Sultan Alauddin, Mare Liberum dan Kisah Sepucuk Surat

Oleh Muhammad Ridha

 

Salah satu pelajaran yang bisa diambil dari kisah-kisah kepahlawanan adalah cerita tentang hidup, tentang gagasan, tentang kerjanya yang jauh melampaui umur biologisnya.

Terdapatlah kisah tentang seorang sultan sederhana yang pandai, berani dan bijaksana. Dia ahli perang dan menjadikan wilayah kesultanannya di abad itu, karena kebesarannya, disebut oleh seorang sejarawan sebagai “tak ada satu kekuatan pun yang pernah percaya, ada kekuatan yang melebihi kerajaannya”[1].

Di sebagian masa kekuasaannya, ketika ia telah memeluk salah satu agama besar dan berpengaruh tapi sedang mengalami senjakalanya di belahan dunia lainnya: Islam. Dunia Islam belum benar-benar mundur, tetapi kolonialisme Eropa telah atau sedang  memerosokkannya makin menjauh dari sejarah lamanya yang gilang gemilang. Tapi tidak di negerinya: Islam adalah semangat baru. Dia adalah api yang bisa menyulut perubahan. Islam adalah pelatuk bagi cahaya masuk ke jazirah yang para pelayarnya pergi jauh dengan kapal. Dengan menunggang ombak: ke Marege, Siam, ke Madagaskar atau ke Cape town di sebelah Tanjung Harapan. Di jazirah selatan ini, seorang raja yang sederhana sedang tepekur: bisakah hidup manusia melampaui umur biologisnya sahaja? Mungkin dengan pertanyaan itulah dia hendak menulis suatu cerita yang karenanya, dia hidup sampai jauh melampaui usia biologisnya: dia mengislamkan, mengirim pesan keselamatan ke seluruh kerajaan di Sulawesi Selatan lalu menyebarkannya ke banyak wilayah lainnya!

***

Di awal abad baru, abad ke 17 dalam Masehi, seorang raja sederhana di jazirah selatan itu memilih Islam dan menjadikan kekuasaannya yang megah sebagai jalan menyebarkan agama yang baru saja dia anut. Namanya: Sultan Alauddin dengan nama lengkap I Mangnga’rangi Daeng Manrabbia Sultan Alauddin, yang setelah wafatnya digelari juga dengan Tumenanga ri Gaukanna (yang mangkat dalam kebesaran kekuasaannya), demikian menurut satu versi, dan menurut versi lainnya gelar setelah wafatnya itu adalah Tumenanga ri Agamana (yang wafat dalam agamanya). Gelar Sultan Alauddin diberikan kepada Raja Gowa XIV ini, karena dialah Raja Gowa yang pertama kali menerima agama Islam sebagai agama kerajaan.

Baca juga:  Islam Kita

Tak soal apa agamanya. Dan apa gelar yang kita, generasi belakangan perdebatkan: apakah iya bergelar ‘yang wafat di kebesaran kekuasaannya’ karena di eranyalah kerajaannya mengalami kemajuan amat pesat dan pengaruh yang amat luas ataukah ‘yang wafat dalam agamanya’ karena telah memeluk agama tersebut dan menjanjikan sekian banyak perang demi menegakkan agamanya.

Saat dia memimpin, surat dia kirim ke kerajaan-kerajaan bawahan atau kerajaan mitra untuk segera memeluk Islam. Agama yang baginya lebih menentramkan. Bukan memisahkan. Lebih menerangi bukan malah membodohi. Karena itulah dibagikannya kepada saudara-saudara dan aliansi-aliansinya kepercayaan baru itu. Banyak yang menurut karena suratnya. Beberapa yang emoh. Yang terakhir inilah yang akan diperangi: oleh armada kerajaan terbesar di abad itu! Nama perang-perang tersebut melekat karena misinya: bundu seleng, dalam Makassar. Atau perang karena misi penyebaran islam dalam bahasa Indonesia.

Karena penerimaannya atas islamlah, dia menentang kekuasaan yang merasa lebih berkuasa dari yang maha kuasa, Allah SWT. Dia memilih, dengan lirih, meniti jalan melawan bentuk-bentuk kekuasaan yang dianggapnya akan membahayakan rakyatnya dan tanah airnya dan seperti melampaui kekuasaan Tuhan.

Baca juga:  Joserizal Jurnalis

Surat-surat yang dia kirim untuk para raja dan kerajaan sahabat juga bawahan untuk segera masuk Islam ikut mengantarkan Islam sampai ke kita saat ini, bukan? Surat-suratnya yang tegas itu selalu disampaikannya dengan santun dengan pilihan kata yang sederhana.

Suatu ketika, sebuah kekuasaan dari jauh di belahan Eropa, yang telah lama bermaksud menguasai wilayah-wilayah yang merupakan wilayah kerajaannya terdapat peristiwa dimana kekuasaan itu mengeluarkan maklumat untuk melarang setiap pelayaran dan melarang kerajaannya berdagang ke Ternate dan wilayah-wilayah laut lainnya yang mereka anggap mengganggu dominasinya atas kepulauan rempah ini. Tapi dia tak bergeming. Ekspedisi pelayaran tetap saja dia luncurkan untuk berdagang dan untuk memastikan setiap jengkal kekuasaannya tidak diganggu oleh kekuasaan lain.

Ketika terjadi satu peristiwa penjarahan kapal Belanda di lepas pantai Makassar, itu menjadi alasan bagi Belanda untuk secara spesifik mulai melarang pelayaran. Dengan maklumat itu dia bersurat kepada sang raja yang rendah hati untuk berhenti melayarkan kapal-kapalnya! Surat itu dibalas dengan sebuah potongan kalimat yang amat menggugah: sederhana tapi amat kuat pendirian. Bunyinya kira-kira begini: “kami tak pernah mendengar ada suatu kekuatan yang ingin membatasi setiap orang berlayar kemana saja demi tujuannya masing-masing. Dalam pandangan kami bumi diciptakan untuk masing-masing kita dan laut diciptakan untuk semua. Jika anda melarang kami berlayar di laut, itu sama saja mengambil roti dari mulut kami. Kami hanyalah raja yang miskin”.

Baca juga:  Mengantar ke Gerbang: Sekali Lagi Soal Islam dan Renaisans Eropa

Tapi dengan kalimat sederhana itulah: kolonialisme dengan seluruh kekuatan penopangnya tak pernah bisa menundukkan sejengkal pun wilayahnya meski terlibat perang dan ketegangan di sejumlah peristiwa.

***

Di hari pahlawan ini, kita mengenang kembali bagaimana seorang raja sederhana, yang memilih Islam sebagai jalan hidup dan jalan perjuangannya, telah menulis cerita yang telah jauh melampaui umur biologis yang diberikan untuknya. Kita mengenang kembali, ketika laut kita hanya jadi alat kampanye saja, dulu, seorang raja sederhana telah menegaskan suatu filosofi tentang laut dan kemaritiman: mare liberum, kebebasan di laut![2] Dengan laut kita menjadi bebas dan besar. Bukan sebaliknya: menjadi miskin, terpisah-pisah dan nelangsa di atas tanah di mana raja sederhana itu pernah menuliskan suratnya yang menembus waktu. Suratnya, yang kata-katanya, menembus waktu: bertahun, berabad.

Selamat hari pahlawan.

Catatan Kaki

 

[1] Lih. Leonard Y Andaya Warisan Arung Palakka (Makassar: Inninnawa,2018)

[2] Lih. Hassan S Khalilieh. Islamic Law Of the Sea Freedom Of Navigation and Passage Right in Islamic Thought (Cambridge University Press: 2019). Konsep mare liberum (the free of sea) yang disandarkan pada Hugo Grotius, yang merupakan salah satu dari dua hukum laut modern, diterapkan Alauddin justru atas perintah ajaran Islam. Agama yang juga memberi perhatian amat besar pada laut.

Komentar Pembaca CaraBaca

BUKU TERBITAN CARABACA.ID

Melawan Rezim Infrastruktur - Studi Ekonomi Politik

Sebagai cara untuk tetap waras dan terus melanggengkan perlawanan terhadap segala bentuk ketidakadilan, CaraBaca terus memproduksi wacana alternatif  dengan menulis, membaca, diskusi, dan mengorganisir akar rumput.
BELI PRDOUK KAMI SEBAGAI DUKUNGAN
close-link
0%