Bolshevik Membela Kekhalifahan Islam,Imperialis Menghancurkannya

Oleh: Muhammad Ridha

https://www.economist.com/graphic-detail/2016/05/16/sykes-picot-100-years-on

Saya menyadari bahwa hanya sebagian kaum Bolshevik mampu melaksanakan apa yang dijanjikannya pada awal revolusi. (Tetapi) mereka adalah orang-orang yang menghentikan perang dunia pertama. Hanya merekalah yang berjuang untuk mengembalikan nasib bangsa-bangsa ke tangan mereka sendiri. Hanya mereka yang menyingkapkan penyebab perang dunia. Mereka yang menyatakan perang terhadap penjajahan Inggris, yang menindas India, Mesir, Afganistan, Persia dan Arabia. Mereka pulalah yang mengangkat senjata melawan imperialism Prancis yang memperbudak Maroko, Aljazair, dan negara-negara Arab lain di Afrika. Bagaimana mungkin saya tidak bekerjasama dengan mereka? Anda lihat mereka mempermaklumkan kata-kata yang belum pernah disuarakan semenjak penciptaan dunia, dalam sejarah negara rusia. Dengan mengajak semua muslim di Rusia dan Timur, mereka memaklumkan bahwa Istanbul harus berada di tangan umat muslim. Mereka melakukan ini sementara Inggris dengan merebut Yerussalem, menyerukan kepada orang-orang Yahudi dengan kata-kata: “ayo cepat-cepat berkumpul di Palestina, kami menciptakan bagi kalian sebuah negara Eropa”

[Mirzaid Sultan Galiev]

 

Salah satu imperium yang paling sering berperang melawan kekhalifahan Utsmaniah adalah kekaisaran Rusia. Beberapa perang besar berkaitan dengan perebuatan kendali kekuasaan di laut hitam dan wilayah kaukasus telah mengikat keduanya dalam konflik yang Panjang. Imperium Rusia sejak lama, karena penduduknya mayoritas beragama Kristen Ortodox, menginginkan konstantinopel (yang sejak tahun 1453 direbut oleh Utsmaniah setelah mengalahkan Byzantium) menjadi ibukota orthodox Kembali di bawah kekaisaran Rusia. Perangnya selama empat abad ke belakang sebelum Utsmaniah bubar pasca perang dunia pertama disebutkan oleh Boris Egorov bahkan terjadi, secara rata-rata, setiap duapuluh lima tahun sekali.[1]

Perang besar terjadi setidaknya dua kali sebelum pecah perang dunia pertama yang mempertemukan Utsmani Kembali dengan Rusia di front kaukasus dan Anatolia timur. Di abad ke 16 sampai abad 19 kemenangan berpihak pada Rusia. Perang Utsmaniah dengan Rusia pertama tahun 1768-1774 yang berakhir dengan kemenangan Rusia saat Rusia menyerang kekhanan Krime di laut hitam. Perang kedua tahun 1877-1878 yang juga dimenangkan oleh Rusia dan berakibat hilangnya banyak wilayah kekuasaan utsmaniah di balkan. Akibat perang ini Bulgaria, Rumania, Serbia dan Montenegro merdeka dari Utsmaniah.

Ambisi Rusia untuk menguasai laut hitam dan merebut kembali Konstantinopel dari kesultanan Utsmaniah kembali mengemuka pada tahun 1915 dalam pertemuan tripartit antara Prancis, Inggris dan Rusia beberapa saat setelah Utsmaniah terjun ke dalam perang dunia I di pihak Jerman dan Austria. Imperium-imperium ini menunjukkan keinginannya memecah-mecah utsmaniah. Rusia mengambil klaim atas Istanbul dan selat Bosporus dan beberapa wilayah di laut hitam dan selat yang menghubungkan laut hitam dan laut tengah. Prancis mengajukan klaimnya sendiri untuk wilayah Kilikia (Pantai tenggara Turki, termasuk Alexandretta dan Adana) dan Suriah Raya (kira-kira setara dengan Lebanon Modern, Suriah, Palestina dan Yordania).[2]Sementara Inggris  mempertahankan posisinya di Teluk Persia, mulai dari Kuwait sampai Negara Trucial (saat ini Uni Emirat Arab). Selain itu juga mengklaim Mesopotamia- Basrah, Bagdad dan Mosul.

Baca juga:  Menulis Kembali Sejarah Islam

Semua klaim ini menunjukkan misi imperialis dari ketiga imperium tersebut untuk menghancurkan kekhalifahan Utsmaniah, kekhalifahan terbesar terakhir Islam yang masih menjadi pemain amat penting dalam konstalasi dunia hingga awal abad kedua puluh saat perang dunia pertama pecah. Rusia ingin memperbesar pengaruhnya di Laut Hitam dan sekitarnya sampai ke selat Bosporus, inggris memperkuat wilayahnya di daerah-daerah kaya minyak di Teluk sembari memperluas pengaruhnya di Arab dan sembari memberikan janji kepada kaum Yahudi Eropa tanah air untuk orang Yahudi di atas Tanah Palestina, dan Prancis ingin mengambil Suriah raya yang bersebelahan dengan mereka di laut tengah sembari membentuk sebuah negara boneka mayoritas Kristen di Suriah yang saat ini disebut Lebanon. 

Perjanjian-Perjanjian Memecah Kekhalifahan

Dalam proses perang, para diplomat sampai petinggi-petinggi ketiga imperium ini terus bergerak membaca setiap peluang yang akan didapatkan dalam resolusi pasca perang yang akan dihadapi kemudian. Perjanjian-perjanjian terus diajukan dan diikat. Meski tentu saja ini adalah perjanjian yang bertubruk satu sama yang lain. Sebagai misal, Inggris menjanjikan Arab raya merdeka kepada Syarif Makkah untuk memikatnya ikut perang dan memecah kekuasaan dan kekuatan perang Utsmaniah karena menghilangnya kekuatan Arab di beberapa front terutama di Arab raya dan Suriah. Tetapi bukankah selain misi dari pihak Syarif Makkah ada juga klaim dari berbagai kekuatan local di arab selain juga misi imperum inggris atas tanah arab? Itulah akhirnya yang menjadi kenyataan. Negara Arab raya Bersatu tak pernah terwujud. Tanah suci diambil alih oleh Dinasti Saud yang juga mengklaim sebagai pihak yang ikut membantu kemenangan Inggris, sementara Syarif Makkah yang diwakili anak dan saudaranya hanya diberikan Irak dan Yordania. Sementara kaum nasionalis suriah harus menghadapi perlawanan Prancis sebelum menjadi negara merdeka.

Jadi janji-janji sebelum dan saat perang ini merupakan cara menegosiasikan watak dan keinginan pihak-pihak imperialis dalam perang dan juga cara untuk mengadu domba antar kekuatan lawan. Terutama dalam hal ini memecah utsmaniah dari persatuan kaum muslim dengan menarik arab masuk ke dalam perang dengan janji nasionalisme arab yang merdeka dari penjajahan Turki.

Baca juga:  Episode Sains Islam

Kebanyakan perjanjian-perjanjian yang dirancang dan disetujui di sekitar perang dunia pertama adalah perjanjian yang merugikan pihak kesultanan Utsmaniah dan umat islam pada umumnya. Seperti perjanjian Sykes-Picot yang ditandatangani tahun 1916 oleh Inggris, Prancis dan disetujui oleh Rusia. Perjanjian ini dianggap perjanjian yang akan membagi-bagi wilayah utsmaniah pasca perang. Dunia Utsmaniah pasca perang hampir menyerupai maksud imperialis dalam perjanjian Sykes-Picot ini kecuali detil-detil kecil yang sedikit dikecualikan.

Deklarasi Balfour juga merupakan bagian dari komitmen pasca perang yang diajukan Inggris dan menjadi salah satu dasar dari kampanye perpindahan orang Yahudi eropa ke negeri Palestina dan pembentukan negara Israel di atas tanah Palestina. Ini warisan imperialism paling bermasalah hingga saat ini.

Daftar perjanjian yang mengikat Turki Utsmani dan berdampak luas pada pecah-pecahnya wilayah Utsmaniah adalah perjanjian Sevres antara triple entente (Prancis, Inggris, Italia). “Irak dan Palestina berada di pemerintahan Inggris, Syria keppada Prancis, dan selat dardanella menjandi kawasan Internasional. Sementara itu Armenia menjadi negara berdaulat”[3]

Bolshevik Memperpanjang Nafas Khilafah Utsmaniah

Sementara itu perjanjian lain yang partisipannya lebih luas dan diakui sebagai perjanjian yang mengikat para pihak dalam perang dunia pertama ada perjanjian Brest-Litovsk yang membuat Rusia keluar dari perang dunia pertama dan menyerahkan tiga provinsi kepada Turki Utsmani dan memulihkan perbatasan 1914 Turki Utsmani. Ini satu-satunya perjanjian yang menguntungkan utsmaniah di tengah-tengah perang yang masih berkobar, kekalahan di Bagdad dan lepasnya Yerussalem.

Perjanjian Brest-Litovsk berasal dari sikap progresif di Rusia yang dipimpin oleh kaum Bolshevik yang mencela perang dunia sebagai perang imperialis dan membuka perjanjian rahasia Zykes-Picot yang diketahui Rusia untuk memecah belah seluruh wilayah Utsmaniah.sebagaimana digambarkan oleh Eugene Rogan (2017): Kaum Bolshevik berusaha keras mendiskreditkan kebijakan pemerintah Tsar yang mereka gulingkan. Leon Trotsky, yang saat itu menjabat sebagai komisaris urusan luar negeri menyebarkan seluruh plot paling kotor dari resim sebelumnya di surat kabar harian Soviet, Isvestia, pada akhir November 1917. Item paling sensasional adalah perjanjian Zykes-Picot, kesepakatan tripartite rahasia untuk pembagian wilayah Khilafah Utsmaniah”[4]. Pemerintahan kiri ini berkomitmen menegosiasikan perdamaian “tanpa aneksasi dan ganti rugi”.[5]

Baca juga:  Dunia yang Dilingkari Buku-buku

Hasil-hasil utama dari perjanjian Brest-Litovsk yang diajukan oleh kaum progresif di Rusia dibawah kepemimpinan Lenin adalah kembalinya batas 1914 dan pemulihan elvie I selase (tiga provinsi) yang direbut rusia pada tahun 1878: Kars, Ardahan dan Batum. Seluruh hasil itu mengakhiri klaim bersejarah Rusia atas konstantinopel dan selat. Memberi harapan nafas lebih Panjang untuk khilafah utsmaniah.

Bagi Eugene Rogan, keseluruhan hasil dari perang dunia pertama benar-benar mengubah seluruh wajah dunia Arab, menghancurkan kekhalifahan utsmaniah dan mengerdilkan Kekhalifahan Islam di Turki menjadi Turki Modern seperti saat ini, dan hanya menunggu waktu beberapa tahun, setelah dibagi-bagi oleh para imperialis, Khilafah pun bubar di tahun 1923. Kekhalifahan islam terbesar dunia yang masih hidup di abad 20 ini dihancurkan oleh misi imperialism dari kelompok-kelompok imperialis pemenang perang dunia pertama. Mereka membagi-bagi hampir seluruh wilayah kekhalifahan dan menyisakan Anatolia dan Istanbul di sisi Eropa untuk republic Turki Modern yang kecil dan tak diperhitungkan lagi.[6]

Artikel ini menunjukkan dengan jelas saat dunia islam bertemu dengan rezim komunis justru mendapatkan keuntungan, bukan seperti yang dihotbahkan banyak faksi islam terutama faksi islam liberal dan salafi-wahabi yang selalu mendiskreditkan pemerintahan komunis sebagai ateis dan anti Islam, pemerintahan Bolshevik di Rusia yang membentuk Republik Sosialis Uni Soviet dalam perang dunia pertama menunjukkan dengan jelas simpatinya kepada dunia Islam. Catatan di awal tulisan ini dari seorang muslim Asia Tengah yang bergabung menjadi aktifis Bolshevik[7]. Jadi jika belakangan ini ada foto dan berita popular perdamaian antara Saudi Arabia dengan Iran yang diprakarsai pemerintah komunis di China, maka perjanjian Brest-Litovsk mungkin yurisprudensi historisnya: rezim-rezim komunis berjuang bersama kaum muslim, sementara imperialis menghancurkan seluruh perjuangan itu!

 

Daftar Pustaka

[1]http://id.rbth.com/sejarah/84013-musuh-bebuyutan-kekaisaran-rusia-wyx/amp

[2]Eugene Rogan Dari Puncak Khilafah Sejarah Arab-Islam Sejak Era Khilafah Utsmaniah(Jakarta: Serambi; 2017) hal. 212-213

[3]Eugene Rogan The Fall of The Khilafah Perang Besar yang Meruntuhkan Khilafah Utsmaniah dan Mengubah Selamanya Wajah Timur Tengah(Jakarta: Serambi; 2017) Hal. 432

[4]Ibid. Hal. 435

[5]Ibid. hal. 433

[6]Eugene Rogan Dari Puncak Khilafah Sejarah Arab-Islam Sejak Era Khilafah Utsmaniah(Jakarta: Serambi; 2017) hal. 270

[7]Graham E Fuller Apa Jadinya Dunia Tanpa Islam? Sebuah Narasi Sejarah ALternatif(Bandung: Mizan; 2014) 221-226

0%