Langit-langit dan Ubin Persia: Cerita dari Iran

Oleh: Muhammad Ridha

Langit-langit di salah satu masjid di kota Isfahan/Muhammad Ridha

Ada begitu banyak yang membuat saya takjub saat datang ke Iran (juga wilayah-wilayah Persia lama). Tapi di antara yang banyak itu adalah keindahan langit-langit dan ubin Persia. Hampir seluruh gedung-gedung, istana, masjid, benteng atau ruang pasar memperlihatkan detail langit-langit dan ubin yang khas. Tidak hanya selalu cantik, tapi juga membuat takjub secara visual juga arsitektural.

Kebanyakan kubah bangunan di Persia berbentuk bulan 3/4 lingkaran dengan sudut atasnya yang lancip. Sementara kubah untuk bangunan pasar-pasar lama berbentuk setengah lingkaran. Sebagiannya dengan bata yang disursun dengan teknik tertentu yang memungkinkan seluruh material tersebut dan yang bertumpu di atasnya tetap bertahan. Sementara bangunan-bangunan ikonik seperti masjid besar atau istana juga musoleum diberi langit-langit yang berbentuk lebih rumit. Kumpulan ubin Persia dengan ukuran sesuai bidang yang diinginkan disusun sedemikian rupa sehingga membentuk prisma atau segitiga dan kubus yang menghadap ke bawah. Sangat indah!

Saya menjumpai hampir di semua kota bentuk langit-langit indah ini. Di Tehran, Qom, Shiraz, juga Isfahan. Di lorong-lorong pasar, di masjid-masjid dan madrasah, di istana atau musoleum. Semua mengandung kompleksitas arsitektural, seni dan visualitas yang sungguh istimewa. Saya sungguh hanyut di dalam kemewahan arsitektur Islam warisan dinasti-dinasti Islam di sini.

Gerbang masjid di kota Yazd/Muhammad Ridha

Saat menikmati peluda di gang antar Vakal Bazar di kota Shiraz, saya berdiskusi dengan guide yang menemani saya. Bagaimana bisa model kubah di atas kami sembari menukik ke arah langit-langit dibangun di masa lalu di mana ilmu konstruksi dan arsitektur mungkin belum memiliki teknologi pembetonan bertulang yang menampung berat dan volume massa agar tetap melayang. Dia bilang dengan Persia dan diterjemahkan oleh kawan perjalanan saya, Syaip, bahwa dulu teknik pelepah kurma dan kayu dijadikan penopang saat perekat khas untuk bata dan bahan lain digunakan masih basah. Lalu dalam waktu yang ditentukan penopang itu baru dilepaskan. Dan jadilah seperti ini. Langit-langit Persia yang indah yang juga saya temukan di bangunan-bangunan peninggalan dinasti Timurid di Uzbekistan yang memang banyak menggunakan insinyur Persia saat membangun proyek-proyek mercusuar dinastinya. Bibi Khanum madrasah, kukeldash madrasah atau museleum tempat timur dimakamkan juga bergaya langit-langit Persia ini tapi dengan warna emas yang berkilau.

Baca juga:  Perjalanan

Langit-langit Persia yang cantik ini juga saya temukan di beberapa masjid di India. Juga musoleum-musoleum indah untuk raja-raja dinasti Mughal di sana. Yang paling ikonik tentu saja adalah Taj Mahal yang arsiteknya berasal dari Shiraz, Isa Khan. Keajaiban arsitektur yang telah menjadi warisan dunia dalam list UNESCO World Heritage. Banyak bangunan warisan Islam di Iran juga telah mengundang ketakjuban dan menjadi warisan abadi kemanusiaan. Naqsi jahan, kompleks istana Savawiyah di Isfahan, kompleks benteng dan madrasah dinasti Zand di Shiraz atau bangunan-bangunan tinggalan dinasti Qajar di Tehran juga telah diakui oleh UNESCO world heritage.

Saat saya berkeliling di naqsi jahan square dan memandang istana Ali Kapou, Majid Jame dan sekeliling bangunan ini yang saat ini adalah pusat pertokoan, pasar dan pusat kerajinan tangan, saya jadi terbayang-bayang kata pejalan: Isfahan, separuh dunia…

***

Saya tidak tahu apakah penyebutan ubin Persia itu tepat untuk menunjuk kepada ubin yang menempel di banyak bangunan-bangunan di wilayah Persia- wilayah Persia ini lebih luas dari yang saat ini disebut Iran. Tapi saya menemukan jenis-jenis keramik biru hijau yang menempel di dinding, tiang, atau langit-langit bangunan madrasah, Musoleum, makam, istana atau bangunan-bangunan benteng lama abad pertengahan Islam. Seperti misalnya di Asia Tengah, Pakistan dan Afganistan Utara, atau Irak dan Turki Timur. Mungkin sebagian India utara.

Baca juga:  Perjumpaan-Perjumpaan di Kota Qom

Setelah melihat beberapa bangunan tersebut di wilayah Uzbekistan dan Khazakstan juga penelusuran fotografik dari media mengenai bangunan-bangunan di wilayah Asia tengah lain, Afganistan, India utara dan Pakistan, saya menemukan keindahan yang menakjubkan. Kebanyakan warna dasarnya biru (seperti batu Pirus yang banyak ditemukan di Iran), hijau tosca, hijau terang atau variasi-variasi warna lain untuk memberi motif kombinasi. Saat menempel di tembok-tembok di bangunan-bangunan ikonik di masa lalu dimana di wilayah-wilayah Persia yang bermusim empat. Juga banyak yang berupa padang savana luas atau padang pasir dan bukit kapur muda di sekitar padang pasir. Mungkin dominasi warna-warna coklat muda dan merah bata itulah yang menyebabkan kebanyakan gedung tersebut menjadi begitu menakjubkan. Bangunan abad ke-15 di Uzbekistan berdiri di sekitar padang tandus di antara batu-batu dan bangunan madrasah dengan bangunan pokok bata dan fitur-fitur utamanya seperti gerbang dan langit-langit atau kubah berwarna biru itu jadi lebih cantik. Menjadi satu-satunya titik pandang di antara warna-warna alami bangunan bata dan padang pasir.

Mungkin.

Tapi ini sekedar spekulasi. Apa yang saya temukan di Iran di banyak bangunan peninggalan di kota-kota Persia, yang sekira berusia 3-6 abad, seperti mengkonfirmasi alasan itu. Tapi apa yang menyebabkan warna itu bisa dominan digunakan? Apakah jawaban ketersediaan batuan berwarna biru seperti lapis lazuli di Afganistan dan Uzbekistan dan Pirus di Iran cukup? Bukankah banyak wilayah lain berkadar geografis sama tapi tidak bisa menghasilkan benda-benda itu untuk menunjang budaya material mereka. Wilayah Arab yang luas dan didominasi coklat juga tak bisa ditemukan jenis ubin semacam ini. Karena itu alasan geografis dan ketersediaan bahan mungkin bukan satu-satunya alasan mengapa wilayah-wilayah Persia bisa menggunakan ubin Persia itu.

Baca juga:  Bagaimana Kapitalisme Membentuk Cara Berpikir Kita: Sebuah Pendekatan Neuroantropologi, Bagian II

Saya juga belum tau apakah ubin (penutup permukaan lantai yang dibuat dengan proses pendinginan dan air) ini kata yang tepat. Keramik Persia mungkin lebih tepat, karena kebanyakan yang menempel di bangunan-bangunan ikonik ini adalah keramik (pemrosesannya adalah dipanaskan seperti bata tetapi dengan tingkat kepanasan lebih). Tapi penggunaan kata keramik sering lebih tertuju kepada benda-benda kriya dan perabot serta perhiasan rumah pecah belah. Jadinya saya pakai saja kata ubin ini.

Tapi terlepas dari persoalan istilah ini, saya menulis untuk hadiah buat anda saja. Iya anda. Hehehe. Hadiah dari perjalanan tiga kota utama yang masing-masing menjadi ibukota dinasti-dinasti Iran: Tehran, Shiraz dan Isfahan.

Saya mengingat kata-kata Salman, driver Snapp (perusahaan taxi online di Iran) yang mengangkut saya dari kota Shiraz ke Persepolis: “Anda termasuk orang yang beruntung karena pernah datang ke kota ini sebelum mati”. Kami tertawa setelahnya.

Mungkin ada benarnya.

Selamat malam.

Muhammad Ridha adalah Dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Alauddin Makassar, dan Ketua Jurusan Studi Agama-Agama

0%