Bagaimana Kapitalisme Membentuk Cara Berpikir Kita: Sebuah Pendekatan Neuroantropologi, Bagian II

Oleh: Surahmat TiroIlustrasi: Jumaadi, 2025

Seorang Terpelajar Harus Sudah Berbuat Adil Sejak Dalam Pikiran Apalagi Dalam Perbuatan (Pramoedya Ananta Toer)

Pada bagian I tulisan ini, belum menjelaskan dari mana istilah neuroantropologi muncul dan siapa-siapa saja peneliti yang turut mengembangkan dan mempopulerkan istilah ini. Pada bagian II ini, akan berusaha mengurai pertanyaan tersebut dengan sumber bacaan dibeberapa jurnal yang sempat saya baca dengan pelan, dilengkapi dengan satu fenomena yang bersumber pada hasil refleksi personal ketika bertemu dengan orang-orang di kampung dan relevansinya dengan pembentukan cara berpikir kapitalis, yang dalam kaitannya dengan cara berpikir mayoritas dalam memandang sebuah kemajuan dan kesejahteraan tiap rumah tangga melalui pembangunan rumah beton, yang saya anggap dominan bekerja dalam kehidupan harian di kampung.

Neuroantropologi? 

Istilah neuroantropologi digaungkan pertama kali oleh beberapa peneliti seperti E. Douglas Lewis, dari University of Melbourne, yang memperkenalkan istilah ini pada tahun 1990-an untuk menyebut “sains baru yang menarik, antara lain, biologi evolusioner, neurosains, memetika, antropologi budaya, semiotika, linguistik dan neurolinguistik”. Kemudian Paul Mason dan Juan F. Domínguez Duque, yang menggunakan istilah ini secara terpisah dan mendefinisikannya sebagai studi tentang efek “enkulturasi” (proses mempelajari budaya) pada otak manusia, hubungan antara otak, pengalaman subjektif, dan budaya, serta evolusi mekanisme neurobiologis yang mendukung budaya.

Lalu, Charles Laughlin juga merupakan pendahulu penting dalam bidang ini, dengan karyanya tentang neurophenomenology di tahun 1970-an, meskipun istilah tersebut digunakan secara terpisah dari orang lain. Daniel Lende dan Greg Downey kemudian mengadopsi dan mempopulerkan istilah ini, memulai apa yang telah menjadi bidang ilmiah baru, terutama melalui blog dan sesi konferensi American Anthropological Association pada tahun 2008. Dengan demikian, neuroantropologi muncul dari kontribusi berbagai peneliti yang bekerja secara terpisah untuk mengintegrasikan studi tentang otak (neurosains) dan budaya (antropologi).

Baca juga:  Budi Utomo: Waktu Dan Tempat

Rumah Beton dan Indikator Kesejahteraan

Cara berpikir bahwa membangun rumah beton merupakan indikator kemajuan dan kesejahteraan tiap rumah tangga, sering saya menjumpainya melalui tuturan warga ketika pulang ke kampung halaman atau pada saat melakukan penelitian di beberapa kampung, baik di daerah kepulauan maupun di dataran tinggi. Dimana hampir semua orang yang saya temui berpikir bahwa ketika seseorang atau rumah tangga yang berhasil membangun sebuah rumah beton dianggap sejahtera.

Beberapa tuturan informan, mendeskripsikan kemiskinannya ketika dirinya masih tinggal di rumah kayu miliknya, dan mereka merasa bersyukur karena telah berhasil membangun sebuah rumah beton dengan membongkar rumah kayu miliknya dahulu. Cara berpikir seperti ini, bukan hanya berlaku terhadap dirinya sendiri, tetapi berlaku keluar untuk menilai tiap rumah tangga lain yang berada di dalam dan di luar kampungnya. Semuanya nampak seragam cara berpikir demikian hingga pada akhirnya membentuk semacam indikator bersama dalam melihat dan menilai kesejahteraan atau kemajuan.

Baca juga:  Tehran

Cara berpikir demikian, bukan terbentuk begitu saja, melainkan ada beragam aspek material yang saling terkait, tentunya, itu berada di luar tubuhnya sebagai manusia, sehingga lahir pola dan indikator bersama. Seolah nampak alamiah dan normal.

Disinilah pendekatan neuroantropologi sebagai sebuah studi ilmiah dijadikan sebagai kacamata untuk mencoba meganalisa fenomena tersebut, serta hubungannya dengan kapitalisme sebagai sebuah pranata yang dominan saat ini.

Sebuah kenyataan yang tidak terhindarkan, kemenangan kapitalis dengan segala perangkatnya telah memasuki ruang terdalam kehidupan manusia melalui sistem saraf di otak dengan melahirkan satu indikator kemajuan dan kesejahteraan yang diyakini secara bersama dalam kehidupan manusia yang dibangunnya. Meskipun melahirkan ragam krisis tetapi semuanya nampak alamiah.

Pada akhirnya, saya mengajak pembaca untuk berhenti sejenak dan merenung-renungkan bersama satu pertanyaan; sejak kapan indikator kemajuan dan kesejahteraan seseorang dikatakan maju dan sejahtera jika dia berhasil membangun rumah beton?

Sejak produksi semen, besi, dan lain-lain (bahan material rumah beton) berhasil menang dan mendominasi kehidupan kita, yang terartikulasi dalam budaya membangun rumah masyarakat. Itulah sebabnya kapitalisme bukan sebatas corak produksi, tetapi pranata kehidupan manusia saat ini.

Pranata kapitalis dalam membangun dunianya, seperti relasi manusia dengan alam, produksi, reproduksi, cara pikir dan berpengetahuan, relasi sosial dan organisasi, teknologi, pengaturan dan kebijakan, tentunya akan digerakan dalam menopang dunia yang dibangunnya. Proyek kapitalis hampir secara keseluruhan nampak normal dan alamiah, karena telah berhasil membangun dan mendominasi pranata kehidupan manusia.

Baca juga:  Bagaimana Kapitalisme Membentuk Cara Berpikir Kita: Sebuah Pendekatan Neuroantropologi

Menyelami lebih dalam kompleksitas manusia modern yang dibangun kapitalis, dan neuroantropologi saya anggap cukup relevan membongkar ilusi kesejahteraan dan kemajuan, sebagai langkah dan usaha menemukan sebuah cara berpikir alternatif untuk keluar dari ragam jebakan berpikir kapitalis, yang pada dasarnya diam-diam menciptakan tekanan tertentu hingga dapat menciptakan depresi akut dalam mengikuti indikator sebuah kemajuan dan kesejahteraan yang sebenarnya dibentuk di luar kendali dirinya.

Tanpa disadari orang pada lupa hidup bersama dirinya sendiri, sebab pikiran dan pilihanya dibentuk oleh cara berpikir kapitalis yang membuat energi terkuras habis dengan ilusi-ilusi kesejahteraan dan kemajuan yang sebenarnya tidak relevan. Pada akhirnya orang-orang telah kehilangan kendali atas hidupnya masing-masing. ***

Surahmat Tiro Adalah Peneliti dan Pegiat di Rumah Buku Carabaca

Referensi

Gregdowney, The term ‘neuroanthropology Neuroanthropology.net. Understanding the Encultured Brain, 2007

Juan F. et.al., Neuroanthropology: a humanistic science for the study of the culture–brain nexus, 2010.

Gregdowney, Prehistory of neuroanthropology’: Charles Laughlin. Neuroanthropology.net. Understanding the Encultured Brain, 2007.

Alvaro Machado Dias, The Foundations of Neuroanthropology, National Library Of Medicine, National Center For Biotechnology Information, 2010.

Surahmat Tiro, Pulau Satangnga: Krisis Ekologis dan Desakan Kebutuhan Hidup. Jaringnusa.id. 2022.

Surahmat Tiro, Pulau Satangnga Dalam Perubahan: Etnografi Reflektif Atas Orang, Ruang dan Penghidupannya. Citatanahmahardika.org. 2023.

0%