Rezim Neoliberal yang Memukul Orang Miskin di Tengah Wabah

Sebuah refleksi

Oleh Muhammad Ridha

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? 
Itulah orang yang menghardik anak yatim,
Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.
Maka celakalah bagi orang-orang yang shalat,
(Yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya,
Orang-orang yang berbuat riya
Dan enggan (menolong dengan) barang-barang berguna.

QS:Al-Maun  1-7

Lukisan oleh Jumaadi Jumaadi. Di perahu. Gouache on paper 2020
Artikel ini dimulai dari kenyataan televisi yang membuat trenyuh. Tiga orang anak berkebutuhan khusus mendekam di rumah gubuk setelah orang tuanya meninggal karena tak bisa makan. Mereka tak bisa apa-apa sampai orang sekitar datang dan mereka mengambil tangan orang itu menanyakan apa mereka membawa nasi. Lalu orang-orang mengambilkan nasi. Peristiwa kecil yang saya kira, di bawah anjuran-anjuran penanganan wabah neoliberal, yang wataknya berfikir ekonomis saja, maka rakyat kecil seperti ini, yang tak pernah diuluri tangan program-program pemerintah yang terpusat itu, saya kira ada banyak jumlahnya. Hal ini dikabarkan oleh banyak sekali media. Nasional maupun lokal.

Rakyat Miskin Menderita

Ada banyak kisah rakyat miskin yang menderita karena wabah covid19.  Ada kisah Atek, seorang lelaki berusia 40 tahun dari kecamatan Medan Polonia, Medan Sumatera Utara nekat mencuri 1 kresek berisi 5 kilogram beras karena kelaparan dan kedapatan. Dia dipukuli warga. Ada juga seorang pengemudi ojek online disebutkan dalam sebuah berita menjual televisinya untuk menyambung hidup saat pandemik. Ada seorang ayah dengan 5 orang anak menjual handphone rusak, barang berharga yang tersisa, untuk membeli seliter beras agar bisa memberi makan anaknya.  Seorang ibu menangis menyampaikan ke awak media jika dia dan anaknya telah dua hari tidak memakan apa-apa. Bahkan lebih parah dari itu banyak dan dengan mudah ditemukan pada mesin pencari daring. Seperti berita “Miskin Karena Corona, Ibu Yuli Meninggal Setelah Dua Hari Tidak Makan”. “Seorang ibu memilih bunuh diri bersama dua orang anaknya karena corona membuatnya tak punya penghasilan untuk makan.” Berita semacam ini bisa dipungut dengan mudah di media daring.

Berita di televise juga tak kalah menyedihkan. Suatu kali dalam salah satu stasiun televisi swasta memberitakan 3 orang anak ditemukan dalam gubuk sudah tidak makan berhari-hari. Ketika ditemukan dia langsung meminta makan dengan cara mengiba kepada petugas yang datang saking kelaparan telah memukulnya berhari-hari. Tragedi semacam ini akan meluas secara global akibat pandemi yang masih terus berlangsung. PBB memprediksi akan ada 250 juta orang yang kelaparan. Meningkat dari prediksi seandainya 135 juta orang. [1]

Wabah yang melanda hampir seluruh wilayah dunia, tak terkecuali Indonesia, telah menghempaskan banyak orang ke dalam kemiskinan dan kelaparan akut. Wabah yang tak kunjung ditemukan penawarnya ini membenamkan makin banyak orang ke dalam derita kemiskinan dan kelaparan akut. Kisah-kisah di awal tulisan ini penulis pungut di mesin pencari dengan amat mudah. Tentu saja itu hanya sebagian amat kecil dari realitas yang luas dari lanskap kemiskinan masyarakat kita. Jika ditengok angka kemiskinan menurut data Badan Pusat Statistik, untuk tahun 2019, ada 25,14 juta orang miskin di negeri ini, atau 9,82% dari jumlah populasi. Jumlah yang amat besar tentu saja. Jumlah itu hanya selisih 6 juta jiwa dan setara dengan jumlah seluruh penduduk Malaysia pada tahun 2018 yang berjumlah 31,53juta jiwa, atau hampir 5 kali jumlah penduduk Singapura yang tahun 2018 berjumlah 5,639juta jiwa atau empat kali jumlah penduduk negara Laos yang hanya 7,062juta jiwa dan jauh lebih banyak dari jumlah penduduk Kamboja yang sekitar 16 juta jiwa pada tahun 2018 atau Timor Leste 1,2juta jiwa. Negeri ini besar. Penduduk miskinnya jumlahnya juga besar.

Baca juga:  Melalui RUU Minerba, Tak Ada Masa Depan Cerah Bagi Kita Semua!

Jumlah penduduk miskin di negeri kaya yang dipimpin ‘orang baik’ ini jumlahnya lebih besar dari jumlah keseluruhan penduduk Negara Singapura, Kamboja dan Timor Leste. Atau dua kali lebih besar dari seluruh penduduk Timor Leste, Laos dan Singapura. Atau separuh dari jumlah seluruh penduduk Thailand. Mencari persamaan atau juga selisih dari jumlah penduduk miskin kita dengan jumlah penduduk banyak Negara lain tentu amat mudah. Sebab angka-angka itu demikian mudah diakses. Tapi bahkan karena itu sudah sedemikian mudah dilihat atau dihitung malah tak pernah mudah untuk dikeluarkan dari jurang dalam itu. Yang membuat mereka mendekam dalam derita, diserang wabah dan kelaparan.  Mengapa? Ada banyak apologia atas itu. Di Negara neoliberal ini alasannya menjadi amat membosankan.

Kondisi pandemi ini tentu saja telah melemparkan lebih banyak orang lagi ke dalam jurang itu selama standar-standar kebijakan penanganan, skema kehidupan kita, relasi sosial dan produksi kita masih di bawah anjuran-anjuran modal. Selama kita masih memandang nyawa rakyat itu hal biasa saja, ekonomi yang tumbuhlah yang penting, maka tak ada harapan perbaikan.

Rakyat miskin dan korban itu statistik

Berapa jumlah korban meninggal akibat pandemi ini di Indonesia? Telah lebih dari 1.000 jiwa melayang dan ribuan lainnya masih dirawat di rumah sakit atau dirawat ditempat lain. Dalam dua bulan sejak, 2 Maret, ribuan nyawa rakyat telah melayang. Bukan karena tidak bisa dicegah, tapi karena kebijakan-kebijakan kita yang menghamba pada modal! Disaat-saat genting dan Negara lain mengambil tindakan penting untuk rakyatnya, pemerintah negeri ini memberi suntikan dana untuk pariwisata. Saat sejumlah Negara lain menganggarkan dana besar untuk subsidi kebutuhan rakyatnya dan melakukan karantina, saat ini pemerintah malah membiarkan saja rakyat kembali ke aktifitas semula seolah tak terjadi pendemi yang mengancam jiwa rakyatnya. Kita tahu bahwa kepemimpinan ini sudah cacat moral sedemikian dalam. Tapi siapa mau diapakan? Mau marah pada siapa kami rakyat ini? Sementara mereka para politisi, pebisnis raksasa, oligarki kekuasaan itu berkongsi sedemikian rupa dan membiarkan rakyat tumbang satu demi satu dihantam wabah. Sebuah pemerintahan yang cacat konstitusional meski secara tak bermoral masih menduduki kursi!

Baca juga:  “Kapitalisme dari Bawah”

Cobalah teman-teman semua membaca ini dan mengirimkannya kepada junjungan ‘orang baik’ itu apa kata konstitusi dari UU yang para penyusunnya mereka tuduh dan nistakan sebagai komunis: “pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum…”. Bagaimana dengan pemerintahan ‘orang baik’ di negeri kita saat ini? Mereka seperti sedang menghitung laba saja. Cara mereka menyebut jumlah korban di televisi saja menunjukkan tak ada empati. Saat negeri lain semua kekuatanturun tangan, di negeri ini rakyat miskin dibiarkan sendirian. Ada BLT, RASKIN, ada bantuan lainnya? Sekepalan tangan beras saja? Seikat bumbu dan mie instan? Apa itu tidak sama saja membunuh mereka saja? Kebijakan mereka sebelumnya, bersama kelas kaya dan kelas menengah itu bilang: stay at home. Please tinggallah dulu di rumah. Oke mereka tinggal di rumah. Tapi ketika beras mereka habis, nasi tak ada siapa yang mau memberi mereka makan? Siapa memberi makan anak mereka? Mereka disuruh merasakan sendiri nelangsa kekurangan.

Saya lalu ingat apa yang bertahun lalu disebutkan Amin Maalouf dalam karya monumentalnya Cadas Tanious: “Penguasa yang terburuk bukan yang suka memukul, melainkan yang mengharuskanmu memukul diri sendiri”. Rasanya perkataannya menjadi relevan di negeri yang dipimpin orang baik  tapi orang baiknya gak bisa apa-apa meski rakyatnya mati satu demi satu dihantam wabah dan kebijakan ekonomi yang berpihak ke orang kaya saja. Saat banyak yang meninggal bunuh diri frustasi tanpa ada yang mengulurkan tangan. Pemerintahnya mensubsidi pengusaha lewat pengesahan UU Minerba, tapi tak memberi tangan kepada jutaan rakyat yang terancam dibunuh wabah setiap hari.

Ada pemerintah provinsi dikritik karena melantik pejabat seenaknya tanpa mengindahkan protokol membela diri dengan angka-angka. Dia bilang “kita ini provinsi dengan prosentase angka kematian terendah dibanding provinsi lain”. Pada saat dia menyebut kalimat itu, hari itu juga, sudah ada 47 rakyat meninggal sepanjang wabah di wilayahnya dan lebih seribu orang suspect. Pandai sekali berkelit. Asal bisa menenangkan publik dan tak kehilangan kursi, silat lidah pun tak apa. Melihat gubernur ini bicara saya mengingat sajak seorang kawan muda:

Angka[2]

 

1  2  3  4

Kita bukan manusia, kita cuma angka
Ditambah, dikurang, dikali, dibagi
Bikin pening
Tapi bikin untung

….

Ananta memegang pensil dan menulis:
5 6 7 8

 

Baca juga:  Recreation :

Melihat deretan para korban, pengumuman jumlah korban, atau statistik orang-orang miskin yang hari-hari ini sering disebutkan hanya seperti menyebutkan angka 1 tambah 1 sama dengan 2 seperti di sekolah dasar. Dia menyebutkan angka-angka dalam statistic itu seolah-olah tak ada nyawa di belakang 1 angka yang mereka sebut. Seolah-olah 1 angka itu tidak pernah terkait dengan keluarga, dengan handai taulan, dengan anak istri atau suami dan yang lain sehingga disebutkan dengan remeh: “jumlah korban meninggal hanya 1000an jiwa”. Mereka seperti disebutkan untuk dikungkung. Disamarkan dalam angka yang dingin dan beku. Orang inilah yang kata Jeremi Seabrook (2006) “dikungkung dalam statistik.”[3]

Belum lagi jika melihat kebijakannya atas penanganan wabah amat merendahkan nyawa manusia dibanding perputaran ekonomi. Belum lagi jika dilihat bagaimana pemerintahan dan unsur-unsurnya melanggar sedemikian rupa apa yang mereka anjurkan sendiri seperti melantik pejabat dengan mengundang banyak orang, menggelar buka puasa bersama ratusan orang, mereka berpesta bersama-sama sementara orang-orang miskin dan rakyat kebanyakan dibiarkan hidup bertarung sebisanya melawan wabah. Barusaja mereka menganjurkan stayathome, mereka, karena paksaan pebisnis transportasi telah membuka bandara dan orang orang ke sana tanpa mengindahkan protocol kesehatan apapun, padahal sebelumnya bis-bis yang mengangkut rakyat kecil balik ke kampungnya dihalangi dengan alasan macam-macam. Sekarang semua dilonggarkan. Rakyat dibiarkan saja. Kalau ada yang mati berarti mati. Kalau ada yang hidup berarti mereka beruntung. Negara neoliberal ini telah menyihir hidup kita mundur ribuan tahun seperti di dalam rimba dengan hokum-hukumnya: siapa yang kuat dan bisa beradaptasi maka itulah yang bertahan. Negara untuk apa? Negara neoliberal memang tak pernah ada gunanya dank arena itu pertanyaannya harus diubah: rakyat butuh makan dibuatnya pasar untuk industry pangan, rakyat butuh jalan dibuatkan industri finansial yang bisa menopang utang pembangunan infrastruktur, rakyat butuh sehat mereka buat asuransi yang mahal tak alang kepalang. Saat rakyat butuh anjuran-anjuran mereka memberi anjuran persis seperti dokter kepada orang miskin dalam sajak Bertolt Brecht bertahun-tahun lalu:

Kata-kata Seorang Buruh Kepada Seorang Dokter

….

Sakit di pundak datangnya
Katamu, dari lembab, dan ini juga alasan
Bagi noda di dinding rumah susun kami
Jadi katakan, darimana datangnya lembab?

Terlalu banyak kerja dan terlalu sedikit makan
Membuat kami kurus dan lemah.

Resep obatmu mengatakan:
Tingkatkan berat badan.
Sekalian saja katakan pada lumut di selokan agar jangan sampai basah.[]

Daftar Rujukan

[1] www.detik.com//duniaterancam dilanda kelaparan besar-besaran akibat pandemic corona

[2] Lihat Daniel Sihimbing dan Yasua T Huang Puisi Pembebasan (tt,tt:2020) hal. 1

[3] Jeremy Seabrok Kemiskinan Global Kegagalan Model Ekonomi Neoliberalisme (Yogyakarta: Resistbook,2006)

Komentar Pembaca CaraBaca

BUKU TERBITAN CARABACA.ID

Melawan Rezim Infrastruktur - Studi Ekonomi Politik

Sebagai cara untuk tetap waras dan terus melanggengkan perlawanan terhadap segala bentuk ketidakadilan, CaraBaca terus memproduksi wacana alternatif  dengan menulis, membaca, diskusi, dan mengorganisir akar rumput.
BELI PRDOUK KAMI SEBAGAI DUKUNGAN
close-link
0%