Lelaki Misterius

Gambar: Turu Turuan Goache on Paper, 2021

Oleh: Abrisal

Seperti kebanyakan hari, kafe ini ramai disambangi pengunjung. Entah untuk sekedar menyicip kopi maupun menu lain. Atau hanya sekedar menemui halaman buku-buku siap baca yang tersusun rapi di ruang tengah kafe. Tidak hanya itu, suasana kafe yang mengusun konsep dengan paduan indoor dan outdoor yang ciamik, membuat kafe ini cukup berbeda dengan kedai, warkop mupun gerai kopi kebanyakan di Kota M. Mungkin alasan serupa yang jadi titik temu antara lelaki berambut ikal dengan barista wanita di kafe ini. Atau mungkin hanya sekedar takdir yang diilhami oleh ikhtiar lelaki berambut ikal untuk segera menyelesaikan skripsinya. Mungkin saja.

Mulanya, belakangan lelaki ini jadi pelanggan tetap kafe. Hampir tiap hari, dirinya menyisihkan waktu untuk mengunjungi kafe. Tak pernah sekalipun Ia datang dengan membawa kawan maupun kenalan, tiap kali kehadirannya diiringi deru pesawat terbang di langit kafe saat sore menjelang petang. Janggalnya, menu kafe yang cukup beragam tak membuatnya memutuskan untuk memesan menu lain,  selain kopi hitam.

Saya senang kopi hitam ketimbang kopi yang bercampur susu”  Timpalnya tiap kali ditanyai barista.

Dengan tubuh yang tidak jangkung tidak pula pendek, tubuhnya yang berisi cukup tangguh memapah beban tas besar yang kerapkali Ia gendong. Baru duduk, Ia akan membuka tas, meraih laptop lalu membuka file skripsi yang entah sampai kapan menyita senggangnya dari sore hingga malam hari. Karena cukup sering berkunjung, obrolan barista dan lelaki itu cukup intens. Meskipun temu keduanya, seluruhnya berlangsung disini. Hingga Barista tau kopi dan takaran gula sebanyak apa yang jadi favorit lelaki ini. Acapkali di selah waktu istirahat barista, Ia menyempatkan diri duduk di pojok ruang kafe dengan lelaki ini. “Saya suka di tempat duduk ini. Saya tak punya alasan. Saya hanya nyaman” Gumamnya satu waktu pada barista.

Tidak ada yang hebat dari lelaki ini, seluruh kisah yang Ia bagikan untuk barista tiap kali mengobrol, tak sekalipun menyinggung kesibukan atas dirinya. Barista hanya tau, lelaki itu seorang pengelana, tak memiliki kekasih dan lebih suka sendiri. Simpulan itu jadi pengetahuan bagi barista atas diri lelaki itu. Pasalnya, kadangkala lelaki ini akan duduk di halaman depan kafe meskipun kafe belum di buka. Ia kerapkali menunggu, sampai barista membuka kafe pada waktunya. Makanya barista acapkali bingung sendiri harus melakukan apa untuk tetap membuat nyaman pelanggan tetapnya ini. Maaf, saya datang lebih awal biar ruang duduknya saya tidak didahului pengunjung lain” Sergah lelaki itu.

Barista itupun kini memaklumi alasan lelaki ini. Pasalnya Ia tak pernah sekalipun terlihat menempati tempat duduk lain selain pada meja yang menghadap langsung pada tumpukan buku yang tertatah acak pada rak. Saya tidak suka buku. Tapi saya punya banyak di kontrakan” Tegasnya dalam satu waktu.

“Hanya saja, saya senang jika buku-buku di rak ini ikut menemani” Tambahnya.

Kafe ini asik dan tidak berisik. Ruang yang pas bagi saya untuk berdamai dengan kesendirian” Pujinya pada barista.

Ketika ditanyai sedang sibuk apa. Ia tampak selalu siap untuk menjawab Sibuk mengelana” Lengkap dengan lengkung bibir tipis di permukaan wajahnya. Barista pun terkadang cukup bingung dengan lelaki ini. Sedikit bicara, meskipun cukup murah senyum padanya. Tak ada yang special dari lelaki ini, selain baju lusuh dan kemeja kusut yang acapkali ia kenakan. Maupun rambut ikalnya yang kering jarang di sisir. Dan sepasang mata yang digantungi kantung mata menghitam. Barista kafe acapkali berusaha mengakrabkan diri padanya, sebab baginya lelaki ini tak cukup ramah dengan pengunjung lainnya. Tidak pernah datang bersama kawan. Tidak dikenali. Tidak pula banyak bicara. Acapkali ketika ditanyai berbagai hal. Lelaki ini hanya akan menjawab dengan irit. Kadang sebatas Iya maupun tidak. Ataukah hanya mengangguk dan terbatuk. Hanya itu dan selebihnya Ia akan dengan sigap menutup laptopnya kala pengunjung lain tampak melirik dan memperhatikan apa yang sedang Ia kerjakan.

Baca juga:  Akhirnya Kau Hilang

“Mungkin Ia Phobiasocial.” Fikir Barista. Terhitung sejak barista ini masuk menggantikan barista sebelumnya seorang lelaki. Lelaki ikal ini, mulai cukup rutin mengunjungi kafe. Masih mahasiswa yah?” Tanya barista dalam satu waktu.

Tidak lagi. Saya hanya mengerjakan skripsi” Timpal lelaki itu.

Kuliah di kampus mana?”

Maaf, saya tak punya kampus”

Tidak apa-apa kok,  saya tidak suka mencelah” Ucap barista menyakinkan.

Hahhaaah (tawa lelaki itu) Bukan itu maksud saya. Saya jujur kok sama kamu. Saya tidak memiliki kampus”. Lengkung bibir lelaki itu bergerak menampilkan senyum yang tidak biasa.

“Aneh yah. tidak punya kampus tapi tiap kesini pasti kerja skripsi” Ucap barista bingung.

Iya juga yah. Tapi saya sudah jujur” Ia pun kembali tertawa.

Kamu asli sini yah?”

Bukan. Saya fikir, semua manusia adalah pendatang. Hanya saja, tidak banyak manusia ingin mengakui itu”

Kok seperti itu. Misalnya, kalau Saya berasal dari Kabupaten P. Ayah saya asli dari sana. Lalu Ibu saya dari Kabupaten E” Timpal Barista itu.

Lelaki itu kembali tertawa. “Tapi barusan saya sudah jujur sama kamu” Jelasnya.

Kok ketawa. Ada yang aneh yah?”  Tanya barista heran.

“Nggak ada kok. Kan tertawa tidak larang sama Negara. Jadi tidak apa kan?!”

“Iya, tertawa tidak di larang. Tapi.”

Kenapa tapi!? Selama itu masih bebas dilakukan yah lakukan saja. Iyakan?” Potong lelaki itu.

Maaf. Ini saya tambah bingung” Ucap barista.

Jangan bingung. Saya bukan Tuhan, bukan Nabi, bukan Negara, bukan pula tokoh. Saya hanya ciptaan yang berusaha jadi manusia” Tegas lelaki ini.

Iya. Saya tau kamu ini manusia. Kan saya punya mata” Cetus barista.

Iya saya tau, kamu punya mata. Hanya saja mata bisa berbohong”

Kan yang berbohong itu biasanya mulut di bantu lidah” Ucap barista.

Maksud saya, yang di lihat oleh mata kadang hanya permukaan. Sisanya, mungkin saja mata tidak dapat mengjangkau yang lebih inti”

Kenapa? Kan fungsinya mata itu untuk melihat.” Tegas barista.

Iya, saya tidak bertentangan dengan itu. Apa yang dilihat mata kadang menjadi penentu kesimpulan atas sesuatu yang mata lihat”

Saya tidak mengerti maksudmu”

Begini, saya punya pendapat. Tapi sebelum itu, saya ingin memastikan bahwa saya hanya lelaki biasa. Kamu harus ingat itu” Ungkap lelaki itu diikuti dengan senyum tipis.

Baca juga:  Romansa Sang Demonstran

Iya, saya mengerti lelaki biasa”

Serentak keduanya tertawa-tawa terpingkal dan luruh pada obrolan yang keduanya tidak tau sedang membahas apa. Seterusnya mereka rutin mengobrolkan apa saja, tentang hal remeh-temeh, hingga sinyal ketertarikan perlahan menyambangi inti hati barista. “Maaf, saya boleh minta nomor whatsappnya?” Ucap barista pada lelaki itu dalam satu waktu.

Mohon maaf, saya tidak memiliki whatsapp. Tapi saya punya handphone” Seketika lelaki itu mengangkap telepon genggam yang baru saja ia ambil dari tasnya.

Baristapun heran dibuatnya. Di Abad 21 ini, kok masih ada orang yang hanya menggunakan telepon genggam keluaran jaman dulu dan tidak berkamera itu.

Sekali lagi, lelaki itupun tertawa melihat ekspresi barista yang tampak heran dengan dirinya.

Maaf. Saya tidak menggunakan smartphone. Handphone ini hadiah, dihadiahi langsung oleh diri saya sendiri pada saat berusia 20 tahun” Tegas lelaki itu.

Hadiah ulang tahun? Tapi kok Aneh.” Barista pun kembali bingung.

Maksud saya. Tak apakan memberi hadiah untuk diri sendiri?” Ia kembali tersenyum.

Yah tak masalah. Aneh saja.” Jawab barista bingung.

Jangan anggap itu aneh dong. Biar semuanya mudah” Pintanya.

Kalau begitu nomor handphonenya saja. Bolehkan?” Tanya barista memastikan.

Tolong, saya bisa dibuatkan kopi hitam lagi?” Potong lelaki itu.

Barista kemudian berdiri. Bergerak menuju dapur. Lelaki itupun merogoh saku celana jeans lusuhnya, meraih uang lima ribuan lalu mengambil polpen di sisi kirinya. Iapun menuliskan angka yang Ia mulai dari angka nol dan menutup tulisannya dengan keterangan nama.

Suara bising mesin grinder riuh memenuhi ruang kafe. Biji kopi dikoyak pisau-pisau mesin menjadi bubuk. Tidak berselang lama, mesin espresso mengesktra bubuk kopi dan menetaskan sari kopi memenuhi gelas yang sebelumnya diberi gula. Beberapa menit berlalu, barista kembali dengan wajah masam. Meletakkan gelas kopi yang Ia raih dari nampang. Setelahnya, Ia kembali ke mejanya. Menuliskan sesuatu. Cukup lama Ia tidak kembali. Lelaki itu memutuskan untuk bangkit dari kursi yang sejak sore Ia duduki. Kopi yang baru saja Ia pesan, seketika Ia tuang ke tenggorokan tanpa jedah. Ia meraih uang di saku dan mengikutkan uang lima ribuan yang sebelumnya Ia beri tulisan. Ia meraih tas, meletakkannya di punggung. Uang lima ribuan ditambah nominal bayaran atas 4 gelas kopi yang hari ini Ia pesan ikut Ia letakkan persis di bawah gelas kopi. Seketika Iapun pergi dan tak pernah sempat memberi pamit bagi barista.

Deru suara knalpot motor butut bermerk Honda seketika menyeruak di lubang telinga Barista. Barista tersebut berdiri untuk memastikan. Hari ini gagal lagi“. Ia pun berdiri dari duduknya. Kembali pada meja yang baru saja ditinggalkan oleh lelaki berambut ikal itu. Ia meraih uang yang terselip di bawah gelas. Tanpa menimbang nominal uang, barista itu memasukkan uangnya ke bilik saku celana yang Ia kenakan. Membereskan meja. Dasar lelaki sok misterius” Ketusnya. Ia meraih gelas demi gelas. Menaruhnya di nampang, bergegas membawanya ke westafel lalu mencucinya. Malam yang larut, diisi nyamuk dan rintik air hujan yang memenuhi rongga telinga barista. Sebelum tidur, Ia berdoa tak ingin dipertemukan lagi dengan lelaki itu. “Amin” Tutupnya.

Baca juga:  Romansa Sang Demonstran

*****

 Cahaya mentari menyeruak masuk ke jendela kafe. Dering alarm yang diaturnya sejak semalam untuk membangunkannya pukul lima, ikut terpulas dan melupakan tugasnya. Kampret, pantas tidak bunyi. Handphoneku lowbet” Ia memaki. Tanpa fikir panjang Ia mengambil handuk dan bergegas masuk ke kamar mandi. Suara bulir air yang menetes dari kerang memenuhi bak penampungan. Barista itu membasuh sekujur tubuhnya dengan dinginnya air. Sudah 3 judul lagu yang Ia dendangkan di kamar mandi. Tak lama berselang, Ia handukan, lalu bergegas keluar dari kamar mandi.

Denting jarum jam dinding memelas di rongga telinga barista. Sudah pukul kurang dari 15 menit jam sepuluh pagi. Dua cicak di dinding kafe tampak berkejaran meraih nyamuk yang baru saja akan tidur. Bunyi kantong pewangi yang menggantung di kipas angin, tampak pasrah di terpah angin yang diatur barista pada angka tiga. Ia masih sibuk mendandani diri dengan serba-serbi make up ala perempuan masa kini. Ia pun berbincang dengan sosok perempuan yang Ia lihat di cermin. Serentak rapalan lirik “Kau cantik hari ini, dan aku suka” Diikuti nada improvisasi ala barista, luruh dari bibir yang baru akan Ia warnai dengan lipstik.

Tak berselang lama, Ia menyalakan smartphonenya. Ia pun terus saja menyanyikan lagu apa saja. Dengan potongan lagu yang liriknya tak pernah utuh. Tak memikirkan apa suara pas atau tidak. Ia menyanyi dengan gelagak bak penyanyi multitalent. Semua genre Ia nyanyikan tanpa menghiraukan kecoak yang sejak tadi mengamatinya di balik daun pintu. Ia pun mengenakan jilbab merah hati yang Ia padukan dengan kaos putih belang hitam yang menurutnya akan pas dengan wajahnya yang sedikit tirus. Setelahnya, Ia mematikan lampu lalu berbaring kembali di pukul 10 pagi itu. Ia menggapai smartphone mengecek notifikasi yang baru saja masuk dengan nada panggilan seluler yang sengaja Ia tak angkat. “Astaga” Serentak nyamuk yang cukup bising berusaha hinggap di telinganya berlarian mendengar suara barista.

Ia berdiri, bergegas menyalakan lampu. Setelahnya, Ia kembali duduk di spring bed. Kembali dua pasang matanya fokus pada smartphone yang Ia genggam. Betul. Ini si lelaki misterius” Rapalnya dalam hati. Ia berusaha memastikan, gambar dan video kecelakaan yang baru saja didapatkan dari salah satu grup whatsappnya. Bukan ini maksudnya saya Tuhan.” Timpalnya. Tanpa sadar sepasang matanya meneteskan air yang tak mampu lagi Ia bendung. “Iya. Lelaki itu meninggal semalam. Meninggal di tempat. Tidak jauh dari tempat kerjamu” Balas salah seorang kawan barista yang mengirimkan video dan gambar. “Pria itu, namanya Alarta” Tutup pesan itu.***

Komentar Pembaca CaraBaca

BUKU TERBITAN CARABACA.ID

Melawan Rezim Infrastruktur - Studi Ekonomi Politik

Sebagai cara untuk tetap waras dan terus melanggengkan perlawanan terhadap segala bentuk ketidakadilan, CaraBaca terus memproduksi wacana alternatif  dengan menulis, membaca, diskusi, dan mengorganisir akar rumput.
BELI PRDOUK KAMI SEBAGAI DUKUNGAN
close-link
0%