Oleh: Muhammad Ridha
Dalam perjalanan diplomatik yang penuh kenangan tahun 1690-1691 ke Andalusia yang telah dikuasai oleh orang Kristen Eropa, Muhammad bin Abd al-Wahhab al-Gassani al-Andalusi seorang wazir kesultanan Magrib, menangkap begitu luas keinginan rakyat Andalusia untuk mengembalikan kekuasaan muslim dan kejayaan masa lalu Andalusia di bawah kekuasaan muslim. Dalam kunjungannya yang singkat selama sekitar satu tahun dia berkesempatan bertemu dengan penguasa Andalusia dan diberi fasilitas untuk mengelilingi beberapa kota di Andalusia sembari bertemu dengan banyak masyarakat yang begitu mengelu-elukan sang wazir untuk membawa kembali kekuasaan Islam ke tanah itu. Meski isyarat itu begitu tersamar seperti kata sang wasir dalam catatan perjalanan yang dituliskannya kemudian dan terbit menjadi sebuah buku berjudul Rihlah al-Wazir fi Iftikak al Asir 1690-1691[1].“Dengan dorongan Tariq yang memohonkan atas nama Allah, kavaleri Berber melangkah masuk ke dalam sejarah”
[David Levering Lewis, Peraih Pullitzer Prize]
Saking seringnya isyarat dan keinginan-keinginan rakyat Andalusia yang dijumpainya untuk mengembalikan kekuasaan muslim sampai sang wazir dalam catatan perjalanannya itu sangat sering menggunakan frasa “semoga Allah mengembalikannya menjadi negeri muslim”. Barangkali karena kuatnya frasa itu menunjukkan kenangan tak terlupakan orang Spanyol atas kemajuan-kemajuan dan prestasi cemerlang yang ditorehkan oleh orang-orang muslim di Andalusia sehingga Hussam ‘Itani, seorang sejarawan dunia Islam dari Lebanon, menulis salah satu babnya mengenai Andalusia pasca penaklukan pasukan Kristen kembali (rekonkuista) memilih frase itu menjadi judul bab bukunya.[2]
Sang wazir ditugaskan oleh Sultan Magrib, Mawlay Ismail, untuk dua permintaan sultan. Pertama, Pembebasan 500 tawanan muslim yang ditawan oleh raja Carles II yang berkuasa saat itu. Imbalannya adalah pasukan Kristen yang ditawan oleh pasukan sultan juga akan dibebaskan. Kemudian yang kedua, pelepasan 5000 manuskrip Arab yang tersimpan di perpustakaan el-Escurial yang menyimpan begitu banyak judul buku dari era keemasan kekuasaan Islam di sana. Pertukaran tawanan sepertinya sukses dilakukan sebagaimana dicatat oleh sang wazir sendiri dalam catatan perjalanannya. Hanya pelepasan naskah dari perpustakaan Escurial kita tau tak berhasil dilakukan. Belakangan, di abad 18, manuskrip-manuskrip Arab di perpustakaan ini dikatalogisasi oleh seorang ahli dari Damaskus yang didatangkan oleh kerajaan Spanyol, al-Gassiri. Katalog ini terbit dengan judul Bibliotheca Arabica-Hispana Escurialensis pada tahun 1760 yang berisi banyak subjek mengenai sains Islam, 70 tahun setelah al-Gassani melakukan kunjungan diplomatiknya.[3]
Islam Masuk Ke Spanyol
Kunjungan muslim pertama ke Andalusia dilakukan -kurang dari setahun sebelum Tariq menyeberang dan menyerang Andalusia- oleh Tarif Ibn Thalib al-Mu’afir[4] bersama sekitar empat ratus orang Berber pasukannya. Beberapa tahun selanjutnya Andalusia ditaklukkan oleh pasukan muslim dalam perang pada tahun 711-714. Serangan dimulai pada Ramadhan tahun 92 H. Pasukan dipimpin oleh Tariq bin Siyad lalu kemudian Musa bin Nusair menyusul dengan pasukan berikutnya belakangan. Lalu Andalusia dipimpin oleh keamiran Andalusia yang terhubung dengan kesultanan Umayyah. Dinasti ini terus berdiri sampai beberapa decade setelahnya sebelum akhirnya Abdurrahman Addakil, satu-satunya keturunan Umayyah yang selamat dari pembunuhan oleh revolusi Abbasiyah, mendirikan Kembali cikal bakan dinasti Umayyah dua di semenajung Iberia itu. Abddurrahman yang sebelumnya diceritakan dalam kronik Arab menyusup kemana-mana untuk menyelamatkan diri melintasi Arab hingga ke Afrika Utara dalam waktu lima tahun lalu kemudian menyeberang ke Andalusia. Dinasti Ummayah setidaknya menguasai Andalusia sekitar 3 abad lalu dilanjutkan oleh dinasti dari Magrib, Muwahiddun dan Murobbitun.
Andalusia memperoleh kecemerlangannya ketika di bawah dinasti Umayyah yang kemudian mewariskan banyak kebudayaan, sistem nilai, arsitektur, kebudayaan baru juga sains yang menerangi Eropa. Dari sinilah transmisi sains Islam, sastra Arab, juga temuan-temuan kebudayaan maju seperti kertas dan industri lainnya dari Timur ke Eropa Barat berlangsung. Kecemerlangan ini belakangan banyak dikaji lagi sebagai subjek studi, bukan hanya oleh sejarawan muslim tapi oleh sejarawan barat. Beberapa melihat warisan-warisan cemerlang mengenai pengelolaan kerukunan di era Umayyah yang menunjukkan kemajuan ditulis dengan menarik misalnya oleh Maria Rosa Menocal dan terbit menjadi buku menarik berjudul Surga Di Andalusia Ketika Muslim, Yahudi dan Nasrani Hidup Dalam Harmoni (2015). Juga David Levering Lewis, menulis kontribusi Andalusia untuk renaisans Eropa dalam buku berjudul The Greatness of Andalus Ketika Islam Mewarnai Peradaban Eropa (2012) yang mendapatkan pujian dan berhasil memenangkan pulitzer prize karena bukunya yang menggugah dan indah ini.
David menulis catatan mengenai peran Arab mengubah Eropa di abad kedelapan dan abad-abad setelahnya: “Pada awal abad ke-8, bangsa Arab membawakan salah satu revolusi terbesar dalam kekuasaan, agama, budaya, dan kekayaan sejarah ke Eropa Zaman Kegelapan. Orang-orang Arab akan menetap di sana sampai akhir abad ke-15.”[5]Dan di antara tahun-tahun setelah penaklukan itulah masa ketika Spanyol meloncat ke dalam panggung sejarah sebagai tempat bagi pemain-pemain utama dalam konstalasi dunia lama yang baru bersolek menjadi amat maju dari era sebelumnya di bawah panji-panji baru: Islam.
Kenang-kenangan Andalusia
Sayangnya, sejarah cemerlang yang tercipta itu segera berbalik. Tak lama. Orang-orangnya pasang-surut berada di semenanjung itu selama hampir 8 abad lamanya. Sebelum akhirnya, kesultanan terakhir, Granada, di tahun 1492 harus diusir menuju ke mana saja dalam kegelapan sejarah oleh kekuatan yang dulu dihancurkan oleh Tariq dan Musa dalam penaklukan awal. Lahir kembali sebagai kekuatan untuk ‘merebut kembali’. Saman itu dan lama setelahnya kata ‘rekonkuista’ itu menjadi semangat di semenanjung. Islam disisihkan. Yang tinggal mesti merayap menjadi mozarab. Atau jika tak bisa menyembunyikan identitasnya harus menyeberang lebih dulu ke alam baka karena penghukuman dewan rekonkuista. Jika tidak, harus menyeberangi balik Tarifa menuju Ceuta dan Tangier di Afrika. Padahal, catatan kecemerlangan masa tak panjang itu sungguh-sungguh amat penting untuk tidak diabaikan oleh penulisan sejarah kita kini.
Bagaimana potongan sejarah itu hingga Maria Rosa menyebutnya dengan metaforik seperti sepotong surga? Al Marozzy, seorang sejarawan dan traveler ketika menulis tentang kemajuan di Kordoba, Ibukota Andalusia ketika itu menulis: “Pertanian dan perdagangan menghasilkan kekayaan, kekayaan menghasilkan waktu luang, dan waktu luang menawarkan ruang bagi budaya untuk berkembang, sedemikian rupa sehingga Kordoba di Bawah Abdurrahman III dan Hakam III bersaing dengan Bagdad sebagai “tempat paling beradab di dunia”, memperjuangkan kemekaran budaya terbesar di Spanyol hingga abad ke-17. Kesusastraan memimpin. Kita mendengar bahwa 170 wanita di satu pinggiran kota di bagian barat mencari nafkah dengan menyalin naskah-naskah dan 60.000 buku diproduksi setiap tahunnya. Hakam adalah seorang bibliofil yang paling hebat di Kordoba, yang mengumpulkan 400.000 jilid buku, termasuk judul-judul langka yang dibawa dari pusat-pusat pembelajaran di Timur. Dukungan kerajaan mendorong berkembangnya pasar buku, di mana judul-judul yang indah dan luar biasa dilelang dengan harga yang luar biasa”[6]. Suatu gambaran budaya dan masyarakat yang sudah sangat maju.
Bisa dibayangkan bagaimana kemajuan kehidupan sosial dan intelektual di masa-masa itu. “Para Intelektual berkeliaran dengan bebas dan luas, sebuah tanda yang menentukan dari masa Umayyah. Salah satu judul yang paling terkenal yang muncul dari Kordoba abad ke-10 adalah Al Iqd al Farid (Kalung yang Unik), sebuah maha karya sastra Arab yang sangat luas karya Ibn Abd Rabah (860-940) yang terdiri dari 25 buku- masing-masing mewakili permata pada kalung- yang diambil dari Alkitab, Al-Qur’an, hadis, sejarah, puisi dan para penulis seperti Jahiz, seorang ahli polimatika dan ahli polemik dari abad ke-9. Musik terus berkembang di istana khalifah. Tidak ada musisi yang lebih terkenal daripada Ziryab (789-857), yang telah membawa penyempurnaan Bagdadi ke Kordoba yang terus berkembang di bawah kepemimpinan Abd Arrahman II. Puisi juga berkembang dengan pesat. Baik yang halus maupun yang vulgar. Putri khalifah, Wallada adalah penyair besar di zamannya. Dia berbalas puisi dengan kekasihnya Ibnu Zaydun hingga membuat banyak pembacanya seperti menonton reality show yang menguras air mata seperti era saat ini” tulis Marozzy[7]dalam penjelasan lanjutannya.
Tentu saja penggambaran dengan satu dua paragraph itu tidak akan pernah cukup membawa kepada kita kemajuan yang menggemparkan Eropa yang waktu itu masih amat gelap dan berlumpur. Tapi cukup untuk memberikan kita melankolia. Atau romantika, bagaimana sebuah masa jauh sebelum Copernicus, tokoh belakangan yang menyulut revolusi sains di benua itu lahir telah ada kemajuan-kemajuan yang menjadi alas agar sains modern saat ini, seperti yang dipantik lompatannya oleh Copernicus, bisa bersemai dan tumbuh.
Tapi tentu saja, itu adalah kilau gemilang yang cukup bagi, jangankan generasi sang wazir al-Gassani yang hidup berbagi selat kecil antara benua Eropa dan Afrika dengan Andalusia, generasi ilmuwan modern seperti Maria Rosa dari kampus nun di seberang Atlantik di milenum baru ini untuk masih terus mengenang silam-pukau Andalusia. Tulisan ini, mungkin, kerdip-kerdip kecil yang masih terus berharap terangnya kembali. Seperti catatan sang wazir yang diam-diam tumbuh menjadi doa di bawah sadar: “semoga Allah mengembalikannya menjadi negeri muslim”. Wallahu a’lam bi sawab
[1] Lihat Muhammad Al-Gassani al-Andalusi Rihlah al-Wazir fi Iftikak al-Asir 1690-1691 disunting dan diberi kata pengantar oleh Nuri al Jarrah, Dar as Suwaidi li al-Nasyrnwa at-Tawzi dan al-Mu’assasah al-Arabiyah li ad-Dirasat wa al-Nasyr, 2002 hlm 39.
[2] Lihat Hussam ‘Itani Penaklukan Muslim Di Mata Bangsa Taklukan (Jakarta: ALvabet; 2019). Bagian ini dituliskan di bagian terakhir bukunya yang berisi sebelas bab. Hal. 255
[3] Muhammad Ridha Harta Karun di Escurial dan Kenangan Sains Islam. http://carabaca.id
[4] Desa Andalusia terdekat dengan titik debarkasi kedatangan pertama pasukan pengintai yang dipimpin Tarif Ibn Thalib masih menyimpan kenangan nama pemimpin pasukan tersebut, Tarifa. Lih. David Levering Lewis The Greatness of Al-Andalus Ketika Islam Mewarnai Peradaban Barat (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta; 2012) Hal. 189
[5] Ibid. Hal. 22
[6] AL Marozzi Islamic Empires Kota-Kota Yang Membentuk Peradaban: dari Mekkah hingga Dubai (Jakarta: Republika Penerbit, 2024) Hal. 127
[7] Ibid. hal. 129