Cara Orang Miskin Menularkan Virus Corona

Tujuh alasan sembrono

Oleh Irwan AR 

Heri Dono : The Pleasure of Chaos
Heri Dono : The Pleasure of Chaos
Pernyataan Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto yang menganggap orang miskin yang menulari orang kaya mestinya dianggap sebagai salah ucap dan sembrono saja. Bukan lantas memaki beliau telah menyakiti hati orang miskin dan tak punya otak sebelum bicara.

Kan pekerjaan sebagai jubir itu berat, tidak seperti pekerjaan netizen +62 yang nyinyir di sosmed. Sang jubir digaji besar tidak untuk bikin caption nyinyir, kan?. Beliau juga kan capek dan lelah bekerja update data secara nasional yang makin menekannya karena kok yang positif Corona makin tinggi. Grafik “Y” semakin jauh meninggalkan grafik “X”.

Nah, semua itu makin membuat pikirannya sudah tidak konsentrasi, jadi untuk merilekskan suasana mungkin beliau lagi mau guyon. Tapi sekadar memaki, selain gak sopan sama orang tua, ya mestinya berikan fakta apalagi anak kampus yang katanya intelek. Seperti misalnya memberi alasan kenapa pernyataan beliau ini sembrono.

Pertama; para buruh yang miskin misalnya sudah sejak lama bahkan jauh sebelum Corona atau tepatnya sejak Inggris mengalami fase industrialisasi dan Mbah Karl Marx mengamati kehidupan buruh yang teralienasi akibat isolasi pemilik pabrik karena buruh harus menjual waktu dan tenaganya. Bahkan saat pandemi Convid-19 sudah menggetarkan negeri, yang kata Koes Plus sebagai tanah yang tongkat kayu jadi tanaman ini, orang-orang kaya sudah #dirumahaja. Tapi para buruh miskin ini harus tetap masuk untuk membuat mesin pabrik tetap berputar bagi kapital. Dengan melihat itu tanpa perlu baca hingga tamat Das Kapital berjilid jillid dan tebalnya minta ampun untuk melihat bahwa buruh sudah teralienasi (baca: terisolasi) dari kehidupannya. Ini lebih dari sekedar social distancing. Artinya nih, boro-boro menulari bosnya atau orang kaya, menulari diri sendiri kayaknya susah, kan teralienasi!

Baca juga:  Joserizal Jurnalis

Kedua; sebelum dan sesudah imbauan untuk #dirumahaja dikeluarkan pemerintah, tempat tongkrongan orang miskin dan orang kaya berbeda. Buruh bangunan dan pekerja kasar di kota besar misalnya tidak pernah terlihat gabung kongkow sama anaknya Harry Tanoe di Excelso. Bahkan seandainya orang miskin ini nabung setahun untuk bisa memesan segelas cappucino latte di kafe-kafe sejuk di Plaza Senayan, kayaknya detektornya yang bakal duluan mendiskriminasi menjerit orang miskin dilarang masuk. Jadi kalau memang benar Corona disebarkan orang miskin, ya salah orang kaya yang ikutan nongkrong di warung kopi pinggir jalan yang kopinya bercampur serbuk debu jalanan tapi serasa pake creamer itu, sok-sok proletar, nah kan kena Corona, salah sendiri.

Ketiga; bagaimana ceritanya orang miskin menulari orang kaya. Mereka selain tidak pernah satu meja tongkrongan di jalan raya juga gak pernah satu angkot misalnya. Sudah lama orang kaya mengisolasi dirinya dalam mobil-mobil mewahnya dengan kaca mobil hitam pekat. Kalaupun pernah ketemu, paling di lampu merah si kaya dalam mobil pura-pura tidak lihat sambil sibuk haha hihihihi chatan WhatsApp. Paling kalau lagi baik atau lagi eneg melihat tampang anak anak miskin nan dekil itu ngamen, si kaya menurunkan sedikit kaca mobilnya untuk ngasih dua ribuan atau recehan. Jadi kalau lewat, virus Corona itu menyebar berarti orang kaya dong yang menyebarkannya. Eh tapi tunggu dulu, mungkin si kaya memberi duit besar terus si miskin memberi kembaliannya nah uang kembalian yang diambil si kaya ini virus mulai nyebar dan kena si menteri, lalu kena orang kaya temannya menteri dan seterusnya hingga menjadi teror menakutkan.

Baca juga:  Recreation :

Keempat; alasan ngasih uang besar itu lalu minta kembaliannya bisa dibantah sih. Kan gak pernah ada orang kaya ngasih duit besar. Paling sudah disiapin sama supirnya duit receh kok, itu salah satu tugas sang supir. Kalau tiba-tiba ada orang kaya yang mendadak ngasih duit besar maka coba ingat-ingat mungkin sekarang lagi musim Pilkada atau mungkin itu lagi bulan puasa. Tapi pun ngasih duit besar gak sampai hati juga kale minta kembaliannya, bikin malu-malu orang kaya aja. Lagian derajat orang kayanya bisa diukur kalau masih minta kembalian, mungkin si kaya itu orang kaya baru (OKB) kekayaannya belum level unicorn apalagi decacorn.

Kelima; Lagian kembalian orang miskin itu juga cuma lembaran duit lusuh dan lecek mana mau orang kaya yang suka pegang dollar itu duit lusuh orang miskin. Soal duit ini bisa mematahkan asumsi orang miskin menularkan Corona ke orang kaya lewat duit. Orang kaya kadang gak sama duitnya sama orang miskin. Mereka suka dollar, cukup beberapa lembar sudah setara dengan berikat-ikat duit rupiah. Etapi, orang kaya mana di jaman netijen lebih pintar dari profesor ini yang masih pake duit kartal. Orang kaya kan biasanya pake kartu kredit, transaksi juga lebih sering lewat M-banking gak level dong pake receh, kan “horang kaya”.

Baca juga:  Hari Kasih Sayang dan Rayuan Konsumerisme

Keenam; kan Corona awalnya dari negeri China menyebar ke beberapa negara, terus itu dibawa ke dalam negeri. Mana ada orang miskin bisa jalan-jalan ke luar negeri. Ada urusan apa mereka ke luar negeri, mau rapat internasionale partai komunis di China? gak mungkin kan. Jangankan menghadiri rapat partai komunis itu, namamu hanya satu kata kayak Samin aja kamu bisa dibully habis-habisan oleh netijen yang maha benar itu sebagai anak komunis bos! Atau mungkin ada si kaya kayak Hotman Paris atau Raffi Ahmad yang bikin program acara kuis “Jalan-Jalan Bareng Si Miskin Biar Melek Salju” terus orang miskin ini karena gak punya pakaian branded terus gampang dijangkiti virus lalu dibawa sekembalinya dari negeri bersalju itu.

Ketujuh; Mungkin yang dimaksud proses penularannya terjadi saat si miskin yang karyawan toko Matahari itu lagi makan bersama dalam acara open house sama si bos James Riady di pinggir kolam renangnya. Tapi menurut pengalaman ikutan open house di rumah bos, biasanya nih si bos di meja VVIP bersama pejabat. Makannya ya di situ juga mana mau bos ikut antri makanan prasmanan atau nasi dos. Nanti gak kebagian, yang malu siapa? Etapi kan biasanya si bos bagi-bagi sembako dan THR untuk orang miskin sambil cium tangan kan, nah dari situ orang-orang miskin menularkan virus coronanya kepada orang kaya. Nah bisa jadi tuh.

Etsss tunggu dulu, bagi-bagi THR kan pas mau lebaran dan itukan masih lama ya? []

Komentar Pembaca CaraBaca

BUKU TERBITAN CARABACA.ID

Melawan Rezim Infrastruktur - Studi Ekonomi Politik

Sebagai cara untuk tetap waras dan terus melanggengkan perlawanan terhadap segala bentuk ketidakadilan, CaraBaca terus memproduksi wacana alternatif  dengan menulis, membaca, diskusi, dan mengorganisir akar rumput.
BELI PRDOUK KAMI SEBAGAI DUKUNGAN
close-link
0%