Dua Kilometer dari Timur Benteng Sanrobone

Kisah Sejarah dari Ayah

Oleh Muhammad Ridha

Ada yang tidak terekam dengan jelas dalam sejarah perang Mengkasar. Masyarakat luas tidak banyak tahu. Tapi di sini, di desa Banyuanyara ada tokoh yang begitu dikenang. Lebih dari Sultan Hasanuddin, Karaeng Galesong ataupun Karaeng Sanrobone. Sonrong Daeng Malapang, namanya.

Lukisan “Untitle” karya Ugo-Untoro
Di sebelah selatan, kurang lebih 9 KM dari Pari’risi’, ibukota Kabupaten Takalar, tempat desa ini. Desa ini dulunya satu nama bernama Laguruda, sekarang ini mekar menjadi 2 desa, yang satu tetap bernama Laguruda dan pecahannya bernama desa Banyuanyara. Di desa kedua inilah terletak Bungungbarania yang dipakai oleh laskar Gowa dahulu pada saat akan ke medan perang. Kedua desa ini tergabung ke dalam kecamatan Mappakasunggu, Kabupaten Takalar.

Menurut data Tahun 2005, Desa Banyuanyara kini berpenduduk sekitar 2.197 jiwa. Terdiri atas 978 orang laki-laki dan sekitar 1219 orang wanita. Luas Desa ini kurang – lebih 9700 meter persegi. Dengan topografi dikelilingi tambak-tambak dan bersebelahan dengan sungai besar yang dahulu dipakai untuk pelayaran, baik untuk pelayaran kerajaan maupun untuk perdagangan masyarakat hingga sekitar 1970-an, menurut pengakuan salah seorang yang tinggal disana hingga tahun 70-an pertengahan, bernama sungai Sanrobone. Tambak-tambak ini membuat angin yang bertiup sepoi-sepoi beraroma sedikit amis khas aroma tambak. Mungkin mirip aroma pinggir laut yang agak mengganggu penciuman bagi yang tidak biasa berada di sekitar tambak. Inilah pemandangan dua desa di sekitar 2 KM ke timur Benteng Sanrobone, salah satu dari sekitar 10 benteng yang dibangun kerajaan Gowa-Tallo (selanjutnya lebih dikenal dengan sebutan Makassar) pada sekitar tahun 1660-an M untuk mempersiapkan pertahanan kerajaan dari serangan Belanda.

Di tempat ini, sekitar 2 KM dari Timur Sanrabone ada tokoh sejarah yang tidak sepopuler Karaeng Sanrobone, Karaeng Popo, Karaeng Bisei atau Karaeng Galesong tetapi sampai saat ini namanya masih diketahui oleh masyarakat sekitar desa Banyuanyara sebagai pahlawan dan tubaranina Gowa pada saat kejadian bersejarah bagi perjalanan Gowa kemudian terjadi: perang Mengkasar! Perang ini menjadi determinan paling utama kemunduran kerajaan maritim Gowa-Tallo yang digambarkan Leonard Y Andaya dalam Warisan Aru Palakka sebagai kerajaan yang sangat disegani hingga ‘tak satupun kerajaan di Indonesia Timur yang percaya VOC berani menantang kekuasaan Goa’ (2004;2). Bahkan ditambahkan Andaya menggambarkan kekuasaan Goa pada masa kekuasaan Sultan Hasanuddin dengan ‘sebatas cakrawala, kelihatannya tidak ada yang dapat mengancam kekuatan Goa sebagai pemimpin kekuasaan politik dan ekonomi di bagian timur Nusantara’ (2004;57). Tapi dalam waktu yang begitu cepat, kerajaan yang juga melahirkan Matoayya dan Pattingngaloang yang oleh Anthony Reid dalam salah satu tulisan membahas bangsawan kerajaan Makassar yang amat dia segani ini dan memberi judul pada tulisannya Keluarga Agung Indonesia Abad Ke-17 Matoayya Dan Pattingngaloang Dari Makassar (Lih. Sejarah Modern Awal Asia Tenggara; LP3ES, 2004), setelah melewati perang sekitar 3 tahun akhirnya kejayaan itu tanggal kekuasaannya sedikit demi sedikit. Dan cerita tentang mempertahankan kejayaan Goa inilah yang ingin saya kisahkan pada tulisan ini. Kejadian perang Mengkasar yang menyisakan banyak nama yang kemudian dikenang oleh kedua belak pihak, yang kalah atau yang menang..

Baca juga:  Setelah Menonton "Bumi Manusia"

Dalam Naskah terjemahan Riwaya’na Kappala Talumbatua yang disusun oleh Abbas Daeng Matu’ Karaeng Daeng (Lih. Aru Palakka dan Riwaya’na Kappala Tallumbatua; 1996), yang saya baca kemudian, menyebut beberapa nama karaeng yang kemudian ikut mengusir pasukan Belanda dan menenggelamkan kappalatallumbatua serta menghadapi kapalla tujubatua di depan selat Makassar. Di antaranya Karaeng Sanrabone, Karaeng Banyuwara, Karaeng Galesong, Karaeng Tallo, Jangang Bulenna Mangngasa, Bari’na Bonto Biraeng, Bari’ Ejana Popo dan beberapa Gallarang , Bate Salapang serta Bate Anakkaraeng.

***

Ada kebiasaan saya yang sering ingin tahu sejarah dan selalu mendesak ayah saya untuk menuntaskan jawabannya tentang banyak hal yang saya tanyakan, utamanya sejarah nenek saya dan Kerajaan Goa yang begitu tersohor dalam buku sejarah sebagai kerajaan maritim besar di Nusantara. Dari sini, saya membaca diri saya kemudian sebagai seorang yang punya minat sejarah yang cukup menggebu.

Di sela-sela makan saya selalu bertanya kepada ayah saya sekaligus berkomentar tentang banyak hal. Tentang politik, ekonomi kebangsaan yang kian terpuruk, tentang korupsi, dan mungkin yang paling sering, tentang sejarah.

Tentang yang terakhir ini suatu kali saya diceritakan oleh ayah saya tentang Sonrong Daeng Malapang, cicitnya ayah saya atau mungkin lebih ke atas lagi, dari pertanyaan saya mengenai nenek dan asal usul keturunannya. Dari sini dia bercerita panjang sampai ke sekitar 340 tahun lalu dalam perang Mengkasar yang biasa ia sendiri diceritakan oleh nenek, dan belakangan orang tuanya sendiri, nenek saya.

Ceritanya begini. “Orang tua kita itu batesalapang. Dia yang punya kalompoang di Bungungbarania, dua buah pedang. Yang satu masih utuh sepanjang kira-kira 70-80 CM dan yang satu buntung panjangnya sekitar 40 CM. Kebuntungan pedang ini dikarenakan oleh kerasnya tiang kapal yang diserang pada saat perang Mengkasar. Salah satu yang ikut menyerang kapalatallumbatuna Balandayya adalah Sonrong Daeng Malapang dengan menggunakan dua pedang itu. Karena pemberaninya dia kemudian naik ke kapal yang mengangkut pasukan Belanda dan pasukan Bugis yang dipimpin oleh Arung Palakka (Andi Patunru dalam sinrilikappalatallumbatua). Bersama beberapa orang dan kemudian secara gagah berani menebas-nebas, mengacungkan pedangnya, seolah kesurupan dan akhirnya kapal itu pun takluk di bawah pasukan Mengkasar yang salah satunya orang tua kita (Sonrong, maksudnya)”, ulasnya. “Dari menebas-nebas inilah salah satu dari pedangnya patah pada saat buritan kapal yang kuat dari kayu yang dilapisi baja ditebas. Akhirnya tinggallah pusaka ini terus dengan buntung. Yang satu tetap utuh hingga kini”, kisahnya. Sekarang keduanya masih disimpan oleh Dg. Ngerang yang salah satu keturunan dari taunna tau toata (maksudnya orang yang dipercaya memegang dan merawat pusaka/ Pinatinna) yang tinggal di dekat Bungung Barania. Di tengah desa Banyuanyara.

Tentang kalompoang ini, menurut cerita ayah saya salah satunya berasal dari Anrong guru Lau’, salah seorang bate salapang di Sanrabone. Sonrong dalam cerita meminjam itu sebagai salah satu syarat dia menyerang ke Kappala tallumbatua. ‘Tambai sanjataku’, begita kata Sonrong dalam pertemuan batesalapanga ri Sanrabone sebelum penyerangan kappala  tallumbatua, sebagaimana keterangan ayah saya.

Kisah kepahlawanan inilah yang hingga kini masih di gelar. “Pesta peringatan kemenangan karaengta mengusir kappalatallumbatua”, katanya. Pesta ini dikenal dengan attammutaung. Pesta ulang tahun kemenangan yang dirayakan sampai sekitar seminggu dengan berbagai kegiatan dengan kegiatan yang paling menonjol dan ramai adalah pabbate jangang dan Pa’lumba Jarang. Kadang-kadang sampai ratusan ekor ayam aduan ikut beradu di arena yang disiapkan oleh masyarakat sekitar dan puluhan ekor kuda. Pengunjungnya datang bukan hanya dari desa sekitar tapi juga dari Pari’risi’, Pattalasang, Galesong dan utamanya Cina-Cina Makassar yang senang judi sabung ayam. Di sela-sela pesta ini, sebelum acara puncak penyucian kalompoanga di Bungungbarania, maka diceritakanlah kembali kisah perlawanan yang dilakukan oleh orang tua dulu. “Tentang serangan kappalatallumbatua yang kemudian diusir oleh ‘kakek nenek kita”, tandasnya.

Baca juga:  Dari Legian ke Ara

Penulis sangat menyesal karena pada tanggal 24 Agustus 2008, untuk kebutuhan mengambil beberapa data saya datang ke Daerah Bungungbarania ini pada sore hari, saat Attamutaung sudah selesai di gelar pada pagi hingga siang harinya. Seandainya saya datang pagi hari maka akan saya lihat Attammu taung yang sudah tidak seramai tahun 1970-an dimana masih ada sabung ayam dan pacuan kuda. Menurut kepala desa Banyuanyara (Drs. Zubair) saat melakukan bincang-bincang, attammu taung pagi tadi cukup ramai. Sampai ratusan orang datang dengan membawa kue, songkolo dan makanan lainnya untuk angnganre-nganre di sini. ‘Attammu taung biasa diadakan setelah 17 agustus, ulang tahun kemerdekaan’, katanya.

***

Untuk kebutuhan melihat-lihat secara lebih detil kampung bernama Banyuanyara ini saya bersepeda motor dari Makassar. Menempuh jarak kira-kira 60 KM menuju desa itu. Desa nenek saya yang sering saya kunjungi tanpa memperhatikan detilnya. Dalam amatan saya tentang desa yang di sisinya mengalir sungai sanrobone ini terdapat potensi wilayah yang cukup baik. Kampung yang saat ini penduduknya bekerja selain menambak, menangkap ikan di sungai, bertani, juga membikin tikar anyaman dari daun pandan, membuat atap rumah dari daun nipah yang banyak tumbuh di pesisir sungai Sanrobone, membuat penampi (pattapi, Makassar), juga membuat topi petani dari daun lontar atau bambu yang dihaluskan kulitnya. Desa ini desa kecil yang panas di siang hari saat terik, mungkin lebih dari kota Makassar di siang hari, tapi penduduknya akur, tenang-tenang dan lebih memilih beraktifitas dengan keahliannya masing-masing di bawah kolong rumahnya di banding bercerita ngalor-ngidul. Walaupun tampak beberapa perempuan yang duduk saling bercerita di kolong salah satu rumah, tapi ini minor dibanding aktifitas produktif lainnya.

Di desa inilah, desa yang kini terdiri dari enam dusun, waktu kecil saya belajar berenang di sungai yang kini kian lebar mengerus daratan di pinggirnya tetapi juga kian dangkal oleh gerusan erosi yang terkumpul bertahun-tahun tanpa dikeruk. Sungai ini sekarang hanya dilalui oleh kapal motor kecil yang datang dari pulau Tanakeke untuk berdagang komoditas pulaunya ke orang daratan dan membeli bahan makanan dari daratan yang tidak tersedia di pulau. Hanya kapal seperti itu! Kapal berukuran lebih besar yang kira-kira mengangkut 30 orang sudah tidak bisa lagi melalui sungai yang dahulu bisa dilalui oleh kapal layar besar yang dipakai bahkan berdagang antara pulau-pulau di Nusantara.

Baca juga:  Melalui RUU Minerba, Tak Ada Masa Depan Cerah Bagi Kita Semua!

Setelah mengamati sedikit dan serba sebentar daerah ini saya kemudian pamit kepada nenek dan kakek saya lalu menuju Makassar lagi.

Dalam perjalanan sore itu saya sedikit berfikir. Membandingkan antara cerita ayah saya, catatan Riwaya’na Kappala Tallumbatua yang saya baca kemudian, dan sedikit yang dicatat Andaya bahwa beberapa tahun setelah perang Mengkasar terjadi penandatanganan pengakuan kepada pemenang perang yang ditandatangani oleh I Mapasomba Sultan Amir Hamzah: ‘akhirnya pada tanggal 27 Juli dia datang ke Fort Rotterdam disertai Karaeng Popo, Karaeng Bisei, Karaeng Galesong, Karaeng Ballo, Karaeng Mandalle, Karaeng Laikang, Gallarrang Mangngasa Kare Tumpa, Karaeng Sanrabone serta lima gallarang dari Sanrabone’ (2004;170).

Sonrong Daeng Malapang versi ayah saya, Karaeng Banyuara Versi Riwaya’na Kappala Tallumbatua, dan cerita Andaya tentang lima gallarang dari Sanrabone, yang kalau mungkin salah satu dari lima itu adalah Bate Salapanga Ri Banyuanyara sebagai salah satu Bate dari Sanrobone yang tercatat aktif dalam perang Mengkasar, Sonrong Daeng Malapang Karaeng Banyuanyara berarti ada relevansi sejarah dan mungkin kesamaan aktor yang diceritakan dalam ketiga versi ini. Tentang Sonrong Daeng Malapang yang secara lisan tetap terjaga sebagai referensi sejarah oral yang mungkin semakin penting digunakan dalam penelusuran sejarah Indonesia. Salah satu alasannya adalah budaya literatur belum begitu berkembang di kalangan masyarakat luas di Indonesia masa lalu, kecuali di pusat-pusat kekuasaan penting, seperti di kerajaan Gowa. Selebihnya di kerajaan-kerajaan kecil lainnya yang belum mengembangkan tradisi tulis-menulis ala kerajaan-kerajaan besar di Nusantara maka akan hilang dalam pusaran sejarah dan tak pantas dijadikan sandaran sejarah? Seperti kata Pramudya yang saya kutip dari novel Muhiddin M Dahlan berjudul Aku, Buku dan Sepotong Sajak Cinta ‘Menuslilah! Selama engkau tidak menulis, engkau akan hilang dalam pusaran sejarah dan masyarakatmu’. Saya masih belum bisa menerima argumen bahwa dalam sejarah No Document, No History. Mungkin bagi saya ini terlalu angkuh dan menutup ruang bagi masyarakat luas yang juga semuanya adalah aktor sejarah untuk diketahui oleh generasi sesudahnya. Bagi Anda?

Daftar Pustaka

Andaya, Y Leonard, Warisan Aru Palakka, Cet. I (Makassar; Ininnawa bekerjasama dengan Media Kajian Sulawesi, 2004)

Reid, Anthony, Sejarah Modern Awal Asia Tenggara, Cet. I (Jakarta; LP3ES, 2004)

Abbas Daeng Matu Karaeng Daeng, Sinrili Kappala Tallumbatua dan Aru Palakka, Diterbitkan secara pribadi, 1996)

Dahlan, M Muhiddin, Aku, Buku dan sepotong Sajak Cinta (Jojakarta;Skripta, 2006)

Komentar Pembaca CaraBaca

BUKU TERBITAN CARABACA.ID

Melawan Rezim Infrastruktur - Studi Ekonomi Politik

Sebagai cara untuk tetap waras dan terus melanggengkan perlawanan terhadap segala bentuk ketidakadilan, CaraBaca terus memproduksi wacana alternatif  dengan menulis, membaca, diskusi, dan mengorganisir akar rumput.
BELI PRDOUK KAMI SEBAGAI DUKUNGAN
close-link
0%