Islam Kita

 

Oleh: Muhammad Ridha

 

gambar: Jon Koetjloek rabi Nanas. (2021)
Apa boleh buat: beginilah sebagian ekspresi umat Islam atas realitas kehidupan yang tak hanya keras, tapi juga pelik taka lang kepalang. Penuh dilema dan paradoks: bertahan hidup lama hampir sama artinya dengan mempertahankan hidup yang hina, miskin, tak berdaya, tak pandai dan kalah. Memilih mengakhiri hidup, dan berharap kompensasi ‘suatu hidup setelah mati’ yang penuh martabat, terhormat, berkuasa dan menang, mungkin adalah satu harapan yang masuk akal. Mungkin juga didambakan oleh sebagian orang. Meski cenderung sebagai ilusi daripada kebenaran.

Karenanya, setelah sebuah bom meledak di depan sebuah gereja tua di kota Makassar, dibawa oleh sepasang suami istri, seorang dengan busana bak anggota dari sebuah milisi yang diinspirasi oleh Wahabi di Afganistan dan Pakistan yang dipimpin Osama bin Laden dengan kopiah, serban tipis khas arab juga dengan jaket musim dingin berwarna coklat. Perempuan yang diboncengnya menggunakan burqah (cadar) berwarna gelap. Suatu ekspresi ideologis (juga fashion) atas doktrin keberagamaan sebagian muslimah. Secara lebih umum, digunakan di Arab Saudi, sejumlah negara Arab hingga sebagian Afganistan dan Pakistan. Mereka berdua, di pagi yang akan segera berganti siang, saat hari suci Minggu palma bagi umat Kristiani dan sebentar lagi malam nishfu sya’ban waktu separuh bulan menuju bulan suci Ramadhan.

Mengapa sepasang suami-istri ini meledakkan dirinya dengan bom yang dibawanya di motor, berboncengan, hendak memasuki sebuah gereja tapi dicegat dan kemudian diledakkan di hadapan gereja? Jika saja masuk ke dalam gereja, mungkin ada banyak jemaat gereja yang jadi korban ledakan. Tapi karena di gerbang, tak begitu ramai, ledakannya membunuh mereka berdua. Yang lain merasakan luka-luka. Masyarakat yang lain lagi merasa terancam dan tak tenang. Bagaimana memahami peristiwa kekerasan semacam ini? Yang silih berganti mendera umat Islam di negeri-negeri berpenduduk muslim?

Baca juga:  Joserizal Jurnalis

Pembacaan Para Ilmuwan Muslim

Seorang intelektual Islam asal Turki yang mengajar di Sandiego University, Ahmed T Kuru dalam bukunya yang baru saja rilis Islam, Otoritarianisme dan Ketertinggalan Perbandingan Lintas Zaman dan Kawasan Dunia Muslim (2020) memberikan kita refleksi yang amat menarik mengenai bagaimana memahami begitu dominannya ekspresi kekerasan dua dekade terakhir diisi oleh kekerasan di negara berpenduduk mayoritas Muslim. Bentuk kekerasannya bisa berupa perang, kekerasan sipil, terorisme atau yang lain. Dan ini bagi Kuru dilihat sebagai kekalahan dan ketertinggalan umat Islam, Islam kita. Salah satu sebabnya adalah, yang dilihat dimulai sejak abad ke 12 hingga 14 bibit-bibitnya, menguatnya perkawinan antara negara dan ulama yang menyingkirkan para usahawan dan pemikir bebas (2020;409). Pemikiran semacam ini diusulkan dan manifes dalam imajinasi membentuk suatu negara khilafah. Pemikir utamanya pada awalnya seperti Mawardi, Al-Gazali kemudian Ibnu Taimiyah. Lalu secara lebih eksesif oleh Ahmad Ibnu Wahab yang berkongsi dengan dinasti Saud dan membentuk Arab Saudi. Negara ini kemudian menjadi penyokong utama Gerakan salafi-wahabi di seluruh dunia.

Salafisme yang memimpikan hidup paling ideal dan indah itu di masa Nabi dan sahabatnya memimpin. Setelah itu tak ada Islam yang benar. Kekuasaan telah dinegosiasikan, kehidupan sosial telah semakin dekaden, semakin menjauh dari cita-cita luhur islam dan karena itu harus dikembalikan. Sebagian besar bayangan ideal kehiduapn sebenarnya ilusif. Tidak memahami alur hidup dalam sejarah yang kompleks dan ujug-ujug mau menarik masyarakat kembali ke kehidupan lama. Referensinya? Kembali ke Al-Qur’an dan Hadis. Jargonnya terlihat retoris dan religius, meski tampak dangkal dan tak memahami misi syariah, ilmu fiqh, ilmu-al-Qur’an dan tradisi di dalam keilmuan-keilmuan tersebut.

Buku Ahmed T Kuru menunjukkan suatu alur yang menarik, seperti bolak-balik ruang dan waktunya. Dia menulis dalam tiga bagian awal mengenai kegagalan dan ketertinggalan umat Islam. Lalu balik ke masa lalu saat era klasik. Lalu berujung Kembali pada kemunduran yang menjadi cikal bakal ekspresi kekerasan, kekalahan, terorisme di dunia Islam.

Baca juga:  Sultan Alauddin, Mare Liberum dan Kisah Sepucuk Surat

Sebelum Kuru ada sejumlah ilmuwan yang meneliti perkembangan dunia Islam, yang pernah menjadi puncak-puncak peradaban dunia, hingga kondisi Islam dewasa ini yang terpuruk dan ambyar. Salah satu yang menjadi bacaan amat luas di Eropa, Amerika dan dunia islam adalah karya menarik Tamim Ansary, sejarawan asal Afganistan yang kini berkarir di Amerika, berjudul Dari Puncak Bagdad Sejarah Dunia Versi Islam (2015) juga yang lebih dulu dari Tamim, Ziauddin Zardar (2003) dalam Kembali ke Masa Depan Syariat Sebagai Metodologi Pemecahan Masalah. Dalam kedua buku ini, kita mengenang (tidak hanya secara romantik) dunia islam yang dahulu begitu maju dan gilang gemilang yang secara akademik, arsitektural, keteknikan, alkemi masih kita rasakan saat ini sebagai kisah klasik tapi juga sebuah proyeksi bagaimana sebaiknya Islam ditempatkan.

Tamim dan Sardar sama-sama melihat bahwa kemuncuran dunia Islam, sebagaimana juga Kuru, disebabkan salah satunya oleh kemunduran berpikir dan menonjolnya dogmatisme. Jika Tamim merentangkan sejarah yang panjang bagaimana model keberislaman klasik yang maju berganti secara perlahan oleh dogmatisme yang gejalanya mulai menonjol ketika tokoh seperti Al-Gazali, Ibn Taimiyah dan menguatnya Ahmad Ibn Wahab belakangan. Sardar mengurai secara tematik kegemilangan dunia Islam masa lalu, problematika dogmatisme yang meletakkan syariat bukan sebagai metode pemecahan masalah luas tapi sebagai doktrin yang tertutup yang beku. Jika ingin islam kita, di masa depan kembali meraih kegemilangannya adalah harus Kembali berfikir secara bebas, mematuhi kaidah-kaidah akademik, belajar secara tekun, menumbuhkan Kembali tradisi literasi dan tak anti sains serta tak menutup mata bahwa dunia islam kita kini mengalami suatu kemunduran. Sebab-sebabnya baik secara akademis, sosial-politik maupun ekonomi tentu saja harus dipikirkan. Lalu Tindakan apa yang harus dicangkokkan ke dalam kesadaran umat muslim agar kita tidak saja menikmati residu dari dunia modern, cenderung menjauhinya, terkucil dan ketakutan menghadapinya.

Baca juga:  Jejak Kyai Yazid di Kampung Inggris Pare

Salah satu yang menonjol dari ketiga ilmuwan muslim di atas adalah usulan mendorong kembali kebebasan berfikir, mendorong tradisi literasi yang dulu pernah ditunjukkan dengan amat menawan, berjuang untuk kemandirian ekonomi umat dan menempatkan kembali syariat sebagai korpus terbuka untuk tafsir baru yang lebih emansipatif daripada menempatkannya sebagai dogma tertutup. Dengan begitu, umat islam bisa menjadi lebih terbuka, lebih bisa menerima dengan sabar (tapi tidak pasif) kenyataan empiris, bukan meledakkan diri di tengah-tengah realitas manusia yang, dalam sejarah dunia Islam, selalu dilindungi.

Literasi

Dalam hal kebebasan berfikir, tradisi literasi dan citra akademis, dunia Islam saya kira menunjukkan bukti-bukti historis yang amat sulit diabaikan sebagai realitas yang juga ikut berkontribusi membentuk sejarah kita kini, meski kini sedang terpuruk. Dalam hal literasi, tak ada kebudayaan yang melebihi kota-kota utama Islam di masa klasik. Di abad ke-9, sebuah kota di pinggir Bagdad, memiliki puluhan toko buku dan perpustakaan. Jika kita mengingat Andalusia, kita akan ingat, bahwa lebih dari 70 perpustakaan telah berdiri sejak abad ke-9 lalu kemudian mendirikan Universitas Cordova sebagai prototipe dari kampus-kampus modern seperti saat ini. Akan halnya di Isfahan dan Cairo. Di sanalah kehidupan akademik pertama-tama lahir dari universitas Nizamiyah dan Al-Azhar. Sebuah puncak kebudayaan yang menawan, yang secara luhur mengamalkan, perintah pertama al-Qur’an, jika bukan yang utama: Iqra’. Bacalah. Dengan Kembali membaca, kita tak perlu minder dan mengatakan yang melakukan peledakan itu adalah umat Islam, tapi mengakuinya lalu memperbaiki: menumbuhkan Kembali Islam kita yang layu.

 

Penulis, Adalah dosen Fakultas Ushuluddin, Filsafat dan Politik UIN Alauddin Makassar. Sedang menyelesaikan sebuah buku sejarah kritis kebudayaan Islam.

Komentar Pembaca CaraBaca
BUKU TERBITAN CARABACA.ID

Melawan Rezim Infrastruktur - Studi Ekonomi Politik

Sebagai cara untuk tetap waras dan terus melanggengkan perlawanan terhadap segala bentuk ketidakadilan, CaraBaca terus memproduksi wacana alternatif  dengan menulis, membaca, diskusi, dan mengorganisir akar rumput.
BELI PRDOUK KAMI SEBAGAI DUKUNGAN
close-link
0%