Oleh Muhammad Ridha

Cornelis “menemukan” reruntuhan bangunan batu yang ternyata kemudian dikenal dengan nama candi Borobudur pada tahun 1814. Sebuah laporan yang masuk ke Jenderal Raffleslah yang menjadi hulu cerita kenapa dia akhirnya harus berangkat ke desa Bumi Segoro, Karesidenan Kedu, untuk membuka belukar dan gundukan tanah yang menutupi bangunan besar candi Borobudur.

Untungnya, Cornelis atau Raffles sebagai penguasa kolonial pada waktu itu tidak merasa menemukan Borobudur lalu secara dramatis kemudian menamakannya candi Rafles atau Candi Cornelis atau candi London, tempat asal Raffles atau nama-nama khas dari penemu-penemu Eropa. Ini beda dengan nasib Amerika yang diambil dari nama Amerigo Vespucci seorang petugas Humas dari Colombus yang “menemukan” benua ini. Atau dengan benteng Ford Rotterdam, di Makassar, yang adalah nama dari kota kelahiran Speelman, jenderal yang berhasil menaklukkan/ “menemukan kembali” pemilik sah benteng itu yang menamakannya benteng Ujung Pandang. Benteng Vredeberg, di kota Yogyakarta, juga demikian. Atau benteng Amsterdam, di Ternate. Atau di tempat lain dan di momen lain. Kolonialisme (atau poskolonialisme) awalnya memang pada “sebuah nama” lalu pada pikiran yang mengingat nama itu terus-menerus. Seperti kita saat ini.

Untung yang kedua adalah dari penggalian/”penemuan kembali” oleh Cornelis (1814), oleh karesidenan Kedu Hartman (1835), kemudian Wilsen yang melengkapi dengan gambar dan dokumentasi foto oleh Kinsbergen (1873) kita menikmatinya hingga saat ini. Sebuah mahakarya agung yang oleh UNESCO telah dimasukkan dalam daftar Word Heritage List (WHL) sebagai warisan budaya dunia (word culture heritage) dengan nomor 348 tertanggal 13 september 1991 dan diperbarui menjadi Nomor 596 tahun yang sama. Sebagai warisan dunia, oleh UNESCO, Borobudur memenuhi kriteria penting: 1. Mewakili sebuah mahakarya kejeniusan manusia. 2. Memperlihatkan pentingnya pertukaran nilai-nilai kemanusiaan, dalam suatu rentang waktu atau dalam suatu kawasan budaya di dunia, terhadap perkembangan arsitektur atau tekhnologi, karya monumental, tata kota, atau rancangan lanskap.

Kita kurang beruntung karena keindahan ini seolah kita sandarkan pada kriteria dan pencaplokan UNESCO yang juga lembaga dunia yang dikuasai oleh orang-orang sekampung Raffles dan Speelman.

***

Butuh waktu 45 menit dari kota Yogyakarta menuju kelurahan Borobudur di Kabupaten Magelang. Saya menempuhnya dengan sepeda motor bersama seorang teman. Perjalanan ini menarik. Saya terlibat adu cepat dengan seorang pengendara motor perempuan yang ternyata tak pernah bisa saya lampaui. Namun berkatnya, tak terasa saya telah tiba di Borobudur.

Saat tiba saya langsung membayar parkir beberapa ruiah dan memarkir sepeda motor yang saya pakai dan berjalan menuju tempat pembelian tiket masuk taman wisata Borobudur. Sebelum sampai di loket pembayaran kita akan melalui pasar barang-barang kerajinan yang menakjubkan. Selain bagus, harganya murah. Ada yang menjual patung, asbak dengan miniatur borobudur, ada yang menjual gasing, baju batik, daster hingga es dawet. Sepanjang jalan di tengah pasar itu anda akan ditawari oleh semua penjual yang anda lewati. ‘Es dawet, mas?’, katanya. Atau ‘seribu-seribu-seribu, mas!. Demikian teriak ibu yang menjual gantungan kunci miniatur borobudur seharga seribu rupiah perkepingnya. Murah yah? Menurut ukuran tempat-tempat wisata lainnya, saya kira ini murah. Sepadan dengan 3buah permen.

Setelah tiba di loket saya mengantri bersama puluhan pengunjung lain. Setelah tiba giliran, saya membayar dengan uang puluhan ribu. Angka harga yang tertera tak seberapa besar lalu uang saya dikembalikan seribu bersama dua lembar kertas dari Palang Merah Indonesia (PMI) Magelang yang akan menggelar donor darah. Ini sumbangan yang memaksa, pikirku. Bukan saya tidak mau, tapi saya merasa diperas dengan seenaknya merober karcis PMI itu dan memberikannya kepada saya dengan potongan uang saya yang seribu. Perilaku yang kurang baik, menurutku.

Baca juga:  Potret Orang-orang Biasa dalam Perjalanan Keliling Turki

Lepas dari perkara administrasi itu saya pun berjalan masuk menuju candi Borobudur. Namun tak beberapa langkah dari loket itu saya dan teman dihentikan oleh seorang petugas yang meminta bayaran untuk pengunjung yang membawa video shooting. Maka teman saya harus membayar biaya tambahan untuk bisa membawa masuk kamera tersebut. Sangkaan saya salah. Saya kira setelah membayar di loket sudah tidak ada lagi pungutan, ternyata ada!

Menuju candi dari luar jaraknya kira-kira 300-an meter. Itupun baru di halaman candi. Setelah berjalan beberapa meter baru naik pada tingkat pertama, undag. Undag ini sebenarnya bangunan baru yang menutupi kaki candi yang lama. Setelah itu naik ke tangga melalui pintu utama, di sebelah timur. Kita akan melalui sembilan teras berundak. Dari sembilan itu 6 teras berbetuk segi empat dan 3 teras berbetuk lingkaran di undak paling atas sebelum stupa induk.

Mengelilingi candi yang panjangnya 121,66 M dan lebar 121, 38 M dan total keliling candi 492 M ini cukup melelahkan. Apalagi mengelilinginya setiap tingkat teras yang berjumlah sembilan itu. Tentu ditambah dengan pendakian tangga menuju stupa induk di atas puncak candi berketinggian 35, 40 M.

Candi ini dilengkapi dengan 504 buah arca dan 72 buah stupa ditambah 1 stupa induk. Candi ini juga dilengkapi dengan relief yang bisa dibaca secara berurutan searah jarum jam. Saya mencoba mengelilingi relief yang berada di tingkat kedua dan ketiga candi ini. Banyak kerusakan pada relief di sana sini. Di depan lorong, di hadapan relief terdapat patung-patung Budha dan stupa yang banyak diantaranya dalam keadaan rusak. Patung Budha misalnya kebanyakan sudah kehilangan kepalanya atau tangannya patah. Candi raksasa ini dari jauh masih sangat elok dan lengkap. Tapi bila dilihat detilnya sungguh memprihatinkan. 3.000 orang pengunjung perhari dan sekitar 400-an pengunjung dari manca negara dengan biaya beberapa dollar USA perorang tidak cukup mampu memberikan sedikit perbaikan di dalam tubuh candi ini. Jumlah ini belum termasuk bila hari-hari raya seperti lebaran atau hari raya waisak yang pengunjungnya bisa mencapai puluhan ribu orang. Hari itu saja saya bersama, menurut hitungan kasar saya, sekitar 1000-an orang lebih. Padahal saya tiba pada siang hari kurang lebih pukul 13.00 WITA waktu yang kurang diminati. Biasanya pagi atau sore hari lebih ramai dari siang hari.

Udara yang sejuk menemani saya berkeliling sampai ke puncak Borobudur. Di sekeliling candi ini pemandangannya adalah hamparan perkampungan dan tanah-tanah hijau yang dikelilingi gunung. Di sebelah timur terdapat gunung Merapi dan Merbabu. Di sisi barat laut terdapat gunung Sumbing dan Sindoro. Dan di sebelah selatan terdapat gugusan pegunungan Monoreh. Oleh karena puncak-puncaknya menyerupai orang yang sedang terlentang tidur berkembang cerita rakyat bahwa gunung ini adalah Gunadarma sang arsitek Borobudur yang sedang istirahat sambil menikmati-memandang hasil karyanya.

Wilayah Borobudur sendiri dialiri oleh dua sungai besar. Sungai Progo dan sungai Elo. Konon, tak ada candi besar yang berdiri jauh dari sungai. Mungkin karena dulu dari sungai inilah diambil batu endesit. Untuk Borobudur sendiri menggunakan batu endesit sebanyak 55.000 meter kubik.

Cerita kolosal ini, sayangnya menyimpan ironi bagi 28 buruh yang sudah sebulah ini melaksanakan proyek pengerjaan taman kaki Borobudur hanya dengan gaji amat kecil perhari. Tentunya tak cukup di tengah harga melambung tak terbendung saat ini. Ngadino (43 Tahun), salah seorang buruh proyek pengerjaan taman, mengaku uang itu kurang untuk anaknya yang sekarang sudah SMP dan SMU. Anaknya yang dua ini harus berhemat tentunya bila terus ingin melanjutkan sekolah. Pendapatan Ngadino hanya berkisar kurang dari satu juta rupiah untuk biaya sekolah, makan dan lain-lain anak istri!

Baca juga:  Setelah Menonton "Bumi Manusia"

Lain lagi dengan kisah salah seorang tukang yang bergaji sedikit lebih dari buruh Ngadino. Yahman (41 Tahun) yang tamatan SMU ini punya 3 orang anak yang juga bersekolah. Saat saya bertanya ‘cukup ngga mas uang segitu untuk keluarga?’ dia menjawab dengan sedikit kesah ‘ya anggak, mas. Tapi dicukup-cukupin aja yang ada’. Lagi lagi ironi. ‘Gunadarma’ baru Borobudur ini tidak pulang ke rumah lalu tidur terlentang istirahat menatap hasil karyanya. Dia harus menghadapi tatapan wajah anak dan istrinya yang berharap penuh padanya. Dia juga harus tidur dengan gelisah untuk bangun esok kembali ke Borobudur mengangkat batu endesit yang sudah terpotong-potong dan memasangkannya sesuai gambar di taman.

Di halaman belakang Borobudur, tempat biasanya orang mengambil gambar utuh Borobudur, ada empat orang barat (Belgia) yang sedang mengerjakan persiapan gelaran tari gambyong  yang diiringi gamelan jawa dan dipentaskan oleh 18 orang penari, semua penari perempuan. Saya tanya salah satu dari empat orang Belgia ini, Yossi namanya, (dalam bahasa Inggris) ‘ini untuk acara apa?’ Dia bilang untuk dipentaskan dan akan disiarkan di salah satu stasiun televisi di Belgia. Saya tanya lagi ‘kenapa memilih Borobudur?’. ‘Borobudur cantik’, katanya.

Untuk gelaran tari ini yang akan digelar dalam waktu dekat  ini membutuhkan latar berupa kayu besar yang dibentuk seperti bingkai foto yang menghadap ke Borobudur. Bingkai ini dikerjakan oleh Yanto (45 tahun) dan satu orang temannya. Saat saya datang dia sedang mengecat hiasan-hiasan bingkai yang dibuatnya dari tripleks. Dia mengaku dibayar 300.000 perhari untuk waktu 3 hari kerja. Saat tampil dengan indah di layar televisi Belgia mungkin tidak akan ketahuan kalau 2 orang pekerja hiasan bingkai latar penari itu hanya dibayar Rp. 600.000 sampai selesai, sampai ada di hadapan sidang penonton. Yanto yang tinggal di sekitar merapi (3 KM) datang dengan motor untuk mengerjakan proyek ini.

Setelah berbincang sebentar dengan Yanto saya melanjutkan kembali perjalanan menuju ke atas Borobudur yang sudah berulangkali saya kelilingi tanpa bosan. Kali ini saya menemukan 2 orang ibu duduk di salah satu sudut di sekitar lantai 4/5 Borobudur. Saya memotretnya dengan Kamera HP dari jauh. Saat saya memotretnya 2 orang gadis berjilbab lewat di samping saya sambil bicara berdua bilang ‘we, nafotoi mama’ dengan logat Makassar. Saya tidak peduli. Saya tetap memotret ibu itu beberapa kali. Setelah itu saya menegurnya dengan ‘dari Makassarki’ toh!?’ dia tersenyum dan mengiakan.

Sesaat setelahnya itu saya sudah mengobrol akrab dengan mereka kecuali satu orang ibu yang hanya diam. Dari perkenalan dengan satu perempuan muda itu namanya Irma, sekarang sedang kuliah di Universitas Hasanuddin jurusan sastra Prancis. Ibunya bernama Maulidiyah (59 tahun), yang saya potret tadi. Berbincang-bincang tentang Makassar dan tempat dia tinggal di Makassar yang ternyata dekat dari rumahku. Dia tinggal di daerah jalan Rappocini sedangkan rumah saya di Makassar ada di jalan Sultan Alauddin. Jaraknya tidak begitu jauh dari rumah ibu ini.

Ibu Maulidiyah mengaku kepada saya ‘tahun 92 (maksudnya tahun 1992) saya ke sini. Berarti sudah sekian tahun lalu baru saya ke sini lagi’. Sambil memakan kuenya yang disodorkan, saya berbincang akrab dengan ibu yang ternyata sedang mengikuti acara wisuda anaknya yang satu (kakaknya Irma) yang kuliah di Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta.

Baca juga:  Dari Legian ke Ara

Karena, belum shalat dzuhur, dia pamit untuk sholat dan sekaligus pulang. Dia mengajak saya jalan ke rumahnya kalau saya sedang di Makassar. Ada perasaan yang menyenangkan saat bertemu orang sekampung di tempat yang jauh, di Borobudur.

Saat dia sudah pergi, saya berjalan lagi menuju ke atas. Dari atas candi ini saya sesekali berfoto bersama teman saya. Atau saya memotret bagian-bagian dari Borobudur yang sudah rusak. Saya juga memotret salah seorang pengunjung yang berusaha memasukkan tangannya ke dalam arca di dalam stupa. Ada cerita yang berkembang bahwa ketika memegang jari tangan arca Budha itu sambil berdoa, doa kita akan terkabulkan. Memang beragam cerita tentang candi ini. Bahkan masyarakat sekitar percaya bahwa candi ini muncul tiba-tiba dahulu kala. Ini mungkin didasarkan pada tidak adanya keterangan yang bisa dirujuk tentang asal-usul pembangunan candi ini. Kapan atau siapa yang mendirikan bangunan megah ini. Hanya sedikit keterangan di kaki candi yang bertuliskan dengan bahasa sansekerta dengan huruf kawi. Dengan membandingkan dengan prasasti-prasasti yang ada di Indonesia, sementara para sarjana memperkirakan bangunan candi ini dibangun pada sekitar tahun 800-an Masehi. Pada tahun-tahun ini wilayah ini diperintah oleh raja dari Wangsa Saylendra yang beragama Budha Mahayana. Bangunan ini berbentuk bunga teratai. Bertingkat-tingkat sesuai ajaran Budha tentang jenjang-jenjang menuju nirwana yang bertahap.

Sesekali meneguk air dari botol yang saya bawa dari rumah, saya memotret dua orang pasangan orang barat yang sedang berlibur di Borobudur. Saat saya potret dia bilang ‘mana rupiahnya?’ (dalam bahasa Inggris) sambil tertawa akrab.

***

Setengah lima sore. Setengah jam lagi taman candi ini tutup. Saya bergegas pulang. Saya melihat Ngadimo dan Yasman juga bergegas pulang. Hari sudah sore. Di sebelah selatan, “arsitek Borobudur” sudah diselimuti kabut putih. Seperti selimut yang menutupi tubuh yang sedang tidur itu. Dia pulas. Tidurnya lelap. Tapi pak Ngadino harus pulang dengan perasaan lelah dan cemas. Besok harus bangun pagi lagi bekerja lagi untuk gaji seadanya yang sulit cukup bagi keluarganya. Ngadino dan 27 orang lainnya adalah Gunadarma-gunadarma baru yang sedang berjuang membangun dan memperbaiki Borobudur dengan bayaran tak cukup. Tidak ada data berapa orang seperti Ngadino yang berkerja membantu Gunadarma “membangun” itu. Yang pasti, bangunan yang diresmikan Presiden Soeharto pemugarannya pada tahun 1983 ini dibiayai oleh rakyat Indonesia dan beberapa negara di bawah Koordinasi UNESCO.

Saat ini situs kawasan Borobudur menjadi salah satu dari program sepuluh bali baru oleh pemerintahan Jokowi. Didatangi oleh semakin banyak turis karena telah diiklankan lebih banyak ke mancanegara oleh kementerian pariwisata. Bahkan skema pembangunan bandara baru New International Yogyakarta Airport yang menggusur banyak lahan warga diperuntukkan untuk meningkatkan jumlah kunjungan ke situs ini. Kunjungan ini saya lakukan sebelum situs ini ditutup karena pandemic covid19 merebak. Meski kawasan wisata ini terus dibenahi, warga di kawasan Borobudur tetap miskin. Tiga desa disekitar candi ini seperti desa Giri Tengah, Ngadiharjo dan Wringinputih adalah desa yang dikategorikan miskin oleh pemerintah. Saying sungguh saying. Situs pariwisata indah yang dikunjungi berjuta orang, tak membuat warganya ikut sejahtera.[]

Lukisan karya Affandi
Komentar Pembaca CaraBaca

BUKU TERBITAN CARABACA.ID

Melawan Rezim Infrastruktur - Studi Ekonomi Politik

Sebagai cara untuk tetap waras dan terus melanggengkan perlawanan terhadap segala bentuk ketidakadilan, CaraBaca terus memproduksi wacana alternatif  dengan menulis, membaca, diskusi, dan mengorganisir akar rumput.
BELI PRDOUK KAMI SEBAGAI DUKUNGAN
close-link
0%