Oleh: Muhammad Ridha
Sebuah piring berhias miniatur perempuan Arab/Muhammad Ridha
Jika tahun 634 M merupakan tahun yang disepakati sebagai permulaan penaklukan- yakni dua tahun setelah Nabi wafat- peristiwa-peristiwa pada tahun itu dan era yang mengitarinya menunjukkan bahwa Kawasan ini siap menyambut perkembangan yang dramatis.
[Hussam ‘Itani]
Marilah kita mulai catatan ini dengan mengharap berkah dan rahmat dari Allah SWT, Tuhan seru sekalian alam. Dua buah konsep yang menjadi suatu nilai dari bagaimana agama ini menyebar dengan cepat sejak dinubuatkan oleh sang pembawa wahyu ilahi: Muhammad Rasulullah. Agama yang mengajarkan tidak sekedar mencari nafkah tapi mecari berkah dari seluruh proses pencahariannya. Berkah bukan sekedar materi dari pencarian, tetapi sari pati yang membuat hidup dan hubungan sosial di dalamnya menjadi lebih bermakna. Sementara itu, rahmat adalah konsepsi yang mengajarkan setiap orang haruslah memberi manfaat. Bukan hanya bagi dirinya sendiri, bukan hanya dari kaumnya sendiri. Tetapi bagi alam semesta. Memberi bagi semesta: bagi seluruh yang hidup dan mati di dalam galaksi ini. Bagi jasad renik di relung dasar kehidupan atau bagi semesta galaksi yang maha raya ini.Itulah kenapa, mungkin, setiap muslim, ketika agama ini menyeruak ke dalam sejarah dunia yang masih berada di bawah bayang-bayang dua adidaya, Sasaniah dan Byzantium-Romawi bergerak ke mana-mana seolah sedang mengejar untuk memberikan rahmat bagi -sesiapapun dan apapun- di semesta!
Menyeruak dari Gurun Arab
Di manakah agama baru -dengan ajaran-ajarannya yang segar untuk dunia romawi dan Sasaniah atau wilayah-wilayah di antara pengaruhnya yang kelelahan dan usang- ini lahir? Kata Tamim Anshary, “di selatan dunia mediterania. Di jazirah Arab’ suatu ketika di bukunya yang monumental Dari Puncak Bagdad Sejarah Dunia Versi Islam (2018).
Ayat-ayat ilahiah pertama kali diturunkan di sebuah bukit batu di luar kota Makkah. Juga di kota yang berdekatan dengan kota Makkah, Madinah. Tempat nabi Muhammad hijrah setelah nyawanya terancam oleh orang-orang Arab penguasa Makkah yang merasa kepercayaannya terancam dan pengikutnya kemungkinan akan terus tergerus, berkurang. Pengikut-pengikut awal agama ini adalah orang-orang yang berasal dari dua kota ini atau kota-kota di sekitarnya. Makkah dan Madinah bagian dari wilayah bagian selatan dari dunia mediaterania. Tetapi terlalu ke selatan, terlalu panas dan tidak penting sehingga kekuasaan-kekuasaan besar di eranya tidak merasa tertarik menaklukkan wilayah ini. Dua kota ini menjadi tempat turunnya wahyu ilahi dari agama baru ini. Itulah kenapa ayat-ayat yang diturunkan biasa disebuatkan dalam kategori yang mengikut dua tempat di mana perintah tersebut turun: ayat makiah dan madaniah.
Di wilayah yang temaram inilah. Di wilayah yang dalam sejarah kekuasaan-kekuasaan bangsa besar dalam sejarah dunia lama hanya seperti pinggiran dalam ruam-ruam yang samar-samar. Di bukit-bukit batu dan gurun yang hanya beberapa hari dalam setahun dibasahi hujan. Yang sungguh tak penting secara sumberdaya. Tak menarik secara kultural dan tak ada apa-apa di sana selain panas terik, hawa kering dan suku-suku otonom yang hidup dari berdagang di antara penduduk-penduduk suku. Atau juga beternak sejumlah kecil hewan yang bisa hidup di iklim yang tak cukup bersahabat itu. Tetapi, dengan latar yang tak cukup menarik dari wilayah itu, bukan berarti agama ini tak penting.

Agama Islam, begitu kemudian ajaran itu dikenal, lahir di awal-awal era pertengahan abad ke-7 Masehi. Kekristenan telah lahir lebih dari enam abad. Kerajaan Kristen yang merupakan Imperium dunia lama telah menjadi raksasa. Dan pusat-pusat kotanya ada metropolitan di masanya. Sebelah utaranya kerajaaan Persia adalah raksasa dunia lama yang lain. Zoroaster telah dianut lebih lama dari orang-orang pertama menganut Kristen. Atau Yudaisme. Tokoh-tokoh dalam kerajaan-kerajaan lama dan agama-agama yang telah lebih dulu lahir itu telah menjadi nama-nama dan kota-kota dalam nubuat di ayat suci Al-Qur’an. Kitab suci agama baru ini. Kemasyuran kota-kota dari peradaban-peradaban lain itu telah menjadi latar cerita dari ayat suci. Tapi, dengan begitu, bukan berarti tokoh baru yang datang belakangan ini juga ajarannya bukan sesuatu yang tidak penting dalam sejarah.
Menyebar Cepat

Dua tahun setelah nabi wafat, Byzantium imperium yang mewarisi romawi dikepung di wilayah jauhnya, Suriah. Juga benteng kota utama di Konstantinopel. Sayangnya, saat itu, kekalahan di pihak pasukan muslim. Meski demikian, imperium yang kotanya dikelilingi benteng yang tak tertembus, akhirnya jatuh ke tangan pasukan muslim dari kesultanan Islam Utsmaniah beberapa abad setelahnya. Pewaris imperium roma (sering disebut romawi timur) ditumbangkan oleh sebuah kesultanan yang diperintah berdasarkan ajaran-ajaran baru yang dibawa oleh nabi kaum muslim itu. Imperium yang pendahulunya, Aleksander Agung, telah menaklukkan wilayah-wilayah kekaisaran besar di Asia dan Afrika yang masih membekas traumanya dalam nama kota atau tempat di Asia atau Afrika seperti Aleksandria di Mesir atau Kandahar di Afganistan.
Setelah khalifah Abu Bakar Assiddiqi wafat, Khalifah Umar bin Khattab yang memimpin komunitas dengan keyakinan baru ini mempercepat persebaran wilayah kekuasaan Islam hingga menaklukkan dinasti Sasaniyah yang rajanya melarikan diri ke stepa Asia Tengah dan tak pernah mendapatkan kembali tahta Persia. Kekaisaran Persia terakhir sebelum menjadi wilayah Islam dan diperintah oleh khalifah dan dinasti-dinasti Islam setelah kekhalifahan sahabat berakhir. Kekaisaran Sasaniah bukanlah pemain kecil di dunia lama. Dia adalah raksasa penguasa dunia lama di sekitar mediterania dan apa yang disebut Tamim Anshary sebagai ‘dunia tengah’, dunia tempat peradaban mula-mula lahir di sekitar sungai-sungai purba di Asia Barat dan sedikit Asia tengah.

Kekaisaran Sasaniyah merupakan penerus kekaisaran Persia lain seperti Elam, Aciemened atau Partia. Kekaisaran-kekaisaran yang warisan-warisannya masih bisa kita saksikan hingga saat ini kemegahannya seperti di Bagdad atau di beberapa tempat di Iran saat ini seperti kompleks istana, pusat upacara kerajaan, kota-kota benteng atau prasasti-prasasti yang diukir di batu juga relief dinding yang monumental. Kekaisaran yang darinya dunia belajar banyak teknik militer yang pertama-tama dikembangkan di Persia. Bidikan panah yang busurnya ditarik di atas bahu disebut bidikan partia . Dalam perang pasukan Persia biasanya akan terlihat kalah di awal, pasukan kavalerinya berlari balik seperti ketakutan, tetapi segera memukul balik ketika lawannya kelelahan mengejar dan konsentrasinya telah buyar. Serangan ini sering disebut tembakan terakhir partia, partian shot. Ksatria Persia adalah yang pertama mengenakan pakaian perang yang dilapis baja, catapracht, dengan menunggang kuda . Warisan-warisan yang masih lestari di dalam bahasa dan narasi dunia kita saat ini.

Kecuali galaksi kebudayaan yang lain dari dunia lama, Cina dan seluruh wilayah di sebelah timurnya, banyak wilayah di ‘dunia mediterania’ dan ‘dunia tengah’ telah diserap ke dalam dunia Islam. Dunia mediterania sebagian besar di pantai timur – seperti Afrika Utara, Palestina, Suriah, Tripoli dan yang lain- dan juga kekuasaan roma di Timur seperti Damaskus juga kekuasaan yang berada di pusat kebudayaan utama ‘dunia tengah’, Sasaniah dari bangsa Persia. Maka lengkaplah sudah perangkat untuk memasuki gelanggang utama sejarah setelah dua kekuatan utama penggerak sejarah lama justru telah ditaklukkan oleh komunitas keagamaan baru ini. Kata Hussam Itani’ “penaklukan terjadi pada titik balik penting dalam sejarah dua kekaisaran, Byzantium dan Persia-Sasaniah, yang menjadi korban pertama penaklukan” . Dan, luar biasanya, ini terjadi tak lebih dari 50 tahun setelah nabi suci mereka wafat dan kepemimpinan keagamaan dan politik dipegang oleh sahabatnya. Suatu revolusi dalam sejarah dunia lama.
David Levering Lewis, seorang peneliti Afrika dari Amerika Serikat menulis dengan takjub fenomena mencuatnya orang-orang Arab Muslim ke dalam sejarah utama dunia. Dia menyebutkan: “Orang-orang ini bergerak dengan kecepatan luar biasa ke dalam salah satu slot utama sejarah. Suku-suku dari pedalaman Arab ini mendapati diri mereka hampir secara otomatis memegang salah satu tiket pemenang sejarah sebagai protagonist dalam sebuah kompetisi baru” .
Kira-kira seratus tahun sejak agama ini lahir, penganutnya telah menyebar kemana-mana di seluruh dunia yang dikenali Ketika itu: ke Afrika bagian utara dan barat. Ke Eropa di semenanjung Andalusia (kira-kira saat ini terdiri dari Portugal dan Spanyol modern). Ke sekitar sungai Sind di India. Ke Asia Tengah dan Anatolia sejauh Kapadokia atau ke Kaukasus. Maka, agama yang penganutnya berharap rahmah dan berkah ilahi ini, bukan lagi kekuatan, entitas, kebudayaan, agama yang bisa disebut kecil dan tak berpengaruh dalam sejarah. Karenanya, warisan-warisannya juga timbunan pengetahuan dari kebudayaannya saat ini dan di masa lalu- masih terus penting untuk digali dan dipelajari untuk dunia kita saat ini yang penuh sengketa, konflik dan penghancuran. Wallahu a’lam bi sawab.***
Muhammad Ridha Adalah Dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Alauddin Makassar, dan Ketua Jurusan Studi Agama-Agama
