Bagaimana Kapitalisme Membentuk Cara Berpikir Kita: Sebuah Pendekatan Neuroantropologi

Oleh: Surahmat Tiro

Sumber: Baloon man (Jumaadi, 2025)

“Yang tersisa dari kebebasan hanyalah ilusi” (Jean Baudrillard)

Catatan kecil ini merupakan hasil belajar saya di akhir bulan Desember 2025, yang mencoba menelusuri hubungan ilmu Saraf dengan antropologi (Neuroantropologi). Pengalaman menyelami sedikit lebih dalam Neuroantropologi, lahir catatan ini untuk melihat kapitalisme sebagai sebuah cara produksi dan relasi sosial yang dominan saat ini, dalam kaitannya dengan cara berpikir manusia, karena pokok pikiran neuroantropologi kurang lebih mencoba melihat mekanisme saraf yang kompleks seperti emosi, ingatan, kehendak bebas diri, empati, penilaian moral dan kesadaran, dibentuk dari lingkungan sekitar seperti lingkungan fisik, biologis, budaya-sosial, linguistik.

Berangkat dari situasi demikian otak mengatur aktivitas neuronalnya, sehingga dapat memicu komunikasi antara manusia dan lingkungannya. Hal demikian terlihat seperti lalu lintas dua arah di jalan raya antara cara berpikir manusia dan lingkunganya, namun disinilah pertemuan antara ilmu saraf dan antropologi.

Pendekatan neuroantropologi saya anggap relevan untuk membaca dan mengkritik cara berpikir manusia yang masih menganggap kapitalisme adalah satu-satunya cara berpikir manusia yang benar dan tunggal. Namun kenyataan cara berpikir demikian telah menuai kegagalan terhadap dunia yang dibangunnya. Relasi sosial makin retak, ruang hidup makin hancur, kemiskinan dan penindasan menjadi warna paling mencolok atas dunia yang dibangun oleh cara berpikir kapitalis.

Nah!! Bagimana sebenarnya cara berpikir demikian dibangun dan menjadi dominan, seakan semuanya tampak alamiah? Catatan kecil ini akan berupaya mengurainya secara ringkas dengan pendekatan yang saya sudah sebutkan di atas, dengan mengambil satu topik, bagaimana konsumerisme menciptakan dopamin, sebagai fenomena utama dalam mengurai bagaimana cara berpikir kita dibentuk.

Baca juga:  Populisme Borjuis: Dari Konsensus Palsu hingga Realitas Semu

Konsumerisme menciptakan Dopamin

Budaya konsumsi yang tidak didasari pada kebutuhan tetapi hanya sebatas keinginan, menjadi hal yang tampak alamiah dalam kehidupan harian kita. Tentunya memiliki tujuan tertentu, seperti mendapatkan kepuasan ketika berhasil membeli dan mengoleksi lebih dari satu sepatu, baju, jam, dll, dengan merek ternama. Ketika hal demikian dilakukan, dapat memicu pelepasan dopamin, neurotransmitter yang terkait dengan kesenangan dan penghargaan, menurut Kaya (2018) hal ini dapat menyebabkan individu menjadi lebih tergantung pada konsumsi berlebihan dan membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Namun bagi seorang pecandu, untuk memenuhi hasrat dan kepuasannya, dia akan mengulanginya secara terus menerus.

Ketika para pecandu ini, tidak dapat memenuhi hasrat konsumsinya, maka akan menciptakan stres dan cemas. Lupien et al., (2009) menunjukkan bahwa gejala ini termasuk kategori kronis yang dapat mempengaruhi struktur dan fungsi otak, terutama pada area yang terkait dengan emosi dan pengambilan keputusan. Tentunya seorang individu dapat mengalami kesulitan dalam mengelola stres dan kecemasan yang berdampak langsung bagi kualitas hidupnya.

Baca juga:  Hari Kasih Sayang dan Rayuan Konsumerisme

Pada tahapan ini, konsumerisme dapat menjadi identitas. Han et al., (2018), mengatakan bahwa konsumsi yang awalnya hanya memenuhi kebutuhan hidup, berubah menjadi identitas sosial, yang dapat mempengaruhi aktivitas otak pada area yang terkait dengan penghargaan dan harga diri. Seorang individu, dapat membeli barang mewah untuk menunjukkan kelas sosialnya yang bertaut dengan harga dirinya. Barang mewah dan identitas sosial, seorang induvidu akan lebih fokus pada penampilan luar dan mengabaikan nilai internal sebagai seorang manusia.

Fenomena di atas selain berdampak pada kualitas hidup, juga bisa dikatakan mematikan nalar kritis seorang individu dalam melihat sebuah komoditas. Seperti mempertanyakan bagaimana komoditas itu diciptakan; kondisi pekerja, bahan material diambil dari mana, dan dampaknya bagi kehidupan kita. Hal ini akan sulit dilihat seorang pecandu, yang lebih fokus pada tujuan konsumsinya hanya untuk menujukkan kelas sosial dan identitasnya.

Cara berpikir seperti ini dalam kehidupan sosial kita yang dibentuk oleh kapitalisme dengan segala dorongan dan perangkatnya, berhasil meraih kemenangannya, dengan menormalisasi fenomena di atas. Produksi pengetahuan dan konsumsi pengetahuan masyarakat kita, dominan menganggap hal demikian sesuatu yang benar dan mutlak adanya.

Seakan semuanya tampak alamiah dan sulit menemukan cara berpikir alternatif. Sulit bukan berarti tidak ada, tetapi kenal penyakitnya dengan mengkonsumsi pengetahuan kritis di tengah dominasi kapitalisme bukan sesuatu yang mustahil. Meskipun ruang produksi pengetahuan kritis sering kali mendapat teror bahkan pembubaran diskusi yang dilakukan oleh aparat negara.

Baca juga:  Islam dan Komunisme: Sejarah Kiri Dunia Islam

Suatu bukti bahwa perangkat negara mendukung full, segala aktivitas berpikir kapitalisme, melalui teror dan pembubaran diskusi buku alternatif. Tak hanya itu, seorang perempuan muda yang mengkritik negara melalui unggahan media sosial, divonis hukuman penjara satu tahun, serta anak-anak muda yang melakukan aksi protes atas kegagalan mereka juga turut dikriminalisasi.

Seakan mereka takut ketika masyarakat sadar dan mampu berpikir kritis atas dunia yang dibangunnya, meskipun kapitalisme telah gagal membangun dengan ragam penindasan, dan eksploitasi serta kerusakan ekosistem yang semakin tidak terbendung, namanya pecandu, pasti sulit dinasehati, dan menganggap jalannya adalah sesuatu yang benar.

Meskipun mereka kuat, masih ada ruang alternatif untuk memproduksi pengetahuan kritis, dan inisiatif individu dan kelompok untuk membangun penghidupan alternatif atas kegagalan dari kapitalisme.***

Surahmat Tiro Adalah Peneliti dan Pegiat di Rumah Buku Carabaca

Referensi

Kaya, F. (2018). The Neuroanthropology of Consumption. Journal of Consumer Research, 45(3), 461-478.

Lupien, S. J., et al. (2009). Effects of stress throughout the lifespan on the brain, behaviour and cognition. Nature Reviews Neuroscience, 10(6), 434-445.

Han, S., et al. (2018). Neural correlates of self-presentation in social media. Social Cognitive and Affective Neuroscience, 13(1), 1-11

0%