Wabah, Ujian, Perubahan

Sebuah refleksi

Oleh Muhammad Fayyadl

The path is the trunk of the sky Gouache on paper 2020. Lukisan karya Jumaadi
Musibah besar datang untuk memberi peringatan, sebagai ujian, atau keputusan akhir (baca: azab). Melihat kita masih bisa hidup dalam situasi pandemi sekarang, wabah Covid-19 ini lebih tepat (menurut sudut pandang kita manusia yang relatif, berbeda dari sudut pandang Tuhan yang tak-relatif) sebagai ujian dan peringatan.

Sebagai ujian dan peringatan, wabah datang untuk menguji apakah kita sanggup berubah atau tidak. Sebagai peringatan, ia datang untuk mengingatkan perihal perilaku kita sebelum semua ini terjadi.

Pertanyaannya, sudah hampir 2 bulan wabah ini bercokol, apakah kita berhasil dan lulus dalam ujian dan peringatan tersebut? Pesimisme menyeruak: rapor kita buruk. Tuhan akan melihat rapor kita begitu buruk, maka mungkin belum layak untuk kita lulus sehingga musibah ini mungkin belum layak diangkat. Artinya, musibah ini bakal panjang.

Pertama, kita belum benar-benar menjadikannya peringatan agar perilaku individual dan kolektif sebagai bangsa berubah. Melihat wacana pengurus urusan publik selama ini, yang kita pilih dengan ongkos nyawa ratusan jiwa selama Pemilu, tidak ada yang mau introspeksi. Penyakit hanya dilihat sebagai musuh yang harus dibasmi. Bukan fenomena alam yang terkait dengan perilaku dan kebijakan. Kebijakan hanya direduksi kepada urusan biopolitik: mengatur keselamatan orang dari penyakit. Bukan mengevaluasi kenapa virus ini menyebar dan terkait dengan perusakan alam. Pengurus publik dari presiden sampai bupati juga tidak melihat virus ini sebagai peringatan atas model pembangunan ekonomi kita yang merusak, polutif, menghisap, dan korup.

Dari tokoh agama, sayangnya tidak ada yang mengingatkan para pengurus publik untuk mengaitkan musibah ini dengan ranah kebijakan dan sistem yang berlaku. Perilaku-perilaku yang tidak baik, tidak dikecam. Sistem dan kebijakan yang timpang didiamkan. Kalangan tokoh agama rata-rata, selama 2 bulan pandemi ini, menganut sikap “quietisme”, artinya mendiamkan sikap penguasa atas apa yang terjadi. Mungkin ini sebabnya, doa kala musibah tidak cukup. Sebab, ada faktor Amar Ma’ruf Nahi Mungkar yang ditinggalkan. Sebagaimana resep Nabi yang diajarkannya, kala musibah, tiga hal harus dilakukan: umat harus melakukan doa, ikhtiar menghindari musibah, dan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar. Kita belum menemukan yang ketiga, maka kita belum lulus. Doa pun belakangan tampaknya melemah, “gerakan batin” di mana-mana semakin terdistraksi oleh keriuhan bazar online, dan istighotsah kolektif bukan lagi menjadi trend. Padahal ini bulan istijabah: Ramadlan.

Baca juga:  Hijrah

Dari kalangan rakyat, juga apakah 100% rakyat Indonesia sudah menjadikannya peringatan atas perilaku individu mereka dan sistem yang berlaku? Tanyakan kepada angin yang berdesir dan bumi yang berdentum. Kenyataannya, kita belum terpikir mengurangi sampah plastik, konsumsi masih sama seperti sebelum wabah, gaya hidup rata-rata belum berubah.

Kedua, sebagai ujian, wabah tidak hanya datang untuk menguji kesabaran kita, tapi juga inisiatif, inovasi, kecerdasan, dan kepekaan. Apakah ada perubahan dan grafik kualitas kehidupan antara sebelum dan sesudah bencana? 2 bulan pandemi, sepertinya berbagai inisiatif, inovasi, kecerdasan, dan kepekaan belum maksimal dikembangkan untuk memikirkan sungguh-sungguh alternatif dari pola hidup yang ada, gaya hidup yang berbeda (yang lebih ramah alam, misalnya), cara berpikir yang berbeda (yang lebih solider dan peka sosial, dan seterusnya – perlu digali).

Dua pola pikir yang dominan selama pandemi: cari untung sendiri dan cari selamat sendiri. Dua-duanya sepertinya belum banyak berubah. Pada taraf sistem kehidupan, pandemi memunculkan kepekaan yang lebih, dengan munculnya fenomena donasi selama wabah, termasuk oleh korporasi. Namun, di sisi lain, dosa PHK massal yang dilakukan korporasi terlalu besar untuk ditutupi dengan amal donasi tak lebih dari 5 persen profit yang dihisap pemodal selama bertahun-tahun. Yang patut disyukuri, berbagai elemen warga di luar pengurus publik dan korporasi secara sukarela menunjukkan kepekaan yang relatif tinggi atas sesama. Namun, kepekaan moral saja tidak cukup. Yang dibutuhkan juga imajinasi politik “setelah ini kehidupan sosial seperti apa yang kita inginkan?”. 2 bulan selama wabah, terbukti jejaring sosial kewargaan masih aktif dan berdenyut, meski tak terpola dengan sistemik. Namun jejaring itu belum naik level menjadi jejaring kesadaran politik baru untuk memunculkan imajinasi-bersama tentang desain kehidupan-bersama usai pandemi kelak. Imajinasi-bersama ini akan sulit bagi bangsa yang puas dengan iming-iming Bansos (bantuan sosial) dan tidak memiliki keinginan merumuskan kehidupan sosial alternatif di luar pola-pola yang selama ini berlaku. Saat ini momentum paling subur membangun dan merajut imajinasi-bersama ini, meski itu tak mudah. Jika kaum tua tidak melakukannya, setidaknya kaum muda yang melakukan.

Baca juga:  Membaca (Al-Qur'an)

2 bulan pandemi, sepertinya zona-zona nyaman masih bergelayut nyaman di sejumlah lapisan. Para tokoh agama, yang diharapkan semakin terjun dan menjembatani gap selama ini, belum muncul fenomena massif tokoh-tokoh agama menyambangi rakyat yang terdampak. Semua seakan dicukupkan kepada doa dan donasi. Belum banyak keteladanan baru secara keagamaan dan kepemimpinan sipil yang menggugah selama pandemi. Tak hanya menggugah, tapi menggerakkan. Saat-saat sulit selama pandemi sebenarnya bisa menjadi laboratorium hidup di mana orang-orang yang selama ini hidup relatif makmur dan nyaman, mencoba merasakan kehidupan sehari-hari mereka yang melarat. Tapi belum banyak yang tertarik menempa diri dalam laboratorium itu.

Melihat fenomena di kalangan intelektual, zona-zona nyaman masih terlihat dalam topik-topik yang masih terlampau akademis, tak begitu banyak berubah materi, substansi wacana, dan gaya pikirnya dibanding sebelum pandemi. Kuliah-kuliah online, misalnya, digelar hanya untuk belajar materi yang sama seperti biasanya. Bukan belajar berpikir bagaimana mengkontekstualkan ilmu di kampus dengan situasi pandemi dan krisis kehidupan sekarang, lalu mengajak berimajinasi mendesain ulang kehidupan sosial pasca-pandemi secara radikal dan substantif. Ilmu tampaknya masih terlepas dari pertautan dengan kehidupan riil.

Baca juga:  Mengantar ke Gerbang: Sekali Lagi Soal Islam dan Renaisans Eropa

Secara naluriah, situasi krisis biasanya mendorong orang untuk “survival”. Namun kita hari ini dihadapkan kenyataan: “survival” saja tidak cukup karena akan membawa kepada “old new normal”: hal-hal normal yang sebenarnya sama belaka dengan yang dulu-dulu. Kita punya keinginan hidup pulih seperti biasa, beraktivitas seperti biasa. “Survival” saja tidak cukup karena kita memiliki dua opsi: menempa diri ke arah “co-survival”, atau terjatuh ke “survival of the fittest”.

“Co-survival” artinya, belajar menghadapi krisis bersama-sama dan keluar bersama-sama sebagai pemenang. Sebagai imbalan dan komitmen kebersamaan ini, kita insyaf dari kehidupan berbasis kepentingan pribadi, golongan, dan kelas. Kita menjadi “kita yang baru”. Misalnya, setelah pandemi, tak perlu ada lagi perang antar-ormas agama. Tak perlu lagi ada perang antar-rakyat. Di sisi lain, “survival of the fittest” adalah opsi terburuk: sebagian memilih bertahan dengan mengorbankan yang lain. Kita memilih bangsa ini karam dengan sekoci masing-masing. Lalu semuanya dihempas badai dan tak ada lagi yang tersisa.

Kapan kita insyaf?

“Meski berjuta doa kalian panjatkan, tapi karena AKU mengetahui bahwa setelah wabah ini berlalu kalian akan kembali saling mencaci, saling menghisap, saling menzalimi, saling merampas, saling tidak peduli dan pura-pura tidak tahu, saling mengejar laba dan keuntungan memperkaya diri, saling merasa pandai dan suci, saling membodohi, saling menipu dan mencurangi, saling memukul dan mengintimidasi, menyia-nyiakan waktu yang KU-berikan… maka AKU putuskan untuk memperpanjang wabah ini hingga ujian kalian lewati dengan lulus, wahai umat yang pernah AKU puji sebagai umat terbaik-KU”.

Lamat-lamat sepertinya itu pesan Ilahi yang berdengung di balik pepohonan yang merintih karena sebentar lagi ditebang dan sebuah gunung yang mengaduh karena tak lama lagi akan dikeruk dan ditambang.[]

Komentar Pembaca CaraBaca

BUKU TERBITAN CARABACA.ID

Melawan Rezim Infrastruktur - Studi Ekonomi Politik

Sebagai cara untuk tetap waras dan terus melanggengkan perlawanan terhadap segala bentuk ketidakadilan, CaraBaca terus memproduksi wacana alternatif  dengan menulis, membaca, diskusi, dan mengorganisir akar rumput.
BELI PRDOUK KAMI SEBAGAI DUKUNGAN
close-link
0%