Jejak Kyai Yazid di Kampung Inggris Pare

Oleh: Muhammad Ridha

 

Sonia Delaunay-Terk, “Solar Prism,” 1914
Sonia Delaunay-Terk, “Solar Prism,” 1914

 

 

Banyak orang mengenal kampung Inggris Pare, Kediri. Hingga saat ini mungkin telah jutaan orang yang pernah belajar di kursusan-kursusan sederhana di desa Tulung Rejo atau Desa Pelem, Kecamatan Pare, Kediri. Tapi mungkin legendanya hanya berhenti pada Mister Kalend, seorang santri pesantren Gontor yang kehabisan ongkos lalu akhirnya nyantri di Pare kepada seorang Kyai poliglot. Kecerdasan bahasa dan transformasinya ke murid-murid bermula dari beliau.

Namanya Kyai Ahmad Yazid Ibnu Tohir atau dikenal oleh masyarakat di sekitar Kampung Inggris Yai Yazid. Demikian pak Sulaeman, seorang pekerja bangunan yang sedang membangun gedung tambahan untuk taman kanakkanak di pelataran Masjid Baiturrohman, kampung Tegal Sari, Tulung Rejo saat penulis datang menanyakan di mana makam beliau.

Pak Sulaeman berumur 63 tahun. Punya dua orang putera yang semuanya sudah berkeluarga. Seorang tinggal bersamanya di rumahnya, sedikit ke barat dari masjid Baiturrohman. Seorang lagi menikah dan bekerja di Semarang, Jawa Tengah. Dari beliau saya mengetahui begitu dalam Kyai Yazid dikenang oleh masyarakat. Beliau menyampaikan: “Kyai Yazid itu berjasa besar. Banyak lahan dan peninggalannya sekarang diwakafkan untuk masyarakat. Semua anaknya telah sukses dan bekerja. Ada yang menjadi dosen di Jogja. Ada yang menjadi ulama. Tapi semua tidak di Pare lagi dan sepakat mewakafkan semua peninggalan kyai Yazid”.

Baca juga:  Menempatkan (Kembali) Islam

Saat saya tiba di Pare 22 November 2020 untuk menjemput anak saya yang belajar bahasa inggris di satu lembaga kursus cabang dari Basic English Course (BEC), milik Mr. Kalend, Happy English Course (HEC). Sore hari tanggal 23 November telah berangkat menuju Bandara Juanda Surabaya mengantar sepupu yang hendak pulang lebih dulu. Tapi sebelum meninggalkan Pare, saya bersepeda pagi-pagi menemui beberapa orang untuk mengetahui sedikit informasi soal Kyai Yazid.

Pertama saya menemui pak Mujito bersama istrinya di Pelem. Beliau bekerja sebagai penjual makanan jadi di kedai kecil depan rumahnya di Jl. Glagah sembari menyewakan beberapa buah sepeda. Saat kami tanyakan nama kyai Yazid beliau langsung ingat. “Oh yai Yazid. Beliau rumahnya di Jl. Ayelir. Tapi makamnya di barat masjid Baiturrohman. Mr. Kalend dulu belajar bahasa Inggris sama beliau” katanya. Mr. Kalend adalah tokoh yang pertama kali mendirikan lembaga kursus di Pare hingga kemudian membesar menjadi kampung Inggris dengan lebih dari 200 lembaga kursus saat ini. Berbekal informasi awal pak Mujito dan Istrinyalah saya meluncur mencari rumah Kyai Yazid di jalan Anyelir. Dan ketemu. Sebuah rumah tua dengan halaman luas, bersebelahan dengan madrasah dan taman kanak-kanak milik pesantren Darul Falah, yang diasuh oleh kyai Yazid. Di halaman rumah ini terdapat Plang bertulis ‘Yayasan Ahmad Yazid Centre’. Rumah ini berderet dengan sekolah dan masjid darul falah milik Kyai Yazid. Saat kami datang bermaksud wawancara dan mengunjungi perpustakaan di bangunan baru depan badan rumah lama. Sayangnya, seorang santri yang tinggal di kamar di bagian samping rumah lama itu menyampaikan kalau perpustakaannya sudah tutup dan tak ada lagi buku-buku.

Baca juga:  Yang dikirim Islam ke Barat: Kertas dan Ilmu Pengetahuan

Karena tak bisa melihat perpustakaannya, saya melanjutkan perjalanan bersepeda bersama Jose, putera saya, ke arah utara lalu membelok ke barat menuju masjid Baiturrohman. Di sana saya bertemu dengan Pak Sulaeman dan beberapa pekerja. Salah satu pekerja pak Sulaeman menunjukkan saya makam Kyai Yazid di barat masjid baiturrohman. Sebuah makam dengan nisan tak bertulis. Sangat sederhana. Hanya dikelilingi batu yang telah ditumbuhi lumut. Di bagian kaki dan kepala makam ditanaman pohon melati. Makam ini diteduhi oleh masjid di utaranya dan beberapa pohon kemboja yang tumbuh di kompleks makam tersebut. Makam ini berada di Jl. Kemboja.

Setelah memotret beberapa kali dari sudut berbeda makam kyai Yazid, membacakan Fatihah dan pamit kepada Pak Sulaeman, saya mengingat kalimat pak Sulaeman baru saja saat wawancara: “Yai Yazid gak pake peda motor (sepeda motor). Dia hanya pakai sepeda biasa kemana-mana.” Sebuah potret kesederhaan kyai kampung yang jasanya melintas waktu. Dia seorang ahli fiqh, juga ahli 9 bahasa dunia, dia ahli agama yang mengajari dengan ilmu dan tindakan-tindakannya. Masalah-masalah keagamaan yang butuh solusi di desa akan dihadapkan ke beliau. Dan segera akan ketemu solusi fiqhiahnya.

Baca juga:  Islam Kita

Kyai sederhana yang tak pernah merasa mempengaruhi ilmu apapun tapi terus diakui orang lain sebagai orang yang telah merevolusionerkan pembelajaran bahasa dan mentransformasikan sebuah desa, yang dulu disinggahi Clifford Geertz bersama keluarga dan timnya dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), menjadi desa yang mengajarkan bahasa asing kepada mereka yang ingin mempelajarinya. Dengan mudah dan murah di kampung itu. Banyak di antara kita mengaku telah mempengaruhi ilmu pengetahuan, seringkali dengan nada sombong, padahal tak berkontribusi apa-apa.

Banyak hal dari kita yang tersingkap dari belajar kisah kyai Yazid. Artikel ini mungkin tak cukup. Tak dalam tapi sungguh ditulis dengan tulus untuk memberi cerita tentang seorang yang hidup melampaui harta benda yang orang lain elu-elukan. Saya tertunduk malu. Pada diri saya sendiri.

Komentar Pembaca CaraBaca

BUKU TERBITAN CARABACA.ID

Melawan Rezim Infrastruktur - Studi Ekonomi Politik

Sebagai cara untuk tetap waras dan terus melanggengkan perlawanan terhadap segala bentuk ketidakadilan, CaraBaca terus memproduksi wacana alternatif  dengan menulis, membaca, diskusi, dan mengorganisir akar rumput.
BELI PRDOUK KAMI SEBAGAI DUKUNGAN
close-link
0%