Oleh: Muhammad Ridha
Perang Gaya Timurid
“Kota itu telah bangkit dari kehancurannya kepada hidup yang mewah. Yang dilakukan Timur adalah membiarkan hidup para arsitek, ahli seni dan para pengrajin dari pembuangan ke ibukota untuk bekerja di sana: di tangannya, Samarkand memperoleh julukan yang membanggakan “pintu gerbang surga”
[Susan Wise Bauer]
Yang kita bicarakan dalam tulisan ini adalah seorang kepala suku di padang savana Asia Tengah, pemimpin militer, sultan yang agung dalam sebuah dinasti yang diciptakannya dan seorang muslim biasa yang mengamalkan praktek tarekat dari seorang penasehat. Seorang tokoh yang melejit di era kegelapan dan menjadi pembicaraan di semua ‘benua lama’ sebagai raja yang kejam, penakluk dan pemimpin militer yang amat tangkas. Hampir di semua medan pertempuran dimana separuh hidupnya dicurahkan, kemenangan-kemenangan direbutnya. Sering dengan kemenangan yang amat telak, angkuh dan seakan ingin ‘memberi hukuman kejam’ dan efek jera kepada lawan yang dikalahkannya dan mereka-mereka yang belum dikalahkannya. Praktik peperangannya seperti petir yang menggelegar cepat dan menghancurkan sekaligus mengagetkan lawan juga calon lawannya.
Dalam kampanye militernya, dia telah menaklukkan Kaukasus dan Moskow (1381), Afganistan dan Iran Timur (1381), Iran Barat (1386) dan Irak termasuk kota Bagdad (1394), Delhi (1398) Aleppo dan Damaskus (1401), Ankara (1402) sehingga hampir seluruh kekuatan politik eranya berada dalam taklukannya atau pernah dikalahkannya. Baik yang kemudian hancur dan menghilang atau hidup dan pulih kembali setelah ditaklukkan. Kesultanan di Afganistan, Kesultanan di Persia, kekuasaan di Bagdad dan Mamluk Damaskus, Kesultanan Utsmaniyah di Turki, Kesultanan Delhi di India Utara, atau Gerombolan Emas (salah satu wangsa Mongol) yang menguasai Rusia dan sekitarnya.
Kota-kota utama dunia Islam dan kota-kota lainnya jatuh dalam kekuasaannya kecuali yang berada di Afrika Utara. Herat, Balk, Kandahar, Kabul, Isfahan, Tabris, Bagdad, Naisapur, Ankara, Aleppo, Damaskus, Maraga, Delhi dan yang lain-lain. Juga menguasai Armenia, Georgia, Izmir, hingga ke Siberia. Diserang dan dihancurkan. Banyak penduduknya dibunuh dan dijadikan budak atau pekerja di proyek-proyek monumental dinasti Timur di Samarkand dan Herat. Juga berikutnya di kota-kota utama Timurid di Uzbekistan dan Afganistan. Kekejaman inilah yang menyebabkannya ditulis oleh sejarawan atau mengetahuinya menulis tentangnya sebagai seorang yang buruk -baik yang se-zaman ataupun tidak.
Gambaran kekejaman Timur bisa dilihat dalam cerita Marozzi yang mengutip saksi sejarah, sejarawan Timurid Hafez-I Abru mengenai kehancuran Isfahan, sebuah kota penting di Iran. “Ada 28 menara yang masing-masing terbuat dari tumpukan 1.500 kepala.” Di Georgia, catat sejarawan, Susan Wise Bauer, Timur meratakan 700 desa. Semua gereja di Tbilisi diratakan dengan tanah . Sebuah kengerian khas abad ke-15 yang tokoh kuncinya adalah Timur.
Tidak banyak yang memberi gambaran baik atas kisah hidup dan pencapaian Timur I Lang. Beberapa di antaranya hanya sejarawan dan penulis biografi yang dibayar istana Timurid untuk kepentingan menggambarkan kemenangan dan kemajuan yang dihasilkan dari kampanye militer ekspansif dan pembangunan dinasti Timurid seperti Sharaf ad-Din Yazdi, Zafarnama (Buku Kemenangan) dan juga Nizam ad-Din Shami yang juga dibiayai oleh dinasti Timurid untuk menulis kisah kemenangan dalam kampanye militer Timur. Atau karya Hafez-I Abru The Cream of Histories. Yang terakhir ini juga bagian dari proyek pencitraan positif dinasti Timur dan Timur I Lang sendiri.
Pertemuan Timur Lenk dengan Sultan Ottoman, Beyezid
Di antara yang sedikit itu juga ada sejarawan besar dunia Islam, sosiolog awal dan penasehat istana, Ibnu Khaldun, yang secara kebetulan se-zaman dengan Timur I Lang dan sempat bertemu saat serangan Timur ke Damaskus untuk menegosiasikan pelepasan tahanan dari dinasti Mamluk -yang mengutusnya menemui Timur. Dia menulis gambaran yang sungguh manis tentang Timur: “Raja Timur ini salah satu raja yang paling hebat dan paling perkasa. Beberapa memujinya karena pengetahuannya, lainnya menyebutkan dirinya sesat karena melihat keberpihakannya kepada ahlul bait (keluarga Ali- yaitu seorang Syi’ah); tetapi, orang lain lagi menganggapnya menggunakan sihir dan perdukunan, tapi semua itu tidak terbuktikan; dia sesungguhnya orang yang sangat cerdas dan sangat tajam, kecanduan dengan perdebatan dan argumentasi tentang apa yang diketahuinya dan juga tentang apa yang tidak diketahuinya.”
“Saya berbicara dengan rasa takut ” tulisnya Khaldun suatu ketika.
Tanggapan ini ditulis oleh Ibnu Khaldun setelah dipertemukan atas permintaan Timur ketika dia mengetahui intelektual dan sejarawan besar era itu ada di dalam benteng saat pengepungan Damaskus. Timur memerintahkan membuka benteng dan mempertemukannya dengan Ibnu Khaldun. Tapi orang-orang di dalam benteng yang tidak mempercayai pengampunan Timur jika dibukakan gerbang dan diberi waktu bertemu dan berdiskusi dengan Ibnu Khaldun. Karenanya, Ibnu Khaldun diturunkan dengan tali yang diujungnya diberi keranjang dan diturunkan dari atas benteng. Meski akhirnya kota Damaskus dihancurkan dan banyak korban dibunuh oleh Timur dan pasukannya karena permintaan Timur tidak dituruti untuk pembukaan gerbang dan penyerahan diri kepada Timur.
Sejarawan kontemporer seperti Marozzy menggambarkannya seperti seorang pahlawan, sultan agung Timurid dan pahlawan Islam. Dia menuliskan bagaimana Timur sebagai seorang yang taktis, memiliki visi besar, pragmatis tapi juga seorang pencinta seni yang dalam, pemuja tarekat yang amat menghormati guru spiritualnya hingga saat kematiannya dia ingin dimakamkan di sisi guru spiritualnya, juga sangat mencintai keindahan. Warisan utamanya seperti taman-taman istana yang tersebar di Samarkand dan kota-kota lain di Uzbekistan. Juga arsitektur masjid, musoleum, karya arsitektur lainnya seperti madrasah serta alun-alun.
Sebuah gambaran tentang sosok yang paradoks. Kejam tak alang kepalang, tapi juga sekaligus tokoh sentral abad tengah dan sultan agung yang memimpin sebuah dinasti Islam, yang meski berlangsung singkat, tapi meninggalkan warisan kota, kebudayaan, sastra dan arsitektur yang bukan hanya tinggi, tapi juga penting di eranya.***
Muhammad Ridha Adalah Dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Alauddin Makassar, dan Ketua Jurusan Studi Agama-Agama
