Renungan Keberagamaan

Tentang sikap revolusioner

Oleh Muhammad Al-Fayyadl

lukisan karya Danarto
Di bulan Ramadan, ada masa-masa ketika umat Islam dihadapkan kepada tuntutan “dua dunia” sekaligus: dunia ruhani (spiritual) dan dunia jasmani-materiil.

Puasa yang beribadahkan lapar secara sadar dan terniatkan, menjadi ibadah yang dihadapkan kepada tantangan kelaparan. Lapar dan kelaparan tentu dua hal yang berbeda. Yang pertama adalah latihan jiwa. Yang kedua adalah persoalan struktural akibat ketertindasan.

Masa ketika hamba-hamba Allah khusyuk berzikir dan bersujud kepada Allah, namun di sisi lain, harus menoleh kepada saudara sekitar, mendengar rintihan dan jeritan kaum dhuafa atau teraniaya.

Masa ketika semestinya seorang hamba bermesraan dengan Rabb-nya, menemukan jalan menuju pintu-pintu gaib Lailatul Qadar, namun di sisi lain, harus sibuk mengurus orang-orang yang sedang membutuhkan pertolongan. Berkeringat di jalanan, berjibaku dengan debu, kadang terpaksa meninggalkan sebagian ibadah di atas sajadah demi memenuhi perut orang lain dengan seperiuk nasi.

Baca juga:  Episode Sains Islam

Keberagamaan yang egoistik-individualistik tak bisa memahami paradoks ini. Keberagamaan yang cuma mengejar keasyikan sendiri dalam berpuasa, sementara krisis ekonomi-politik di mana-mana, dia cuek saja atau memang naif tak tahu.

Maka butuh keberagamaan yang lain, di saat krisis. Keberagamaan yang berpisaukan Jihad. Yang menjadikan perjuangan politik dan ekonomi selama bulan Ramadan sebagai ladang pahala. Tanpa meninggalkan sujud di sela-sela, dan membasahi lidah dengan zikir dan puja Ilahi. Keberagamaan yang revolusioner.

Perang Badar yang terjadi pada 17 Ramadan adalah contoh bahwa paradoks itu mampu dilewati Rasulullah Muhammad (shallallahu ‘alaihi wasallam), Nabi Agung Pemimpin Perjuangan Umat Teraniaya, dan para Sahabatnya dengan gemilang. Di tengah lapar yang melilit dan terik panas debu yang mencekik, ratusan pejuang Islam maju ke medan tempur… dan menang.

“Saksikanlah kami sedang berjuang melawan. Saksikanlah kami sedang menegakkan panji-panji kebaikan. Saksikanlah kami sedang memekikkan takbir melawan ketakberdayaan. Demi kemenangan ‘Kalimat Allah’ melalui kehancuran kapitalisme”

Bisakah kita menjadi revolusioner di bulan Ramadan tanpa kehilangan semangat mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah personal kepadaNya yang intim dan hening?

Baca juga:  Membaca (Al-Qur'an)

Bisa. Asalkan umat Islam mau belajar kenapa di saat krisis kapitalisme sekarang, harus mengambil sikap revolusioner. Asalkan jihad di bulan suci dimaknai tak lagi semata-mata keasyikan gerak di atas sajadah, tapi juga di hamparan Bumi-Nya, menjadikan diri saksi kepada segenap malaikat penduduk langit: “Saksikanlah kami sedang berjuang melawan. Saksikanlah kami sedang menegakkan panji-panji kebaikan. Saksikanlah kami sedang memekikkan takbir melawan ketakberdayaan. Demi kemenangan ‘Kalimat Allah’ melalui kehancuran kapitalisme”.[]

Komentar Pembaca CaraBaca

BUKU TERBITAN CARABACA.ID

Melawan Rezim Infrastruktur - Studi Ekonomi Politik

Sebagai cara untuk tetap waras dan terus melanggengkan perlawanan terhadap segala bentuk ketidakadilan, CaraBaca terus memproduksi wacana alternatif  dengan menulis, membaca, diskusi, dan mengorganisir akar rumput.
BELI PRDOUK KAMI SEBAGAI DUKUNGAN
close-link
0%