Potret Orang-orang Biasa dalam Perjalanan Keliling Turki

Oleh: Muhammad Ridha

 

 

Namanya Arsu. Huruf S dieja seperti menyebut huruf Z. “Aarzu” katanya suatu kali memberi contoh penyebutan namanya. Umurnya 30 tahun. Lulus dari sebuah Universitas di Izmir, sebuah wilayah di Turki yang berbatasan langsung dengan Yunani, negeri para filsuf. Orangnya sungguh ramah dan memiliki wawasan yang cukup luas terkait sejarah umum kekaisaran Usmani dan Turki modern.

Di hari pertama, sesaat setelah bis mulai melaju, dia memperkenalkan diri. Rambutnya diikat. Rambut keriting dengan hidung mancung seperti orang Eropa pada umumnya. Dia berkulit putih. Dan bilang: “kulit putih tanda orang miskin.” Dengan merentangkan tangan merendah dengan senyum.

Di Turki, orang-orang kaya senang terlihat berkulit lebih gelap. Kulit terlihat terbakar matahari itu menandakan dia telah menghabiskan waktunya liburan di negeri-negeri tropis hingga kulitnya terbakar sinar matahari. Di negeri kita, orang-orang berlomba menjadi yang lebih putih dan kinclong dari yang lain. Betapa makna kecantikan, persepsi atasnya dan apa yang manifes dalam tindakan untuk meraih definisi itu berbeda-beda di banyak tempat. (Jadi kalau berkulit putih biasa aja yah. Di bawah mentari yang sama ada orang yang menginginkan warna yang lebih gelap. Hehehe)

Saat mengantar kami ke gunung Uludag, di kota Bursa, dia ikut naik ke puncak. Dia mengakui takut ketinggian. Dan memberi ekspresi merinding melihat kota Bursa dari atas kawat baja raksasa di dalam kapsul kereta gantung. Dia tak begitu senang berfoto, meski jika diminta, dia akan senang hati berfoto. Saya dan dia takut di ketinggian. Sementara istri saya dan lima penumpang lainnya begitu tanpa beban dan bisa tertawa lepas di atas kereta.

Saya ngobrol dengannya beberapa saat ketika di puncak. Orang-orang telah sibuk berfoto satu sama lain. Berombongan atau sarusatu. Selfie atau groufie. Mereka semua terlihat menaiki bukit batu, mencari titik berfoto agar salju beberapa ratus meter di belakang kami bisa terlihat. Dia amat ramah. Dia menyesalkan: “saya tiga puluh tahun dan belum menikah. Sementara anda bersama istri sudah punya tiga anak”, sambil memiringkan kepala dan menggelar dua tangannya.

Dia tinggal di Istanbul sisi asia. Bersama ibu dan ayahnya. Juga seorang adik laki-lakinya. Ibunya dulu bekerja. Tapi sejak adiknya lahir, telah memilih berhenti bekerja. Ayahnya seorang teknisi mesin. Saat menjadi petugas tour seperti ini adalah saat yang dinantikan. Dapat penghasilan tambahan, dapat tip dari toko merchandise atau makanan yang disinggahi, juga dapat kawan-kawan baru.

Baru beberapa tahun ini dia menjadi tour guide untuk turis dari Indonesia. Sebelumnya dia selalu mengantar turis dari Amerika. Dia fasih berbahasa Inggris. Tapi tidak ingin digunakannya sejak dia menjadi tour guide untuk orang indonesia. “Saya tidak mau berbahasa Inggris. Saya takut lupa berbahasa indonesia” jelasnya.

Pandemi ini memukulnya. Turis baru saja bisa datang sebulan terakhir. Dia harus tinggal di rumah untuk waktu yang sungguh panjang. Meski demikian dia tak mengeluh. Dia bilang “pandemi memukul seluruh dunia, saya kira”.

Perjalanan kami yang dipimpin olehnya, adalah perjalanan kedua yang dia antar dari Indonesia untuk sebulan sejak buka lagi untuk turis. Dia terlihat senang dan bersemangat.  Perempuan asli Izmir dan mengakui kalau perempuan dari wilayahnya adalah perempuan yang “dianggap tercantik” di Turki. Entahlah.

Malam tadi, kami menginap di Izmir. Sebuah hotel bintang lima yang ambruk oleh wabah. Gedungnya terlihat baru saja dipakai. Pegawainya tak ada kecuali petugas kebersihan dan pelayan restoran. Arsu harus sibuk mengambil sendiri kunci-kunci kamar untuk kami. Saya menginap di lantai dua. Interior desainnya mengingatkan saya dengan rumah kayu tua di kampung.

Kalau nanti kesini, cobalah menginap disini. Harganya konon dibanting menjadi setara hotel kelas melati. Kalau butuh guide nanti boleh kontak AARZUU….

***

Namanya Aisyeh (38 tahun) dan dia sungguh kukuh. Dia, sejak belasan tahun, telah membuat karpet dengan tangannya. Dari pelatihan beberapa kali bersama penenun yang telah lama mengerti teknik pembuatan karpet dengan tangan. Jadilah dia saat ini, bersama Nurten (56 tahun) dan Naszik (36 tahun): penenun karpet penuh waktu di rumah tenun karpet bazar 54 di Kapadokia, Turki Tengah.

Dia adalah satu dari puluhan penenun karpet handmade di Bazar 54, di jalan raya Kapadokia-Angkara. Di bazar 54, ada ribuan karpet handmade yang terpajang di beberapa ruang. Kantor dan juga workshop ini berukuran cukup kecil. Mungkin badan rumahnya berukuran tak lebih dari 30×40 m². Tapi tampak mewah dan besar karena halamannya yang cukup luas. Dari luar terlihat seperti rumah gedong untuk tinggal sebuah keluarga kelas menengah.

Di bazar 54 ini, setiap pekerja yang telah dilatih, boleh memilih bekerja di rumah menenun karpet atau bekerja di workshop. Aisyeh, Nurten dan Naszik sedang di workshop sore hari ketika kami datang mengunjungi workshop ini untuk melihat tangan-tangan terampil ini menenun karpet.

Kami singgah di workshop setelah sejak pagi berkeliling ke beberapa titik foto di lembah Kapadokia. Saya tak mengingat nama-namanya yang begitu sulit. Tapi saya mengingat betul: foto-foto yang saya lihat sungguh selalu indah. Ada tiga spot foto, ada toko pengrajin sultan stone, memberi makan merpati di depan kastil uchisar dan juga ke kota bawah tanah. Dan terakhir: singgah melihat-lihat karpet bermacam rupa, bermacam ukuran, dan tentu bermacam harga. Hehehe

Karpet di bursa 54 ini terbilang mahal. Untuk karpet seukuran sajadah saja ada yang seharga 15 sampai 20 juta. Ada karpet benang wol, ada karpet dengan bahan bambu, ada karpet dengan bahan sutera. Yang terakhir ini, dengan ukuran kira-kira hanya 50 x 90 cm ada yang seharga 70 juta rupiah. Saya jadi bertanya-tanya: apakah sholat kita akan lebih khusyu’ di atas karpet yang sungguh mahal itu? Hehehe. Entahlah.

Karpet disini dibuat dengan teknik satu ikatan. Hampir semua karpet tenun di dunia menggunakan teknik satu ikatan. Karpet China, karpet Afghanistan, India, Pakistan atau wilayah-wilayah Asia Tengah menggunakan teknik satu ikatan. Pengecualiannya hanya karpet persia, yang menggunakan teknik dua ikatan. Anda mengerti, kalau tidak mengerti dengan deskripsi saya, itu berarti level pemahaman saya dengan anda sama: sama-sama tidak mengerti.

Tapi penjelasan itu, yang separuh berbahasa Inggris separuh berbahasa indonesia, oleh Mehmet memberi penjelasan demikian. Dengan menunjukkan sebuah papan nerisi gambang benang berikat dua simpul dan benang berikat satu simpul. Jadilah penjelasan saya diatas juga demikian.

Aisyeh seorang perempuan asli Kapadokia. Di tinggal di apartemen tak begitu jauh dari workshop tempat dia bekerja. Dia satu-satunya yang bisa berkomunikasi dengan bahasa Inggris. Nurten dan Nazsik hanya bisa berbahasa Turki. Jadinya kami berbicara lebih banyak dengan Aisyeh.

Tak banyak yang bisa kami obrolkan. Hanya nama, anaknya, juga keluarganya. Sudah itu kami langsung masuk ke ruang dimana para marketing dan manajer workshop ini memberi penjelasan kepada kami soal karpet karpet, kualitas kualitasnya, bahan bahannya dan terakhir: harganya.

Setelah harga diberitahukan kepada kami semua, sebagian besar sungguh kendor. Mengkerut keningnya. Harganya seperti membeli sebuah motor, atau bahkan membeli sebuah mobil bekas di tanah air. Meski, tentu saja, ini adalah tenun tangan yang dikerjakan antara 9 bulan sampai 2 tahun untuk selembar karpet! Karena itulah ketika kami bertanya kepada Aisyeh berapa lama proses pembuatan karpetnya. Dia bilang dengan sedikit mendongakkan kepalanya: “two year for one carpet!” Sungguh waktu untuk duduk, menenun satu demi satu benang untuk menjadi sebuah karpet, yang tak sebentar…

Bisa dibayangkan waktu yang dihabiskan Aisyeh untuk karpet-karpet yang ditenunnya bukan? Tapi dengan tangannya yang lembut, satu demi satu benang diturunkannya. Dia seperti menenun kehidupan di lembah nan dingin ini.

Demi menghargai sambutan perusahaan ini, persentasenya yang hangat, teh hangatnya yang sungguh memecah dinginnya Kapadokia yang sore itu di gadget saya menunjukkan 6⁰ celsius, bos istri saya, kawan kami yang sungguh baik, berkenan membeli selembar ukuran sedang. Anda mau tau harganya? Nanti saja yah.

Kami ingin bilang: Kapadokia ini sungguh cantik. Sebuah artikel perjalanan menuliskan kesannya atas kota ini: “janganlah mati dulu sebelum ke Kapadokia”.

***

Hari terakhir di Kapadokya kami bertemu Ahmed (25 tahun) dan Zaenab (23 tahun). Dua orang yang dengan ramah melayani kami semua melihat proses pembuatan keramik Turki. Sebenarnya ada beberapa orang dari workshop ini, Mr Jamal, yang bekerja memutar roda di kakinya agar tanah liat di atas meja berputar dan bisa dibentuk. Dia memperlihatkan dengan terampil dan amat cepat membuat keramik mentah yang akan dipersiapkan untuk dibakar. Ada tiga yang lain yang melayani di kasir juga bolak balik menunjukkan produk dan harga di rumah keramik ini.

Keramik Kapadokya salah satu yang terbaik di dunia. Bahannya adalah tanah liat merah, putih dan pasir pecahan giok di sungai di lembah kapadokya. Yang terakhir ini bahan yang termahal. Dia menghasilkan keramik yang bisa menyimpan cahaya. Jadi saat gelap dia akan menyala kehijauan. Dalam persentasenya, Ahmed dan Zaenab memperlihatkannya dalam ruangan yang dipenuhi keramik. Ahmed mematikan lampu ruangan sebelum bertanya kepada kami: “Ande siep?”. Lalu ruangan menjadi gelap dan keramik-keramik itu memancarkan cahayanya. Cahayanya semakin terang saat ahmed menyentuhkan senter handphone nya ke keramik.

Lalu lampu dinyalakan lagi. Dia sedikit menjelaskan lagi soal sulitnya mengambil pasir dan pecahan batu di lembah untuk bahan keramik giok ini, terjalnya medan, juga dingin kapokya yang seperti mengajak untuk tidur saja.

Saat belanja, kami membeli beberapa keramik kecil. Yang bisa kami jangkau. Itupun harus bergelut dengan Ahmed dan Zaenab: tawar menawar. Zaenab memberi harga untuk keramik jam dinding ukuran kecil yang tertera harga dua ratus lira dengan separuh harga. Kami menawarkan separuh harga dari harga separuh yang dia kasih. Lalu dia menggerutu: “tidak masuk akal”. Hahaha

Kawan kami yang baik, bos istri saya, membeli beberapa jam dinding giok, juga keramik berukuran kecil dan besar. Juga keramik tempel untuk hiasan kulkas juga keramik meja berbentuk darwis menari memutar. Dia juga memilihkan untuk kami jam dinding giok, dan pernak pernik keramik kecil lain. Semua teman seperti riang gembira. Harga yang ditawarkan terbilang murah ketimbang harga karpet kemarin yang bikin kaget. Hehehe.

 

Baca juga:  1814, Cornelis "menemukan" Borobudur

Ahmed memberi saya bonus. Membeli sepuluh buah hiasan kulkas dia kasih dua gratis. Saat jalan menuju bus, Zaenab memberi saya sebuah hiasan kulkas lagi: “free for you” dia bilang. Lalu saya teriak ke Ahmed: “Ahmed, free for me?”. Saya meminta gratis kepadanya karena belanja beberapa buah keramiknya. Dia memiringkan kepala tanda tak bisa.

Ahmed, saya kira, adalah ujung tombak pariwisata. Dia bisa jadi metafora untuk seluruh tempat dan insan pariwisata dunia: ramah, persuasif, memberi penjelasan dan negosiatif. Karena paduan ini semua, kami merasa kunjungan akhir di kapadokya menjadi kunjungan yang asyik meski tanpa naik balon udara yang dibatalkan karena angin kencang.

Wisata naik balon udara adalah yang paling diminati di Kapadokya. Melihat lembah nan cantik ini dari balon udara warna warni menjadi kesan yang saya yakin amat menegangkan sekaligus juga menakjubkan. Sayangnya, rencana kami batal karena cuaca.

Waktu kami duduk di bangku depan toko, sambil menunggu teman yang masih di dalam untuk segera balik ke bus, Ahmed datang menanyakan ke saya: “siapa namamu?”

Saya menjawab: “saya Ridho. Ridho Roma”

Kami tertawa. Lalu saya menyebut nama dua kawan saya. Salah satunya memperkenalkan diri ke Ahmed setelah saya perkenalkan. “Saya Cristiano Ronaldo”. Lalu ahmed bilang “saya Messi”

Kami terlibat obrolan soal kesan kami dan dia atas kunjungan kami. Dia senang. Kami juga senang. Dia bilang dengan indonesia yang patah-patah tapi terus diupayakan: “datang lagi kemari yah…”

Saat tulisan ini dibuat, saya sedang di kamar hotel di Ankara. Kemarin, di kota Ankara kami mengunjungi makam Mustafa Kemal Attaturk yang sungguh luas. Kompleks makam ini seluas kurang lebih 700 hektar di tengah kota yang saat ini adalah ibukota Turki. Tak pernah saya melihat kompleks makam semewah dan seluas ini. Bung karno, Presiden pertama republik indonesia yang kenal dengan Mustafa Kemal, dimakamkan di sebuah kompleks makam tak seberapa besar di Blitar. Mungkin seratus kali lipat dengan kompleks makam disini yang sungguh luas dan mewah. Seluruh dinding dalam ruang makam adalah marmer. Ada yang merah, putih, hitam dan hijau tua. Langit-langitnya dilukis dengan motif karpet Turki. Memberi kesan amat mewah. Lalu di ujung ruangan ada tugu yang merupakan makam Mustafa Kemal Attaturk. Semua lapisan makam adalah marmer. Mengunjungi makam ini, saya merasakan kesan mewah. Meski kikuk karena banyak tentara berjaga dan beberapa saat memberi himbauan atau memberi teguran langsung bila ada aturan yang dilanggar pengunjung.

Hari ini saya di Ankara. Menginap di satu hotel sekitar lima belas menit dari makam Attaturk. Kami dilarang keluar hotel oleh pemandu. Selain karena ini pandemi, daerah ini katanya rawan kriminal. Pencurian, pemalakan, copet atau penculikan bisa terjadi di sini. Lagi pula diluar hujan amat lebat. Keluar hoter berarti bersiap untuk basah kuyup. Hehehe

Oh iya, waktu memasuki kota Ankara setelah beberapa jam perjalanan melalui bus, melewati kota Aksaray, kami berpapasan iringan mobil presiden Erdogan. Jika beruntung, saat di Istana Erdogan yang pagi ini akan kami kunjungi, bisa bertemu dengannya. Jika tidak, bisa melihat-lihat istananya yang sangat besar.

Eh ngomong ngomong soal presiden Erdogan, sebenarnya namanya bukan Erdogan. Tapi Recep Tayyip. Erdogan adalah nama fam nya. Tapi mungkin sudah lebih akrab memanggilnya Erdogan. Orang Turki menyebut Erdogan tidak seperti kita menyebutnya. Seperti Arsu menyebut: Erdoaan. Seperti saat kita, dengan lidah Indonesia, menyebut mendoan. 

 

Komentar Pembaca CaraBaca
BUKU TERBITAN CARABACA.ID

Melawan Rezim Infrastruktur - Studi Ekonomi Politik

Sebagai cara untuk tetap waras dan terus melanggengkan perlawanan terhadap segala bentuk ketidakadilan, CaraBaca terus memproduksi wacana alternatif  dengan menulis, membaca, diskusi, dan mengorganisir akar rumput.
BELI PRDOUK KAMI SEBAGAI DUKUNGAN
close-link
0%