Perjalanan

Oleh: Muhammad Ridha

Ini adalah hari istimewa. Di Iran, Asia Tengah, sebagian wilayah Rusia terutama di kau kasus dan Siberia, Cina terutama di sekitar wilayah provinsi Uighur, wilayah Turki dan wilayah-wilayah bekas Utsmaniah di Eropa Tenggara semua merayakan hari raya Nawruz. Atau negara-negara Asia Selatan seperti Pakistan, Afganistan dan sebagian India. Hari ketika matahari tepat diatas khatulistiwa. Fenomena ekoinoks. Tanda pergantian musim dingin ke musim semi. Biasanya jatuh pada tanggal 21 Maret untuk kalender gregorian.

Kami sedang merayakannya di sebuah kota sebelah barat Samarkand, Navoy. Saya, istri dan ketiga anak saya sedang dianugerahi keberuntungan. Berada di kawasan dimana Nawruz dirayakan begitu meriah. Tak ada rencana matang menentukan akan pergi melihat Nawruz. Tapi keberuntungan: terbang ke Almaty dan melintas ke Uzbekistan; bertemu dengan Mohamedov, orang Navay yang bekerja sebagai sopir taxi dan berkenan mengajak kami singgah ke Navay untuk mengikuti Nawruz di sana dalam perjalanan dari Samarkand ke Bukhara.

Nawruz adalah perayaan datangnya matahari mengganti musim dingin. Ini adalah warisan kepercayaan dari peradaban amat lama ketika manusia masih mempercayai matahari sebagai semacam Tuhan. Mereka masih menyembah matahari. Mungkin itu sebuah kekuatan, harapan dan kebaikan di saat musim dingin yang mengiris dan beku telah begitu menyebar luas dan menakutkan. Mungkin matahari ini seperti keselamatan yang juga menjadi jantung dari janji agama-agama.

Agama semacam inilah yang bertahan pada kebudayaan masyarakat di sekitar sungai Eufrat dan Tigris atau Oxus yang merupakan bagian luas dari peradaban awal Persia. Orang-orang Persia pada awalnya memegang kepercayaan zoroasterianisme. Mereka menyembah cahaya. Seperti juga asal usul lamanya dari penyembah matahari. Dari sinilah, kepercayaan dan bentuk awal keyakinan dualistik soal benar salah, cahaya dan kegelapan, surga dan neraka atau pencipta dan yang dicipta. Dan seterusnya. Begitulah.

Lalu singkat cerita, perayaan semacam itu terus bertahan meski agama Islam belakangan telah menyapu Persia. Menaklukkan wilayahnya dan menyerap penduduknya masuk ke dalam Islam. Sebagian ini berhasil dengan baik. Tetapi sebagian lainnya hanya berhasil mengkonversi keagamaan formal tetapi dasar kebudayaannya masih terus dijalankan. Salah satu yang paking luas dilakukan bahkan hingga kini yah Nawruz ini. Perayaan memperingati musim berganti ke musim semi yang menggembirakan, memekarkan, membuat semerbak mekar di bumi. Bunga-bunga bermekaran, tunas-tunas pohon menyembul setelah sebelumnya meranggas, bebijian berkecambah di atas tanah gembur yang baru saja ditinggalkan siraman musim dingin.

Baca juga:  Bagaimana Kuasa Penyingkiran Bekerja di Asia Tenggara

Di Asia tengah, negara-negara yang masih merupakan negara negara komunis atau modifikasi-modifikasinya yang beragam dari sistem itu, atau bekas komunis dan sekarang menjadi republik mandiri yang sedikit mengadopsi liberalisme, praktik-praktik perayaan Nawruz itu masih mengakar kuat. Dia lebih mencerminkan perayaan kultural sehingga di banyak negara mayoritas islam tersebut lebih sering dirayakan dan lebih meriah dari perayaan-perayaan formal Islam sendiri.

Mungkin karena itu, di seluruh Asia tengah perayaan Nawruz selalu meriah. Bisa libur kegiatan formal satu atau dua hari. Ini menjadi semacam perayaan hari lebaran bagi orang-orang Asia Tengah yang perayaan Idul Fitrinya tidak begitu meriah.

***

Nawruz adalah tahun baru Persia. Tahun baru yang dirayakan secara nasional di Iran sebagai pergantian tahun. Sejumlah negara lain juga merayakannya, baik dalam sebuah hari libur nasional maupun hanya perayaan kultural yang luas.

Bagi kami yang baru menyaksikan fenomena alam yang dirayakan ini: bunga-bunga bermekaran, pucuk-pucuk daun menyembul, cuaca cerah dan hamparan hijau serta salju yang mulai mencair. Juga tanah basah yang mulai ditumbuhi bebijian. Orang-orang berpesta di rumah atau di kota-kota tempat festival dirayakan. Orang bermain layangan bersama keluarga. Bermain di pusat-pusat hidupan rakyat. Atau berkumpul di tanah-tanah lapang.

Mohammadev membawa kami ke sebuah tanah lapang. Dekat dengan lokasi sirkus dan macam-macam wahana permainan anak. Ada ibu, bapak juga anak-anak bermain layangan. Ada yang menikmati bianglala, ada yang menaiki kuda. Bersepeda dan lain sebagainya. Di kota Navoy, orang-orang terlihat bergembira.

Kota Navoy adalah kota yang namanya diambil dari sastrawan besar timurid, Alisjar Navoy. Beliau adalah sastrawan, mistikus, arsitek juga penasehat istana timurid di Herat, sekarang ini Afganistan. Karya-karyanya banyak dianggap sebagai pencerahan kedua timurid. Dia bertanggung jawab dalam hadirnya banyak madrasah dan masjid di Herat. Dia juga bertanggung jawab untuk penulisan biografi Amir Temur, Safarnama. Rujukan utama untuk melihat Timur Lenk dari dekat. Tentu saja ini adalah versi istana Timurid yang melihat aspek-aspek baik dari Timur Lenk sang pemimpin.

Kota Navoy berada diantara Samarkand dan Bukhara. Taman kotanya sangat khas Soviet yang teratur dan diselingi oleh apartemen-apartemen yang berderet. BJuga taman bermain untuk anak. Serta industri. Di sini ada salah satu pabrik asam (bahan kimia) terbesar. Pipa-pipa pengolahannya yang terbuat dari beton melintang menyusuri space kira-kira seluas sebuah kecamatan dan disambungkan ke mesin pengolah dan cerobong raksasa.

Kata sopir sekaligus guide kami melalui handphonenya yang dilengkapi aplikasi Google translate: “ini adalah pabrik asam terbesar peninggalan Soviet”. Pemandangan ini kami saksikan sekira 15 menit sebelum akhirnya kembali ke jalur jalan raya Samarkand-Bukhara.

Baca juga:  Dari Khazaks ke Uzbek: Perjalanan Ke Permata Asia Tengah yang Mengesankan

Salah satu yang menarik dari perjalanan kami bersama Mohamadev adalah perhatian dan ketulusannya menemani kami. Beda dengan Alisher, sopir yang membawa kami dari Tashkent ke Samarkand yang agak diam, dingin dan membawa mobil terlalu kencang. Sementara Mohammadev, apa-apa selalu dia sampaikan jika menurutnya itu informatif. Melalui pabrik dia akan sampaikan informasi soal pabrik seperti saat dia sampaikan pabrik asam terbesar itu. Dia melihat masjid, tugu perbatasan kota, orang berkuda, atau yang lain akan dia sampaikan dan tanyakan apakah kami ingin mengambil fotonya. Sekali waktu saya melihat seorang mengendarai keledai yang menarik kereta berisi rumput pakan ternak. Saat melihat saya seperti baru melihat pemandangan demikian, dia meminggirkan mobil. Meminta izin kepada kusir kudanya. Lalu kami memotretnya. Dia sangat loyal dan tanpa pamrih. Suatu kali disampaikannya kepada saya bahwa dia tidak terlalu memikirkan dollar (uang). Saat kami tiba di Bukhara dan pemilik hotel seperti sedang akan memeras kami, turis udik dari jauh ini, dia menasehati kami untuk mengambil barang dan mencari hotel yang lain. Kami baru setuju pada hotel yang dikunjungi ketiga kali. Harganya murah dan ada empat buah tempat tidur kecil. Cukup untuk kami berlima. Dan Muhammadev selalu sabar mengantar kami dan berbicara mewakili kami kepada resepsionis atau pemilik hotel.

Ini sebuah keberuntungan perjalanan di ramadhan.

***

Keesokan hari, setelah lelah perjalanan hilang, kami berkeliling kota Bukhara dengan kendaraan sewa di depan Ark Ansemble. Mendatangi kurang lebih sepuluh titik penting di sekitar kota tua Bukhara. Di antaranya yang kami ingat adalah, masjid jame depan Ark Ansemble, kasima ayub musoleum, museum imam Bukhari, Ismail Samani garden (yang di dalamnya ada musoleum Ismail Samani), madrasah, patung Nasruddin Affandi (di Turki dia dikenal sebagai Nasrettin Hotja), kokeldash Madrasah, Ulug Begh Madrasah, Mir Arab Madrasah, dan beberapa yang lain. Biayanya: seratus ribu sum Uzbek. Padahal mobil/motor ini membawa kami berlima. Lumayan murah. Biasanya turis berjalan mengelilingi situs-situs lama ini. Dalam kunjungan tengah tahun yang lalu, saya melihat semua situs ini dengan berjalan kaki. Tapi saya berjalan di musim panas dan tidak sedang berpuasa. Sementara saat ini, kami semua sedang berpuasa.

Yang pasti, kami begitu senang telah berfoto ke banyak tempat, singgah mengamati beberapa detil menakjubkan, melihat-lihat suasana di sekitar dan berjumpa dengan orang-orang yang dalam kunjungan lalu menjadi kenalan. Saidov, seorang penulis buku situs-situs wisata di Uzbekistan saya bertemu dengannya lagi seperti tahun lalu di musoleum Ismail Samani. ketika saya sapa dan ingatkan momen tahun lalu dengan foto saya bersama di hand Phone ketika jumpa pertama, dia lalu ingat. Dan memeluk saya dengan hangat. Dia juga menyapa Fika dan Ical. Menyilahkan masuk ke musoleum dan berkata: “no pay..” dan semuanya masuk. Kami berbincang sebentar. Dia menyampaikan jika saya yang memberinya buku Nyala Api Islam yang disimpannya di rak bukunya. Dan dia memberikan saya buku yang ditulisnya.

Baca juga:  Kisah Tiga Keluarga dalam Perubahan; Tanah, Rumah & Memoar Kehidupan Yang Hilang

Saya juga berjumpa kembali dengan Tahrem, Sodiqov dan Maksur. Lelaki-lelaki sepuh penjual songkok Uzbek dan perhiasan lainnya. Saat saya datang mereka memanggil nama saya “Ridho” dengan suara dan penyebutan yang khas. Mereka semua mengingat dengan tepat meski telah berjumpa ribuan turis setiap harinya.

Inilah kehangatan-kehangatan perjalanan. Kami membeli dan mendengar kisahnya mengenai Soviet, mengenai pin Soviet, mengenai Lenin, Stalin, Hoja, Karimov atau yang lain. Saya juga mengenalkannya kembali dengan Soekarno, yang juga masih diingatnya sebagai presiden republik Indonesia. “First Indonesian President, kata Sodiqov waktu itu. Kami berbincang dan saling bertukar pikiran di sela orang-orang yang datang sekedar bertanya harga di kedai bapak-bapak ini dan lalu membelinya atau berlalu begitu saja.

Saya juga menikmati Plov dan sajian teh hijau hangat saat berbuka puasa di rumah Abdul Mu’min. Dia tinggal di gang di belakang kadar asah Ulugh Beg. Sebuah ruangan kecil di rumahnya dibuat menjadi restoran kecil memuat empat atau lima orang. Dia menawarkan makan dan mengucapkan selamat merayakan Nawruz. Dia menemani istrinya memasak Plov untuk kami makan saat berbuka. Setiap kabar baik yang kami sampaikan akan dia sambut dengan “alhamdulillah”.

Hadeuh…

Turisme, seringkali, tidak sekedar cara menghitung jumlah pengeluaran, tetapi juga cara menumbuhkan, menyerap dan membagi-bagi etos kehidupan. Cara belajar bagaimana umat manusia yang beragam dan telah tumbuh dengan multikultur dan sejarah beragam dan berbeda-beda dibentuk di atas bumi. Dengan kebiasaan-kebiasaannya, dengan aspirasi-aspirasinya juga dengan kebaikan-kebaikan manusiawinya. Saya benar-benar merasakan dan banyak mendapat pelajaran.***

Penulis adalah peminat studi sejarah dan sains islam, ketua Prodi Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Alauddin Makassar

 

0%