Oleh: Muhammad Ridha
Pahatan di tebing batu: Sapur II menundukkan Kaisar Valerianus (Romawi)
Maka kita tinggal menunggu: apa benar negara imperialis AS berani menyerang Iran dengan dua kapal induk telah siaga di sekitar Iran?Juga pangkalan-pangkalan militer di sekeliling Iran. Juga, tentu saja, Israel siap-siap ikut membantu.
Pemimpin tertinggi republik Islam, Ayatullah Ali Kemenei tidak sama sekali terlihat gentar. Di awal-awal puasa ini masih mengisi pengajian. Seperti rutinitas banyak orang Iran di bulan suci. Karenanya pertanyaannya pantas. Apakah AS berani menyerang Iran?
Pemimpin tertinggi Iran sudah beberapa kali menyampaikan ancaman menenggelamkan kapal induk AS. Juga serangan kepada mereka yang ikut membantu serangan AS di sekitar. Atau negaranya menjadi pangkalan untuk serangan AS ke Iran. Apakah ini hanya retorika? Mirip seperti Saddam Husein dua dekade lebih yang lalu?
Tunggu dulu.
Dalam perang dua belas hari tahun lalu melawan Israel yang dibantu Amerika Serikat dan sekutunya yang lain di timur tengah terbukti tak berhasil. Iran tak bisa diancam. Bila diserang akan balik menyerang dan sukses. Perang dua belas hari mempermalukan Israel. Banyak kota di Israel luluh lantak oleh rudal-rudal Iran. Banyak aset militer dan riset strategis Israel dibombardir. Dan terpaksa harus menerima gencatan senjata.
Akhir tahun lalu hingga awa tahun ini operasi melalui demonstrasi yang dan kekerasan yang dibiayai oleh pendonor dan agen-agen asing juga tak berhasil. Republik Iran tetap berdiri baik-baik saja.
Lalu kali ini retorika ancaman kepada Iran muncul lagi. Gertakan muncul dalam bentuk dua kapal induk militer yang siaga di depan Iran di laut depan teluk Persia. Apa Iran ciut?
Tidak sama sekali.
Banyak pengamat melihat Iran adalah kekuatan besar di kawasan. Setelah perang dua belas hari membuktikan itu, juga produksi rudal yang terus jalan menguatkan klaim itu. Apa lagi beberapa rudal terbaik belum dipakai dalam perang dua belas hari. Maka, ini perang yang besar dan akan meluas. Iran adalah bangsa yang mewarisi raksasa dunia lama seperti Sasaniah, Partia atau Elam. Ini adalah bangsa besar yang dulu adalah adidaya dunia lama. Yang kepadanyalah banyak teknik militer disandarkan.
Ksatria Persia adalah yang pertama menggunakan catapracht, jaket dan perangkat perang pasukan kavaleri yang dilapisi baja dan penutup kepala. Orang Persia yang mempopulerkan tembakan panah dari bahu, yang disebut gaya Partia. Mereka juga yang menciptakan taktik pukulan pamungkas yang keras setelah dia seolah lari dari medan perang dan dikejar. Tapi memukul dan menumpas habis lawan-lawannya setelahnya. Bahkan pukulan akhir ini, kata Tamim Anshary, seorang Persia dari Afganistan, adalah pelesetan dari Partian shot yang populer itu menjadi parting shot.
Jadi, dunia kita saat ini, banyak belajar taktik militer kepada orang Persia. Kepada dinasti-dinasti besar Persia yang mengisi sekarang-kurangnya seribu tahun era sebelum Nabi hadir. Karenanya, AS, yang merasa sebagai penguasa dunia saat ini, yang angkuh dan sombong, haru berfikir berkali-kali.
Serangan ini ke bangsa yang sejak lama tak mengenal takut!
Coba liat pahatan di Naqs I Roestam: kaisar Persia membuat berlutut kaisar Romawi! Itu mungkin peringatan bagi siapa saja yang berfikir!
Muhammad Ridha Adalah Dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Alauddin Makassar, dan Ketua Jurusan Studi Agama-Agama
