Oleh: Muhammad Ridha
Tampak Masjid Isfahan/Dok. Pribadi Muhammad Ridha
“Lambang dunia adalah Iran, lambang Iran adalah Isfahan…”
(Mullah Salih Qazvini, cendekiawan abad ke-17)
Isfahan, kata pepatah persia, seperti separuh dunia, nesf-e jahan. Semua keindahan di separuh dunia, mungkin maksudnya, ada di kota ini. Istana raja dan kompleks naqsy e jahan square seperti menunjukkan pernyataan itu: alun-alun kota yang amat luas dan indah, istana kesultanan yang mewah, bangunan pertokoan dan pasar kuno yang tumbuh telah berabad-abad, jaringan jalan perkotaan yang rapih, masjid-masjid monumental dengan arsitektur yang sungguh rumit dan indah, kolam taman yang menyejukkan, taman bunga di musim semi yang indah beraneka warna. Beragam bunga dan buah melimpah di sini. Makanan dengan berbagai cita rasa dan rempah. Minuman dari hasil sublimasi atau distilasi sari bunga atau buah. Semua seperti tersaji untuk setiap turis yang datang. Setidaknya itu yang saya rasakan saat datang mengunjungi pusat kekuasaan dan ibukota salah satu dinasti Persia-Islam yang paling kuat, dinasti safawi.Datang ke kota ini di waktu-waktu perayaan peringatan sepuluh hari keramat sebelum kelahiran Imam Ali Ridha seperti kemewahan yang lebih dari kota ini: banyak organisasi sedang menyelenggarakan perayaan untuk mengenang kelahiran sang Imam; banyak keluarga sedang sangat murah hati membagikan bermacam-macam reski mereka kepada siapa saja, banyak lembaga menyiapkan tenda untuk setiap orang meminum teh gratis. Kota seperti sedang bersuka cita. Banyak yang sedang menggelar bazar murah. Seperti sedang begitu bergembira dengan hari keramat ini. Tapi, di atas semua itu, sebagai turis, saya mendapatkan keruwetan tersendiri: seluruh moda transportasi menuju ke makam beliau di kota Masyhad tiketnya telah habis terjual. Dan itu artinya, saya juga banyak turis dan jamaah lain yang hendak ziarah ke sana tak lagi bisa berangkat ke sana. Pengecualiannya mungkin adalah para turis tajir yang bisa menyewa taksi menuju kota suci itu.
Sungguh sebuah penyesalan.
Tapi tak apa. Saya masih di Isfahan. Sebuah kota yang denyutnya berbeda tapi sungguh pesonanya tak kecil. Karena sejarahnya yang panjang, situs-situs, praktik kebudayaan dan banyak bangunannya yang monumental sebagai sebuah ibukota kesultanan Islam besar membuatnya menjadi warisan budaya dunia menurut UNESCO. Karena itu semua, kota ini telah menjadi kota untuk turisme sejak beberapa dekade lalu. Orang-orang datang dari seluruh penjuru: mungkin ingin merasakan denyut sebuah kota kesultanan Islam lama dan kenangannya, mungkin untuk ‘mabuk’ di antara keramik-keramik persia, mungkin terpesona oleh ubin hijau biru khas bangunan persia-Islam era pertengahan, mungkin hendak plesiran di antara kampung-kampung tua Isfahan atau sekedar menikmati suasana cafe di antara bangunan-bangunan heritage. Mungkin. Saya berada di antara turis-turis itu. Terselip di sebuah kamar hostel kecil di sudut barat naqsy e jahan. Tak begitu jauh dari masjid Syeikh Lotfollah atau masjid syah yang begitu monumental.
***
Saya tiba di kota Isfahan dari arah selatan. Dari kota Shiraz. Sebuah kota lama kesultanan persia-Islam lain yang kisahnya panjang menjuntai jauh ke belakang dari era Akhemenid, Elam, Sasanid, atau kesultanan-kesultanan Islam seperti yang paling monumental, dinasti Zand yang membangun Karim Khan Citadel, masjid-masjid monumental seperti vakil mosque, nasir al-mulk mosque, vakil bazar atau madrasah dan istana yang sungguh cantik. Saya tiba dengan bus malam dari terminal Kharandis di terminal Isfahan di sebuah pagi yang sejuk. Denyut kota mulai terasa. Tapi amat pelan. Kendaraan mulai hilir mudik tapi belum begitu padat. Saya menyewa taksi menuju hostel untuk sarapan dan mandi. Sembari sarapan di ruang tengah cafe hostel kecil yang kami pesan melalui aplikasi daring, rencana kami susun dan rute kami putuskan.
Muhammad Ridha di Se-I-Se Pol/Dok. Pribadi
Dua hari semalam kami habiskan di kota Isfahan dengan berkunjung ke Naqsy e Jahan, Masjid Jami Isfahan, Meydan Imam Ali, Meydan imam Husain, Si-o-se Pol, jembatan ikonik dari awal masa Safawi yang pada malam hari dipenuhi turis, juga gereja orang Armenia dan beberapa situs rumah kuno yang sudah dijadikan museum. Kami mengelilingi kompleks istana safawi yang di tengahnya alun-alun luas naqsy e jahan dengan berjalan dari toko ke toko berikutnya hingga memasuki pasar tua Isfahan. Pasar yang merupakan bangunan yang ditutupi oleh kubah-kubah kuno dengan susunan bata yang rapi menjual pakaian, perhiasan, bumbu-bumbu khas, dan lain sebagainya. Pasar ini juga tembus menuju meydan imam Ali yang berdekatan dengan majid juma’ Isfahan, masjid ikonik tertua di Isfahan. Meski letaknya tersembunyi di belakang kompleks naqsy e jahan, tapi pesona dan sejarahnya membuat turis sulit mengabaikan untuk mengunjunginya. Bangunan masjid ini seperti masjid-masjid tua di Iran atau persia pada umumnya berbentuk kompleks yang mengelilingi sebuah alun-alun kecil di tengahnya. Masjid ini pertama kali dibangun oleh khalifah Abbasiah, Mu’tasim Billah pada tahun 840 M. Bangunan ini kemudian direnovasi oleh dinasti Al Buyid yang menganeksasi kota Isfahan dari Abbasiah pada abad ke 11 M. Di masa kekuasaan dinasti Al-Buyid masjid ini mengalami beberapa penambahan kolom dengan susunan batu bata. Sampai periode ini, masjid Jami Isfahan masih berupa bangunan berbentuk segi empat yang mengelilingi alun-alun yang dibangun dengan kolom-kolom. Perubahan besar terjadi dalam interior dan eksterior serta bentuk umum masjid di era Seljuk pada abad ke-13 M. Di periode ini bentuk dasar masjid jami yang persegi berubah mendapat tambahan bangunan di sisi timur yang disertai kolom dan kubah serta kubah besar di sayap selatan, yang dikenal sebagai kubah Nizam al-Mulk. Juga penambahan iwan/gerbang utara, timur, selatan dan barat menghadap ke alun-alun di tengah. Bentuk ini bertahan hingga di era Ilkan Mongol dan Muzaffari. Timurid di abad ke-15 hanya menambah sebuh ruang di sudut kanan mimbar masjid. Dinasti safawi dan dinasti Qajar menyempurnakan bentuk kompleks yang ada saat ini dengan penambahan satu kubah dan tempat wudhu. Juga menambah luas bangunan masjid.
Salah satu gerbang dengan langit-langit indah di Juma Masjid Isfahan/Dok. Pribadi Muhammad Ridha
Kunjungan ke masjid Juma’ Isfahan kami lakukan di siang hari. Kami harus bersiasat agar dua kawan yang menemani kunjungan ke masjid itu harus menunggu hanya di gerbang masjid karena harga tiket masuk yang terbilang cukup mahal. Meski dengan visa pelajar asing yang sedang menuntut ilmu di kampus di Iran. Saya masuk sendirian menikmati indah ubin persia, kolom-kolom indah dengan struktur bata yang disusun dengan pola yang bermacam-macam, kubah serta dinding yang indah. Juga langit-langit yang dihias dengan ubin persia biru-hijau. Saya menikmati bermain air di kolam tengah alun-alun tempat warga sekitar juga diperbolehkan mengambil air. Di dalam kompleks masjid juga bisa menikmati banyak burung merpati jinak yang bermain-main di sekitar alun-alun, iwan dan atap kompleks masjid. Ini adalah pengalaman perjalanan menikmati arsitektur warisan dinasti islam yang terus berlanjut. Sejak era Abbasiah hingga dinasti Qajar dan bangunan konservasi yang dirawat oleh republik Islam Iran. Masjid yang telah menempuh usia lebih dari seribu tahun dan arsitektur utama di masa awal dan perkembangannya terus dirawat secara sinambung. Papan petunjuk bagi turis membagikan informasi hasil eskavasi dan restorasi tim arkeolog dari Italia yang dipimpin oleh Prof. E. Galdieri dan tim dari Iranian Cultural Heritage Organization.
Penjelasan dalam papan-papan informasi yang disajikan berurutan dan cukup mudah dibaca menjadikan setiap turis bisa mengetahui detail informasi mengenai periode-periode panjang perjalanan Juma masjid isfahan ini hingga sampai pada bentuk modernnya saat ini. Yang menarik bagi penulis adalah bangunan masjid ini, yang merupakan kompleks yang luas yang terdiri dari mihrab, ruang shalat, ruang-ruang berlantai bata, ruangan berdinding bata, atau ruangan berdinding ubin persia serta alun-alun dan madrasah, seperti membawa pengunjung melewati masa demi masa masjid ini dikelola. Dimensi ruang, material, arsitektur, desain interior serta eksterior masjid menunjukkan perjalanan yang sungguh sinambung. Saya teringat kutipan menarik dari seorang peneliti arsitektur dan budaya Islam, Ali Rezai (2025) yang menulis responsnya atas kondisi arsitektur di Iran secara umum. Dia menulis tanggapan yang sungguh terasa ketika melakukan perjanan di kota-kota di Iran, termasuk kota Isfahan. Dia menulis: “arsitektur Iran berdiri sebagai salah satu tradisi arsitektur terpanjang di dunia yang berkelanjutan, selama lebih dari lima ribu tahun. dari puing-puing monumental Persepolis hingga kubah halus dan komposisi perkotaan Isfahan. Ini mengungkapkan sintesis yang mendalam tentang struktur, simbolisme dan lingkungan. Di era Akhemeneid, Sasanian, Islam dan Savawiah, arsitektur menjadi media untuk mengekspresikan tatanan, spiritualitas dan kecerdasan menghadapi iklim”.
Salah satu pilar dalam kompleks Juma’ Masjid Isfahan/Dok. Pribadi Muhammad Ridha
Kota Isfahan merupakan salah satu kota yang terus dihuni selama lebih dari dua ribu tahun. Jejak kotanya telah terekam pada banyak tulisan. Bukan hanya dinasti-dinasti Islam seribuan tahun terakhir yang mengisinya, tetapi dinasti-dinasti persia sebelum islam telah menjadikan isfahan sebagai kota penting. Dinasti Islam hanya melanjutkan menjadikan kota ini sebagai kota utama atau bahkan ibu kota kekuasaannya. Al-Buyid, Seljuk Raya, Savawiah atau Qajar telah menempatkan kota ini sebagai ibu kota. salah satu penyair abad ke-17, Nasir i Kusrow memujinya dalam gambaran yang indah: “Kota ini dikelilingi oleh tembok yang kokoh dengan gerbang, benteng, dan pertahanan lainnya. Di dalam kota, terdapat saluran yang dialiri air, bangunan-bangunan tinggi yang megah dan masjid Juma’ yang memukau”
Begitulah. Meski saya tak jadi mengunjungi kota Masyhad, menziarahi makam sultan Harun al-Rasyid dan bersimpuh di sisi makam Imam Ali Ridha, saya tak begitu kecewa. Saya berada di Isfahan. Salah satu dari lima belas kota Islam yang disebut Marozzi sebagai ‘pembentuk peradaban’. Saya berada dalam pelukan hangat sebuah kota yang disebut Wilfred Blunt “Pearl of Asia.” Jadi tak mengapa. Kata kawan kami, Arianto, “nanti bisa ke sana lagi” sembari memberi penghiburan di antara pembicaraan kami mengenai sulitnya mencapai kota Masyhad dengan angkutan umum saat-saat kami di sana.
***
Malam kami habiskan mengunjungi Se-i-se Pol. Jembatan dengan 33 kolom yang berdiri di atas aliran sungai Zayanderud. Juga mengunjungi gereja Armenia yang indah. Meski sayangnya, kami tak dapat masuk ke dalam gereja karena waktu operasinya telah selesai untuk hari itu. Karenanya, kami menghabiskan beberapa waktu nongkrong di salah satu cafe di sekitar kompleks gereja. Mengecas handphone dan meminum teh. Meja sebelah kami ibu-ibu orang Armenia yang mungkin sedang arisan atau sekedar ngumpul bersama teman-temannya. Kami diminta untuk mengambil gambar mereka. Lalu kawan kami mengobrol dengan bahasa persia beberapa saat lalu kembali ke meja masing-masing. Mereka senang bertemu turis dari Indonesia, katanya.
Setelah masing-masing teh di malam yang cukup dingin itu habis, kami pergi ke Se-i-Se Pol. Di sana, ratusan orang telah duduk atau berkumpul. Arus air sungai Zayanderud lumayan deras, meski ini awal kemarau. orang-orang duduk di antara pilar-pilar indah yang datang dari abad ke-17 itu. Sebagian lain di sisi-sisi sungai menggelar tikar dan menikmati malam bersama keluarga atau pasangan. Banyak pengunjung berfoto di atas jembatan atau di sisi jembatan. Kami ikut mengabadikan kunjungan ke monumen arsitektur yang kompleks ini. Kami ikut menikmati malam dengan rebulan yang bayangannya seperti mengapung di atas sungai…
Kami pulang ke hostel menyusuri jalan di seberang jembatan Se-i-se Pol. Melewati bazar, melewati pertokoan dan restoran. Kami singgah makan di salah satu restoran yang menyajikan makanan cepat saji berupa nasi dan ayam goreng tepung. Itu kami pilih setelah berhari-hari menunya hanya nasi dan daging ayam bakar yang telah ditusuk seperti sate tetapi dengan tusuk besi putih, bukan bambu tusuk sate seperti di tanah air. Di antara pertokoan yang menjual barang-barang bekas, saya membeli sebuah miniatur karakter dari kisah Nasruddin Hoja yang menunggangi keledainya sambil menghadap ke belakang. Miniatur ini terbuat dari tembaga yang mungkin disepuh. Setelah tawar menawar yang panjang, akhirnya jatuh harga yang kami sepakati: lima juta riyal Iran. Harga yang terdengar mahal tapi tentu saja terjangkau untuk turis miskin yang kebetulan beruntung berada di negara dengan nilai mata uang jauh lebih rendah dari mata uang miliknya.
Malam telah larut. Tapi kota Isfahan masih menyala. Orang-orang masih berkumpul di banyak tempat. Kami, yang kelelahan berjalan sejak pagi, memutuskan pulang ke hostel dengan kapsul kecil yang telah kami sewa. Berpisah dengan Arianto lalu nyosor ke kasur dan pulas. Puas disajikan kota dengan kisah yang sungguh berkilau.***
Muhammad Ridha Adalah Dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Alauddin Makassar, dan Ketua Jurusan Studi Agama-Agama
