Keluh Kesah Dibalik Masker dan Jarak Aman

Oleh Taufiq Saifudin

Lukisan karya Jumaadi. Numpak kebo. Gouache on paper 2020
I ni bukan cerpen! Cerita seperti ini, mungkin tak pantas diceritakan. Namun, ini kisah nyata. Kronik yang bisa jadi menggambarkan kebenaran di dalamnya. Tak seperti kebanyakan, cerita ini bukan dari masa lampau. Kejadiannya baru saja. Jaraknya selemparan batu orang dewasa dari tempat tinggalku.

Seorang ibu paruh baya. Memimpin sebuah RT. Di dalamnya, ada sekitaran 40 KK. Siang tadi, saat hendak membeli rokok, ia bekeluh kesah. Disusunnya jari sepuluh, lalu memulai perbincangan. “Mas, ada kenalan orang petinggi nggak?, kita masih kekurangan (sembako) nih!,” tanyanya dari mulut yang tertutup masker kain.

Kita tak bisa hanya menulis ‘kekurangan’, ya kita harus merasakannya untuk bisa mengerti. Saya hanya terdiam. Lalu tersenyum. Kenal pentinggi belum tentu bisa kasih solusi. Ibu RT tak butuh narasi. Meski mengajak berdiskusi, ia lebih butuh nasi untuk bisa dibagi.

Berbagai kabar berseliweran. Mengisi gawai dan papan pengumuman. Isinya soal bantuan. Tetap saja, ibu itu tidak kebagian. Agar bisa beri masukan, saya lalu ingin berbagi info dengan sang Ibu RT. “Sudah baca berita bantuan logistik PSBB (Pemprov DKI Jakarta)?,” tanyaku. Belum lagi Ibu RT menjawab, tiba-tiba seorang pria muda yang sedari tadi menguping memotong pembicaraan. “Iya. Sudah. Itu tuh kayak ngebiarin penulisnya ngisi kepala kita yang lowong dengan omong kosong,” selorohnya.

Baca juga:  Cara Orang Miskin Menularkan Virus Corona

Lelaki itu seolah mempertegas bahwa membaca berita tak hanya sekadar membuktikan kemampuan membaca saja. Ia mengerti, kondisi tengah genting. Bukan dari bacaan melainkan pengamatan. Sang ibu tampak membenarkan, “iya betul, baca berita itu hanya nambah-nambah informasi yang udah kita tau,”. Belum lagi saya bicara, Ibu RT melanjutkan, “asal lo tau ya mas, tiap kali gue baca berita, kayaknya si penulis mencuri bagian kepalaku yang belum kutuliskan,”.

Sebab itulah tulisan ini lahir. Saya hendak melakukan hal yang sama pada orang lain. Ukurannya bukan seberapa besar gelak tawa atau isak tangis yang dihasilkan. Karena, tak ada yang bisa menghentikan ayam berkokok saat pagi tiba. Ya, matahari telah terbit. Wabah ini telah merajalela. Sejak awal tahun, hingg bulan suci lewat, pandemi belum juga undur diri.

Kami duduk terpisahkan jarak semeteran di sebuah taman. Di tengah keheningan ibu kota. Menoleh entah tuju arah kemana. Tak lama berselang, muncul seorang bapak berkemeja rapi menghampiri. Melihat sosok itu, Ibu RT menunjukkan wajah was-was. Seolah pria itu tidak diinginkannya. Sesorang yang berperangai baik nan bijak diawal bulan, namun garang juga sangar di akhir bulan. Selang sekian detik sang ibu tertegun.

“Lah bu, kenapa bola matanya keatas? Gua depan lo nih,” kata bapak itu. “Oh maaf pak, saya teringat pacar saya, eh pacar, pacar. Apa, bapak bilang apa barusan?,” jawab Ibu RT. “Halah, mana uang cicilannya?,” sambung bapak itu dengan mata melotot dan bibir yang basah dengan liur. “Besok deh saya antar,” Ibu RT menimpali. “Oke, (sambil menunjuk kalung emas di leher sang ibu), kalau nggak itu saya ambil,” hardik bapak itu lalu bergegas pergi.

Baca juga:  Dua Kilometer dari Timur Benteng Sanrobone

Di tengah kekurangan. Sang ibu masih menyisahkan cicilian. Ia terancam kehilangan kalung kesayangan. Semuanya memang memiliki ukuran dan takaran. Jangan pernah memberi atau menerima sesuatu yang tak dapat diukur. Itu hanya akan melahirkan senyum pada pipi kanan. Mesem orang katakan. Senyum sesungguhnya adalah tegaknya pipi kanan dan pipi kiri serta munculnya gigi sebagai simbol kebahagiaan.

Wahai pembaca yang budimian. Mari kita mendoakan. Semoga esok hari, senyum yang demikian itu, muncul pada raut Ibu RT bila cicilannya terbayarkan. Hal terakhir yang Anda dengar dari kekurangan adalah hal pertama yang saya dengar dari ibu ini. Ia sedang kalah dari realitanya sendiri, mencari kepastian dalam diam.

Perut kami tiba-tiba berbunyi, memberikan kode pada usus yang memang sudah harus diisi. Namun, cerita ini belumlah usai. Kita lanjutkan sedikit lagi. Hihihihi.

Baca juga:  Bagaimana Tiongkok Mempercepat Ekosida di Indonesia

Saya menyaksikan serangkaian garis hijau bermunculan ditangannya. Menunjukkan kemarahan entah pada siapa. Mungkin dia sendiri dan kesepian, dimakan gelap tunduk pada terang. Namun jiwanya benderang, pikirannya tajam hendak terus berikhtiar. Tak lama setelahnya, ia sodorkan senyum bahagia itu. Ternyata tak perlu menunggu hari berganti.

Di titik inilah kita butuh solidaritas. Sebagai orang waras, tak perlu saling merampas. Tak satupun dari manusia yang ingin percaya setan. Walau kadang perilaku melebihi setan. Rasa kemanusiaan adalah upaya untuk saling mengerti, karena pendosa sekalipun tetap butuh perlindungan. Kita kekurangan, maka mari ulurkan tangan.

Wabah, masih ada diamana-mana. Tapi yakinlah, terdapat pula kebaikan yang mungkin tak terjama. Kita tidak boleh memilih untuk membiarkan kebaikan itu berlalu. Bersama waktu yang terus dada-dada. Situasi demikian ini, kita harus sama-sama menjamin, bahwa selalu ada untuk makan, untuk perlindungan dan hidup lebih baik.

Seperti pertemuan angin dan dedaun. Mungkin, kita semua pernah mendengar lantunannya. Seperti itulah bunyi yang menghadap ke telingaku pagi tadi. Gemercik, penuh dengan ungkapan kerinduan sebelum kemudian dedaun menjadi coklat dan rontok. Membiarkan angin menyapa dedaun lain, bahkan dengan pohon yang berbeda. Setelah dedaun menjadi coklat dan rontok pun angin tetap menyapanya. Maka, berbuatlah seperti angin. Sekian.[]

Komentar Pembaca CaraBaca

BUKU TERBITAN CARABACA.ID

Melawan Rezim Infrastruktur - Studi Ekonomi Politik

Sebagai cara untuk tetap waras dan terus melanggengkan perlawanan terhadap segala bentuk ketidakadilan, CaraBaca terus memproduksi wacana alternatif  dengan menulis, membaca, diskusi, dan mengorganisir akar rumput.
BELI PRDOUK KAMI SEBAGAI DUKUNGAN
close-link
0%