Morgane dan Kisah Pariwisata Bali yang Rapuh

Oleh Muhammad Ridha

Acrylirik on canvas. Ukuran 60×80 cm. Karya siswa SMK N 4 Denpasar

Namanya Morgane Peres. Umurnya, kutaksir, tak lebih dari 30 tahun. Berasal dari Torbes, sebuah kota di selatan Prancis. Parasnya menawan. Saat saya temui, rokok terjepit di sela jarinya. Dalam inggris dia mengeluhkan “Bali amat panas..” sambil sesekali mengepulkan asap dari sebatang rokoknya. Memang siang itu amat panas. Saya datang pukul 13.30 menemuinya untuk satu urusan jual beli setelah sebelumnya dari laman Facebook temannya, yang juga ada menemani Morgane siang itu, memposting iklan di marketplace: sebuah bangku kayu ukiran. Harganya? 100.000 rupiah!

Sejak pagi, sejak iklan di marketplace Facebook itu saya liat, saya tak sabar untuk datang membelinya. Sayangnya, Morgan, dalam korespondensi melalui pesan di Facebook menyanggupi sekitar pukul 14.00 baru tiba di tempat dimana bangku itu disimpan dan akan segera dijual. Karenanya saya menuju pasar Sukawati, dengan menumpangi mobil sewaan dan diantar oleh seorang sopir; ke tempat penjualan kerajinan furnitur. Dalam hati saya membayangkan membawa buah tangan terampil orang Bali ke rumah. Mungkin akan sedikit memberi kesan estetik. Bayangan itu berkelabat terus. Rasa gelisah mau segera ketemu pemilik bangku kayu antik itu atau membelinya di toko yang dilewati. Dalam perjalanan dari Pasar Sukawati saya singgah di dua showroom penjualan furnitur. Marketingnya dua-duanya berjilbab. Mungkin orang Jawa. Beberapa yang menarik saya tanyakan tapi sungguh mahal dan tak terpikir untuk membelinya. Bangku kayu dengan anyaman rotan 800 ribu, nakas sisa kayu 700 ribu-an, meja kecil dari kayu sisa perahu 800 ribu-an. Ah rasanya terlalu mahal untuk kantong cekak dari turis numpang seperti kami. Turis yang menyaksikan dan senang mengunjungi pusat-pusat destinasi massal yang sudah makin tak ramai itu: Bedugul, Pantai Kute, Legian, pantai Pandawa, dan situs-situs perbelaanjaan dan pusat oleh-oleh.

Saya berkunjung ke Bali dua kali dalam tahun 2019 yang penuh ketegangan karena agenda-agenda politik besar seperti pemilu presiden dan wakilnya serta pemilu parlemen pusat dan daerah serta pemilu untuk anggota DPD. Dalam kunjungan pada Februari saya sedikit beruntung tak ikut semua rute yang telah ditetapkan perusahaan travel langganan perusahaan tempat istri saya bekerja. Saya keluar dari barisan turis domestik massal yang masih menyenangi destinasi pariwisata massal yang membosankan itu. Menuju satu destinasi wisata edukasi yang sedang naik daun di Bali: Taman Baca Kesiman. Tempatnya di Denpasar. Saya berkunjung kesana juga bukan semata berkunjung tapi meluncurkan satu buku yang saya tulis beberapa waktu sebelumnya. Berkenalan dengan pembedah bukuku yang lain yang juga sebagai pemandu wisata freelance, Wayan Kaung dan penanggungjawab atau administratur TBK, Shaumi Slamiyati. Taman baca kesiman berisi sejumlah buku dan ruang baca yang menarik serta ruang diskusi. Pengalaman mengunjungi TBK telah menyelamatkan saya dari duduk berjam-jam di atas bus dan datang ke destinasi-destinasi yang tak saya kehendaki sama sekali namun telah disepakati. Berdiskusi dari sore sampai menjelang Isya. Jadi jika ke Bali dan bermaksud ke tempat yang lebih menarik, akrab dan tak massal maka ke TBK mungkin bisa jadi pilihan.

Baca juga:  Potret Orang-orang Biasa dalam Perjalanan Keliling Turki

Ketika berkunjung kedua kalinya, pada Maret, saya mengikuti sebagian rute dan, lagi-lagi, keluar dari rute rombongan dan membuat rute sendiri. Kali ini tujuannya ke Pasar Seni Sukawati sembari menunggu kesempatan menuju sebuah villa tempat bangku taman antik yang ingin sekali saya beli berada. Ke Pasar Seni Sukawati saya merasa sama sekali tak nyaman. Bertanya harga sebuah patung ukiran kayu yang sebenarnya di toko lain telah saya tanyakan harganya. dan di pasar ini, saya diberi harga nyaris 4 kali lipat dari harga di toko oleh-oleh yang baru kemarin kami kunjungi. Pengalaman pertama yang tak menyenangkan. Wal hasil tak sampai setengah jam di pasar seni ini lalu cabut kembali menuju kota. Di sepanjang jalan raya dari Legian ke pasar Sukawati yang banyak showroom sejumlah kerajinan seperti furniture, gerabah, batik atau yang lainnya kami singgah. Tapi tak belanja sama sekali. Kami keliling sambil menunggu-nunggu waktu sembari menuju lokasi yang ditunjuk oleh penjual bangku taman di marketplace Facebook itu: Seminyak. “20 meter dari warung made” begitu kata chat melalui whatsapp. Setelah beberapa saat mencari, akhirnya kami tiba di depan warung made. Setelah kami menelpon Morgan, kami dijemput dengan motor oleh teman Morgan, seorang guide dan tiba pada sebuah villa di dalam gang bersama sejumlah barang yang hendak dijual: hiasan dinding, patung ukiran kayu, patung ukiran batu alam, gerabah, bangku kayu, lukisan dan sejumlah barang hiasan cafe dan sisa minuman yang belum laku terjual. Mata saya langsung tertuju pada bangku dan mengkonfirmasinya ke Morgan: dan ternyata benar 100ribu perak! Hehehe

Baca juga:  Kuasa Ekonomi Politik “Raja” Hutan

Barang-barang ini adalah pernak-pernik villa dan cafe yang dikelolanya dan telah habis masa kontrakan. Cafenya tak menguntungkan. Begitu pikirku dalam hati. Juga villanya. Sepi kunjungan. Padahal di dalamnya sebuah kolam renang mewah, kamar-kamar yang juga amat ‘nyeni’ seperti kamar khas hotel-hotel di Bali. Tapi apa boleh buat: usaha tak kunjung untung dan Morgan, seorang staf pengelola, harus merelakan dirinya menjajakan sejumlah barang seni tersebut dengan harga teramat murah untuk ukuran umum dari benda benda tersebut di pasaran.

***

Namanya Morgane Perez. Tapi namanya bukan soal. Dia telah menjual seluruh barang yang telah lama dijadikan sandaran usaha sebuah keluarga kelas menengah yang letaknya di pusat kapitalisme pariwisata Indonesia: Bali. Letaknya di Seminyak. Lokasi yang secara ekonomis amat bersandar pada seluruh bisnis yang terhubung dengan pariwisata: hotel-hotel, penginapan, vila-villa kecil di gang, restauran, cafe, bar, showroom berbagai produk seni, atau bisnis lendir di belakangnya. Tapi mengapa sebuah villa dan cafe di pusat turis ini bangkrut tak karuan dan melego seluruh barang seni- meski tentu saja ini barang seni pasaran untuk dekorasi- dan pergi dari Bali? Atau meninggalkan Bali dan mencoba peruntungan lain dalam usaha yang lain? Apakah Bali tak lagi ramai turis dan karenanya cafenya, villanya menjadi sepi kunjungan dan ambyar tak karuan? Tentu saja tak mudah menjawabnya. Apalagi hanya dengan kasus seorang Morgane Perez.

Baca juga:  Hari Kasih Sayang dan Rayuan Konsumerisme

***

2020. Bulan maret yang amat basah. Istri saya kembali dari perjalanan untuk urusan pekerjaan di Bali. Cuaca amat buruk dan penerbangan banyak yang tunda. Dia terbang kembali ke Makassar dengan penerbangan yang tak menyenangkan karena cuaca buruk. Dia bercerita Bali amat sepi. Jalan-jalan melompong dan toko-toko sebagian besar tutup. Di Legian, yang biasanya macet, juga sepi. Saya coba tanya ada apa gerangan yah? Ternyata berhubungan dengan merebaknya virus corona. Para turis takut bepergian (juga ke Bali) karenanya. Jadinya, karena Bali sepi pengunjung, usaha-usaha jadi agak lesu. Sejumlah catatan menunjukkan banyak hotel dan villa di Bali tutup karena merugi.

Bagaimana jika virus ini terus merebak dan membuat takut seluruh penduduk bumi dan para orang kaya itu gak mau kemana-mana selain menumpuk makanan di rumahnya dan juga menumpuk masker agar aman dari serangan virus? Tentu saja Bali akan sepi dan berjalan menuju krisis. Sekitar 80% perekonomian Bali berkaitan dengan sektor pariwisata. Lah kalau tak ada lagi yang datang, apa yang mau diputar dalam perekonomian? Tapi tentu saja ini prediksi suram. Meski realistis. Beberapa tahun lalu ketika letusan gunung agung, ketika gempa Bali-Lombok hingga lebih jauh ke peristiwa Bom Bali, perekonomian Bali lumpuh. Orang-orang takut datang berkunjung. Lalu karena itu semua, karena pengalaman pahit ambruk karena rapuhnya ekonomi pariwisata, kini orang mulai bertanya ‘masih patutkah ekonomi pariwisata ini dipertahankan sambil secara tak serampangan menyingkirkan semua model ekonomi yang lebih tahun guncangan seperti pertanian, kelautan, perikanan atau yang lainnya? Tentu saja tak mudah menjawabnya meski rasanya sudah harus dicarikan jawaban segera karena: ekonomi pariwisata kapitalis ini mudah tumbuh tapi sungguh rentan ambruk. Wallahu a’lam bi sawab.

Komentar Pembaca CaraBaca

BUKU TERBITAN CARABACA.ID

Melawan Rezim Infrastruktur - Studi Ekonomi Politik

Sebagai cara untuk tetap waras dan terus melanggengkan perlawanan terhadap segala bentuk ketidakadilan, CaraBaca terus memproduksi wacana alternatif  dengan menulis, membaca, diskusi, dan mengorganisir akar rumput.
BELI PRDOUK KAMI SEBAGAI DUKUNGAN
close-link
0%