Oleh: Surahmat Tiro
Ilustrasi mudik. (ig @banjarnegarepos)
Mudik Bukan Sekedar fenomena migrasi temporer, melainkan sesuatu yang cukup kompleks
Pada bagian pertama tulisan ini, mendiskusikan mudik sebagai sebuah momentum perjalanan spiritualitas dan psikoilogis yang mencoba merefleksikan pengalaman personal mudik saya dan pengalaman setelah membaca tulisan Umar Kayyam (2002) yang mendefenisikan mudik sebagai sebuah momentum perjalanan spiritual manusia dengan mengambil kisah kebiasaan petani Jawa yang mengunjungi tanah kelahiran dan berziarah ke makam leluhurnya. Kemudian mendefenisikan mudik sebagai fenomena antropologis dalam kaitannya dengan “ikatan kultural individu dan komunitas asalnya”.Pada bagian pertama tulisan ini, juga mencoba mendefenisikan kaitan antara budaya dan psikologi manusia oleh para antropolog seperti Bronislaw Malinowski (1942), Margaret Mead(1978), Clifford Geertz (2006), Sherry Ortner (20025) dan Robert Levy (2003), yang mencoba mengeksplorasi hubungan budaya dan psikologi manusia, melalui pemeriksaannya terhadap trauma individu yang berakar pada budaya di dalam sebuah struktur sosial yang kompleks.
Bagian kedua ini, berusaha melengkapi informasi, baik secara personal pada saat melakakukan mudik maupun hasil refleksi dari pembacaan karya beberapa ahli yang pernah meneliti dan menuliskan pengalaman belajar mereka terhadap topik yang beririsan dengan tulisan ini.
Spiritualitas-Psikologis Dalam Mudik
Sebagai orang yang berasal dari salah satu kampung di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, merantau ke Makassar bukan lagi suatu fenomena baru bagi masyarakat. Di masa lalu, Jeneponto sebagai suatu wilayah yang mengalami musim kering yang panjang, sejak April hingga November, meskipun sebagian besar lahannya cukup subur, dimana padi hanya dapat tumbuh sejak Desember sampai Maret, ketika agin muson barat membawa hujan ke wilayah Jeneponto. Selama musim kemarau banyak orang Jeneponto bekerja musiman sebagai pengemudi becak di Makassar. Dalam prosesnya ada yang memilih menetap dan membawa keluarganya untuk tinggal di Makassar, sebagian lainnya masih musiman (Whitten et al., 1987).
Sebagai generasi milenial Jeneponto yang memilih jalan penghidupan merantau, tentunya momentum lebaran dan pulang kampung menjadi sesuatu yang dirindukan. Salah satunya adalah kebiasaan berziarah ke makam leluhur yang merupakan dorongan spiritual individu yang berfungsi menguatkan ingatan kultural tentang kampung halaman. Terdapat salah satu pepatah yang cukup populer bagi perantau Suku Makassar “ meskipun meninggal di perantauan, upayakan jasadnya dimakamkan di tanah kelahirannya”. Sebuah pepatah yang memiliki makna agar generasi berikutnya tetap terikat secara kultural dengan kampung leluhurnya, melalui kebiasaan orang-orang Jeneponto berziarah ke makam leluhur masing-masing.
Dari aspek spiritualitas inilah, berhasil membentuk ruang tersendiri bagi pemudik ketika berada di kampung halaman masing-masing, seperti berkumpul dengan kerabat dekat dan jauh di rumah orang tua atau kerabat dekat lainnya. Ruang tersebut telah menfasilitasi untuk menguatkan ikatan kekerabatan dalam masyarakat.
Ikatan kekerabatan yang menguat di momentum mudik, sepertinya perlu untuk direfleksikan, sejauh mana ikatan tersebut bekerja dengan sehat di dalam ruang yang telah terfasilitasi oleh mudik, untuk mengantisipasi agar mudik tidak jatuh sebagai ruang penghakiman yang berbasiskan hukum sosial Feodal-kapitalis, seperti tren hidup sejahtera dengan mempertanyakan pekerjaan formal (swasta-negeri) yang pada realitasnya masih banyak orang tidak berhasil dan belum terserap masuk bekerja ke dalam sistem kerja formal tersebut. Pada momentum ini, orang-orang yang masih berjuang agar berhasil bekerja secara formal atau orang yang memilih bekerja secara freelance atau informal serta yang masih mencari pekerjaan akan berpeluang besar terancam dan tidak nyaman di tengah ruang dengan ikatan kekerabatan yang menguat.
Situasi di atas, akan memicu sikap dilematis individu. Di sisi lain rindu kampung halaman, dan kumpul keluarga, namun di satu pihak ada banyak ketakutan dalam diri individu ketika berada dalam ruang penghakiman tersebut. Dengannya mudik menjadi pilihan serba bersalah. Tidak pulang rindu, pulang merasa tidak nyaman. Suatu pilihan yang amat berat, tetapi ada beberapa individu yang memilih untuk tidak pulang, kemudian ada pula yang memilih untuk pulang dengan segala persiapan, baik materi maupun mental.
Budaya mudik dengan potensi ruang yang dibentuknya dengan pola menghakimi, akan berpotensi menurunkan rasa percaya diri individu karena belum berhasil bekerja, atau ada yang sudah berhasil terserap bekerja secara formal, tetapi menghadapi kehidupan yang sulit di perantauan, akan merasa tidak nyaman. Fenomena sosial yang mengisolasi individu dengan komunitasnya merupakan konsekuensi logis dari dominannya kapitalisme bekerja dalam kehidupan harian kita.
Selain dari dominannya kapitalisme, struktur feodal dalam masyarakat Jeneponto masih terbilang cukup kuat bekerja, seperti pengambilan keputusan masih dikuasai berdasarkan status kebangsawanan, umur, dan gender. Meskipun ketiga aspek kuasa feodal tersebut bekerja, tetap mereka tunduk terhadap kekuatan finansial. Tetapi terdapat pula bangsawan, laki-laki, umur tua, dan kaya secara finansial, maka kekuasaannya sudah mencapai langit ketujuh dan tidak ada keraguan di dalamnya.
Individu dan keluarga yang terlahir sebagai pemenang dalam struktur sosial feodal-kapitalis, sangat menentukan arah dan pola ruang yang terbangun pada saat mudik ke kampung halaman. Sedangkan secara diam-diam masih terdapat banyak harapan baik yang muncul, seperti menjadikan mudik sebagai momentum berbagi kisah di perantauan, berpeluk hangat dengan kerabatnya, dan melepaskan segala rasa rindu tentang kampung halamannya. Semoga kita semua selamat dalam perjalanan mudik kali ini dengan segala harapan-harapan di dalamnya. Aamiin.
Surahmat Tiro Adalah Pegiat di Rumah Buku Carabaca dan Peneliti Sosial-Budaya
Referensi
Kayam, Umar. (2002). Para Priyayi: Sebuah Novel Sosial-Budaya. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.
Whitten A. J, et al., The Ecology Of Sulawesi, Yogyakarta, Gaja Madah Press. 1987
Bronislaw Malinoswki, Seorang Antropolog Polandia-Britania yang dikenal sebagai salah satu pendiri antropologi sosial. la juga mempelajari psikologi dan mengembangkan konsep “psikologi antropologis” yang mempelajari hubungan antara budaya dan psikologi, 1884-1942
Margaret Mead, seorang antropolog Amerika yang dikenal karena karyanya tentang perkembangan anak dan remaja di berbagai budaya. la juga mempelajari psikologi dan mengembangkan konsep “psikologi budaya” yang mempelajari bagaimana budaya mempengaruhi perkembangan psikologi individu, 1901-1978.
Cliffort Geertz, seorang antropolog Amerika yang dikenal karena karyanya tentang interpretasi budaya. la juga mempelajari psikologi dan mengembangkan konsep “psikologi interpretatif” yang mempelajari bagaimana individu memahami dan menginterpretasikan budaya mereka sendiri, 1926-2006
Sherry Ortner, seorang antropolog Amerika yang dikenal karena karyanya tentang psikologi budaya dan antropologi feminist. la mempelajari bagaimana budaya mempengaruhi perkembangan psikologi individu, terutama dalam konteks gender dan kekuasaan, 1941-Sekarang
Robert Levy, seorang antropolog Amerika yang dikenal karena karyanya tentang psikologi budaya dan antropologi medis. Ia mempelajari bagaimana budaya mempengaruhi perkembangan psikologi individu, terutama dalam konteks kesehatan mental dan penyakit, 1924-2003.
