Merekam Jejak Kehancuran Ekologi di Tanah Sulawesi

Ulasan Buku "Titik Krisis di Sulawesi; Narasi Jurnalisme atas Kehancuran Ruang dan Sumber Daya Alam" karya Eko Rusdianto

Oleh Muh. Fardan N.

Titik Krisis di Sulawesi
Lukisan karya Yaksa Agus
Tidak banyak orang mau memandang dan menelusuri dinamika tanah Sulawesi dengan menyoroti jejak perebutan ruang hidup dan sumber daya alam. Narasi soal Sulawesi nyaris selalu berkaitan dengan hikayat soal masyarakat yang kaya akan budaya dan tradisi lengkap dengan kearifan lokal masyarakatnya. Tak hanya itu, Sulawesi juga dipandang sebagai pulau eksotis dengan budaya dan kekayaan alamnya yang cukup berlimpah. Namun di balik itu semua, tersimpan titik api yang disulut oleh perebutan ruang dan akses atas sumber daya alam. Buku kumpulan tulisan Eko Rusdianto berjudul  ‘Titik Krisis di Sulawesi; Narasi Jurnalisme atas Kehancuran Ruang dan Sumber Daya Alam’ merekam secara mendalam kisah penghancuran ruang hidup dan sumber daya alam yang tersebar tidak hanya di satu tempat tapi berada di berbagai wilayah di Sulawesi.

Di tengah representasi pemberitaan di media massa yang dibanjiri oleh narasi yang dangkal dan kering makna. Kumpulan liputan Eko Rusdianto hadir memberikan perspektif segar dengan kedalamannya menyelami topik lingkungan yang digelutinya. Tak hanya memberikan narasi deskriptif soal kondisi yang dialami korban, namun juga relasi kuasa dan ekonomi politik yang berkelindan dengan berbagai kerusakan lingkungan. Jika kita bertanya apa tujuan jurnalisme? Mungkin bisa direspon dengan meminjam jawaban Begawan jurnalisme Bill Kovach bahwa ‘journalism for democracy’. Buku Eko Rusdianto yang memotret kontradiksi dan krisis secara terang-terangan, seolah menjawab jika jurnalisme hadir untuk menyuarakan suara korban (give voice to the voiceless); rakyat dan lingkungan hidup. Masyarakat terdampak dan lingkungan hidup merupakan dua pihak yang seringkali luput dari pemberitaan yang menghiasi ruang publik. Keduanya terabaikan dalam narasi umum pemberitaan yang menghiasi ruang publik dan dikonsumsi khalayak umum.

Titik Krisis
Judul Buku: Titik Krisis di Sulawesi; Narasi Jurnalisme atas Kehancuran Ruang dan Sumber Daya Alam Penulis: Eko Rusdianto Penerbit: Carabaca Tahun Terbit: 2020

Berbicara soal jurnalisme lingkungan yang memotret secara khusus pulau Sulawesi, tidak bisa tidak menghilangkan nama George Junus Aditjondro. Semasa hidup intelektual cum aktivis ini dikenal memiliki ketekunan meliput tentang kepentingan bisnis dan sengketa berbasis sumber daya alam. Dia menulis dengan sangat tajam soal kepentingan bisnis Siti Hartati Murdaya di Buol, Arifin Panigoro di Tiaka Morowali Utara dan keluarga Jusuf Kalla di Poso.[1]

Baca juga:  Pertarungan Kelas Pekerja Merebut Pilihan Hidup

Kehadiran buku Eko Rusdianto menegaskan jika sepeninggal GJA, tanah Sulawesi belum lepas dari ancaman krisis ekologi, pertarungan ruang hidup, dan kongsi bisnis yang terus menerus mencari lahan baru untuk dikeruk kekayaan alamnya. Apalagi, saat ini telah jelas di depan mata bagaimana penghancuran hutan, pencemaran sungai, penghancuran ruang hidup masyarakat di tanah Sulawesi hingga harus tercerabut dari akar budaya dan relasi sosialnya makin mengalami eskalasi yang meningkat. Karena itu, kerja-kerja jurnalisme yang dilakukan oleh Eko memotret proses penghancuran ruang dan perebutan akses atas sumber daya alam bukanlah pekerjaan enteng.

Membaca satu liputan ke liputan lain yang disuguhkan dalam buku Eko membawa kita memahami bagaimana proses penghancuran ruang dan sumber daya alam berlangsung di berbagai titik. Terkhusus di pulau Sulawesi, proses itu berlangsung di banyak tempat, dari pelosok hutan nan kaya akan keanekaragaman hayati, hingga pesisir pantai dengan sumber ikan berlimpah. Praktik penghancuran ini membuat nyaris tak ada lagi ruang kosong yang tersisa untuk penghidupan masyarakat.

Liputan Eko yang menyentuh aspek kehidupan orang yang terpinggirkan membuat tulisannya terasa hidup. Tak hanya kaya data dan fakta yang dikumpulkan langsung dengan investigasi mendalam, namun juga disajikan dengan narasi yang ciamik sehingga menggugah empati kepada para korban, sekaligus memantik kegeraman atas proses penghancuran yang berlangsung tanpa henti di berbagai titik. Perubahan laskap hutan dengan tutupan pohon lebat dan keanekaragaman hayati yang kaya, mengalami perubahan besar-besaran menjadi hamparan sawit. Contoh ini dinarasikan dalam liputan soal sawit di Sulawesi Barat. Alih fungsi ini membuat luas hutan Sulawesi Barat sekitar 1,131 juta hektar pada tahun 1991, menurun drastis 20 tahun kemudian jadi 62.000 hektar. Rata-rata deforestasi mencapai 3.100 hektar per tahun. Laju kerusakan ini bukan hanya dari sawit, sejak izin hak pengelolaan hutan (HPH) tahun 1980-an.[2]

Deforestasi ternyata bukan satu-satunya masalah yang dihadapi karena dampak perubahan lanskap. Ketika hutan terbabat, dan terjadi alih fungsi lahan, satu contoh saja, ban truk membuat kubangan di pembukaan jalan, jadikan seperti sumur kecil dan tempat nyamuk meletakkan telur. Paparan matahari kemudian membuat proses telur jadi jentik akan makin baik. Hal ini tak pernah terbayangkan. “Pembalakan dan alih fungsi lahan, tanpa mencermati ekosistem memperburuk keadaan,” kata Yahya yang meneliti hubungan pembukaan lahan dengan merebaknya epidemi malaria di Mamuju Tengah tahun 2014-2015. Desertasinya menjelaskan dengan gamblang bagaimana perubahaan lanskap itu mempengaruhi lingkungan. “Siapa yang peduli. Keuntungan menjadi prioritas,” katanya.[3]

Baca juga:  Bagaimana Kuasa Penyingkiran Bekerja di Asia Tenggara

Tak hanya proses perubahan di pelosok, penghancuran ekosistem di pesisir juga tak luput mendapat sorotan. meski tidak pernah menyinggung secara eksplisit di dalam tulisannya, namun, dengan sangat gamblang liputan Eko bertajuk ‘Di Balik Tanah Reklamasi’, memotret bagaimana proses proletarisasi terjadi bersamaan dengan perampasan atas ruang berlangsung. Kisah ini bisa didapatkan secara lebih jelas pada kasus Reklamasi pesisir Makassar.

Selain soal penghidupan yang makin menghimpit, proses penghancuran ekologis juga disorot dengan tajam. Bagaimana nelayan yang dulunya menikmati hasil laut yang berlimpah untuk menopang penghidupan harian, kini goyah karena kerusakan ekologi yang kian parah yang terjadi di pesisir Losari. Pada akhirnya wilayah pesisir yang menyediakan berbagai hasil berlimpah kini tak lagi menjadi ekosistem yang ramah bagi spesies laut. Kondisi ini memaksa pencari kerang di Losari tercerabut dari hubungan eratnya dengan pesisir dan dipaksa ‘memunggungi laut’.

“Dulu, waktu jalan itu belum dibangun, dan orang-orang datang membangun. Kami mencari kerang di depan rumah. Dalam dua sampai tiga jam bisa terkumpul satu karung penuh,” kata Wawan. “Dulu juga ada sekitar enam jenis kerang, sekarang tinggal tiga jenis. Kerang hijau juga sudah tidak diminati, karena ada dulu berita kalau kerang hijau di Losari tercemar dan beracun,” ujar Wawan, seorang pencari kerang di Losari.[4] Kini, pak Wawan, para nelayan dan para pencari kerang lainnya beralih profesi menjadi kuli bangunan, bekerja di luar kota.

Ruang penghidupan mereka yang sangat bergantung dan berkaitan erat dengan kondisi alam pesisir Makassar sudah hancur. Tidak ada lagi hasil laut berlimpah, tidak ada lagi keindahan senja Losari yang bisa dinikmati bersama kala melepas penat. Kini ruang tersebut dirampas setelah investasi besar-besaran mencaplok lahan pesisir seluas 157 hektar itu. Tepat di depan mata, senja Losari yang indah kini tertutupi keangkuhan proyek megah nan ambisius bernama Center Point of Indonesia (CPI) yang dikuasai oleh rezim properti skala nasional dengan kucuran modal besar. Dalam narasi ini, Eko berhasil menggali sisi lain yang nyaris tidak pernah diungkap oleh media arus utama yang lebih banyak berfokus soal bagaimana kehadiran proyek reklamasi seakan bersolek mempercantik wajah kota dan kebanggaan segenap warga urban.

Baca juga:  Setelah Menonton "Bumi Manusia"

Apa yang kita saksikan melalui pandangan mata di sekeliling, dan dinarasikan ulang dengan apik dalam buku ini seakan mengajak kita semua untuk mempertanyakan ulang tujuan ambisius ‘pembangunan’ yang mengejar pertumbuhan tiada henti yang ditopang oleh sistem kapitalisme. Bagaimana kapitalisme bekerja dengan logika pertumbuhan membawa krisis berkepanjangan; krisis ekonomi bagi penghidupan masyarakat lokal, dan degradasi lingkungan di sisi lainnya. Meski tendensi krisis merupakan watak alamiah bagi kapitalisme, krisis kontemporer juga mendatangkan malapetaka lain dari hasrat menciptakan keuntungan tanpa henti; degradasi lingkungan yang menyengsarakan.[5]

Hadirnya buku “Titik Krisis di Sulawesi” ini setidaknya menjadi alarm bahwa tanah Sulawesi yang sedang kita pijak, tengah mengalami sebuah fase menuju kehancuran dengan sumber daya alam yang dikeruk habis dari hulu hingga ke hilirnya. Kekayaannya dinikmati oleh segelintir kelas kaya, dan menyisakan derita di sisi masyarakat yang ruang hidupnya terampas. Buku ini setidaknya menjadi semacam ‘call for action’, panggilan untuk bertindak, merespon, menggalang ulang kekuatan masyarakat sipil yang terserak-serak untuk kembali menyatukan barisan dan energi. Bahwa kontradiksi yang sedang terjadi sekarang harus direspon. Segera!

Titik Krisis

Catatan Kaki

[1] Arianto Sangaji, Obituari: Tentang George Junus Aditjondro https://indoprogress.com/2017/01/obituari-tentang-george-junus-aditjondro/

[2] Eko Rusdianto. Titik Krisis di Sulawesi; Narasi Jurnalisme atas Kehancuran Ruang dan Sumber Daya Alam, Carabaca 2020.Hal 212.

[3] Ibid, hal 213.

[4] Ibid 79.

[5] Fred Magdoff. Capitalism’s Twin Crises: Economic and Environmental. Monthly Review 2002. Diakses terakhir kali pada 01 Maret 2020. https://monthlyreview.org/2002/09/01/capitalisms-twin-crises/ 

Komentar Pembaca CaraBaca
BUKU TERBITAN CARABACA.ID

Melawan Rezim Infrastruktur - Studi Ekonomi Politik

Sebagai cara untuk tetap waras dan terus melanggengkan perlawanan terhadap segala bentuk ketidakadilan, CaraBaca terus memproduksi wacana alternatif  dengan menulis, membaca, diskusi, dan mengorganisir akar rumput.
BELI PRDOUK KAMI SEBAGAI DUKUNGAN
close-link
0%