Di Balik Tenda Pembuatan Kapal Pinisi

Oleh: Surahmat Tiro

Terlihat Warga Lembanna Sedang Menonton Bola di Salah Satu Warkop Sederhana Milik Warga Desa/Surahmat Tiro

Tulisan Kecil ini, merupakan catatan lapang dari hasil kunjungan singkat selama tiga hari di Desa Lembanna Kecamatan Bontobahari Kabupaten Bulukumba. Kunjungan ini saya lakukan dalam rangka menemani mahasiswa prodi Hubungan Internasional Uin Alauddin Makassar untuk melakukan wawancara kepada warga desa sebagai upaya mereka memahami globalisasi ditingkat lokal. Selama kegiatan berlangsung di Desa Lembanna, setelah memastikan mahasiswa telah keluar dari poskonya masing-masing dan melakukan wawancara, saya menyempatkan diri ikut nonton piala dunia di salah satu warkop sederhana milik warga desa.

Di sana berkumpul bapak-bapak dan anak muda pecinta bola dan menceritakan kebanggaan pemain dan timnya masing-masing.  Harga kopi Vietnam drip Rp.10.000/gelas terbilang sangat murah di tengah lokasi wisata pantai pasir putih Mandala Ria, gua purbakala Passea, Batu TongkaRaya, Tebing Mattoanging dan kisah legendaris para ahli pembuat kapal pinisi yang lokasinya berada di wilayah ini. Pada saat itu, di sana tidak ada wisatawan, semua penggunjung hanya warga desa.

Di hari pertama saya berkunjung ke warkop tersebut, saya ditraktir oleh seorang warga desa yang baru balik merantau di Kalimantan. Sembari menonton pertandingan bola berlangsung yang menggunakan layar lebar dengan tutupan terpal yang biasa mereka gunakan sebagai penutup terik sinar matahari dan hujan pada saat mengerjakan kapal pinisi pesanan para pengusaha luar negeri maupun dalam negeri. Namun terpal itu, kini digunakan untuk menutupi sinar matahari agar pantulan gambar dari proyektor terlihat jelas di mata penonton.

Entah pertandingan sedang berlangsung atau sedang menunggu babak berikutnya, saya dan beberapa warga desa ngobrol secara acak, salah satunya adalah ngobrol dengan warga yang mentraktir saya kopi, dan beberapa warga lain, terkait dengan proses pembuatan kapal pinisi di Kalimantan. Setelah ada pelarangan jenis kayu Ulin keluar Kalimantan dan Sumatera yang biasa digunakan warga desa dalam membuat kapal pinisi, mereka harus datang ke Kalimantan untuk membuat kapal. Di sana mereka tinggal di rumah non-permanen atau rumah sementara hingga pesanan kapal selesai.  Menurut tuturan para pembuat kapal di Lembanna-Ara, hal ini cukup menghemat biaya produksi pembuatan kapal pinisi dalam hal pengiriman kayu dari Kalimantan ke Sulawesi Selatan.

Baca juga:  Siasat Politik Rampas Lahan Korporasi Hutan di Pedesaan

Terlihat Kapal Pinisi Yang Masih Dalam Tahap Pengerjaan di Pantai Mandala Ria/Surahmat Tiro

Pembuatan kapal pinisi yang bergantung pada pesanan klien, menentukan akan dikerjakan dimana. Seperti ketika klien, meminta jenis kapal yang dipesan menggunakan kayu bitti berarti dikerjakan di Lembanna Ara atau di Tana Beru, karena jenis kayunya diambil di Sulawesi Tenggara atau di wilayah-wilayah yang sedang membuka tambang seperti di Morowali Sulawesi Tengah, begitu pun ketika kayu Ulin maka akan dikerjakan di Kalimantan atau di Sumatera. Selain dari skema tersebut, lokasi pengerjaan kapal pinisi juga ditentukan oleh klien seperti pesanan kapal pinisi Dinas Parawisata Provinsi Sulawesi Selatan yang beroperasi saat ini di Pantai Losari, dikerjakan di Pantai Losari selama delapan bulan lamanya dengan tenaga kerja berjumlah dua belas orang.

Pada saat pengerjaan kapal pinisi di luar daerah seperti di Pantai Losari, biasanya dua belas orang tim tersebut memiliki tugas masing-masing. Satu orang sebagai kepala tukang, sepuluh orang lainnya sebagai tukang, dan satu orang bertugas untuk memasak, dan biasanya istri salah satu pekerja yang dijadikan sebagai tukang masak. Jumlah tenaga kerja yang digunakan dalam pembuatan kapal pinisi lebih variatif. Jumlah tenaga kerja tergantung pemborong atau pemilik perusahaan pembuat kapal yang mendapatkan pesanan. Perkiraan warga desa, berkisar 30-an lebih orang yang memiliki PT atau CV di Desa Lembanna dan Desa Ara. Setiap perusahaan tersebut menentukan skema gaji dan berapa jumlah pekerja yang digunakan. Namun Rata-rata gaji yang diterima oleh para pekerja kapal sebanyak Rp. 200.000-250.000/hari.

Ketika terdapat perselisihan antara pemilik perusahaan dan para pekerja, diselesaikan oleh lembaga adat Desa Lembanna. Lembaga adat ini, berfungsi sebagai ruang aspirasi, dan pengawasan untuk memastikan hak-hak pekerja dan pemilik perusahaan berjalan secara adil berdasarkan kesepakatan kerja. Kesepakatan ini berbentuk lisan, karena baik pekerja maupun pemilik perusahaan mereka menganggapnya satu kampung, jadinya dilakukan secara lisan saja.

Baca juga:  Kuasa Ekonomi Politik ‘Korporasi Hutan’: Relasi Kelas dan Enclosure di Pedesaan Gowa

Jalan Utama Desa Lembanna/Surahmat Tiro

Ketika kemudian hari terjadi perselisihan pasti akan diselesaikan di lembaga adat dan mereka sangat mempercayai bahwa lembaga adat pasti akan memutuskan perkara secara adil. Meskipun kapal pinisi dikerjakan di luar Lembanna-Ara, ketika perselisihan terjadi dan kepala tukang tidak dapat menyelesaikannya maka akan diputuskan oleh lembaga adat di desa. Untuk menjadi ketua lembaga adat, menurut para warga desa tidaklah mudah. Sebab harus memiliki pengalaman kerja puluhan tahun sebagai tukang, kepala tukang serta dapat menguasai ilmu spiritualistas milik nenek moyang mereka yang berkaitan dengan laut dan makna-makna simbolik dalam struktur kapal pinisi.

***

Dihari kedua, pagi hari saya berkunjung ke warkop tersebut, terlihat lebih banyak bapak-bapak ikut menonton. Dalam pikiran saya, orang-orang disini sangat menyukai sepak bola, karena mereka sejak dari pagi sampai siang hari, mereka tidak meninggalkan warkop tersebut. Namun seiring berjalannya waktu dan mengobrol dengan warga, pikiran saya betul, bahwa warga menyukai sepak bola, bahkan salah seorang bapak mengetahui era keemasan Kolombia yang berkisar tahun 1990-an, namun ternyata tidak sesederhana itu. Kebiasaan mereka berkumpul dan ngobrol khas bahasa Konjo yang seru dan enak terdengar di telinga saya. Kebiasaan berkumpul memang sering dilakukan di waktu mereka tidak memiliki kerjaan, apalagi mereka terbiasa bekerja bersama dalam pembuatan kapal pinisi yang membutuhkan waktu yang cukup lama. Sependek pengamatan saya selama di Lembanna, itulah yang membentuk kebiasaan orang Lembanna-Ara senang berkumpul dan ngobrol.

Di tengah pertandingan Kolombia-Portugal, seorang warga menceritakan bahwa dirinya baru dua hari di Lembanna. Baru balik dari Lombok, mengerjakan kapal pinisi yang di renovasi selama satu bulan. Kapal yang di renovasinya jenis kapal wisata. Dalam pembuatan kapal pinisi terdapat dua kategori, pertama, kapal kargo, dan kedua kapal wisata. Hal yang paling sering dikerjakan oleh orang Lembanna-Ara adalah jenis kapal wisata. Jenis kapal wisata yang kerap dipesan oleh para pengusaha, memang sangat menjanjikan. Seperti kapal wisata yang baru di renovasi di Lombok. sehari setelah di renovasi, langsung digunakan oleh turis dari Afrika Selatan untuk berkeliling selama seminggu dan berakhir di Bali, dengan sewa sebanyak 2,3 Miliyar rupiah.

Baca juga:  Ruang, Rezeki, dan Rasa: Catatan Reflektif atas Lalu-Lalang Manusia di Rumah Sakit

Pesanan pembuatan kapal pinisi jenis wisata yang dikerjakan oleh orang Lembanna-Ara, paling kecil membutuhkan biaya sebesar 7 miliyar rupiah dan paling mahal yang pernah dikerjakannya sebesar 22,1 miliyar rupiah. Kapal-kapal pinisi dengan jenis kapal wisata yang dikerjakan oleh mereka rata-rata berstandar hotel bintang lima. Tergantung pesanan para klien mereka. Salah satu skema sebelum kapal pinisi dengan jenis apa-pun itu, para klien mebawah desain kapal yang diinginkan kemudian didiskusikan hingga puluhan kali dalam menyesuaikan bahan material, kemampuan tenaga kerja, dan waktu pengerjaan serta beberapa hal lainnya.

Kemampuan orang lembanna-Ara dalam bernegosiasi dan beradaptasi sampai pada mengimproviasi jenis model kapal pinisi sudah terbentuk sejak dari nenek moyang mereka di masa lalu. Seperti jenis layar kapal yang berbentuk segitiga, merupakan hasil dari improvisasi nenek moyang mereka ketika berlayar di Selat Malaka dan melihat layar kapal milik orang-orang Eropa menggunakan model tersebut. Bahkan menurut tuturan salah satu warga desa, kapal pinisi merupakan hasil improvisasi dengan kapal-kapal luar baik dari Eropa, Asia maupun dalam negeri selama masa pelayaran nenek moyang Lembanna-Ara. Menurutnya, kapal khas orang Lembanna-Ara adalah Paddewakkang Pallari.

kemampuan beradaptasi yang didukung oleh keterampilan, membuat wilayah dan orang Lembanna-Ara cepat menjadi sebagai sebuah wilayah metropolis di antara berapa wilayah di sekitar mereka. Kemampuan dan keterampilan ini muncul, bisa dikatakan hasil dari desakan kondisi geogragfis mereka, dimana jenis tanah berkapur dan bebatuan sulit menemukan jenis tanaman, meskipun ada yang tumbuh mereka harus berebut dengan babi dan monyet.

Sebagai sebuah wilayah belajar bagi saya, Lembanna dan Ara sangat berkesan, orang-orangnya yang cukup terbuka secara pikiran dan menerima pendatang baru, membuat saya banyak belajar tentang kemajuan, dan pentingnya kemampuan beradaptasi yang ditopang oleh keterampilan. Sebagai penutup dari catatan perjalanan ini, saya akan mengutip salah satu ungkapan seorang warga Lembanna yang mengatakan “Lembanna-Ara dikenal sampai ke dunia internasional adalah hasil dari kerja keras yang melahirkan karya”.  ***

0%