Dunia yang Dilingkari Buku-buku

 

Oleh: Muhammad Ridha

 

AAda banyak referensi mengenai kebudayaan manusia dan peradaban yang kemudian dihasilkannya. Ada yang berlandaskan agama semitik. Ada yang bernuansa pagan. Ada yang tumbuh di timur. Ada yang bermekaran di barat. Yang paling sering disebut dalam sejarah dini kita adalah kisah ‘orang-orang Yunani’ dan sebuah peradaban lebih ke timur yang diikat oleh sebuah agama baru, Islam. Apa yang menjadi pondasi dua kebudayaan ini hingga menjadi ‘kisah klasik’ dalam sejarah peradaban dunia? Kita sering merujuk dua era ini sebagai masa keemasan, golden age, atau peradaban. Atau istilah-istilain lain yang sepadan. Artikel ini ingin memberi kuantifikasi jumlah buku, percetakan dan perpustakaan yang ikut menopang bagaimana dunia yang kita kenang sebagai kisah klasik itu. Argumennya berdasar pada data-data sekunder dari para peneliti yang telah menulis dan memperkirakan jumlah buku, perpustakaan dan percetakan di kedua masa tersebut. Juga jumlah sekolah, pusat studi dan universitas atau institusi akademik lainnya yang ada pada masa itu. Data ini dikemukakan untuk memberi gambaran betapa kuat tradisi literasi ikut menopangnya.

Angka-angka yang ditampilkan di sini belum tentu akurat dan benar-benar mewakili kenyataan masa itu. Tapi juga tak harus disepelehkan karena, meski tak merepresentasi keseluruhan, angka-angka tersebut bisa memberikan gambaran suasana atau spirit yang sedang bergerak di masa-masa itu. Seperti misalnya, Pilip K Hitti menyebutkan data jumlah perpustakaan di Andalusia saat era keemasan di bawah Khalifah Al-Hakam II berjumlah 73 buah dengan salah satu perpustakaan memiliki 400.000 koleksi. Sumber yang digunakan oleh Hitti adalah sumber internal yang ditulis oleh Muhammad al-Maqqari yang juga tak se-zaman dengan peristiwa tersebut.[1] Tapi yang ingin diperlihatkan dari data tersebut adalah betapa megahnya peradaban yang ada di era tersebut dengan menyebut sedikit contoh soal jumlah buku yang dimiliki oleh salah satu perpustakaan.

Apalagi, era-era keemasan Islam baik di Andalusia, maupun di Bagdad memang dikenal luas oleh sejarawan sebagai puncak-puncak kebudayaan dunia. Hitti menyanjungnya ‘sebagai kota paling berbudaya’ di Eropa bersama Konstantinopel dan Bagdad di sisi yang lain’.[2] Marshall G.S. Hodson menyebutnya sebagai “kekhalifahan tinggi’.[3] Sehingga angka-angka itu tidaklah berlebihan. Apalagi jika melihat jumlah penulis di era tersebut yang jumlahnya cukup banyak.

Salah satu uraian mengenai tema ini disebutkan dengan amat fasih oleh banyak sejarawan. Salah satu dari nama-nama seperti John Freely, seorang peneliti dan penulis sejarah sains yang menjelaskan peran saintis islam dan kebudayaan islam yang dibangun beralas buku-buku yang menimba dari sebuah dunia sebelumnya yang juga beralas sama: buku-buku. Dalam bukunya Cahaya Dari Timur Peran Ilmuwan dan Sains Islam dalam Membentuk Dunia Barat (2005).

Kebudayaan ini, dan orang-orang di dalamnya tak malu-malu menyebutkan jika kebenaran yang dituju harus digali dari mana pun sumbernya bahkan kepada kebudayaan lain yang asing sekalipun. Sebuah kata persembahan dalam buku On First Philosophy kepada salah seorang raja di era klasik islam ditulis oleh Abu Yusuf Yaqub Ibnu Ishaq al-Kindi: “kita tidak boleh malu pada kebenaran ilmu pengetahuan dan menyatukannya dari sumber apapun ilmu itu datang pada kita, bahkan jika ilmu itu dibawa oleh generasi sebelum kita dan bahkan oleh bangsa-bangsa asing sekalipun. Bagi siapa yang mencari kebenaran, maka tak ada yang lebih bernilai tinggi daripada kebenaran itu sendiri. Pengetahuan tak akan pernah merendahkan ataupun mempermalukan diri orang yang mencarinya, tetapi memuliakannya dan membuatnya terhormat.”[4]

Baca juga:  Korona dan Peradaban Kita

Demikian nubuwatnya kepada raja. Mungkin kalimat-kalimat itu menjadi cermin bagaimana pencarian, pengumpulan dan transmisi ilmu pengetahuan begitu deras arusnya di masa-masanya hingga beberapa ratus tahun setelahnya. Pencarian, pengumpulan dan transimisi berupa penerjemahan, review dan critical review dilakukan atas naskah-naskah klasik baik oleh orang Yahudi, Nestorian, Sabean maupun Muslim. Terjemahan atas karya Gurgis Ibnu Buhtisu, seorang Kristen Nestorian dilakukan atas perintah khalifah Al-Mansyur. Gurgis adalah kepala sekolah kedokteran Jundi Sapur yang berhasil menyembuhkan sang khalifah dari sakit. Model penerjemahan seperti yang dilakukan kepada karya-karya Gurgis, di institusionalisasi di sebuah perpustakaan paling megah dan terpandang di zaman itu, Baitul Hikmah. Ada ribuan naskah dari Yunani, India, Syiria dan lain-lain yang diterjemahkan.

Beginilah kisah dua negeri dan orang-orang yang menghidupinya berkalang buku-buku. Seperti disebut lebih awal di atas di Kota Islam di sisi Eropa, Cordova sebuah perpustakaan berisi 400.000 buku. Menurut catatan Freely, Baitul Hikmah, berisi lebih dari 500.000 buku dengan populasi kurang dari 1juta orang.  Sementara di zaman sebelumnya, di era ‘orang-orang Yunani’ sebuah perpustakaan umum pernah memiliki lebih dari setengah juta buku berbentuk perkamen[5].

Bagaimana menjelaskan begitu banyak buku-buku mengelilingi kehidupan dan abad-abad yang mereka lalui? Menulis beberapa penulis dan karyanya mungkin akan sedikit membantu memperlihatkan, dan merelevankan angka-angka jumlah koleksi perpustakaan yang ditulis di atas.

Dengan meringkas ulasan panjang dari John Freely rangkuman berikut mungkin bisa membantu: Aristoteles menulis paling sedikit 170 buku. Sampai saat ini masih ada 50 judul bukunya yang bisa ditemukan. Berbagai buku itu di antaranya Etika Nikomakea, Politics, Metafisika dan lain-lain. Kawan Aristoteles, juga sebagai kepala Lyceum, Theoprastus of Erisos menulis 227 buku. Sayangnya semuanya sudah tidak bisa ditemukan. Dua dari ratusan karyanya yang masih ada adalah History of Plants dan Causes of Plants telah mendudukkannya sebagai bapak botani. Sementara bukunya yang lain on Stones menjadi awal ilmu geologi dan mineralogi. Straton of Lampsacus menghasilkan 40 buah karya tulis. Bukunya On Motion salah satu dari 40 buku yang telah hilang yang menyinggung nama Aristoteles.

Baca juga:  Joserizal Jurnalis

Strabo menulis buku geografi yang terdiri atas 17 jilid. Theon dari Aleksandria menulis buku yang mengulas buku Euclid Elements dan Optiaca. Ptolomeus menulis buku Handy Table, Planetary Hipothese, Fase of the Fixed Stars, Analemma dan Planisphaeriam. Juga menulis buku astrologi berjudul Tetrabiblos, Optica, dan Geographia. Juga menulis buku tentang musik berjudul Harmonia. Juga ada Galen of Pergamum yang menulis banyak buku di antaranya on Scientific Proof dan Introduction to Logic.

Kemana muara dari seluruh buku-buku itu, atau episentrum dari perputaran pengetahuan, produksi pengetahuan, konsumsi pengetahuan dan sirkulasinya? Salah satu medium utama ke mana buku-buku ini bermuara adalah sekolah-sekolah dan para muridnya. Di era-era tersebut beberapa sekolah paling menonjol dan ditulis oleh sejarawan di antaranya adalah sekolah matematika di Aleksandria yang diperkirakan didirikan oleh Euclid, penulis buku Elements of Geometry, Phenomena, Optica.

John Freely mengungkapkan, muara seluruh aktifitas ini (di era Yunani) adalah di Museum yang merupakan pusat sekolah-sekolah di Atena. Yang paling menonjol adalah Akademia Plato (380 SM-529 M) dan Lyceum Aristoteles (335 SM- 85 SM). Sekolah matematika di Aleksandria yang didirikan oleh Euclid. Sekolah kedokteran lanjutan di Smyrna, Corinth dan Alexandria. Sekolah tinggi teologi di Edessa. Juga sekolah kedokteran di Jundi Sapur (Iran). Kelindannya semakin jelas: para terpelajar menjadi penulis, membentuk kelompok epistemik melalui sekolah-sekolah dan bersamanya menulis buku-buku dan menyimpannya di perpustakaan.

Bagaimana dengan dunia Islam? Artikel ini ingin menunjukkan sedikit bukti dari Philip K Hitti dan Ziauddin Zardar mengenai dua kota Islam di era klasik: Cordova dan Baghdad. Dari dua buku History of The Arabs (2018) dan Kembali Ke Masa Depan Syariat Sebagai Metodologi Pemecahan Masalah (2011). Hitti menyebutkan Kordova adalah kota kebudayaan ternama yang dilengkapi 73 perpustakaan[6]. Satu di antara puluhan itu tercatat memiliki 400.000 koleksi. Bahkan menjelang tahun 1000 M ada perpustakaan berkatalog 600.000 judul[7]. Kebanyakan buku diusahakan oleh Khalifah Al-Hakam yang membeli dan memperbanyak naskah yang telah dibeli kepada penulisnya atau penerjemahnya.

Khalifah Abdurrahman III telah mendirikan Universitas Cordova di Gedung masjid Cordova pada abad ke 9 M. Terdapat perguruan tinggi bidang kedokteran, filsafat, sastra dan teologi. Ada Universitas Sevilla juga Universitas Toledo. Juga ada 27 sekolah baru yang dibangun oleh Khalifah Al-Hakam. Penulis-penulis dari Andalusia seperti Abu-Qasim Maslamah al-Majriti yang mengoreksi geometri AL-Khawarismi, Abu al-Qasim Khalaf Abbas az-Zahrawi menulis kitab at-Tasrif li-man ‘Ajaz ‘an at-Ta’lif (Bantuan Bagi Orang Yang Tidak mampu Memperoleh perawatan Besar), Abu Bakar Muhammad bin Yahya ibn Bajjah hingga Ibnu Rusyd. Yang terakhir disebut ini dikenal berpolemik dengan tokoh filsuf muslim lain mengenai filsafat dan teologi, Al-Gazali.

Baca juga:  Membaca (Al-Qur'an)

Di kota Baghdad terdapat pusat pengetahuan, perpustakaan yang sekaligus biro penerjemahan paling terkemuka, Bayt al Hikmah. Di sekitar kota Baghdad terdapat banyak toko buku, perpustakaan publik atau pribadi dan warraqqin (penyalin dan penjual buku). Al-Ya’qubi, seorang sarjana muslim terkenal pada akhir abad ke-9 mencatat di Waddah, kota pinggiran Baghdad saja ada lebih dari 100 toko buku.[8]Salah satu yang terkemuka adalah took buku Al-Nadiem dipenuhi dengan ribuan manuskrip.[9]

Salah satu medium utama dari pencetakan gagasan adalah kertas yang kumpulannya disebut buku. Kertas sendiri ditemukan di dunia islam pada tahun 751 M di Samarkand. Setelah perang Talas, orang muslim menawan beberapa orang Cina yang pandai membuat kertas dan diberi fasilitas untuk memperlihatkan keterampilannya. Dari situlah kertas kemudian mulai diproduksi di dunia Islam,[10] menyebar ke berbagai sekolah, perguruan tinggi, perpustakaan dan took-toko buku. Di era ini, dunia Islam telah memiliki beberapa kampus ternama seperti Universitas Cordova, Universitas Nizamiyah, Universitas Al-Azhar dan Universitas Muztanriyyah yang perpustakaannya terkenal memiliki koleksi-koleksi yang banyak dan penting.

Begitulah gambaran dua kota utama Islam di era klasik. Meski tentu saja bukan hanya dua kota itu yang menikmati kemasyuran dari suatu peradaban beralaskan buku-buku. Coba lihat apa yang dikemukakan Sardar: “Tapi Baghdad (dan Cordova) bukan satu-satunya kota yang memiliki perpustakaan besar. Perpustakaan serupa juga ditemukan di kota Damaskus, Kairo, Syiraz, Fez, Samarkand dan Bukhara”.

Pertanyaannya kemana kota-kota utama kolonial yang merasa lebih beradab dari dunia selainnya? Ingin kukutipkan bagaimana kelamnya hidup orang-orang yang saat ini merasa lebih unggul dari dunia yang mereka sebut Timur dari Hitti: “Kota Cordova diterangi oleh lampu-lampu di malam hari. Dan itu merupakan pemandangan sehari-hari. Sementara kota London, 7 abad setelahnya, tak sebuah pun lentera dijumpai di jalan-jalan”. Wallahu a’lam bi sawab.

 

Catatan Kaki

 

[1] Philip K Hitti History of the Arabs (Jakarta: Zaman,2018) hal. 667

[2] Ibid. hal. 669

[3] Marshall G.S. Hodson The Venture of Islam Iman dan Sejarah dalam Peradaban Islam Buku Kedua Peradaban Khalifah Agung (Jakarta: Paramadina, 2002)

[4] John Freely Cahaya Dari Timur Peran Ilmuwan dan Sains Islam dalam Membentuk Dunia Barat (Jakarta: Elex Media Komputindo, 2011)

[5] Ibid

[6] Philip K Hitti History of the Arabs (Jakarta: Zaman, 2018) Hal. 690

[7] T. K Derry dan Trevor L William, A Short History of Technology: From The Earliest Times to AD 1900 (Oxford: The Clareddon Press,19 60) hal. 29

[8] Ziauddin Sardar Kembali ke Masa Depan Syariat Sebagai Metodologi Pemecahan Masalah (Jakarta: Serambi,2005) Hal. 159

[9] Ibid. hal. 161

[10] Ibid Hal. 156-157

Komentar Pembaca CaraBaca

BUKU TERBITAN CARABACA.ID

Melawan Rezim Infrastruktur - Studi Ekonomi Politik

Sebagai cara untuk tetap waras dan terus melanggengkan perlawanan terhadap segala bentuk ketidakadilan, CaraBaca terus memproduksi wacana alternatif  dengan menulis, membaca, diskusi, dan mengorganisir akar rumput.
BELI PRDOUK KAMI SEBAGAI DUKUNGAN
close-link
0%