Tahun Yang Tak Pernah Berakhir: Kenangan Andalusia

Oleh: Muhammad Ridha

Tariq bin Ziyad

Dalam kronik-kronik sejarah Islam, penaklukan Andalusia, sebutan Arab bagi landa-hlauts atau sortes glothica dalam bahasa Gothic, tahun 710, 711 dan 711 mungkin adalah tahun yang tak pernah berakhir. Kenangan penaklukan, kemenangan, tanah baru dan rampasan perang -dan karena itu juga adalah harapan di masa depan. Bukan hanya bagi diri sendiri, para tantara penaklukan, tapi juga mungkin bagi masa depan Islam di benua Eropa.

Dan betul. Dari titi-mangsa itulah, sekira tujuh abad setelahnya, Islam bermekaran di ujung Eropa tersebut. Puncak-puncak pencapaian sains, filsafat, arsitektur, budaya dan tradisi intelektual tumbuh subur. Tinggi menjulang di antara peradaban Eropa yang ketika itu sedang dalam kegelapan. Di sanalah para intelektual Islam atau dari kebudayaan lain saling beradu argument, saling bekerja, saling bertukar-tukar buku dan terjemahan hingga perpustakaan-perpustakaan public, pekerjaan penerbitan, penulisan buku menjadi lumrah. Bahkan industry penunjang aktifitas intelektual seperti produksi kertas tumbuh dan menyebar di sana. Sejarah belakangan ini mengenang kota Jativa di Andalusia sebagai pusat produksi kertas mula-mula di Eropa.

Tapi, sebelum jauh ke dalam kenangan Andalusia yang kemilau itu, tulisan ini hanya ingin menunjukkan sedikit catatan yang membeku abadi dari peristiwa penaklukan awal yang terjadi pada tiga tahun pertama dalam memori historis umat manusia.

***

Hari-hari itu adalah awal bulan Ramadhan tahun 92 H atau bersamaan dengan bulan Juli tahun 711 dalam kalender masehi. Tariq bin Ziyad bersama tentaranya yang telah menyeberang dari ujung Afrika di Tangier, sebuah wilayah di bawah kegubernuran Ifrikiyah yang diperintah dari khalifah Al-Walid di Damaskus, menuju Andalusia. Atas izin Musa bin Nusair, perpanjangan khalifah Damaskus di Ifriqiyah.

Tempat dimulainya invasi muslim di semenanjung Iberia ini dilakukan di sekitar Gunung Calpe di mana pasukan Tariq membangun benteng batu bata yang hingga kini masih berdiri di sana. Wilayah ini kemudian disebut Gibraltar- Jabal Tariq dalam bahasa Arab yang membekukan nama pemimpin itu dalam sejarah untuk nama sebuah gunung tempat dimulainya drama penaklukan. Beberapa orang yang diandalkan Tariq seperti Tarif Bin Malik dan Mugits al-Rumi menemaninya menyebar pasukan yang kemudian akan berhadapan dengan pasukan raja Roderic yang jumlahnya jauh lebih besar. Dan hebatnya, begitulah drama dalam lekuk sejarah Eropa ini terjadi, Tariq berhasil mengalahkan jumlah pasukan besar ini dan untuk pertama kalinya -secara resmi- ekspedisi untuk invasi besar-besaran menaklukan raja Andalusia dan menghancurkan pasukannya di tempat yang kemudian diberi nama oleh para pemenang, pasukan Berber Tariq, dari Sidonia menjadi Madina Shadhuna, kota Shaduna.

Baca juga:  Perjalanan

Peristiwa ini sangat mungkin terjadi beberapa hari setelah Ramadhan. Beberapa kronik Islam atas peristiwa ini merujuk waktu tersebut. Tapi perang besar di kota Sidonia itu, tercatat dimulai pada tanggal 28 Ramadhan atau 19 Juli 711 dalam tahun Masehi.

Peristiwa setelahnya hanya menyisakan drama yang jarang terjadi dalam sejarah. Seperti kata David Levering Lewis, seorang pemenang pulitzer prizze dari bukunya mengenai sejarah Andalusia “Sekali lagi dalam sejarah, nasib peradaban ditentukan oleh sebuah pertemuan di mana faktor-faktor objektif lokasi, jumlah dan perlengkapan tidak secara jelas mengentungkan bagi pemenang” .Penaklukan yang dipimpin oleh Tariq bin Ziyad ini telah berubah menjadi memori sejarah. Sedikit-dikitnya dalam nama gunung yang meminjam namanya. Dan sejak saat itu, tahun dan tempat-tempat bersejarah dalam penaklukan itu tak pernah berakhir. Jumlah hari dan bulannya mungkin berganti. Tapi tahun itu, 711, benar-benar tak pernah berhenti dikenang sebagai kisah kemenangan dan pembuktian bagi sebuah agama baru yang usianya bahkan belum melintasi abad.

Tak banyak yang menceritakan, atau setidaknya ceritanya lebih lirih, kalau kemenangan Tariq ini telah dimulai setahun sebelumnya, dalam Agustus 710 M atau 91 Hijriah ketika ekspedisi awal pengintaian dilakukan oleh Tarif bin Malik bersama sekitar empat ratus infantri dan seratus kavaleri Berbernya dari Tangier untuk mencatat kondisi, kontur, konstelasi di seberang benua itu. Atau mungkin mendeskripsikan kemungkinan dan batasan yang akan ditemui dalam invasi besar yang sedang direncanakan. Ekspedisi awal ini sukses menyerang beberapa desa di pesisir Andalusia dan pulang ke Tangier dengan cerita menakjubkan soal rampasan perang yang menjanjikan di seberang, tanah yang subur dan lainnya.

Baca juga:  Suatu Hari Di Isfahan

Ekspedisi Tarif dimulai dari Ceuta dan tiba di seberang di sekitar salah satu Pilar Hercules, Gunung Calpe. Pengintaian dilakukan sekaligus penyerangan awal desa-desa di pesisir. Empat ratus pasukan infantry dan sertarus kavaleri Berber menghancurkan rumah, menyerang dan mengusir penduduk dan tantara yang ada di sekitar. Setelah misi sukses, Tarif bin Malik menyebrang kembali ke Tangier, Maroko dan melaporkan kepada Tariq bin Ziyad kondisi di seberang. Maka misi berikutnya untuk serangan lebih besar pun disiapkan.

Lokasi desa paling dekat dari debarkasi tempat Tarif mendarat pertamakali di Andalusia masih mengenang nama pemimpin misi militer awal di Agustus 710 masehi itu dengan nama desanya: Tarifa. Tak banyak orang Hispanik- bangsa Spanyol yang mendiami desa sepi di ujung Iberia itu- yang tahu toponimi nama desa ini berasal dari bahasa Arab, yang melekat dalam nama orang yang menyandangnya. Lagi pula ini desa yang sepi dan tidak begitu penting saat ini. Tapi bagi sejarah Islam, nama ini seperti telah terpahat abadi. Juga tahun bagaimana misi ini memulai rangkaian sukses penaklukan Andalusia bagi misi Islam di masa itu.

***

Dalam tahun selanjutnya, 712 M atau bertepatan dengan bulan Ramadhan tahun 93, ekspedisi besar kedua dimulai. Dipimpin langsung oleh Musa bin Nusayr bersama salah seorang putranya menyeberang ke Algeciras, Andalusia membawa sekitar 18.000 pasukan dari Yaman, Arab dan Berber untuk membantu memperluas penaklukan di wilayah-wilayah Andalusia yang setahun sebelumnya telah dimulai oleh Tariq dengan sukses dan masih terus berlanjut. Titik keberangkatannya di sebuah gunung di Ceuta masih menyandang namanya: Jabal Musa.

Baca juga:  Pendidikan Tinggi Islam Menerangi Relung-Relung Abad Kegelapan

Perang penaklukan dilanjutkan dan semakin meluas ke kerajaan-kerajaan Kristen di Andalusia. Kota-kota seperti Merida, Sevilla, Murcia dan yang lain di Spanyol ditaklukkan. Bahkan penaklukan semakin dalam ke wilayah yang saat ini adalah Portugal seperti wilayah Coimbra dan Santarem. Penaklukan dengan tambahan pasukan besar yang dipimpin oleh Musa ini menjadikan Ramadhan tahun 93 H seperti menyihir Andalusia untuk takluk di bawah serangan pasukan kavaleri atau infantri Tariq maupun Musa. Dua orang kunci yang kepahlawanannya dalam merebut Andalusia dan memperluas darul Islam setara dengan pahlawan-pahlawan Islam di banyak perang dan penaklukan seperti Khalid bin Walid, Qasim di penaklukan Sind dan yang lain. Penaklukan yang terus berlanjut hingga 714 sebenarnya momen terpentingnya di tahun-tahun awal di tahun 710 saat pengintaian, tahun 711 penaklukan awal dan tahun 712 penaklukan lanjutan bersama sekitar 18.000 orang tentara tambahan.

Meski akhirnya Islam dihapuskan dari semenanjung Iberia pada tahun 1492 ketika kerajaan Islam terakhir di Andalusia, Granada, menyerahkan kunci benteng Granada dan untuk selanjutnya akan terus berada di bawah kebijakan-kebijakan gereja dalam apa yang disebut reconquista, penaklukan kembali. Tetapi Islam tetap dikenang sebagai pembawa cahaya, perubahan dan peradaban bagi Andalusia selama tak kurang dari tujuh abad. Bahkan warisan Islam di Andalusia, seperti disebut Maria Rosa Menocal sebagai “sepotong surga” . Dan tahun-tahun penuh arti sebagai awal mula penaklukan itu telah menjadi tahun yang tak kan pernah berakhir. Bukan karena berat dan kelamnya, tentu saja bagi umat Islam, tapi justru karena semerbak yang disebarkannya. Wallahu a’lam bi sawab.

Muhammad Ridha Adalah Dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Alauddin Makassar, dan Ketua Jurusan Studi Agama-Agama

0%