti Ulil Absar Abdallah, Lutfhie Asyaukani, dan yang lain yang berada di lembaga seperti Jaringan Islam Liberal. Juga yayasan seperti Yayasan Obor, Freedom Institut, Jaringan Islam Liberal (JIL) atau Komunitas Utan Kayu.[13]

Baca juga:  Dunia yang Dilingkari Buku-buku

Tokoh-tokoh intelektual dan kebudayaan inilah, untuk kasus dunia Islam di Indonesia, yang memberi legitimasi bagi liberalism dan anti komunisme. Sesuai dengan rancangan Amerika Serikat melalui CIA dengan membentuk lembaga Congress for Cultural Freedom (CCF) yang menyusun suatu kerangka kerja kebudayaan dan intelektual bagi politik liberalism dan anti-komunisme. Tokoh penting CCF yang juga agen CIA, Ivan Kats melakukan surat-menyurat dan bertemu langsung dalam sejumlah kesempatan dengan Goenawan Muhammad dan merencanakan kerja-kerja intelektual dan kebudayaan anti komunisme. Dia bekerja sebagaimana digambarkan Martin Suryajaya, “membuat wajar kapitalisme”[14] sehingga kekerasan di belakang eksploitasi kapital itu diterima sebagai sesuatu yang wajar dan ‘sunnatullah’. Atau dalam bahasa Wijaya Herlambang “mewajarkan kekerasan pasca 65”.

Kekerasan terhadap PKI dan simpatisannya pasca 1965 dan kekerasan kebudayaan lanjutannya di Indonesia, yang hingga kini terus berdentum setiap bulan september, bertemu dengan semakin banyaknya sarjana Islam jebolan barat yang mempercayai liberalisme sebagai suatu pandangan dunia yang tepat untuk Indonesia, juga untuk dunia Islam dan membenci komunisme, membuat dunia intelektual dan akademik kita cemar oleh proyek kebebasan palsu CIA melalui CCF yang membawa kepentingan politik dan kebudayaan Amerika Serikat. Suatu pemikiran yang menyebar luas dan kuat karena ‘disituasikan’.

Lalu, dalam perkembangan selanjutnya, para konsumen dari wacana yang dikembangkan oleh tokoh-tokoh liberalis ini, dunia akademik kita mereproduksi cara berfikir semacam itu. Karena itulah wacana seperti , “pembantaian 600.000 sampai 2juta orang pasca 1965 dianggap sebagai kewajaran”; “liberalisme adalah jalan terbaik”; “pemberangusan syarikat pekerja jadi biasa saja”; “pengupahan dan perbudakan di bawah kapitalisme adalah sesuatu yang pantas saja”; “kolonialisme oleh barat lebih beradab dari bahaya Cina/Soviet komunis” begitu mudah diterima. Pengetahuan semacam ini telah terinternalisasi menjadi sebagai semacam kepercayaan yang membatin. Sebagaimana terlihat pada penerimaannya atas tafsir liberal atas dunia islam yang disampaikam Kuru.

Keyakinan dan pengetahuan ini menyebar di kampus-kampus oleh para akademisi, dosen dan mahasiswanya juga di kalangan intelektual islam seperti telah disebutkan di atas bagaimana mereka  begitu memusuhi komunisme dan memuja-muja Amerika Serikat dan kroninya yang mengisap darah mereka: sejak kolonialisme sampai neoliberalisme kini! Wallahu a’lam bi sawab.

Keterangan: Tulisan ini pernah dimuat islambergerak.com

[1] Samir Amin The Reawakening of The Arab World Calengge and Change in the Aftermath of The Arab Spring (New York: Monthly Review Press (2012) Hal. 6

[2] Eugene Rogan Dari Puncak Khilafah Sejarah Arab-Islam Sejak Kejayaan khilafah Utsmaniah (Jakarta: Serambi, 2017)

[3] Tamim Ansary Dari Puncak Bagdad Sejarah Dunia Versi Islam (Jakarta: Serambi, 2018)

[4] John Pilger Sejarah Afganistan yang Ditutupi (September 2021) dalam operasi yang disebutnya “Tindakan rahasia” dengan menggelontorkan uang senilai 500juta USD. Dalam sebuah operasi dalam membantu membentuk mujahidin di Afganistan, “Gary”, agen CIA membawa uang kontan 100.000 USD dan segera menyusulkan 10juta USD. http://ic-mes.org/politics/john-pilger-sejarah-afganistan-yang-ditutupi/

[5] Nino Oktorino Afganistan 1979-1989 Tentara Komunis Soviet VS Mujahiddin (Jakarta: Elex Media Komputindo, 2020) hal. 1-7

[6] Lihat Ziauddin Sardar Teknologi dan Pembangunan Dunia Islam (Bandung: Penerbit Pustaka, 1989) Hal. 3

[7] Ziauddin Sardar Kembali ke Masa Depan Syariat Sebagai Pemecahan Masalah (Yogyakarta: Serambil, 2005) hal. 139

[8]Lihat reportase menarik John Pilger dalam Sejarah Afganistan yang Ditutupi (September 2021) dalam operasi yang disebutnya “Tindakan rahasia” dengan menggelontorkan uang senilai 500juta USD. Dalam sebuah operasi dalam membantu membentuk mujahidin di Afganistan, “Gary”, agen CIA membawa uang kontan 100.000 USD dan segera menyusulkan 10juta USD. http://ic-mes.org/politics/john-pilger-sejarah-afganistan-yang-ditutupi/

[9] Lihat Ali A Allawi Krisis Peradaban Islam Antara Kebangkitan dan Keruntuhan Total (Bandung: Mizan, 2015) Hal. 420

[10] Ibid. hal. 421

[11] Nurcholis Madjid Islam, Kemodernan dan keindonesiaan yang diterbitkan Kembali dalam bundle buku Karya Lengkap Nurcholis Madjid (Jakarta: Nurcholis madjid Society,2019) hal. 169

[12] Akbar S Ahmed Living Islam Tamasya Budaya Menyusuri Samarkand hingga Stornoway (Bandung; Mizan, 1997) hal. 179

[13] Wijaya Herlambang Kekerasan Budaya Pasca 1965 Bagaimana orde Baru Melegitimasi Anti-Komunisme melalui Sastra dan Film (Jakarta: Marjinkiri, 2013) hal. 16. Lihat juga halaman 245-247 dimana Wijaya menguraikan keterlibatan Jaringan Islam Liberal yang menginduksi dunia islam Indonesia dengan wacana kebebasan dan demokrasi dengan biaya amat besar dari Lembaga donor berkantor di Amerika Serikat seperti Asia Foundation, donor ini menyediakan suntikan dana sebesar 150.000 USD/tahun.

[14] Martin Suryajaya Goenawan Muhammad dan Politik Kebudayaan Liberal Pasca 1965 indoprogress.com/2013

0%