COVID-19 dan Bencana Kapitalisme

Rantai Pasokan dan Krisis Ekologis-Epidemiologis-Ekonomi

Oleh John Bellamy Foster dan Intan Suwandi

Lukisan oleh Jumaadi. Mimpi basah, karya Gouache on paper 2020
Pagebluk COVID-19 telah menyebabkan kerentanan yang saling berkait kelindan dengan problem ekologis, epidemiologis, dan ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya yang didorong oleh kapitalisme. Saat dunia memasuki dekade ketiga abad-21, kita sedang menyaksikan kemunculan bencana kapitalisme sebagai krisis struktural dari sistem yang menjalankan segala aktivitas di planet ini.

Sejak akhir abad ke-21, globalisasi kapitalis makin mengadopsi bentuk rantai komoditas yang saling terhubung dengan kontrol korporasi multinasional, menghubungkan berbagai zona produksi, khususnya di negara Selatan, dengan puncak konsumsi dunia, keuangan, dan akumulasi terkhusus di negara Selatan. Rantai pasokan tersebut menciptakan sirkuit kapital global yang menasbihkan praktik imperialisme paling maju dibuktikan dengan makin meningkatnya monopoli kapital finansial secara umum.[1] Pada sistem ini, biaya sewa dengan harga selangit yang bersumber dari kontrol produksi global tidak hanya diperoleh dari hukum tenaga kerja global, di mana melalui proses itu korporasi multinasional dengan kantor pusat mereka di negara pinggiran, tetapi juga terutama melalui hukum pertanahan global, di mana perusahaan agrobisnis global mencaplok lahan dan juga mempekerjakan buruh murah di Negara Selatan untuk memproduksi tanaman komoditas untuk kemudian dijual di Utara.[2]

Sumber Monthly Review

Artikel ini pertama kali tayang dalam bahasa Inggris di Monthly Review Vol 72 no 2, June 2020. Diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh Muh Fardan Ngoyo dan disunting oleh redaksi carabaca.id (Muhammad Ridha) untuk tujuan pengetahuan.

Dalam mengatasi persoalan kian kompleksnya sirkuit-sirkuit modal dalam ekonomi global saat ini, manajer perusahaan mengacu kepada rantai pasokan dan rantai nilai, di mana rantai pasokan mewakili pergerakan produk fisik, sedangkan rantai nilai berfokus pada “nilai tambah” pada setiap simpul produksi, dari bahan mentah ke produk akhir.[3] Penekanan ganda pada rantai pasokan dan rantai nilai ini dalam beberapa hal memiliki kemiripan dengan pendekatan dialektis yang dikembangkan dalam analisis Karl Marx tentang rantai komoditas dalam produksi dan pertukaran, yang mencakup nilai guna dan nilai tukar. Dalam Capital volume I, Marx menyoroti realitas ganda dari nilai guna material-alami (“bentuk alami”) dan nilai tukar (“bentuk nilai”) yang ada di setiap mata rantai “rantai umum metamorfosis yang terjadi di dunia komoditas. ”[4] Pendekatan Marx dilanjutkan oleh Rudolf Hilferding dalam bukunya Capital Finance, di mana ia menulis soal “ keterkaitan dalam rantai pertukaran komoditas”.[5]

Pada tahun 1980-an, teoritisi sistem dunia yakni Terence Hopkins dan Immanuel Wallerstein memperkenalkan ulang konsep rantai komoditas yang berakar pada teori Marxian.[6] Namun, apa yang secara umum hilang dalam analisis rantai komoditas yang Marxis (dan sistem dunia), yang menempatkan pembahasan tersebut fenomena ekonomi / nilai eksklusif, adalah aspek material-ekologis dari nilai guna. Analisa Marx, yang tidak pernah terlepas dari konteks materi-alami di mana sirkuit kapital terjadi, sudah lebih dulu menekankan dampak destruktif valorisasi kapitalis sehubungan dengan alam dari proses produksi dan metabolisme manusia dan alam secara menyeluruh.[7] Keretakan yang tidak dapat diperbaiki dalam proses metabolisme sosial yang saling tergantung (keretakan metabolisme) akan membentuk hubungan destruktif kapitalisme dengan bumi, potret kerusakan tanah dan dorongan penggunaan intensif pupuk guano pada tanah-tanah di Britania merupakan kenyataan yang mirip dengan yang terjadi dalam periode epidemik, yang berasal dari kontradiksi pokok dari sistem ini.[8]

Kerangka teoretis semacam ini, yang berfokus pada bentuk rantai komoditas ganda dan kontradiktif, dengan melibatkan nilai guna dan nilai tukar, memberikan pemahaman dasar mengenai tendensi krisis gabungan antara ekologi, epidemiologis, dan krisis ekonomi dari imperialisme paling mutakhir. Hal ini memungkinkan kita untuk memahami bagaimana rangkaian modal di bawah imperialisme mutakhir  terkait erat dengan etiologi penyakit melalui agribisnis, dan bagaimana hal ini telah menghasilkan pagebluk COVID-19. Selain itu, perspektif yang berfokus pada rantai komoditas ini, juga memberikan kita pemahaman bagaimana gangguan aliran nilai guna dalam bentuk barang-barang material dan gangguan yang disebabkan oleh aliran nilai telah menghasilkan krisis ekonomi yang parah dan berlangsung lama. Konsekuensi ini mendorong ekonomi yang sudah stagnan ke jurang kehancuran, dan mengancam suprastruktur sistem keuangan. Akhirnya, keseluruhan potret ini merupakan kerusakan planet yang jauh lebih besar yang ditimbulkan oleh malapetaka kapitalisme hari ini dalam bentuk perubahan iklim dan persilangan berbagai batas-batas planet, di mana krisis epidemiologis saat ini hanyalah manifestasi turunan lainnya.

Sirkuit Kapital dan Krisis Ekologis-Epidemiologis

Selama beberapa decade terakhir, berkembang sebuah pendekatan baru dalam etiologi penyakit yang lebih holistik ‘One Health-One World’, utamanya sebagai respons terhadap kemunculan penyakit zoonosis terbaru seperti SARS, MERS, dan H1N1 yang tersebar ke manusia melalui hewan liar maupun hewan terdomestikasi. Model pendekatan ini menggabungkan analisis epidemiologi dengan basis lingkungan, melibatkan ilmuwan lingkungan, dokter, dokter hewan, analis kesehatan dalam skala global. Akan tetapi, kerangkal ekologis awal yang mendorong One Health, mewakili pendekatan baru yang lebih komprehensif pada penyakit zoonosis, kini telah mengalami penyesuaian dan sebagian dikabaikan oleh organisasi dominan semacam Bank Dunia, WHO, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS.

Oleh karena itu, pendekatan multi sektor One Health dengan cepat telah berubah menjadi pendekatan  yang membawa berbagai kepentingan berbagai sektor seperti sektor kesehatan publik, kedokteran swasta, kedokteran hewan, agribisnis, dan perusahaan obat raksasa bersama-sama untuk memperkuat respons terhadap apa yang disebut sebagai episode wabah, sekaligus menandai kehadiran strategi korporatis lebih luas di mana kapital dalam hal ini agribisnis merupakan bagian paling dominan. Sehingga keterkaitan antara krisis epidemiologi dan ekonomi dunia kapitalis secara sistematis dikesampingkan dalam bagian utama pendekatan holistik ini.[9]

Dengan demikian muncul lagi pendekatan baru dalam etiologi penyakit yang lebih revolusioner sebagai respons kritis terhadap One Health, yang dikenal dengan  Structural One Health, dengan memakai pendekatan yang berakar pada tradisi materialis-historis yang luas. Bagi para pendukung Structural One Health kuncinya adalah untuk memastikan bagaimana pandemi dalam perekonomian global kontemporer terhubung ke sirkuit modal yang dengan cepat mengubah kondisi lingkungan. Sebuah tim ilmuwan, di antaranya Rodrick Wallace, Luis Fernando Chaves, Luke R. Bergmann, Constância Ayres, Lenny Hogerwerf, Richard Kock, dan Robert G. Wallace, bersama-sama menulis serangkaian karya seperti Clear-Cutting Disease Control: Capital-Led Deforestation, Public Health Austerity, and Vector-Borne Infection dan baru-baru ini, “COVID-19 dan Circuits of Capital” (oleh Rob Wallace, Alex Liebman, Luis Fernando Chaves, dan Rodrick Wallace) dalam terbitan Monthly Review  Mei 2020. Structural One Health didefinisikan sebagai “bidang baru, [yang] meneliti dampak sirkuit kapital global dan konteks fundamental lainnya, termasuk sejarah budaya yang mendalam, terhadap agroekonomi regional dan dinamika penyakit terkait lintas spesies.[10]

Pendekatan materialis historis revolusioner yang digunakan oleh Structural One Health berangkat dari pendekatan arus utama dari One Health pada: (1) fokus pada rantai komoditas sebagai pendorong pandemi; (2) mengabaikan pendekatan “geografi absolut” yang biasanya berkonsentrasi pada lokal tertentu di mana virus baru muncul sementara gagal memahami saluran transmisi ekonomi global; (3) melihat pandemi bukan sebagai masalah episodik, atau fenomena “angsa hitam” secara acak, tetapi lebih merupakan cerminan krisis struktural kapital yang umum, seperti dijelaskan oleh István Mészáros dalam Beyond Capital-nya; (4) mengadopsi pendekatan biologi dialektik, terkait dengan ahli biologi Harvard Richard Levins dan Richard Lewontin dalam The Dialectical Biologist; dan (5) mendorong rekonstruksi radikal masyarakat secara umum dengan cara mempromosikan “metabolisme planet.”[11]  Dalam Big Farms Make Big Flu dan tulisan-tulisan lain, Robert G. (Rob) Wallace mengacu pada gagasan Marx tentang rantai komoditas dan keretakan metabolik, serta kritik terhadap penghematan dan privatisasi yang didasarkan pada gagasan Paradoks Lauderdale (yang menurutnya kekayaan pribadi ditingkatkan oleh perusakan kekayaan publik). Oleh karena itu, para pemikir dalam tradisi kritis ini mengandalkan pendekatan dialektis untuk menjelaskan penghancuran ekologis dan etiologi penyakit.[12]

Secara alamiah, epidemiologi materialis-historis yang baru tidak muncul begitu saja, tetapi dibangun di atas tradisi panjang perjuangan sosialis dan analisis kritis terhadap epidemi, termasuk kontribusi historis seperti: (1) Conditions of the Working Class in England  nya Frederick Engels, yang mengeksplorasi dasar kelas penyakit menular; (2) Diskusi Marx tentang epidemi dan kondisi kesehatan umum di Capital; (3) ahli zoologi Inggris E. Ray Lankester, melalui pendekatannya terhadap sumber-sumber penyakit antropogenik dan basis mereka dalam pertanian kapitalis, pasar, dan keuangan dalam bukunya Kingdom of Man ; dan (4) “Is Capitalism a Disease?” dari Levin.[13]

Hal terpenting dalam epidemiologi materialis-historis baru yang terkait dengan Structural One Health adalah pengakuan eksplisit tentang peran agribisnis global dan integrasinya dengan penelitian mendalam pada setiap aspek etiologi penyakit, dengan berfokus pada zoonosis baru. Penyakit tersebut, seperti dinyatakan Rob Wallace dalam Big Farms Make Big Flu, adalah “kejatuhan biotik yang tidak disengaja dari upaya untuk mengarahkan ontogeni hewan dan ekologi guna penciptaan profit multinasional,” yang justru menghasilkan patogen baru yang mematikan.[14] Peternakan skala besar yang terdiri dari hewan domestik monokultur yang mirip secara genetis (menurunkan tingkat kekebalan), termasuk tempat pemberian pakan babi besar-besaran dan peternakan unggas skala luas ditambah dengan deforestasi massif dan percampuran antara burung liar dan satwa liar lainnya dengan industri peternakan — tidak termasuk pasar basah — telah menciptakan kondisi pendukung bagi penyebaran patogen baru yang  mematikan seperti SARS, MERS, Ebola, H1N1, H5N1, dan sekarang SARS-CoV-2. Lebih dari setengah juta orang secara global meninggal akibat H1N1 sementara kematian akibat SARS-CoV-2 kemungkinan akan jauh melebihi jumlah tersebut.[15]

Selanjutnya, Rob Wallace juga menulis bahwa “usaha agribisnis memindahkan pabrik mereka ke Negara Selatan untuk mengambil keuntungan melalui tenaga kerja murah dan lahan murah,” dan “menyebarkan seluruh lini produksi ke penjuru dunia.”[16] Unggas, ternak, dan manusia semuanya saling terkait dalam terciptanya penyakit baru ini. Wallace memperingatkan kita bahwa “Influenza kini muncul melalui jaringan global produksi dan perdagangan pakan perusahaan, di mana jenis virus spesifik pertama kali berevolusi. Dengan kawanan hewan ternak digiring dari satu wilayah ke wilayah lain — mengubah jarak spasial dan waktu menjadi lebih efisien— berbagai jenis influenza terus-menerus berpindah memasuki wilayah-wilayah lokal yang dipenuhi dengan populasi hewan yang rentan.[17] ”Proses produksi unggas komersial skala besar sudah terbukti menciptakan peluang jauh lebih besar bagi tumbuhnya zoonosis yang mematikan ini. Analisis rantai nilai digunakan untuk melacak etiologi influenza baru seperti H5N1 di sepanjang rantai komoditas produksi unggas.[18] Influenza yang muncul dalam konteks terkini di Cina selatan membuktikan banyak dari rekombinasi virus berbagai proses agroekologi yang berasal dari waktu yang berbeda oleh berbagai jalur ketergantungan: dalam hal ini, masa lampau (beras), modern awal (bebek semi-domestik), dan saat ini (intensifikasi unggas). ” Analisis ini juga telah diperluas oleh ahli geografi radikal, seperti Bergmann, bekerja pada “konvergensi biologi dan ekonomi di luar rantai komoditas tunggal menuju ke jalinan ekonomi global.[19]

Rantai komoditas global agribisnis yang saling berhubungan, yang memberikan dasar bagi munculnya zoonosis baru, membuat patogen ini bergerak cepat dari satu tempat ke tempat lain, mengeksploitasi rantai hubungan manusia dan globalisasi, dengan manusia sebagai rumahnya bergerak dalam hitungan hari, bahkan berjam-jam, dari satu bagian dunia ke bagian lainnya. Wallace dan rekan-rekannya menulis dalam “COVID-19 and Circuits of Capital”: “Beberapa patogen muncul langsung dari pusat-pusat produksi.… Tetapi kebanyakan seperti COVID-19 berasal dari batas-batas produksi kapital. Memang, sebanyak 60 persen patogen manusia yang baru muncul melalui penularan dari hewan liar ke komunitas lokal manusia (sebelum salah satu jenis ini sukses menyebar ke seluruh dunia). ”

Ketika mereka menyimpulkan kondisi penularan penyakit ini, “Premis operatif yang mendasarinya adalah bahwa penyebab COVID-19 dan patogen lain semacam itu tidak hanya ditemukan pada objek agen yang terinfeksi atau perjalanan klinisnya, tetapi juga pada hubungan ekosistem di mana kapital dan penyebab struktural lainnya dikaitkan dengan pengambilan  keuntungan oleh mereka. Berbagai macam patogen, yang mewakili taksa yang berbeda, sumber penularan, cara penularan, jalur klinis, dan hasil epidemiologis, memiliki semua ciri yang mengejutkan kami saat menggunakan mesin pencari kami pada setiap wabah, dan menandai bagian dan jalur yang berbeda dengan  jalur penggunaan lahan yang sama dan akumulasi nilai.”[20]

Restrukturisasi kuasa atas produksi pada akhir abad kedua puluh dan awal dua puluh satu — yang dikenal sebagai globalisasi — merupakan hasil utama dari hukum tenaga kerja global dan eksploitasi berlebihan (dan luar biasa) pekerja di Negara Selatan (termasuk kontaminasi yang disengaja dengan lingkungan lokal) untuk kepentingan dominan dari pusat-pusat modal dan keuangan dunia. Tetapi sebagian dari itu juga didorong oleh hukum pertanahan global yang terjadi secara bersamaan melalui perusahaan agribisnis multinasional. Menurut Eric Holt-Giménez dalam A Foodie Guide to Capitalism, “harga tanah” di sebagian besar Negara Selatan “sangat rendah dalam kaitannya dengan sewa tanahnya (apa yang layak untuk apa yang dapat dihasilkannya) sehingga selisih perbedaan antara harga rendah dan sewa tanah yang tinggi akan memberi investor keuntungan yang besar. Setiap manfaat dari menanam tanaman yang sebenarnya bagian sekunder dari kesepakatan.… Peluang arbitrase tanah terjadi dengan membawa tanah baru — dengan sewa tanah yang menarik — ke pasar tanah global di mana rente sebenarnya dapat dikapitalisasi.[21] ” fenomena ini diumpamakan dengan sebutan Revolusi Ternak, yang membuat ternak menjadi komoditas global berdasarkan tempat pemberian pakan raksasa dan monokultur genetik.[22]

Kondisi ini disokong oleh sejumlah bank pembangunan dalam konteks yang secara halus dikenal sebagai “restrukturisasi teritorial,” dengan melibatkan pemindahan petani subsisten dan produsen kecil dari tanah atas permintaan perusahaan multinasional, terutama agribisnis, serta deforestasi yang massif  dan perusakan ekosistem. Fenomena ini juga disebut sebagai perampasan tanah abad-21, dengan dorongan dari kenaikan harga makanan pokok pada tahun 2008 dan kemudian tahun 2011, juga kekayaan pribadi dalam bentuk aset tak berwujud untuk menghadapi goncangan ketidakpastian setelah Krisis Finansial tahun 2007–09.  Akibatnya migrasi massal terbesar dalam sejarah manusia, di mana orang-orang terlempar dari tanah dalam proses depeasantisasi global telah mengubah agroekologi seluruh wilayah, dengan mengganti pertanian tradisional dengan monokultur, dan mendorong penduduk ke daerah kumuh perkotaan.[23]

Rob Wallace dan rekan-rekannya mengamati bahwa sejarawan dan teoritis urban-kritis Mike Davis dan yang lainnya “telah mengidentifikasi bagaimana lanskap baru urbanisasi ini berperan sebagai pasar lokal dan pusat regional untuk komoditas pertanian global melintasi batas teritori.… Akibatnya, dinamika penyakit dari hutan, sumber patogen purba, tidak lagi terbatas pada daerah pedalaman saja. Epidemiologi mereka yang terkait telah berubah secara relasional, melintasi ruang dan waktu. Virus SARS tiba-tiba sudah dapat menular ke manusia di kota besar hanya beberapa hari dari gua kelelawar, tempat asalnya.[24]

Gangguan Rantai Komoditas dan Bullwhip Effect Skala Global

Patogen baru yang dihasilkan secara tidak sengaja oleh agribisnis itu sendiri bukanlah nilai guna bahan alami, tetapi lebih merupakan residu beracun dari sistem produksi kapitalis, dapat dilacak ke rantai komoditas agribisnis sebagai bagian dari rezim pangan global.[25] Namun, dalam istilah “pembalasan metaforis” ” dari alam seperti yang pertama kali digambarkan oleh Engels dan Lankester, efek riak dari bencana baik secara ekologis dan epidemiologis yang dibawa oleh rantai komoditas global saat ini dan tindakan agribisnis, yang memunculkan pandemi COVID-19, telah mengganggu seluruh sistem produksi global.[26] Pengaruh lockdown dan penjarakan sosial, yang menghentikan produksi di sektor-sektor esensial dunia, telah mengguncang rantai pasokan / nilai internasional. Hal ini menyebabkan “bullwhip effect” skala luas yang mengguncang rantai komoditas global dari sisi penawaran dan permintaan.[27] Selain itu, pandemi COVID-19 telah terjadi dalam konteks rezim global modal keuangan monopoli-neoliberal yang memberlakukan penghematan seluruh dunia, termasuk kesehatan masyarakat. Penerapan secara umum proses produksi just-in-time dan persaingan berbasis waktu dalam regulasi rantai komoditas global membuat perusahaan dan fasilitas seperti rumah sakit memiliki sedikit inventaris, masalah yang diperparah dengan penimbunan beberapa barang pada bagian populasi.[28]  Hasilnya adalah dislokasi luar biasa dari seluruh ekonomi global.

Baca juga:  Recreation :

Rantai komoditas global hari ini — atau yang dikenal dengan rantai nilai tenaga kerja — diorganisasikan utamanya untuk mengeksploitasi biaya unit kerja yang lebih rendah (dengan mempertimbangkan biaya upah dan produktivitas) di negara-negara miskin di Selatan tempat mayoritas produksi industri dunia sekarang beroperasi. Biaya tenaga kerja per unit di India pada tahun 2014 adalah 37 persen di level AS, sementara China dan Meksiko masing-masing 46 dan 43 persen. Indonesia lebih tinggi dengan biaya tenaga kerja per unit 62 persen dari level AS. [29] Sebagian besar disebabkan oleh upah yang sangat rendah di negara-negara Selatan, yang jumlahnya hanya setengah dibandingkan tingkat upah orang-orang di Utara. Sementara itu, produksi panjang lengan dilakukan di bawah spesifikasi perusahaan multinasional, bersama dengan teknologi canggih yang diperkenalkan ke platform ekspor baru di Global Selatan, menghasilkan produktivitas pada tingkat yang sebanding di banyak bidang dengan Global Utara. Hasilnya adalah sistem eksploitasi global terpadu di mana perbedaan upah antara negara-negara di Utara dan Selatan lebih besar daripada perbedaan dalam produktivitas, yang mengarah ke unit biaya tenaga kerja yang sangat rendah di negara-negara di Selatan dan menghasilkan laba kotor yang sangat besar dengan margin (atau surplus ekonomi) pada harga ekspor barang dari negara-negara miskin.

Surplus ekonomi begitu berlimpah yang dihasilkan di negara Selatan dicatat dalam akuntansi produk domestik bruto sebagai nilai tambah di Utara. Namun, umumnya lebih dipahami sebagai nilai yang dikeruk dari Selatan. Sistem eksploitasi internasional baru ini yang secara umum terkait dengan globalisasi produksi membentuk struktur kokoh dari imperialisme pada abad ke-21. Sistem ini merupakan eksploitasi / pengambil-alihan skala yang dibentuk melalui arbitrase perburuhan global, yang menghasilkan aliran besar nilai yang dikeruk dari orang miskin ke negara-negara kaya.

Keseluruhan proses dalam sistem ini didukung oleh revolusi dalam transportasi dan komunikasi. Biaya pengiriman lebih murah karena kontainer pengiriman standar berkembang pesat. Teknologi komunikasi seperti kabel serat optik, ponsel, Internet, broadband, komputasi cloud, dan konferensi video mengubah konektivitas global. Perjalanan udara yang murah dengan perjalanan cepat, setiap tahun tumbuh rata-rata 6,5 ​​persen antara 2010 dan 2019.[30] Sekitar sepertiga dari ekspor AS adalah produk setengah jadi untuk barang jadi yang diproduksi di tempat lain, seperti kapas, baja, mesin, dan semikonduktor.[31] Kondisi yang berubah dengan cepat, menghasilkan struktur akumulasi hirarkis secara internasional yang kian terintegrasi dalam struktur rantai komoditas global saat ini. Hasilnya bisa menghubungkan semua bagian dunia dalam sistem penindasan global, konektivitas yang sekarang menunjukkan tanda-tanda destabilisasi di bawah dampak perang dagang AS melawan Cina dan dampak ekonomi global dari pandemi COVID-19.

Pagebluk COVID-19, dengan kebijakan penguncian dan penjarakan sosial merupakan “krisis rantai pasokan global pertama.”[32] Akibatnya menghasilkan kerugian dalam nilai ekonomi, pengangguran besar-besaran, keruntuhan perusahaan, peningkatan eksploitasi, dan meluasnya kelaparan dan kemerosotab. Kunci untuk memahami kompleksitas dan kekacauan krisis saat ini adalah kenyataan bahwa tidak ada CEO perusahaan multinasional di mana pun yang memiliki peta lengkap rantai komoditas perusahaan.[33]

Umumnya, pusat keuangan dan bagian pengadaan di perusahaan mengetahui pemasok tingkat pertama mereka, tetapi tidak dengan tingkat kedua (yaitu, penyuplai dari pemasok mereka), apalagi dengan pemasok ketiga atau bahkan keempat. Seperti yang ditulis oleh Elisabeth Braw di Foreign Policy “Michael Essig, seorang profesor manajemen persediaan di Bundeswehr University of Munich menghitung bahwa perusahaan multinasional seperti Volkswagen memiliki 5.000 pemasok (yang disebut pemasok tingkat satu), masing-masing dengan rata-rata 250 pemasok tingkat dua. Itu berarti bahwa perusahaan itu sebenarnya memiliki 1,25 juta pemasok — sebagian besar dari mereka tidak tahu. ” Terlebih lagi, ini menyisakan pemasok tingkat ketiga. Ketika wabah Covid-19 terjadi di Wuhan di Cina, ditemukan bahwa lima puluh satu perusahaan di seluruh dunia memiliki setidaknya satu pemasok langsung di Wuhan, sementara lima juta perusahaan memiliki setidaknya satu pemasok tingkat kedua di sana. Pada 27 Februari 2020, ketika gangguan rantai pasokan sebagian besar masih berpusat di China, World Economic Forum, mengutip laporan Dun & Bradstreet, menyatakan bahwa lebih dari 90 persen perusahaan multinasional yang tergolong dalam Fortune 1000 memiliki pemasok tingkat satu atau tingkat dua yang terdampak oleh virus.[34]

Efek SARS-CoV-2 telah memaksa perusahaan untuk mencoba memetakan seluruh rantai komoditas mereka. Tetapi ini sangat kompleks. Ketika bencana nuklir Fukushima terjadi, ditemukan bahwa daerah Fukushima menghasilkan 60 persen suku cadang mobil penting di dunia, sebagian besar bahan kimia baterai lithium dunia, dan 22 persen wafer silikon tiga ratus milimeter di dunia, semuanya penting untuk produksi industri. Berbagai upaya dilakukan pada saat itu oleh beberapa perusahaan keuangan monopoli untuk memetakan rantai pasokan mereka. Menurut Harvard Business Review, “pejabat eksekutif dari produsen semikonduktor Jepang mengatakan kepada kami bahwa dibutuhkan tim yang terdiri dari 100 orang lebih selama setahun untuk memetakan jaringan pasokan perusahaan hingga ke pemasok sub-tingkatan setelah gempa bumi dan tsunami [dan bencana nuklir Fukushima] pada 2011.[35]

Dengan rantai komoditas di mana banyak mata rantai yang tidak terlihat, dan di mana rantai itu putus di banyak tempat, perusahaan dihadapkan pada gangguan dan ketidakpastian yang disebut Marx sebagai “rantai metamorfosis” dalam produksi, distribusi, dan konsumsi produk material, ditambah dengan perubahan permintaan pasokan secara keseluruhan yang tidak menentu. Skala pagebluk Covid-19 dan konsekuensinya terhadap akumulasi dunia belum pernah terjadi sebelumnya, dengan biaya ekonomi global masih terus meningkat. Pada akhir Maret, sekitar tiga miliar orang di planet ini menghadapi kebijakan penguncian atau penjarakan sosial.[36] Sebagian besar perusahaan tidak memiliki rencana darurat untuk menangani berbagai pemutusan dalam rantai pasokan mereka.[37] Tingkat masalah mulai terlihat naik pada bulan-bulan awal 2020 di mana puluhan ribu status force majeure diumumkan, dimulai pertama kali di Cina dan kemudian menyebar di tempat lain, di mana berbagai pemasok menunjukkan bahwa mereka tidak dapat memenuhi kontrak karena peristiwa eksternal yang luar biasa. Hal ini disertai dengan sejumlah “pelayaran kosong” untuk melayani pelayaran terjadwal kapal-kapal kargo yang dibatalkan dengan barang-barang yang ditahan karena kegagalan pasokan atau permintaan.[38] Pada awal April, Federasi Ritel Nasional AS mengindikasikan bahwa Maret 2020 menunjukkan posisi terendah dalam lima tahun dalam hal pengiriman barang, yang setara dengan dua puluh kaki (kontainer) dalam kargo kapal, dengan pengiriman diperkirakan akan turun jauh lebih cepat dari titik itu.[39] Penerbangan penumpang di seluruh dunia telah menurun sekitar 90 persen, memaksa maskapai penerbangan AS utamanya memanfaatkan kabin penumpang pesawat mereka untuk penerbangan kargo, sering kali memindahkan kursi dan menggunakan rel kosong untuk mengamankan kargo.[40]

Menurut perkiraan pada awal April oleh Organisasi Perdagangan Dunia, kejatuhan ekonomi karena pagebluk COVID-19 akan menyebabkan penurunan perdagangan tahunan dunia pada tahun 2020 sebesar 13 persen dalam skenario yang optimis, dan sebesar 32 persen pada skenario yang lebih pesimistis. Dalam kasus terakhir, jatuhnya perdagangan dunia dalam satu tahun akan setara dengan apa yang terjadi pada Depresi Besar tahun 1930-an selama periode tiga tahun.[41]

Efek mengerikan gangguan rantai pasokan global selama pandemi ini terlihat jelas khususnya dalam hal peralatan medis. Premier, salah satu kepala organisasi pembelian umum untuk rumah sakit di AS, mengakui jika ia biasanya membeli hingga 24 juta masker N95 per tahun untuk para anggota tenaga kesehatan dan organisasinya, sebagai perbandingan pada Januari dan Februari 2020 saja anggotanya menggunakan 56 juta masker respirator. Pada akhir Maret, Premier memesan 110 hingga 150 juta respirator, sementara organisasi anggotanya seperti rumah sakit dan panti jompo ketika disurvei menunjukkan bahwa mereka hanya memiliki persediaan lebih dari satu minggu. Permintaan untuk masker medis melonjak sementara pasokan masker secara global tersendat.[42] Alat test kit COVID-19 juga sedang mengalami pasokan kritis dalam jangka pendek secara global hingga Cina meningkatkan produksi pada akhir Maret.[43]

Banyak barang lainnya kini juga kekurangan pasokan, sementara di gudang penyimpanan umum kekacauan terjadi karena dipenuhi dengan barang-barang, seperti pakaian, yang permintaannya anjlok. Dalam produksi just-in-time dan kompetisi berbasis waktu, persediaan umumnya dikurangi hingga batas minimum untuk mengurangi biaya. Tanpa pelonggaran, kebanyakan rantai pasokan ritel di Amerika Serikat kemungkinan akan menghadapi kekurangan pasokan yang parah pada awal Mei. Seperti Peter Hasenkamp, ​​yang mengarahkan strategi rantai pasokan Tesla dan sekarang bertanggung jawab di divisi pembelian Lucid Motors, sebuah start-up mobil listrik, menyatakan: “Dibutuhkan 2.500 suku cadang untuk merakit mobil, tetapi jika hanya satu maka tidak bisa.” Alat uji COVID-19 mengalami kelangkaan persediaan di Amerika Serikat sebagian karena kurangnya swab.[44] Pada pertengahan April 2020, 81 persen dari perusahaan manufaktur global mengalami kekurangan pasokan, terbukti dengan peningkatan 44 persen deklarasi force majeure pada Maret dihitung sejak awal tahun sebelum munculnya virus, dan peningkatan pemberhentian sementara proses produksi sebanyak 38 persen. Hasilnya bukan hanya kekurangan material tetapi juga krisis dalam arus kas dan karenanya terjadi “lonjakan risiko finansial” yang besar.[45]

Untuk perusahaan multinasional saat ini, yang tidak terlalu peduli dengan nilai penggunaan yang mereka jual asalkan mereka menghasilkan nilai tukar, dampak ekonomi nyata dari gangguan rantai pasokan adalah efeknya terhadap rantai nilai — yaitu, pada arus nilai tukar. Meskipun efek nilai penuh dari gangguan sisi pasokan global tidak akan diketahui untuk beberapa waktu, indikasi krisis yang diakibatkan oleh akumulasi ini dapat dilihat pada kerugian nilai yang dialami perusahaan. Ratusan perusahaan, termasuk perusahaan seperti Boeing, Nike, Hershey, Sun Microsystems, dan Cisco, sudah mengalami gangguan rantai komoditas kritis dalam beberapa dekade terakhir. Studi yang didasarkan pada sekitar delapan ratus kasus telah menunjukkan bahwa efek gangguan rantai pasokan rata-rata dialami perusahaan tersebut meliputi: “penurunan 107 persen dalam pendapatan operasi; 114 persen penurunan laba atas penjualan; 93 persen penurunan laba atas aset; kurang dari 7 persen pertumbuhan penjualan; Pertumbuhan biaya 11 persen; dan pertumbuhan persediaan sebesar 14 persen, ”dengan efek negatif yang biasanya berlangsung selama dua tahun. Penelitian yang sama menunjukkan bahwa “perusahaan yang mengalami gangguan rantai pasokan mengalami pengembalian saham antara 33 hingga 40 persen lebih rendah dibandingkan dengan tolok ukur industri mereka selama periode tiga tahun yang dimulai satu tahun sebelumnya dan berakhir dua tahun setelah mengalami gangguan. Juga, gejolak harga saham pada tahun setelah gangguan yakni 13,50 persen lebih tinggi bila dibandingkan dengan volatilitas pada tahun sebelum gangguan.”[46]

Meskipun tidak ada yang tahu bagaimana semua kejatuhan terjadi pada saat ini, bahkan dalam kasus perusahaan individual, kapital memiliki kekhawatiran kuat atas konsekuensi pada valorisasi dan akumulasi. Di mana-mana, produksi menurun dan pengangguran kian melonjak karena perusahaan lepas tangan atas pekerjanya, dimana di Amerika Serikat sendiri mereka dibiarkan untuk berjuang sendiri. Korporasi kini berlomba menarik rantai komoditas mereka dan berupaya menstabilkan apa kondisi krisis yang nampaknya mencakup segala hal. Selain itu, gangguan pada seluruh rantai metamorfosis yang terlibat dalam hukum tenaga kerja global berpotensi menimbulkan krisis keuangan dalam ekonomi dunia yang kini ditandai oleh stagnasi, utang, dan finansialisasi.

Tidak sedikit bentuk kerentanan yang nampak merupakan apa yang dikenal sebagai keuangan rantai pasokan, yang memungkinkan perusahaan untuk menunda pembayaran kepada pemasok, dengan bantuan keuangan bank. Menurut Wall Street Journal, beberapa perusahaan memiliki kewajiban pembiayaan rantai pasokan yang mengurangi hutang bersih yang dilaporkan. Hutang ini kepada pemasok dijual oleh kepentingan keuangan lainnya dalam bentuk catatan jangka pendek. Credit Suisse memiliki catatan yang terutang oleh perusahaan-perusahaan besar AS seperti Kellogg dan General Mills. Dengan gangguan umum pada rantai komoditas, rantai keuangan rumit ini, yang merupakan objek spekulasi, secara inheren ditempatkan dalam mode krisis itu sendiri, menciptakan kerentanan tambahan dalam sistem keuangan yang sudah rapuh.[47]

Imperialisme, Kelas, dan Pandemi

SARS-CoV-2, seperti patogen berbahaya lainnya yang telah muncul atau muncul kembali dalam beberapa tahun terakhir, terkait erat dengan serangkaian hal kompleks di antaranya: (1) pengembangan agribisnis global dengan monokultur genetiknya yang meningkatkan kerentanan terhadap kontraksi penyakit zoonosis dari hewan liar ke hewan peliharaan hingga manusia; (2) perusakan habitat alam liar dan gangguan aktivitas spesies liar; dan (3) manusia yang hidup dalam jarak yang lebih dekat. Ada sedikit keraguan bahwa rantai komoditas global dan jenis konektivitas yang telah mereka hasilkan menjadi vektor bagi penularan penyakit yang cepat, meruntuhkan seluruh pola pembangunan yang eksploitatif secara global ini. Sebagaimana Stephen Roach dari Yale School of Management, mantan kepala ekonom Morgan Stanley dan penggagas utama konsep arbitrase tenaga kerja global, telah menulis dalam konteks krisis coronavirus, apa yang diinginkan kantor pusat keuangan perusahaan ialah “barang murah terlepas dari apa efisiensi biaya yang diperlukan dalam hal [kurangnya] investasi dalam kesehatan masyarakat, atau saya juga akan mengatakan [kurangnya] investasi dalam perlindungan lingkungan dan kualitas iklim. ”Hasil dari pendekatan yang tidak berkelanjutan terhadap efisiensi biaya ini adalah krisis ekologi dan epidemiologi global kontemporer dan konsekuensi keuangannya, yang semakin membuat sistem makin tidak stabil di mana sudah menunjukkan karakteristiknya yakni gelembung keuangan yang berlebihan.[48]

Saat ini, negara-negara kaya menjadi episentrum pandemi dan mengalami kejatuhan keuangan COVID-19, tetapi krisis secara keseluruhan, yang menggabungkan dampak ekonomi dan epidemiologisnya, akan memukul negara-negara miskin dengan lebih parah. Bagaimana krisis planet semacam ini ditangani akhirnya disaring melalui sistem kelas imperial. Pada bulan Maret 2020, Tim Respon COVID-19 dari Imperial College di London mengeluarkan laporan yang menunjukkan bahwa dalam skenario global SARS-CoV-2 tidak tanggung-tanggung, tanpa jarak sosial atau penutupan, 40 juta orang di dunia akan mati, dengan angka kematian yang lebih tinggi di negara-negara kaya daripada di negara-negara miskin karena proporsi populasi yang lebih besar yaitu 65 tahun atau lebih, dibandingkan dengan negara-negara miskin. Analisis ini seolah-olah memperhitungkan akses yang lebih besar ke perawatan medis di negara-negara kaya. Tapi itu mengabaikan faktor-faktor seperti kekurangan gizi, kemiskinan, dan kerentanan yang lebih besar terhadap penyakit menular di negara-negara miskin. Namun demikian, perkiraan Imperial College, berdasarkan pada asumsi-asumsi ini, mengindikasikan bahwa dalam skenario yang tidak dikurangi jumlah kematian akan berkisar antara 15 juta di Asia Timur dan Pasifik, 7,6 juta orang di Asia Selatan, 3 juta orang di Amerika Latin dan Karibia, 2,5 juta orang di Afrika Sub-Sahara, dan 1,7 juta di Timur Tengah dan Afrika Utara — dibandingkan dengan 7,2 juta di Eropa dan Asia Tengah, dan sekitar 3 juta di Amerika Utara.[49]

Baca juga:  Dari Legian ke Ara

Dengan menggunakan pendekatan Imperial College dalam analisisnya, Ahmed Mushfiq Mobarak dan Zachary Barnett-Howell di Yale University menulis sebuah artikel untuk jurnal Foreign Policy berjudul “Negara-Negara Miskin Perlu Berpikir Dua Kali Tentang Jarak Sosial.” Dalam artikel mereka, Mobarak dan Barnett-Howell sangat eksplisit, dengan alasan bahwa “model-model epidemiologis memperjelas bahwa ongkos akibat dari tidaknya adanya intervensi di negara-negara kaya bisa mencapai ratusan ribu hingga jutaan orang mati, hasil yang jauh lebih buruk dibandingkan resesi ekonomi terdalam yang dapat dibayangkan. Dengan kata lain, intervensi penjarakan sosial dan penindakan, dengan biaya ekonomi yang terkait, sangat dianjurkan dalam masyarakat berpenghasilan tinggi ”- untuk menyelamatkan nyawa. Namun, hal serupa tidak berlaku bagi negara-negara miskin, karena mereka secara keseluruhan memiliki warga lansia yang relatif sedikit dalam populasinya, sehingga menurut perkiraan Imperial College, hanya sekitar setengah dari tingkat kematian. Model ini, mereka akui, “tidak memperhitungkan prevalensi yang lebih besar dari penyakit kronis, kondisi pernapasan, polusi, dan kekurangan gizi di negara-negara berpenghasilan rendah, yang dapat meningkatkan tingkat kematian akibat wabah coronavirus.” Tetapi sebagian besar mengabaikan hal ini dalam artikel mereka (dan dalam studi terkait yang dilakukan melalui Departemen Ekonomi Yale), para penulis ini bersikeras bahwa akan lebih baik, mengingat kondisi kemiskinan dan pengangguran yang sangat besar di negara-negara ini, untuk populasi yang tidak mempraktikkan penjarakan sosial atau pengujian agresif dan penindakan, agar menempatkan upaya mereka ke dalam produksi ekonomi, sehingga akan menjaga keutuhan rantai pasokan global khususnya berasal di negara-negara dengan upah rendah.[50] Tidak diragukan lagi kematian puluhan juta orang di Selatan dianggap oleh para penulis ini menjadi pertukaran rasional untuk mendukung pertumbuhan terus-menerus bagi imperium kapital.

Seperti yang dikemukakan Mike Davis, kapitalisme abad 21 menunjuk pada “pilihan permanen umat manusia … yang akan menghancurkan sebagian umat manusia hingga akhirnya menuju kepunahan.” Dia menyatakan: “Tetapi apa yang terjadi ketika COVID menyebar melalui populasi penduduk dengan akses minim kepada obat-obatan dan tingkat gizi buruk yang jauh lebih tinggi, masalah kesehatan yang tak terurus, dan sistem imun yang rusak? Keuntungan usia tak akan bernilai bagi pemuda miskin di daerah kumuh Afrika dan Asia Selatan.

Sejumlah kemungkinan infeksi massal di daerah kumuh dan kota-kota miskin juga berpotensi mengubah mode infeksi coronavirus dan membentuk kembali sifat penyakit. Sebelum SARS muncul pada tahun 2003, epidemi patogen Coronavirus yang terbatas hanya pada hewan peliharaan, terutama babi. Para peneliti segera mengenali dua rute infeksi yang berbeda: fecal-oral, yang menyerang lambung dan jaringan usus, dan pernapasan, yang menyerang paru-paru. Dalam kasus pertama, umumnya angka kematiannya sangat tinggi, sedangkan yang kedua umumnya kasus dengan tingkat yang lebih ringan. Sebagian kecil kasus positif saat ini, terutama di kapal pesiar, melaporkan gejala diare dan muntah, dan, mengutip satu laporan, “kemungkinan penularan SARS-CoV-2 melalui limbah, air yang tercemar, sistem pendingin udara dan aerosol tidak dapat diremehkan.”

Kini, pandemi ini telah sampai hingga ke daerah kumuh di Afrika dan Asia Selatan, tempat terkontaminasinya tinja ada dimana-mana: di air, di sayuran yang ditanam di rumah, dan debu yang tertiup angin. Akankah, seperti dalam kasus hewan, ini menyebabkan infeksi yang lebih mematikan, mungkin di semua kelompok umur?[51]

Argumen Davis menjelaskan imoralitas kasar yang menyatakan penjarakan sosial dan penindakan agresif terhadap virus dalam menanggapi pandemi harus terjadi di negara-negara kaya dan tidak miskin. Strategi-strategi epidemiologis imperialis semacam itu jauh lebih kejam karena mereka mendukung pandangan kemiskinan penduduk di Selatan, produk imperialisme, sebagai pembenaran atas pendekatan Malthusian atau Darwinis sosial, di mana jutaan orang akan mati demi menjaga pertumbuhan ekonomi global, terutama untuk kepentingan mereka yang berada di puncak sistem. Bandingkan dengan pendekatan yang diadopsi di Venezuela yang dipimpin oleh kaum sosialis, negara di Amerika Latin dengan jumlah kematian disebabkan COVID-19 per kapita paling sedikit, di mana pengaturan jarak sosial dan pelayanan sosial yang diselenggarakan secara kolektif dikombinasikan dengan skrining yang diperluas untuk menentukan siapa yang paling rentan, pengujian luas, dan perluasan rumah sakit dan perawatan kesehatan, yang dikembangkan dengan model Kuba dan Cina.[52]

Secara ekonomi, negara Selatan secara keseluruhan, terlepas dari efek langsung pandemi, ditakdirkan untuk menanggung biaya tertinggi. Rusaknya rantai pasokan global karena pesanan yang dibatalkan di Utara (serta penjarakan sosial dan lockdown di seluruh dunia) diikuti pembentukan kembali rantai komoditas yang akan membuat seluruh negara dan wilayah hancur.[53]

Di sinilah sangat penting juga untuk mengenali bahwa pagebluk COVID-19 ini telah hadir di tengah perang ekonomi hegemoni global yang  yang diarahkan ke oleh pemerintahan Donald Trump, di mana Cina yang telah mencatatkan sekitar 37 persen dari semua pertumbuhan kumulatif dari ekonomi dunia sejak 2008.[54] Ini dilihat oleh pemerintahan Trump sebagai perang dengan cara lain. Sebagai akibat dari perang tarif, banyak perusahaan AS telah menarik rantai pasokan mereka dari Tiongkok. Levi’s, misalnya telah mengurangi produksinya di Cina dari 16 persen pada 2017 menjadi 1-2 persen pada 2019. Dalam menghadapi perang tarif dan pagebluk COVID-19, dua pertiga dari 160 eksekutif yang disurvei lintas industri di AS baru-baru ini mengindikasikan bahwa mereka telah pindah, berencana untuk pindah, atau sedang mempertimbangkan untuk memindahkan operasi mereka dari Cina ke Meksiko, di mana biaya unit tenaga kerjanya sebanding dan akan lebih dekat dengan pasar AS.[55] Perang ekonomi Washington melawan Cina saat ini begitu sengit bahwa pemerintahan Trump menolak untuk menjatuhkan tarif pada alat pelindung diri (APD untuk tenaga medis, sampai akhir Maret.[56] Sementara itu Trump menunjuk Peter Navarro, ekonom yang bertanggung jawab atas perang ekonomi atas hegemoni China, sebagai kepala Produksi Pertahanan untuk menangani krisis COVID-19.

Perannya dalam mengarahkan perang perdagangan AS melawan Cina dan sebagai koordinator kebijakan dari Undang-Undang Produksi Pertahanan, Navarro menuduh Cina melakukan “kejutan perdagangan” yang menyebabkan kehilangan “lebih dari lima juta pekerjaan manufaktur dan 70.000 pabrik” dan “membunuh puluhan ribu orang Amerika ”dengan menghancurkan pekerjaan, keluarga, dan kesehatan. Dia kini juga menyatakan bahwa langkah tersebut diikuti dengan “guncangan virus China.”[57] Atas dasar propaganda ini, Navarro melanjutkan untuk mengintegrasikan kebijakan AS sehubungan dengan pandemi untuk kebutuhan untuk melawan apa yang disebutnya sebagai “virus Cina” dan menarik rantai pasokan AS dari Cina. Namun, karena sekitar sepertiga dari semua produk manufaktur global saat ini diproduksi di Cina, paling banyak di sektor teknologi tinggi, dan karenanya tetap menjadi kunci bagi hukum tenaga kerja global, maka upaya restrukturisasi semacam itu akan sangat mengganggu.[58]

Beberapa perusahaan multinasional yang telah memindahkan produksinya keluar dari Tiongkok kemudian belajar bahwa keputusan itu tidak “membebaskan” mereka dari ketergantungan mereka. Samsung, misalnya, telah mulai memindahkan komponen elektronik dari Cina ke pabriknya di Vietnam — tempat tujuan bagi perusahaan yang ingin keluar dari tarif perang dagang. Tetapi Vietnam juga rentan, karena mereka sangat bergantung pada Cina untuk bahan atau bagian perantara.[59] Kasus serupa telah terjadi di negara-negara tetangga di Asia Tenggara. Cina adalah mitra dagang terbesar Indonesia, dan sekitar 20 hingga 50 persen bahan baku negara untuk industri berasal dari Tiongkok. Pada bulan Februari, pabrik-pabrik di Batam, Indonesia, sudah harus berurusan dengan bahan baku dari China (yang terhitung 70 persen dari diproduksi di wilayah itu). Perusahaan di sana mengatakan bahwa mereka mempertimbangkan untuk mendapatkan bahan dari negara lain tetapi “itu tidak mudah.” Bagi banyak pabrik, opsi yang layak ialah “berhenti beroperasi sepenuhnya.”[60] Kapitalis seperti Cao Dewang, miliarder pendiri China Fuyao Glass Industry, memprediksi melemahnya peran China dalam rantai pasokan global setelah pandemi tetapi menyimpulkan setidaknya hal itu hanya dalam jangka pendek, “sulit untuk menemukan ekonomi untuk menggantikan Cina dalam rantai industri global” – melihat kesulitan dari minimnya infrastruktur di negara-negara Asia Tenggara, biaya tenaga kerja yang lebih tinggi di Utara, dan hambatan yang “negara kaya harus hadapi jika mereka ingin membangun kembali manufaktur di negara sendiri.[61]

Krisis COVID-19 bukanlah disebabkan oleh kekuatan eksternal atau sebagai peristiwa “angsa hitam” yang tidak dapat diprediksi, melainkan bagian dari tendensi krisis yang dapat diprediksi secara luas, meskipun waktunya tidak selalu akurat. Saat ini, pusat dari sistem kapitalis dihadapkan dengan stagnasi produksi dan investasi, mengandalkan ekspansi dan mengumpulkan kekayaan pada tingkat suku bunga yang rendah secara historis, jumlah hutang yang tinggi, aliran modal ke belahan dunia, dan spekulasi keuangan. Ketidaksetaraan penghasilan dan kekayaan mencapai tingkat yang tidak ada bandingan historisnya. Keretakan dalam ekologi  telah mencapai proporsi yang bisa ditanggung planet ini dan menciptakan lingkungan yang tidak bisa lagi menjadi tempat yang aman bagi umat manusia. Pandemi baru muncul atas dasar sistem modal keuangan monopoli global yang menjadikan dirinya sebagai vektor utama penyakit. Sistem negara di manapun mengalami kemunduran menuju tingkat represi yang lebih tinggi, baik di bawah  resep negara neoliberalisme atau neofasisme.

Sifat luar biasa eksploitatif dan destruktif dari sistem ini secara nyata membuktikan bahwa posisi pekerja kerah biru (buruh kasar) di manapun sebagai pekerja infrastruktur penting (sebuah konsep yang diformalkan di AS oleh Departemen Keamanan Dalam Negeri) dan diharapkan untuk melakukan produksi sebagian besar tanpa APD sementara kelas-kelas yang lebih istimewa dan dapat melakukan penjarakan sosial bisa mengisolasi diri mereka.[62] Lockdown yang efektif akan jauh lebih luas dan akan membutuhkan penyediaan dan perencanaan negara, memastikan bahwa seluruh populasi dilindungi, daripada berfokus pada dana talangan untuk kepentingan finansial. Justru karena sifat perbedaan kelas dalam kebijakan penjarakan sosial, membuat akses ke pendapatan, perumahan, sumber daya, dan perawatan medis untuk COVID-19 di AS menurun terutama pada populasi penduduk kulit berwarna, yang mengalami kondisi ketidakadilan ekonomi dan lingkungan paling parah.[63]

Produksi Sosial dan Metabolisme Planet

Pandangan mendasar materialis Marx adalah apa yang disebutnya “hierarki… kebutuhan.”[64] Artinya bahwa manusia adalah makhluk material, bagian dari dunia alami, serta menciptakan dunia sosial mereka sendiri di dalamnya. Sebagai makhluk materi, mereka harus memenuhi kebutuhan material mereka terlebih dahulu — makan dan minum, menyediakan makanan, tempat tinggal, pakaian, dan kondisi dasar kehidupan yang sehat, sebelum mereka mengejar kebutuhan mereka yang lebih tinggi, merupakan hal yang perlu untuk direalisasikan oleh potensi manusia.[65] Namun, dalam masyarakat yang punya lapisan kelas sosial yang selalu menjadi masalah yakni sebagian besar, produsen langsung, berada dalam kondisi di mana mereka terjebak dalam perjuangan terus-menerus untuk memenuhi kebutuhan paling dasar mereka. Hal ini belum mengalami perubahan secara mendasar. Terlepas dari kekayaan berlimpah yang diciptakan oleh pertumbuhan selama berabad-abad, jutaan orang bahkan dalam masyarakat kapitalis terkaya tetap berada dalam kondisi rentan dalam hal kebutuhan mendasar seperti ketahanan pangan, perumahan, air bersih, perawatan kesehatan, dan transportasi — dalam kondisi di mana tiga konglomerat di Amerika Serikat memiliki kekayaan sebanyak setengah dari populasi.

Sementara itu, lingkungan lokal dan regional telah berada dalam bahaya – seperti halnya semua ekosistem dunia dan Sistem Bumi itu sendiri sebagai tempat yang aman bagi umat manusia. Penekanan pada “efisiensi biaya” global (eufemisme untuk tenaga kerja murah dan tanah murah) telah menyebabkan modal multinasional menciptakan sistem rantai komoditas global yang kompleks, dirancang di setiap titik untuk memaksimalkan eksploitasi berlebihan terhadap tenaga kerja di seluruh dunia, juga sembari mengubah seluruh dunia menjadi pasar real-estate, sebagian besarnya merupakan ladang untuk operasi agribisnis. Hasilnya adalah pengerukan sebesar-besarnya surplus dari negara pinggiran dalam sistem global dan penjarahan sumber daya bersama. Dalam sistem penghitungan nilai yang sempit yang digunakan oleh kapital, sebagian besar keberadaan material, termasuk seluruh Sistem Bumi dan kondisi sosial manusia, sejauh ini tidak masuk dalam hitungan pasar dan dianggap sebagai eksternalitas, dirampok dan dirampas demi kepentingan akumulasi modal. Apa yang secara keliru dikenal sebagai “tragedi milik bersama”/tragedy of the commons seharusnya dipahami, seperti yang ditunjukkan Guy Standing dalam Plunder of the Commons, sebagai “tragedi privatisasi.” Kondisi saat ini, sejalan Paradoks Lauderdale yang cukup terkenal, diperkenalkan oleh Earl of Lauderdale pada awal abad kesembilan belas, bahwa kekayaan publik dihancurkan untuk meningkatkan kekayaan pribadi, menjadikan seluruh planet sebagai bidang operasinya.[66]

Sirkuit kapital dalam imperialisme mutakhir telah menerapkan kecenderungan ini sepenuhnya, menyebabkan krisis ekologis kian melaju cepat dengan mengancam peradaban manusia seperti yang kita ketahui, sebuah badai bencana yang sempurna. Hal ini ditopang di atas sistem akumulasi yang sama sekali terpisah dari desakan kebutuhan rasional dari populasi independen.[67] Akumulasi dan pengumpulan kekayaan secara umum semakin tergantung pada proliferasi segala jenis limbah. Di tengah-tengah bencana ini, Perang Dingin Baru dan meningkatnya kemungkinan kerusakan termonuklir telah muncul, dengan AS yang agresif dan semakin tidak stabil berada di garis depan. Hal ini telah membuat Bulletin of Atomic Scientists memindahkan jam kiamat yang terkenal ke 100 detik pada tengah malam, perubahan paling dekat sejak jam simbolis ini dimulai pada tahun 1947.[68]

Pagebluk COVID-19 dan ancaman meningkatnya kejadian yang lebih mematikan merupakan hasil dari perkembangan imperialis akhir yang sama. Rantai eksploitasi dan perampasan global telah merusak kestabilan, tidak hanya ekologi tetapi juga hubungan antar spesies, menciptakan patogen beracun. Semua ini dapat dilihat dari meningkatnya pengenalan praktik agribisnis dengan monokultur genetiknya; perusakan ekosistem besar-besaran yang melibatkan pencampuran spesies yang tidak terkendali; dan sistem valorisasi global yang didasarkan pada pengolahan tanah, tubuh, spesies, dan ekosistem sebagai begitu banyak “pemberian gratis” dari alam yang akan diambil alih, melampaui batasan alam dan sosial.

Baca juga:  Cara Orang Miskin Menularkan Virus Corona

Virus baru bukanlah satu-satunya problem kesehatan global. Penggunaan antibiotik yang berlebihan dalam agribisnis dan juga obat-obatan modern membuat pertumbuhan bakteri hama berbahaya yang menyebabkan lebih banyak kasus kematian, yang pada pertengahan abad ini bisa melampaui kematian tahunan akibat kanker, dan mendorong Organisasi Kesehatan Dunia untuk menyatakan “darurat kesehatan global”.[69] Penyakit menular ini, dikarenakan kondisi masyarakat kelas kapitalis yang tidak setara, menjadikan kelas pekerja dan orang miskin pihak yg paling terdampak, dan pada populasi di negara pinggiran, sistem yang menghasilkan penyakit seperti itu dalam mengejar kekayaan kuantitatif akan membebankan ‘pembunuhan sosial’ kepada kelompok tersebut, seperti yang dipaparkan oleh Engels dan Chartis pada abad ke-19. Perkembangan revolusioner dalam epidemiologi yang diwakili oleh One Health dan Structural One Health menyatakan, etiologi pandemi baru dapat dilacak pada masalah keseluruhan dari kerusakan ekologis yang disebabkan oleh kapitalisme.

Di sinilah pentingnya “pemulihan revolusioner masyarakat dalam skala luas” kembali diangkat, seperti yang telah terjadi berkali-kali di masa lampau.[70] Logika perkembangan sejarah kontemporer menunjukkan perlunya sistem yang lebih berbasis komunal dari reproduksi metabolik sosial, di mana produsen yang terlibat secara rasional mengatur metabolisme sosial mereka dengan alam, sehingga dapat mempromosikan pengembangan bebas masing-masing sebagai dasar pengembangan bebas semua, sambil melestarikan energi dan lingkungan.[71] Masa depan umat manusia di abad ke-21 tidak lagi bertumpu pada arah peningkatan eksploitasi baik ekonomi dan ekologi, imperialisme, dan perang. Sebaliknya, apa yang disebut Marx “kebebasan secara umum” dan pelestarian “metabolisme planet” yang layak merupakan kebutuhan paling mendesak saat ini dalam menentukan masa depan kelangsungan hidup manusia hari ini dan nanti.[72]

Catatan Kaki

 

[1] http://See John Bellamy Foster, “Late Imperialism,” Monthly Review 71, no. 3 (July–August 2019): 1–19; Samir Amin, Modern Imperialism, Monopoly Finance Capital, and Marx’s Law of Value (New York: Monthly Review Press, 2018).

[2] On the global labor arbitrage and commodity chains, see Intan Suwandi, Value Chains (New York: Monthly Review Press, 2019), 32–33, 53–54. Our statistical analysis of unit labor costs was done collaboratively with R. Jamil Jonna, also published as “Global Commodity Chains and the New Imperialism,” Monthly Review 70, no. 10 (March 2019): 1–24. On the global land arbitrage, see Eric Holt-Giménez, A Foodie’s Guide to Capitalism (New York: Monthly Review Press, 2017), 102–4.

[3] Evan Tarver, “Value Chain vs. Supply Chain,” Investopedia, March 24, 2020.

[4] Karl Marx, “The Value Form,” Capital and Class 2, no. 1 (1978): 134; Karl Marx and Frederick Engels, Collected Works, vol. 36 (New York: International Publishers, 1996), 63. See also Karl Marx, Capital, vol. 1 (London: Penguin, 1976), 156, 215; Marx, Capital, vol. 2 (London: Penguin, 1978), 136–37.

[5] Rudolf Hilferding, Finance Capital (London: Routledge, 1981), 60.

[6] Terence Hopkins and Immanuel Wallerstein, “Commodity Chains in the World Economy Prior to 1800,” Review 10, no. 1 (1986): 157–70.

[7] Marx, Capital, vol. 1, 638.

[8] Karl Marx, Capital, vol. 3 (London: Penguin, 1981), 949–50; Marx, Capital, vol. 1, 348–49.

[9] Robert G. Wallace, Luke Bergmann, Richard Kock, Marius Gilbert, Lenny Hogerwerf, Rodrick Wallace, and Mollie Holmberg, “The Dawn of Structural One Health: A New Science Tracking Disease Emergence Along Circuits of Capital,” Social Science and Medicine 129 (2015): 68–77; Rob [Robert G.] Wallace, “We Need a Structural One Health,” Farming Pathogens, August 3, 2012; J. Zinsstag, “Convergence of EcoHealth and One Health,” Ecohealth 9, no. 4 (2012): 371–73; Victor Galaz, Melissa Leach, Ian Scoones, and Christian Stein, “The Political Economy of One Health,” STEPS Centre, Political Economy of Knowledge and Policy Working Paper Series (2015).

[10] Rodrick Wallace, Luis Fernando Chavez, Luke R. Bergmann, Constância Ayres, Lenny Hogerwerf, Richard Kock, and Robert G. Wallace, Clear-Cutting Disease Control: Capital-Led Deforestation, Public Health Austerity, and Vector-Borne Infection (Cham, Switzerland: Springer, 2018), 2.

[11] Wallace et al., “The Dawn of Structural One Health,” 70–72; Wallace, “We Need a Structural One Health”; Rob Wallace, Alex Liebman, Luis Fernando Chaves, and Rodrick Wallace, “COVID-19 and Circuits of Capital,” Monthly Review 72, no.1 (May 2020): 12; István Mészáros, Beyond Capital (New York: Monthly Review Press, 1995); Richard Levins and Richard Lewontin, The Dialectical Biologist (Cambridge, MA: Harvard University Press, 1985).

 

[12] Rob Wallace, Big Farms Make Big Flu (New York: Monthly Review Press, 2016), 60–61, 118, 120–21, 217–19, 236, 332; Rob Wallace, “Notes on a Novel Coronavirus,” MR Online, January 29, 2020. On the Lauderdale Paradox, see John Bellamy Foster, Brett Clark, and Richard York, The Ecological Rift (New York: Monthly Review Press, 2010), 53–72.

[13] See John Bellamy Foster, The Return of Nature (New York: Monthly Review Press, 2020), 61-64, 172-204; Frederick Engels, The Condition of the Working Class in England (Chicago: Academy Chicago, 1984); E. Ray Lankester, The Kingdom of Man (New York: Henry Holt, 1911), 31–33, 159–91; Richard Levins, “Is Capitalism a Disease?,” Monthly Review 52, no. 4 (September 2000): 8–33. See also Howard Waitzkin, The Second Sickness (New York: Free Press, 1983).

[14] Wallace, Big Farms Make Big Flu, 53.

[15] Wallace, Big Farms Make Big Flu, 49.

[16] Wallace, Big Farms Make Big Flu, 33–34.

[17] Wallace, Big Farms Make Big Flu, 81.

[18] Mathilde Paul, Virginie Baritaux, Sirichai Wongnarkpet, Chaitep Poolkhet, Weerapong Thanapongtharm, François Roger, Pascal Bonnet, and Christian Ducrot, “Practices Associated with Highly Pathogenic Avian Influenza Spread in Traditional Poultry Marketing Chains,” Acta Tropica 126 (2013): 43–53.

[19] Wallace, Big Farms Make Big Flu, 306; Wallace et al., “The Dawn of Structural One Health,” 69, 71, 73.

[20] Wallace et al., “COVID-19 and Circuits of Capital,” 11.

[21] Holt-Giménez, A Foodie’s Guide to Capitalism, 102–5.

[22] Philip McMichael, “Feeding the World,” in Socialist Register 2007: Coming to Terms with Nature, ed. Leo Panitch and Colin Leys (New York: Monthly Review Press, 2007), 180.

[23] Farshad Araghi, “The Great Global Enclosure of Our Times,” in Hungry for Profit, ed. Fred Magdoff, John Bellamy Foster, and Fredrick H. Buttel (New York: Monthly Review Press, 2000), 145–60.

[24] Wallace et. al., “COVID-19 and Circuits of Capital,” 6; Mike Davis, Planet of Slums (London: Verso, 2016); Mike Davis interviewed by Mada Masr, “Mike Davis on Pandemics, Super-Capitalism, and the Struggles of Tomorrow,” Mada Masr, March 30, 2020.

[25] Wallace, Big Farms Make Big Flu, 61. On the significance of the concepts of the residual and residues for dialectics, see J. D. Bernal, “Dialectical Materialism,” in Aspects of Dialectical Materialism, ed. Hyman Levy et. al (London: Watts and Co., 1934), 103–4; Henri Lefebvre, Metaphilosophy (London: Verso, 2016), 299–300.

[26] Karl Marx and Frederick Engels, Collected Works, vol. 25 (New York: International Publishers, 1975), 460–61; Lankester, The Kingdom of Man, 159.

 

[27] Matt Leonard, “What Procurement Managers Should Expect from a Bullwhip on Crack,” Supply Chain Dive, March 26, 2020.

 

[28] On time-based competition and just-in-time production, see “What Is Time-Based Competition,” Boston Consulting Group.

[29] Suwandi, Value Chains, 59–61; John Smith, Imperialism in the Twenty-First Century (New York: Monthly Review Press, 2016).

[30] Walden Bello, “Coronavirus and the Death of ‘Connectivity,’” Foreign Policy in Focus, March 22, 2010; “Annual Growth in Global Air Traffic Passenger Demand from 2006 to 2020,” Statista, accessed April 22, 2020.

[31] Shannon K. O’Neil, “How to Pandemic Proof Globalization,” Foreign Affairs, April 1, 2020.

[32] Stefano Feltri, “Why Coronavirus Triggered the First Global Supply Chain Crisis,” Pro-Market, March 5, 2020.

[33] Elisabeth Braw, “Blindsided on the Supply Side,” Foreign Policy, March 4, 2020.

[34] Francisco Betti and Per Kristian Hong, “Coronavirus Is Disrupting Global Value Chains. Here’s How Companies Can Respond,” World Economic Forum, February 27, 2020; Braw, “Blindsided on the Supply Side.”

 

[35] Braw, “Blindsided on the Supply Side”; Thomas Y. Choi, Dale Rogers, and Bindiya Vakil, “Coronavirus is a Wake-Up Call for Supply Chain Management,” Harvard Business Review, March 27, 2020.

 

[36]Nearly 3 Billion People Around the Globe Under COVID-19 Lockdowns,” World Economic Forum, March 26, 2020.

[37] Lizzie O’Leary, “The Modern Supply Chain Is Snapping,” Atlantic, March 19, 2020.

[38] Choi et. al., “Coronavirus is a Wake-Up Call for Supply Chain Management”; Willy Shih, “COVID-19 and Global Supply Chains: Watch Out for Bullwhip Effects,” Forbes, February 21, 2020.

[39] Estimated March Imports Hit Five Year-Low, Declines Expected to Continue Amid Pandemic,” National Retail Federation, April 7, 2020.

[40] Emma Cosgrove, “FAA Offers Safety Guidance for Passenger Planes Ferrying Cargo,” Supply Chain Dive, April 17, 2020.

[41] Trade Set to Plunge as COVID-19 Pandemic Upends Global Economy,” World Trade Organization, April 8, 2020; S. L. Fuller, “WTO: 2020 Trade Levels Could Rival the Great Depression,” Supply Chain Dive, April 9, 2020.

[42] Deborah Abrams Kaplan, “Why Supply Chain Data is King in the Coronavirus Pandemic,” Supply Chain Dive, April 7, 2020; O’Leary, “The Modern Supply Chain Is Snapping”; Chad P. Bown, “COVID-19: Trump’s Curbs on Exports of Medical Gear Put Americans and Others at Risk,” Peterson Institute for International Economics, April 9, 2020; Shefali Kapadia, “From Section 301 to COVID-19,” Supply Chain Dive, March 31, 2020.

[43] Finbarr Bermingham, Sidney Leng, and Echo Xie, “China Ramps Up COVID-19 Test Kit Exports Amid Global Shortage, as Domestic Demand Dries Up,” South China Morning Post, March 30, 2020.

[44] Kapadia, “From Section 301 to COVID-19”; “Companies’ Supply Chains Vulnerable to Coronavirus Shocks,” Financial Times, March 8, 2020; Bermingham, Leng, and Xie, “China Ramps Up COVID-19 Test Kit Exports.”

[45] COVID-19: Where Is Your Supply Chain Disruption?,” Future of Sourcing, April 3, 2020.

[46] Thomas A. Foster, “Risky Business: The True Cost of Supply-Side Disruptions,” Supply Chain Brain, May 1, 2005; Kevin Hendricks and Vinod R. Singhal, “The Effect of Supply Chain Disruptions on Long-Term Shareholder Profitability, and Share Price Volatility,” June 2005, available at http://supplychainmagazine.fr.

[47] “Supply-Chain Finance is New Risk in Crisis,” Wall Street Journal, April 4, 2020; “CNE/CIS Trade Finance Survey 2017,” BNE Intellinews, April 3, 2017.

[48] Stephen Roach, “This Is Not the Usual Buy-on-Dips Market,” Economic Times, March 18, 2020.

[49] COVID-19 Response Team, Imperial College, Report 12: The Global Impact of COVID-19 and Strategies for Mitigation and Suppression (London: Imperial College, 2020), 3–4, 11.

[50] Ahmed Mushfiq Mobarak and Zachary Barnett-Howell, “Poor Countries Need to Think Twice About Social Distancing,” Foreign Policy, April 10, 2020; Zachary Barnett-Howell and Ahmed Mushfiq Mobarak, “The Benefits and Costs of Social Distancing in Rich and Poor Countries,” ArXiv, April 10, 2020.

[51] Davis, “Mike Davis on Pandemics, Super-Capitalism, and the Struggles of Tomorrow.”

[52] President Maduro: Venezuela Faces the COVID-19 With Voluntary Quarantine Without Curfew or State of Exception,” Orinoco Tribune, April 18, 2020; Frederico Fuentes, “Venezuela: Community Organization Key to Fighting COVID-19,” Green Left, April 9, 2020.

[53] “Analysis: The Pandemic Is Ravaging the World’s Poor Even If They Are Untouched by the Virus,” Washington Post, April 15, 2020; Matt Leonard, “India, Bangladesh Close Factories Amid Coronavirus Lockdown,” Supply Chain Dive, March 26, 2020; Finbarr Bermingham, “Global Trade Braces for ‘Tidal Wave’ Ahead, as Shutdown Batters Supply Chains,” South China Morning Post, April 3, 2020; I. P. Singh, “Punjab: ‘No Orders, No Raw Material,’” Times of India, April 1, 2020.

[54] Roach, “This Is Not the Usual Buy-On-Dips Market.”

[55] Kapadia, “From Section 301 to COVID-19.”

[56] Bown, “COVID-19: Trump’s Curbs on Exports of Medical Gear.”

[57] David Ruccio, “The China Syndrome,” Occasional Links and Commentary, April 14, 2020; Alan Rappeport, “Navarro Calls Medical Experts ‘Tone Deaf’ Over Coronavirus Shutdown,” New York Times, April 13, 2020; John Bellamy Foster, Trump in the White House (New York: Monthly Review Press, 2017), 84–85.

[58] Cary Huang, “Is the Coronavirus Fatal for Economic Globalisation?,” South China Morning Post, March 15, 2020; Frank Tang, “American Factory Boss Says Pandemic Will Change China’s Role in Global Supply Chain,”South China Morning Post, April 15, 2020.

[59] John Reed and Song Jung-a, “Samsung Flies Phone Parts to Vietnam After Coronavirus Hits Supply Chains,” Financial Times, February 16, 2020; Finbarr Bermingham, “Vietnam Lured Factories During Trade War, but Now Faces Big Hit as Parts from China Stop Flowing,” South China Morning Post, February 28, 2020.

[60] Fadli, “Batam Factories at Risk as Coronavirus Outbreak Stops Shipments of Raw Materials from China,” Jakarta Post, February 18, 2020; “Covid-19: Indonesia Waives Income Tax for Manufacturing Workers for Six Months,” Star, March 16, 2020.

[61] Tang, “American Factory Boss Says Pandemic Will Change China’s Role in Global Supply Chain.”

[62] Christopher C. Krebs, “Advisory Memorandum on Identification of Essential Critical Infrastructure Workers,” U.S. Department of Homeland Security, March 28, 2020.

[63] Lauren Chambers, “Data Show that COVID-19 is Hitting Essential Workers and People of Color Hardest,” Data for Justice Project, American Civil Liberties Union, April 7, 2020.

[64] Karl Marx, Texts on Method (Oxford: Basil Blackwell, 1975), 195.

[65] Frederick Engels, “The Funeral of Karl Marx,” in Karl Marx Remembered, ed. Philip S. Foner (San Francisco: Synthesis, 1983), 39.

[66] Guy Standing, Plunder of the Commons: A Manifesto for Sharing Public Health (London: Pelican, 2019), 49; John Bellamy Foster and Brett Clark, The Robbery of Nature (New York: Monthly Review Press, 2020), 167–72.

[67] John Bellamy Foster and Robert W. McChesney, The Endless Crisis (New York: Monthly Review Press, 2012).

[68] It’s Now 100 Seconds to Midnight,” Bulletin of Atomic Scientists, January 23, 2020.

[69] “Microbial Resistance a Global Health Emergency,” UN News, November 12, 2018; Ian Angus, “Superbugs in the Anthropocene,” Monthly Review 71, no. 2 (June 2019).

 

[70] Karl Marx and Frederick Engels, The Communist Manifesto (New York: Monthly Review Press, 1964), 2.

 

[71] Karl Marx, Capital, vol. 3, 949.

[72] Karl Marx and Frederick Engels, Collected Works, vol. 1 (New York: International Publishers, 1975), 173; Wallace et al., “COVID-19 and Circuits of Capital.”

 

Komentar Pembaca CaraBaca

BUKU TERBITAN CARABACA.ID

Melawan Rezim Infrastruktur - Studi Ekonomi Politik

Sebagai cara untuk tetap waras dan terus melanggengkan perlawanan terhadap segala bentuk ketidakadilan, CaraBaca terus memproduksi wacana alternatif  dengan menulis, membaca, diskusi, dan mengorganisir akar rumput.
BELI PRDOUK KAMI SEBAGAI DUKUNGAN
close-link
0%