Oleh Muhammad Ridha

Menonton film memberi pengalaman. Membaca novel memberi pengalaman lainnya. Bagaimana kalau membaca novel dulu, lalu menonton film yang diangkat dari novel tersebut? Atau sebaliknya. Tentulah sesuatu yang kompleks. Ada imajinasi yang selama ini mapan menjadi goyah oleh tawaran pengalaman baru dengan membaca atau menontonnya.
Memang bukan perkara mudah menampilkan ekspresi visual dalam novel ke media audio visual. Karena rentan gagal memenuhi representasi umum akan sosok yang dibaca dalam novel. Dan sang sutradara Hanung Bramantyo berani mengambil peran itu. Bersusah-susah bertaruh dengan risiko akan dianggap merusak imajinasi pembaca. Apalagi novel yang diangkatnya adalah karya kelas dunia yang telah diterjemahkan ke dalam 57 bahasa. Risikonya tentu lebih besar. Tapi, Hanung dengan risiko itu bertaruh, tentu dengan perhitungan bisnis yang cukup, untuk memproduksi film tersebut selama kurang lebih dua tahun, dan mulai 16 Agustus lalu diputar di bioskop seluruh Indonesia.
Saya salah satu dari penonton yang menontonnya pada hari pertama tayang. Di studio tempat saya menonton, kursi terisi hanya sepertiga saja. Meski tampak ada antusiasme dari penonton, tapi dari sisi jumlah tampaknya masih minim. Tapi ini hanya pengalaman saya di bioskop di Makassar tentu saja. Di tempat lain mungkin lebih ramai. Atau mungkin juga lebih minim.
Tapi yang menarik menurut saya, penonton muda cukup banyak. Apakah karena terikat dengan aktor dan aktris muda seperti Iqbaal Ramadhan yang sebelumnya memerankan tokoh Dilan di film yang populer beberapa tahun terakhir yang juga diangkat dari novel? Atau aktris muda Mawar de Jong? Saya tidak begitu tahu. Tapi kehadiran anak muda, atau sering kita sebut generasi milenial, menonton film yang diangkat dari novel yang selama ini lebih banyak dikonsumsi oleh kalangan kecil intelektual di kampus atau aktivis tersebut memberi dimensi baru: karya yang sempat dilarang peredarannya oleh pemerintah Orde Baru karena dianggap menyebarkan gagasan kiri atau berkaitan dengan tokoh kiri itu kini dikonsumsi oleh hampir seluruh kalangan.
Medium yang Lebih Populer
Generasi millenial mungkin tak mengenal Pramoedya Ananta Toer. Dia berpulang pada 2006 setelah melewati belasan tahun penjara Orde Baru karena sesuatu yang tak pernah dibuktikan. Bukan hanya di penjara biasa, di mana dia bisa menghirup sesekali aroma peradaban manusia di perkotaan, seperti koruptor kakap negeri ini yang sesekali plesiran meski sedang menjalani pidana kurungan. Pramoedya dibuang ke Pulau Buru. Dipekerjapaksakan untuk membuka lahan-lahan pertanian di sana. Lalu setelah bebas, dan kembali ke rumahnya, masih dikenai wajib lapor. Di Pulau Buru itulah novel menawan Bumi Manusia dan tiga sekuelnya ditulis.
Pramoedya adalah novelis paling cemerlang yang dimiliki Indonesia. Beberapa kali diusulkan untuk menerima Hadiah Nobel Sastra karena “Tetralogi Pulau Buru” yang ditulisnya, yang salah satunya adalah novel yang darinya film Bumi Manusia ini diangkat. Berbagai penghargaan sastra internasional telah diterimanya. Dia seperti menyuarakan kemanusiaan yang menembus batas tradisi, bahkan teritorial dan ras. Karenanya, pantaslah di sampul novel tersebut, penerbit menulis “sumbangan Indonesia untuk dunia”.
Ketika dia bebas dari pembuangan di Pulau Buru, dia terlibat memberi semangat pada kelompok muda Partai Rakyat Demokratik untuk meneruskan perjuangan membangun republik yang baginya telah merosot di tangan Orde Baru. Dan baginya, kaum mudalah harapannya. Karenanya, menghadirkan kembali karya Pramoedya ke suatu medium yang lebih populer menurut saya bisa lebih menyebarkan nilai-nilai universal yang disumbangkan oleh karya besar ini kepada anak muda, generasi milenial kita yang rasanya kehilangan nilai-nilai dan panutan.
Cerita dan tokoh dalam novel-novel Pram adalah tokoh-tokoh dengan budi yang luhur dan penuh martabat: Minke seorang siswa HBS yang rajin menulis di media untuk memperjuangkan kepentingannya dan kepentingan bangsanya secara luas; Nyai Ontosoroh seorang pribumi totok yang pembelajar hingga mampu menyerap banyak pengetahuan modern untuk menyuarakan keadilan untuk masyarakat pribumi; Sarah dan Miriam de la Croix anak seorang Belanda yang begitu jujur menilai dan mendorong perjuangan akan nilai-nilai; Annelies Mellema, istri sah Minke secara agama tapi direnggut oleh hukum diskriminatif kolonial yang begitu tulus mencintai pribumi negerinya.
Pramoedya dan Islam
Dalam Bumi Manusia juga ditunjukkan konflik hukum Islam atau peradilan Islam dengan hukum kulit putih (Eropa) dalam konflik atas perwalian Annelies yang telah dinikahi secara Islam oleh Minke, tokoh utama dalam kisah ini, yang tak diakui oleh hukum diskriminatif kolonial. Diskriminasi ini dilawan dengan argumen kesetaraan dalam hukum Islam. Meskipun kalah, Minke menulis dan menyebarkan gagasan perlawanan kepada kolonialisme dalam kasus tersebut.
Dalam film ini artikel-artikel Minke di koran NV telah menyulut rasa keadilan rakyat pribumi yang kebanyakan beragama Islam. Banyak aksi protes. Pendudukan pengadilan bahkan konfrontasi. Jadi novel dan film ini sebenarnya tidak hanya mengisahkan percintaan dua orang, lelakinya bernama Minke dan seorang perempuan indo bernama Annelies yang begitu dikesankan dalam film, tetapi juga menyebarkan gagasan pergerakan, perlawanan, atas ketidakadilan, penghargaan terhadap ilmu pengetahuan, kecintaan kepada buku dan keterikatan dengan gagasan Islam.
Dan karena itulah, seharusnya, buku Pramoedya dan film yang diangkat dari novel tersebut seharusnya menjadi pengingat bahwa jauh setelah negeri kita merdeka ini, tak usah lagi ada drama razia dan penyitaan buku kiri, seperti terjadi (lagi) akhir-akhir ini. Bumi Manusia telah menampilkan Islam dengan amat menarik di novel ini sebagai etos pergerakan. Bukan etos “sumbu pendek” dan sweeping buku.
Bahkan, yang diceritakan dalam keseluruhan “Tetralogi Pulau Buru” adalah cikal bakal nasionalisme Indonesia yang disemai dengan guratan pikiran, adu gagasan, siasat organisasi dan tidak hanya perang seperti sejarah yang diselewengkan dalam buku sejarah kita menjadi hanya cerita tentang konfrontasi fisik semata. Bangsa, yang hari-hari ini memperingati ulang tahun kemerdekaannya, adalah hasil dari pergulatan pergerakan di Bumi Manusia.[]